No Rose Without A Thorn

No Rose Without A Thorn
Salam Perang


__ADS_3

Nada memandang Evan dengan kesal. Beberapa hari ini dia kehilangan kontak dengan Evan dan sekarang ketika kembali, Evan dengan santainya melempar setumpuk foto di hadapan Nada.


"Kakak ke mana saja?" tanya Nada tanpa menyentuh lembaran foto di meja.


"Aku bekerja, seperti biasa," jawab Evan santai.


Nada mendengus kesal.


"Tapi Kakak nggak harus menonaktifkan telepon, kan? Apa Kakak tahu kami semua dibuat pusing oleh tagihan-tagihan Lets Read?"


"Oh, maaf aku lupa." Evan menepuk dahinya lalu ia mengeluarkan sesuatu dari dalam ransel, tak peduli pada tagihan-tagihan yang diceritakan Nada.


Nada terlihat kesal namun ia menjerit ketika Evan mengeluarkan sebuah ponsel baru.


"Buang ponsel lamamu!" kata Evan angkuh.


"Sudah berapa banyak hutangku?" tanya Nada sambil membuka kotak ponsel dengan ceria, lalu ia teringat kembali pada tagihan-tagihan Let's Read.


"Besok aku akan menyelesaikannya," kata Evan seakan mengetahui isi pikiran Nada.


Nada kembali memandang Evan heran.


"Kakak habis dapat undian?"


Evan tertawa meremehkan.


"Aku bosan pura-pura miskin," jawabnya enteng tapi Nada tak menganggapnya serius.


Evan memperhatikan ekspresi wajah Nada yang sibuk memeriksa ponsel barunya.


"Hey, Hey!" Evan menyenggol lutut Nada dengan kakinya.


"Apaa?" Nada menjawab tanpa menoleh sedikit pun.


"Siapa yang menyuruhmu berlama-lama di sini? cepat kembali kerja." Evan memerintahkan Nada untuk kembali keluar, menjaga toko buku Evan.


"Hey, memangnya siapa yang menjaga toko selama berhari-hari Kakak hilang tanpa kabar?" Nada malah menyolot.


"Aku tidak mau kerja hari ini!"


"Hei, bosnya di sini aku atau kamu?!" Evan tak kalah ngotot.


"Tentu saja Kakak!" balas Nada.


"Lalu kenapa kamu masih di sini?"tanya Evan kesal.


"Sudah kubilang aku tidak kerja hari ini. Anggap saja aku cuti!"


"Hah? Bahkan hutangmu saja belum lunas, seenaknya cuti!" Evan marah-marah.


Nada tak mempedulikan, ia sibuk memainkan ponselnya lalu tertawa sendiri.


Evan berdiri dengan kesal lalu menyenggol tumpukan foto di meja hingga terhambur di lantai. Nada terpaksa menoleh.


"Ya ampun!" Nada mengomel sambil memungut lembaran foto yang berserakan, lalu seperti yang diinginkan Evan, ia melihat sebuah foto dengan lama.


"Kenapa?" tanya Evan.


Nada terus memperhatikan sebuah foto yang memperlihatkan gambar sebuah bingkai foto. Ya, Evan memotret sebuah bingkai foto bergambar panti asuhan yang di depannya berdiri seorang wanita dan beberapa anak.


"Mengapa Kakak memotret bingkai foto?" tanya Nada sembari kembali membereskan foto yang lain.


Evan memandang Nada yang tampak biasa saja.


"Kamu tak merasa ada yang aneh dengan gambar itu?" tanya Evan.


Nada kembali memperhatikan foto tersebut lalu berteriak. "Apakah perempuan yang Kakak cari ada di panti asuhan ini?" tanya Nada membuat Evan kesal walaupun Nada benar adanya bahwa wanita yang selama ini Evan cari ada di panti asuhan itu.


Keira memang berada di sana untuk alasan yang tidak diketahui Evan. Ia datang lebih dulu dari Keira dengan alasan ingin melihat-lihat sambil memotret. Saat melihat Keira datang, ia bersembunyi dan pergi diam-diam.


"Kak, apakah Kakak sudah menemukan perempuan itu?" tanya Nada serius. Ia tahu bahwa Evan selama ini mencari perempuan dari masa lalunya namun ia tak mengetahui bahwa perempuan yang dimaksud Evan adalah Keira.


"Sudah."


"Astaga?!! Benarkah? Lalu?" Nada memandang Evan dengan penuh tanda tanya. Evan memandang Nada dengan kesal lalu menjitak dahinya.

__ADS_1


"Pergilah bekerja!" serunya sambil berjalan pergi.


*


Nada membereskan buku-buku di box diskon sambil menggerutu. Ia merasa semakin lama Evan semakin aneh dan ia menjadi khawatir karena Evan sudah menemukan gadis dari masa lalunya. Ketika Nada asik menggerutu, seseorang menghampirinya.


"Bisakah kau memanggil managermu?"


Nada berbalik dan...


"HAH?! KAU LAGI?!"


Nada langsung melotot begitu melihat Dizza yang sama terkejutnya.


"Apa yang kamu lakukan di sini?" Dizza ikut melotot.


"Mengapa kamu kerja di sini? Bukan, maksudku mengapa kamu terus menghantui hidupku?!" Dizza berteriak. Untung saja saat itu keadaan toko sedang sepi.


"Harusnya aku yang bertanya, mengapa kamu terus membuntuti aku?"


"Membuntuti kamu?Hah? Kamu pikir aku kurang kerjaan?"


"Melihat dirimu rasanya memang nggak salah kalau kamu kurang kerjaan. Mengapa mencari manager?" tanya Nada malas.


"Bukan urusanmu. Segera panggilkan managermu!"


"Katakan apa maumu?" tanya Nada lagi.


"Aku bilang panggilkan managermu! Apa kau tuli??" Dizza mulai kesal.


"Aku managernya!" Nada ikut kesal. Dia berbohong, manager Lets Read sebenarnya adalah Leon, dan saat ini sedang cuti.


Dizza melotot lagi lalu tertawa.


"Aku sedang tidak ingin bercanda."


"Terlebih aku!" Nada mendorong Dizza.


"Kalau kamu tak ingin bicara apa pun, silahkan keluar," kata Nada ketus. Dizza balas mendorong Nada.


"Hey, mengapa kamu selalu bertingkah barbar seperti ini? Mengapa kamu tidak menggunakan uang yang diberikan Ibuku untuk terapi emosionalmu!"


"Kakakmu bilang akan mengambil uang itu tapi ia malah menghilang! Kalau dia datang nanti, akan kuberikan uang itu sekaligus nasehat agar membelanjakannya di tempat kursus etika untuk kalian semua!" Nada mulai emosi.


"Kau...."


"Sedang apa kalian?" tiba-tiba Evan muncul.


"Kakak!" Nada dan Dizza hampir bersamaan berteriak hingga Evan terkejut.


"Kamu mengenalnya?!" Nada dan Dizza sama-sama terkejut.


"Dizza apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Evan.


"Kakak mengenalnya?" Nada bertanya heran.


"Kak, apa gadis ini....? Astaga!Jangan bilang.....TIDAK MUNGKIN!" Nada menutup mulutnya sendiri dengan kedua tangannya dan berteriak dengan histeris atas kesimpulan yang dibuatnya sendiri.


Evan menendang kaki Nada untuk menyuruhnya diam.


"Kak, kau mengenalnya?" Kali ini Dizza yang bertanya.


Evan beralih menoleh pada Dizza.


"Apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Evan.


"Aku ingin menemui manager toko ini untuk mengajak kerja sama."


"Kerja sama apa?"


"Aku ingin membuka Cafe yang menyatu dengan toko ini, tunggu, tapi apa Kakak mengenal manager toko ini?" tanya Dizza.


"Aku managernya." Jawab Evan cepat sambil menarik Dizza untuk keluar.


"Tunggu, Kakak managernya? Tapi gadis sinting itu mengaku sebagai manager!" Dizza berteriak marah.

__ADS_1


Nada menatap Evan dengan kesal, Evan menepuk jidatnya lalu menarik Dizza.


"Aku managernya dan dia owner toko ini!"


Nada dan Dizza sama-sama terkejut.


"Dia pemiliknya?" Dizza tak percaya. Begitupun Nada yang menganggap Evan lebih gila dari dia.


"Sekarang bisakah kita keluar dan membahas masalah kerja samamu?" tanya Evan sembari menyeret Dizza. Tepat saat itu di pintu masuk Keira berdiri memandang ketiganya.


"Kakak, apa yang Kakak lakukan di sini?" Dizza terkejut melihat Keira yang beberapa hari menghilang.


"Kak, apa Kakak baik-baik saja? Beberapa hari menghilang, apa Kakak sudah menemui ibu dan ayah?" tanya Dizza khawatir.


Keira mengabaikan Dizza, ia memandang Evan yang balas menatapnya dengan tajam. Keira memang belum pulang ke rumah. Ia meminta Bara untuk mengijinkannya pulang sendiri.


"Apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Keira pada Dizza.


"Aku ingin berkerja sama dengan toko ini ...."


"Masuk mobil!" Keira memberi perintah dengan tajam. Dizza memandang kakaknya dengan heran.


"Tapi Kak ...."


"Kakak bilang masuk ke mobil sekarang! Apa kamu tidak mendengar?!" Keira mulai meninggikan suaranya, mengagetkan Dizza. Seumur hidup dia tak pernah mendengar Keira marah padanya.


Nada juga ikut terkejut melihat Keira berkata tinggi pada Dizza. Keira melirik tangan Evan yang masih memegang Dizza, Dizza melihat arah pandang Keira lalu buru-buru menjauh dari Evan.


"Tunggu Kakak di mobil." Keira melunak lalu memberi Dizza kunci mobil. Dizza berjalan pelan keluar dengan penuh pertanyaan.


"Aku kira kamu hanya datang kalau kupanggil," Evan tersenyum datar. Keira mengabaikannya.


"Aku tidak memiliki urusan denganmu. Aku ingin bertemu gadis itu." Keira memandang Nada yang sedang mencuri pandang melihat mereka.


Evan mengepalkan tangannya dengan keras saat Keira berjalan melewatinya.


"Bisakah kita bicara?" tanya Keira pada Nada.


"Saat ini aku tidak mengijinkan karyawanku bicara hal pribadi saat bekerja," Evan memberi jawaban sebelum Nada menjawab.


Nada ingin protes namun Keira lebih dulu bicara.


"Karyawanmu?" tanya Keira tanpa berbalik. Ia dan Evan sedang dalam posisi saling membelakangi.


"Kamu harus minta ijin padaku lebih dulu kalau ingin bicara dengannya," jawab Evan.


Keira diam tak menjawab.


"Kak, aku ...." Nada ingin mengutarakan isi hatinya.


"Nada, kembali ke dalam dan tunggu aku di sana!" Evan memberi perintah pada Nada dengan nada tegas. Hampir sama dengan yang dilakukan Keira pada Dizza.


Nada ingin protes tapi ia tahu bahwa ada hal yang tidak beres, dia tak ingin membantah Evan maka ia berjalan masuk ke dalam kantor meninggalkan Keira dan Evan yang masih saling membelakangi.


"Pada akhirnya kamu tetap harus bicara denganku," Evan berkata dengan penuh kemenangan.


Keira tak ingin menanggapi Evan maka ia berbalik dan berjalan meninggalkan Evan namun pria itu lagi-lagi menarik tangannya, memaksanya untuk tetap tinggal.


"Aku tidak ingin bicara denganmu," Keira berusaha melepaskan tangannya.


"Tapi banyak yang harus kamu bicarakan denganku," balas Evan. Keira tak menjawab.


"Dan akan kupastikan kamu mendengarkan aku." Evan melepaskan tangannya lalu tersenyum. Senyum yang menakutkan bagi Keira.


"Pulanglah, kamu bisa menemui Nada kembali kalau kamu mengijinkan Dizza bertemu denganku. Impas, kan?"


"Kalau begitu Dizza tak akan pernah bertemu denganmu lagi, karena aku tak perlu bertemu dengan gadis itu lagi!"


"Begitu?"Evan tertawa.


"Kurasa kamu akan terus memerlukan pertemuan dengan Nada." Evan mendekati Keira lalu berbisik, "Apa perjalananmu ke panti asuhan kemarin membuahkan hasil?" tanya Evan membuat Keira terkejut.


"Kamu?" Keira mundur selangkah, Evan tertawa lalu berjalan menjauh.


"Pastikan kamu sampaikan salamku pada ayah dan ibumu!"

__ADS_1


Seketika Keira merasa lututnya lemas. Ia menatap Evan yang pergi dengan ancaman.


Salam perang telah di ucapkan Evan dan entah mengapa Keira seketika ketakutan.


__ADS_2