
Setahun berlalu, kehidupan terus berjalan. Dizza dan Adrian mulai berkencan. Dizza sudah kembali ke aktifitas normalnya, menghamburkan uang. Ia tak mau bekerja di perusahaan dan memilih membantu mengelola Cafe bersama Nada.
Nada sudah kembali dari sekolah Barista, ia datang bersama seorang pria yang memilih mengikutinya. Mereka mengelola Cafe bersama.
Kehidupan rumah tangga Keira dan Evan masih berjalan apa adanya. Terkadang mereka masih sering berdebar bila melihat satu sama lain. Terkadang mereka bertengkar karena salah paham. Tapi seperti kata Dizza, hidup selalu penuh salah paham. Selama kita mau mengakui, meminta maaf dan memaafkan, maka semuanya akan baik-baik saja.
Kehidupan mereka masih sama seperti sebelumnya, hanya berdua tanpa kehadiran calon buah hati. Seluruh anggota keluarga sepakat tak ada yang akan membahas masalah keturunan lagi di dekat mereka.
Begitupun dengan Keira dan Evan, mereka memilih tak memperbesar masalah keturunan yang belum mereka dapatkan meskipun dokter mengatakan mereka berdua baik-baik saja.
Namun sekeras apa pun mencoba tak peduli, ada kalanya hati seorang wanita menjadi gelisah. Bahkan walaupun suami sudah mengatakan tak menjadi masalah sekalipun mereka tidak memilikinya.
"Keira, apa yang kamu renungkan?" Evan bertanya saat melihat Keira terdiam menatap langit-langit kamar. Evan sedang tidur d ipangkuan Keira yang duduk bersandar di tempat tidur. Mereka baru saja menyelesaikan pertempuran malam ini, dan Keira tak bisa memejamkan mata.
"Aku hanya teringat sesuatu."
"Apa itu?"
"Kadang kala aku berpikir ini adalah kutukan."
"Kutukan?" Evan tertawa.
"Ya, dulu waktu aku masih menjadi tunangan orang lain dan mereka mengira aku hamil, aku sangat ketakutan."
"Mengapa kamu ketakutan?"
"Entahlah, membayangkannya saja aku takut. Aku takut kalau aku hamil, aku akan terikat selamanya dan tak memiliki kesempatan hidup bersamamu."
Evan tertawa lagi walau ia memaklumi ketakutan Keira.
"Jadi aku berdoa agar Tuhan nggak membiarkan aku hamil!"
Hening. Evan menahan napas.
"Apakah Tuhan mengabulkannya? Padahal aku sudah meralat doa itu ...."
"Bagaimana kamu meralatnya?" Evan tergelitik mendengar pengakuan istrinya.
"Tolong ijinkan aku mengandung anak dari orang yang kucintai!"
Evan tersenyum, hatinya berbunga.
"Apakah yang terdengar adalah doa yang pertama?" Keira mendadak sedikit tak waras.
Evan bangun lalu memandang wajah Keira.
"Apa kamu nggak tahu bahwa Tuhan mendengar semua doa?"
"Ya.. aku tahu ...."
"Kalau sudah berdoa, kita hanya perlu melakukan satu hal lain."
"Apa itu?"
"Berusaha. Karena kamu sudah berdoa maka aku akan melakukan sisanya, berusaha sekuat tenaga!" kata Evan bersemangat.
Keira tertawa kecil. Evan mulai menariknya agar berbaring kembali.
"Mengapa kamu selalu punya banyak alasa ?" tanya keira pura-pura kesal. Evan hanya menyengir lalu mulai beraksi, Keira hanya tertawa.
Dia tak pernah bisa menolak.
***
Dizza dan Nada memperhatikan Keira yang akhir-akhir ini terlihat gelisah. Mereka tahu bila Keira menyembunyikan sesuatu. Sudah beberapa hari bila datang ke Lets Read, Keira tak masuk ke ruangan Evan, ia akan duduk di cafe. Hari ini ia sudah duduk sepanjang hari membaca majalah, memainkan ponsel, tanpa makan sedikit pun.
"Kak, Kakak nggak makan?"
__ADS_1
"Kakak sedang nggak ingin makan."
"Apa Kakak sakit?"
"Sedikit nggak enak badan."
Dizza mengamati wajah Keira yang tampak lelah.
"Apa kalian bertengkar?" tanya Dizza hati-hati.
Keira menggeleng, "Kami baik-baik saja."
Tapi Dizza mempelajari bahwa pasangan yang mengatakan 'baik-baik saja' pada orang lain biasanya berdusta.
"Kak, apa Kakak mau aku buatkan sesuatu untuk dimakan?" Nada menawarkan.
"Sushi, apa Kakak mau mencoba?"
"Terserah kalian." Keira akhirnya mengalah.
Beberapa menit kemudian Evan datang untuk mengajak Keira pulang.
"Ayo pulang." Evan menarik Keira tapi Keira melepas tangannya.
"Nada sedang membuat Sushi."
"Oh, maafkan aku. Baiklah kita tunggu."
Keira terlihat gelisah. Evan melihatnya.
"Apa kamu sakit?" tanya Evan khawatir.
Keira ingin menjawab tapi Nada datang membawa sepiring Sushi.
"Selamat makan!" Nada dan Dizza mengambil masing-masing dan meminta Keira juga Evan mencobanya, Keira tak ingin mengecewakan, ia mencoba mengambilnya.
UEEKKKKKSSS
Evan segera mengikuti Keira tapi Keira mengunci pintunya.
Evan menggedor pintu karena khawatir.
"Kenapa lagi Kakak?" tanya Nada.
"Entah. Apa ada sesuatu yang disembunyikannya hingga ia mual seperti itu?"
Mereka tak menemukan jawaban.
Keira duduk di dalam kamar mandi, ia sudah tak muntah tapi ia tak mau keluar. Ia ingin keluar bila perutnya sudah benar-benar di ajak kompromi dan bila hatinya sudah benar-benar mantap.
Aku tidak bisa hidup dalam ketidakpastian. Aku harus memastikan.
Keira memejamkan matanya masih merasa bimbang dan gelisah, akhirnya setelah berdoa ia memberanikan diri membuka mata.
"Kak, Kakak kenapa?" Nada penasaran melihat Keira kembali duduk dengan gemetar.
"Kita ke dokter, ya?" Evan menawarkan.
Keira menggeleng.
"Aku baik-baik saja."
"Tapi Kakak nggak terlihat baik-baik saja."
Dizza menyahut.
"Aku .... aku...." Keira merasa bibirnya sulit terbuka.
__ADS_1
Evan mendadak cemas.
"Kamu kenapa?" Kali ini ia bertanya dengan suara tajam.
"Aku ...." Keira menggigit bibirnya.
"Van, aku ... ingin ... makan jeruk mandarin."
Seketika ketiga orang yang menanti ucapan Keira terkejut.
Keira menatap Evan yang melihatnya dengan bingung lalu berkata dengan pelan.
"A..ku.. hamil."
*****
Semua orang bergembira mendengar kabar kehamilan Keira. Tak terkecuali Kusuma. Ia bahkan datang ke rumah Keira dan Evan dengan alasan memberi hadiah. Ia hanya ingin melihat putrinya. Dizza dan Nada segera memohon pada Keira dan Evan untuk diperbolehkan menyumbang satu suku kata nama.
Keira tak bisa menutupi kebahagiannya.
Sejak awal merasa mual dan pusing, ia sudah mengira bahwa dirinya hamil, tapi ia tak berani memeriksakan diri. Ia takut bila dugaannya salah, karena itu ia gelisah selama beberapa hari. Ia membeli test pack tapi tak berani mengetesnya. Saat berada di cafe itu ia baru memberanikan diri untuk mengeceknya.
Evan tertawa mendengar pengakuan Keira.
Keira segera melemparnya dengan bantal.
Evan meraih Keira dalam pelukannya.
"Terima kasih karena sudah memberiku segalanya, " Kata Evan tulus.
Keira mengeratkan pelukannya.
"Terima kasih karena membuatku bahagia."
Ia tanpa sadar meneteskan air mata.
No rose without a thorn.
Tak ada mawar tanpa duri.
Tak ada kebahagiaan tanpa kesakitan.
Tak akan pernah ada kehidupan tanpa tawa dan air mata.
Jangan menyerah di tengah kesakitan dan penderitaan, karena kebahagiaan sedang menanti giliran untuk datang.
"Van ...." Keira tiba-tiba merengek
"Ya, Sayang? Ada apa?"
"Aku ingin ...."
"Ingin apa? katakan, aku akan mencarinya." Evan menatap Keira dengan mata berbinar.
"Kamu ngidam, kan?" tebak Evan.
Keira menatap Evan lalu tertawa, "Entahlah apa ini disebut ngidam?"
"Katakan apa yang kamu inginkan?" tanya Evan gemas.
Keira menarik Evan lalu membisikkan sesuatu membuat jantung Evan berdetak tak karuan tapi detik berikutnya dia tertawa dan perlahan membaringkan Keira.
"Sungguh aneh istriku ini... tapi karena ini permintaanmu maka aku nggak akan menolaknya." Evan merunduk lalu menciumnya.
Keira terkekeh lalu mengumam pelan, "Aku mencintaimu, Van ...."
"Aku juga." Evan menjawab dengan setulus hati.
__ADS_1
fg,2020
******