
Tak ada yang membahas tentang pesta ulang tahun Dizza. Semua merasa tak ada yang aneh, hanya Keira yang dengan alasan tak enak badan, mengurung diri di kamar. Ia bahkan tidak datang ke kantor.
Ny Lestari hanya mengira putrinya kelelahan hingga mengabaikan Keira yang sudah dua hari tidak keluar kamar. Hanya Bara yang berulang kali menelpon karena dia sedang berada di luar negeri. Akhirnya justru Tuan Kusuma yang menyadari keanehan pada Keira yang jarang terlihat.
"Ke mana Keira?" tanyanya setelah selesai makan malam bersama Lestari dan Dizza.
"Kakak sepertinya nggak enak badan, " jawab Dizza.
"Sepertinya dia juga tidak ke kantor," kata Tuan Kusuma lagi.
"Dia di kamar sepanjang hari," jawab Lestari.
"Ada apa dengannya?Apa dia baik-baik saja?" tanya Tuan Kusuma.
"Ayah, belakangan ini Ayah terlalu menghawatirkan kakak, " kata Dizza.
Ny Lestari menatap suaminya dalam diam lalu ia beranjak pergi.
"Aku akan melihatnya."
"Suruh dia ke ruang kerja." Tuan Kusuma memberi perintah sebelum meninggalkan Dizza sendirian menikmati makan malamnya.
Lestari menemukan Keira berbaring miring tanpa memejamkan mata.
"Apa kamu sakit?" tanya Ny Lestari mulai khawatir.
Keira tak menjawab.
"Ayah menyuruhmu menemuinya di ruang kerja. Tapi kalau kamu sakit, Ibu akan memberitahunya," Ny Lestari bersiap pergi meninggalkan Keira namun Keira langsung berdiri.
"Aku baik-baik saja. Aku akan menemuinya."
Keira berjalan dengan pelan.
Seumur hidupnya, Keira selalu merasa canggung berbicara dengan Tuan Kusuma. Baik di rumah maupun di kantor, ia sebisa mungkin sedikit bicara. Ia tak bisa berbasa basi dengan orang yang sudah membesarkannya dan memberinya banyak kesempatan di kantor. Keira selalu merasa Tuan Kusuma tak pernah benar-benar tulus.
"Apa kamu sakit?" tanya Tuan Kusuma saat Keira menutup pintu pelan.
"Aku baik-baik saja, hanya sedikit nggak enak badan. Maafkan aku tidak berada di kantor hari ini."
Tuan kusuma memandang Keira lalu menyuruhnya duduk.
"Apa kamu pernah bertemu CEO Grup Oshi?"
Keira berusaha mengingat lalu menggeleng.
"Ada apa Ayah? Bukankah dia salah satu investor dalam pengembangan hotel baru Ayah?"
Ayah mengganguk. Keira tak ikut dalam proyek pembangunan Big Hotel, hotel bintang lima yang akan dibangun Kusuma. Ia tak pernah ikut rapat untuk hotel itu dan tak pernah bertemu langsung dengan para investornya. Ia hanya sesekali membaca laporan ketika rapat internal.
"Ada apa Ayah?" Tanya Keira ketika melihat Tuan Kusuma gelisah.
"Sekretarisnya bersikeras bahwa CEO itu ingin menemuimu sebelum menandatangani perjanjian."
"Aku?" tanya Keira heran.
"Apa kamu yakin tak pernah bertemu dengannya?"
Keira menggeleng lalu cepat-cepat menjawab.
"Aku akan menemuinya, Ayah, jika itu yang Ayah inginkan."
Tuan Kusuma mengangguk pelan lalu menyuruh Keira pergi, ketika Keira membuka pintu untuk keluar, Tuan Kusuma memanggilnya.
"Keira, jaga dirimu."
Keira terpaku lalu menjawab sopan, "Terima kasih Ayah."
*
Evan menyesap kopinya lalu kembali berpikir. Dipandanginya sebuah foto masa lalu. Foto bergambar dirinya dan Keira yang mereka ambil saat bolos sekolah. Salah satu barang yang diselamatkannya saat anak buah Kusuma mengirimnya ke panti asuhan di luar kota.
__ADS_1
Dulu, mereka hanya sempat bersama beberapa bulan, namun di waktu yang singkat itu mereka banyak menghabiskan waktu bersama. Waktu yang menurut Evan sangat berharga. Mereka adalah dua remaja yang sama-sama kehilangan dan kesepian.
Evan jarang sekali bertemu kakaknya yang dipaksa tinggal di luar negeri, sementara ibunya adalah wanita yang sibuk tenggelam dalam dunianya sendiri.
Begitupun Keira, ia kehilangan adik satu-satunya yang entah mengapa sejak ibunya menikah dengan Kusuma, harus menyembunyikan Zea di panti asuhan. Sedangkan ibunya, semenjak menikah, menjadi wanita yang sibuk mengurus banyak hal.
Evan lalu mengambil sebuah foto lain, lalu membandingkannya. Foto dirinya dengan Nada. Evan membandingkan wajah Keira dan Nada. Tak ada kemiripan di antara keduanya. Evan memijit dahinya dan teringat akan pertemuannya yang lalu dengan pamannya, Baskoro.
"Kita harus menghabisi keluarga Kusuma. Dia sudah membunuh ibu dan kakakmu! Dia juga yang menyebabkan aku di penjara selama bertahun-tahun!"
"Wanita itu, wanita licik itu merebut posisi ibumu dan menghancurkannya!" kata Baskoro mengacu pada Lestari.
"Paman, apa wanita itu benar hanya memiliki satu anak perempuan?" tanya Evan hati-hati. Baskoro memandang Evan dengan curiga.
"Apa kamu mengetahui sesuatu?"
Evan menggeleng bingung,"Entahlah...aku hanya bertanya.
"Kalau kamu menemukan informasi lain, kamu harus memberitahu Paman. Ingat, perusahaan itu sejak awal bukan milik Kusuma. Dia merebutnya dari aku, menjadikan adikku simpanannya, kemudian membuangmu yang sudah menganggapnya sebagai ayah!"
Evan memegang erat cangkir ditangannya.
"Kenyataannya dia bukan ayahku," ucap Evan lirih.
"Dia sempat menjadikanmu pewaris. Dia hanya terlalu mempercayai wanita licik itu!"
Baskoro pergi dengan tanda tanya di dalam hati.
*
Keira memandang sebuah bangunan panti asuhan. Bangunan itu sudah berubah total dari saat terakhir kali dia ke sana, hari sebelum kebakaran. Ia teringat saat pertama kali ibu menitipkan Zea di tempat itu lalu membawanya pergi ke rumah besar Kusuma.
Hampir setiap hari dia tak bisa makan karena memikirkan adiknya, walaupun berulang kali ibunya mengatakan bahwa Zea tak kekurangan apa pun. Zea akan memakan makanan yang sama dengannya, Keira tetap tidak merasa tenang.
Sebenarnya Keira penasaran, apakah Kusuma tahu tentang adiknya. Mereka datang dari desa terpencil dan tidak memiliki identitas keluarga. Entah apa yang membuat ibunya enggan memiliki identitas keluarga.
Awalnya Keira mengira itu karena ayah kandung mereka sudah meninggal, namun sekarang Keira merasa ibunya menyembunyikan banyak hal.
Keira memandang wanita di hadapannya dengan ragu.
"Saya mencari pimpinan panti asuhan ini," jawab Keira.
Wanita itu memandang Keira dengan banyak pertanyaan di dalam hati.
Ia sering menemui wanita yang ragu-ragu di panti asuhan. Entah karena ingin menitipkan anak yang lahir tanpa ayah, ingin mengadopsi, atau mencari anak yang telah dititipkan.
Namun ia tak melihat Keira sebagai orang yang akan menitipkan anak atau berniat mengadopsi.
"Ada yang anda cari?" tanya wanita itu lagi.
Keira kebingungan.
"Saya Ibu Sintia, pimpinan saat ini, apa ada yang bisa saya bantu?" tanya wanita itu lagi.
Akhirnya Keira berada dalam ruang tamu panti asuhan itu. Keira memandang sekeliling ruangan lalu menemukan sebuah foto wanita. Keira memandangnya lama, teringat bahwa wanita itu dulu yang sering ditemui ibunya di tempat ini.
Ibu Sintia mengamati Keira lalu sambil meletakkan secangkir teh, ia bertanya, "Apa kamu mengenal Ibu saya?"
"Eh?" Keira berpaling dari foto itu.
Ibu Sintia tersenyum. "Dia ibu saya. Pimpinan panti asuhan sebelum saya."
"Apa saya bisa menemuinya?" tanya Keira penuh harap.
Ibu Sintia tersenyum lagi, "Beliau baru saja meninggal."
"Oh, maaf." Keira menutupi keterkejutannya.
"Apa ada yang bisa saya bantu?" tanya wanita itu lagi.
"Sebenarnya saya ingin mengetahui tentang korban kebakaran 13 tahun yang lalu."
__ADS_1
Dahi Ibu Sintia berkerut. "Kami menyimpan data korban, tapi apa yang ingin anda ketahui."
"Adik saya menjadi salah satu korban tewas, " ucap Keira pelan, berat untuk mengucapkannya. Ibu Sintia masih menunggu Keira bicara.
"Tapi sekarang saya ragu apakah adik saya benar-benar meninggal?"
Ibu Sintia memandang heran, "Apa kamu meragukan kesaksian Ibu saya?"
Keira berpikir sejenak, "Maaf bukan maksud saya seperti itu. Saya hanya berpikir, barangkali ada kesalahan."
"Ya, saya mengerti, bahwa ketika seseorang yang kita sayangi meninggal, kita akan selalu berpikir 'andai saja ada kesalahan' lalu kita berharap bahwa mereka tidak benar-benar meninggal."
Keira membenarkan ucapan Ibu Sintia.
"Apakah kamu dulu juga sempat tinggal di panti asuhan ini bersama adikmu?" tanya wanita itu lagi.
Keira menggeleng. "Ibu membawa adik saya ke tempat ini."
Ibu Sintia mengernyitkan dahi lagi.
"Ibu tak usah merasa aneh, karena saya pun merasa aneh. Mengapa ibu saya membawa saya pergi dan menitipkan adik saya di tempat ini."
Wanita itu tampak berpikir, ia memandangi Keira lalu berteriak kaget, "Kau ... kau putri Lestari?"
"Ibu mengenal ibu saya?" tanya Keira.
Wanita itu terdiam sesaat. "Apakah kabar ibumu baik-baik saja?" Apakah dia tahu kamu ke sini? Kamu ... apakah kamu pergi ke sini tanpa sepengetahuannya?" Wanita itu mencerca Keira dengan berbagai pertanyaan yang semakin membuat Keira curiga.
"Bu, tolong katakan padaku, apa yang ibu ketahui."
Wanita itu memandang Keira iba lalu menggeleng.
"Tak ada. Ibumu membawa adikmu kemari lalu kecelakaan itu terjadi. Seperti yang kamu ketahui, adikmu adalah salah satu korban. Sejak saat itu ibumu dan kami tak ada hubungan apa-apa lagi. Sebaiknya kamu juga jangan datang kemari lagi. Adikmu sudah meninggal, lupakanlah dia."
Keira semakin tak mempercayai perkataan Ibu Sintia.
"Apa yang kalian sembunyikan? Mengapa aku tidak boleh ke sini lagi?"
Ibu Sintia terdiam.
"Mengapa ibu tidak menjawabnya?
Mengapa aku tidak boleh ke sini?!" Keira berteriak dengan marah.
"Karena itu demi keselamatanmu!"
Keira menatap wanita di hadapannya dengan tak percaya. Ia tak habis pikir mengapa wanita di hadapannya ini juga mengatakan semua demi dirinya.
Demi keselamatanmu!
"Ada apa dengan keselamatanku?"tanya Keira putus asa.
"Aku tidak peduli dengan keselamatanku! Aku hanya ingin adikku yang selamat. Kalau waktu bisa diputar, lebih baik aku yang terbakar di tempat ini!"
"Jangan bicara begitu! Ibumu melakukan segala hal demi kalian berdua!"
"Demi kami? Demi apa?!" Keira menuntut penjelasan namun wanita itu enggan berbicara lebih lanjut. Ia berdiri lalu membuka pintu, mempersilahkan Keira untuk pergi.
"Silahkan pulang, tak ada yang bisa kamu dapatkan di sini. Hiduplah dengan baik tanpa memikirkan banyak hal lain."
Keira berdiri dan menatap wanita itu dengan tajam.
"Aku ingin tahu, apakah dulu kalian yang memutuskan untuk menampung Zea di sini dan bukan aku?Atau ibu yang memutuskan siapa yang tinggal dan siapa yang dia bawa?"
Wanita itu tak menjawab. Keira menjadi gusar.
"Aku akan menemukan jawabannya sendiri!" Lalu ia beranjak pergi.
"Jangan membenci ibumu. Dia melakukan sebisa yang dia mampu untuk menyelamatkan kedua putrinya."
Keira tak mempedulikan kata-kata yang dia anggap omong kosong, namun wanita itu kembali bicara.
__ADS_1
"Adikmu sudah hidup bahagia."