
Keira sedang membaca sebuah majalah di ruangan Evan. Ia menemani Evan yang sedang bekerja. Evan mengutak-atik komputer sambil mengipas-ngipas tubuhnya yang kepanasan karena ac ruangannya mati.
"Keira, kamu nggakkepanasan?" tanya Evan.
"Hmm, ya ...." Keira menjawab sekenanya.
Keira sedang serius membaca sebuah artikel sambil berdiri, sebelah tangannya mengibas-ibaskan bajunya karena kepanasan.
Evan memandang Keira dan tiba-tiba jantungnya berdebar. Entah mengapa ia merasa Keira sangat mempesona dan membuatnya tak tahan untuk tak memeluknya. Evan berdiri dan memeluk Keira dari belakang.
"Berapa hari lagi pernikahan kita?" tanya Evan sambil mengecup kepala Keira.
"Mengapa kamu mengangguku? Bukankah kamu sedang sibuk bekerja?"
"Kamu yang mengangguku!" Evan masih memeluk Keira.
"Aku? Aku bahkan hanya berdiri di sini!"
"Itulah masalahnya, kamu memang hanya berdiri tapi kamu menganggu pandanganku!"
Keira menoleh untuk melihat wajah Evan.
"Kamu menganggu konsentasiku! Mengapa kamu berdiri di sini dan membuatku tergoda?" tanya Evan.
Keira tertawa, ia mencium pipi Evan.
"Jangan mulai." Keira berusaha melepaskan diri tapi Evan tak mau melepaskannya.
"Sebentar lagi, aku ingin memelukmu sebentar lagi."
Keira tersenyum, membiarkan Evan memeluknya sementara ia menyelesaikan membaca artikel yang dipegangnya.
Evan masih memeluk dan mencium rambut Keira, ia merasa bila ia terus memeluk Keira seperti ini, ia pasti akan kehilangan kontrol.
"Sudah?" tanya Keira sambil melihat jam tangannya.
"Aku harus pergi. Aku ada janji dengan ibu."
Evan melepas Keira setelah berhasil mencium bibirnya.
"Pergilah, semakin lama kamu disini, aku semakin kepanasan." Evan mengusir Keira.
Keira tertawa, ia merapikan rambutnya lalu berjalan pergi, tapi baru sampai di pintu ia berhenti lagi, ia menoleh memandang Evan.
"Mengapa kamu menatapku seperti itu?" tanya Evan.
"Entahlah, aku hanya merasa berat untuk pergi."
"Pergilah. Ibumu bisa membunuhku kalau kamu tertahan di sini lebih lama!"
Keira tertawa, ia melambaikan tangan lalu pergi.
*
Keira bersenandung dalam hati. Ia merasa sangat bahagia. Dua minggu lagi ia akan menikah. Bukan pernikahan mewah, tapi pernikahan istimewa karena ia akan menikah dengan Evan. Keira mengemudikan mobilnya dengan riang untuk menemui Ibunya di Paris Love.
Beep. Beep.
Ponsel Keira bergetar.
"Ya Bu, aku sedang dalam perjalanan ... Titipan?Aku harus memutar lagi ... oke baiklah... daaaa."
Keira mematikan ponsel lalu memutar kemudi. Lestari memintanya mengambil sebuah titipan di toko parfum.
Keira berhenti beberapa blok dari toko parfum. Ia harus berjalan beberapa meter sebelum mencapai toko parfum yang diimaksud dan mengambil titipan Lestari.
"Bayar?" tanya Keira heran.
Petugas yang sedang memegang tas titipan Lestari tersenyum.
"Berapa?" tanya Keira lagi.
Petugas itu menyebutkan sejumlah angka.
"Tunggu sebentar ya, ponsel dan dompet saya tertinggal di mobil. Ibu tidak mengatakan kalau saya harus membayar. Maaf ..." Keira tersenyum.
Petugas itu tersenyum ramah. Pemilik toko yang mengenali Keira sebagai putri salah satu pelanggan tokonya menawarkan agar Keira membawa saja titipan ibunya, masalah pembayaran bisa kapan saja.
__ADS_1
Pemilik toko itu mengenal baik Lestari.
"Kalau tidak membawa uang, bawa saja dulu." Wanita ramah itu menyodorkan kantong milik Lestari.
Keira menggeleng.
"Saya membawanya di mobil. Tunggu sebentar ya, saya akan kembali lagi."
Wanita itu tersenyum lagi.
"Mengapa ia tidak mau membawanya dulu?" salah satu karyawan toko bertanya heran.
"Menurut ibunya, gadis itu sering merasa sungkan pada orang lain. Dia pasti merasa tidak enak kalau membawa barang tanpa membayar. Sebentar lagi ia akan menikah, apakah kalian tahu ia memutus pertunangannya dengan pewaris perusahaan besar dan menikah dengan pemilik toko buku. Ibunya bahkan bercerita dengan bangga."
"Apakah keluarganya tidak marah?" karyawan itu bergosip.
"Entahlah. Tapi bila memang cinta dan jodoh tak akan ada yang bisa memisahkan. Semoga pernikahannya baik-baik saja Karena terkadang iblis suka merasa iri pada kebahagiaan orang lain."
"Tapi mengapa ia lama sekali kembali?" Wanita itu merasa heran.
*
Keira kembali ke mobil sambil menggerutu pada Ibunya. Kalau ia tahu harus membayar, ia akan membawa dompetnya turun dari mobil. Keira baru membuka pintu mobil ketika seseorang memanggilnya.
"Nona Keira?"
"Ya?"
Keira berbalik lalu memekik kaget. Detik berikutnya ia tak sadarkan diri.
***
Lestari menunggu Keira dengan gelisah. Menurutnya Keira terlalu lama terlambat. Ia menelpon ponsel Keira tapi tak dijawab.
Lestari akhirnya menelpon pemilik toko parfum.
"Apakah anakku sudah mengambil titipanku?"
"Tadi dia ke sini tapi tak kembali. Katanya ia ingin mengambil uang di mobil tapi sampai sekarang tak kembali. Kupikir ia ada keperluan mendadak."
"Bolehkah aku meminta tolong?"
"Katakan."
"Aku merasa gelisah karena ia tak menjawab teleponku, bisakah karyawanmu mengecek apakah mobilnya ada di sekitar situ? Putriku terkadang ceroboh ...."
"Baiklah, tak masalah."
Lestari memberi tahu merk dan nomor plat mobil Keira. Ia gelisah.
Beberapa menit kemudian ponsel Lestari berbunyi.
"Nyonya, maaf aku mengatakan ini. Mobil putrimu ada di sekitar sini. Pintunya tidak terkunci, ponsel dan dompetnya ada di dalam mobil ...."
Lestari seketika ambruk. Ia takut sesuatu yang buruk terjadi.
****
Keira tersadar dari pengaruh obat bius yang dibenamkan di wajahnya. Kepalanya terasa pening. Ia sadar ia diculik. Dalam hidupnya ini adalah penculikan ke sekian kalinya yang ia alami.
Keira tak merasa kaget bila ia berada di dalam gudang lagi, tapi kali ini ia berada di dalam sebuah kamar. Tangannya terikat.
Keira melihat jam tangannya, sudah lebih dari 4 jam sejak ia menghilang. Ia yakin keluarganya pasti mulai mencari keberadaannya.
"Halo calon menantuku yang cantik, apa kabarmu?" tiba-tiba Ny Wijaya masuk sambil tersenyum.
Keira tersentak.
"Ibu?!"
"Aku bukan ibumu!" Ny Wijaya membentak.
"Maafkan aku Nyonya." Keira meralat.
Ny Wijaya tertawa.
"Kamu sebenarnya cukup pintar."
__ADS_1
"Nyonya, apa keinginan anda?" tanya Keira penasaran.
"Entahlah, tak ada." Ny Wijaya duduk di tepi tempat tidur. Keira masih menunggu. Ia menatap wanita paruh baya yang hampir menjadi mertuanya. Ia sama sekali tak menyangka bahwa wanita ini memiliki gangguan pada kejiwaannya.
"Aku hanya tak suka melihatmu bersenang-senang di atas penderitaan anakku."
"Bara? Mengapa dia? Apa dia baik-baik saja?" Keira merasa khawatir.
PLAK!!
Ny Wijaya tak suka melihat kekhawatiran Keira.
"Jangan bersandiwara mengkhawatirkan anakku, khawatirkan dirimu sendiri!"
"Aku penasaran, mengapa kamu meninggalkan anakku? Seharusnya Bara yang meninggalkanmu. Bukan kamu yang melakukannya!"
Keira tak menjawab.
"JAWAB!"
"Aku... aku nggak mencintainya."
Ny Wijaya menatap Keira lalu tertawa.
"Hanya itu?"
"Kau sungguh gadis polos. Lalu mengapa meninggalkannya? Bila tak mencintainya kau masih bisa bersamanya, kan? Aku sudah bilang kamu tak perlu menikah dengannya. Kamu sungguh keterlaluan, beraninya kau mempermalukan keluarga kami!"
"Maafkan aku, Nyonya ...."
"Wanita ******!" Ny Wijaya kembali menampar Keira.
"Aku tidak akan membiarkanmu hidup bahagia!"
Ny Wijaya menarik Keira lalu ia memaksa Keira membuka mulutnya. Keira tak tahu apa yang ingin dimasukkan Ny Wijaya ke dalam mulutnya, ia hanya tak ingin menerimanya begitu saja.
Keira menutup mulutnya dengan rapat. Ny Wijaya menampar Keira agar ia membuka mulut. Keira berusaha sekuat tenaga
melawan. Pil yang dibawa Ny Wijaya jatuh menghilang.
Ny Wijaya kembali menamparnya, memukul bahkan menendang Keira. Satu tendangan mengenai perut Keira.
Aaarggghhhhh Keira tak kuasa menahan sakit di perutnya.
Ny Wijaya tidak berhenti. Ia menendang Keira berkali-kali. Keira sudah tak sanggup menahannya. Sekujur tubuhnya terasa nyeri tak tertahankan tapi ia masih sadar.
Ny Wijaya berteriak seperti orang gila.
Ia menarik rambut Keira. Keira menatap Ny Wijaya yang mulai kabur dipandangannya.
Ia tak mengerti bagaimana wanita itu bisa menjadi sedemikian gila menganiaya dirinya.
"Tadinya aku ingin memberimu obat bius agar kamu tak sadar saat terpanggang di dalam sini. Tapi ka.u memilih menikmatinya dalam keadaan sadar, itu pilihanmu. Sungguh ketika mereka menemukanmu, ini akan menjadi berita yang mengejutkan!"
Ny Wijaya melempar Keira begitu saja. Keira membentur tempat tidur, lalu seakan belum puas Ny Wijaya melempar Keira dengan vas.
Keira menyaksikan Ny Wijaya pergi. Ia bertahan beberapa menit sampai ia mendengar suara-suara anak buah Ny Wijaya. Mereka menyiram bensin ke seluruh ruangan. Keira mencoba berdiri namun terjatuh karena tangannya masih terikat, ia tak sanggup berjalan.
Keira merangkak sekuat tenaga untuk bisa keluar. Ia merasa api mulai dinyalakan dari arah dapur. Keira ketakutan. Ia hanya ingin hidup, maka ia berteriak minta tolong.
Tak ada yang mendengarnya. Ia terus merangkak, tak peduli pada pecahan vas yang melukai tangan dan kakinya. ia terus merangkak dan meraih pegangan untuk berdiri.
Aku harus hidup.
Aku akan hidup.
Aku pasti akan hidup
Bukankah aku akan segera menikah?
Aku tahu iblis membenciku, tapi malaikat pasti akan datang membantu..
Tolong selamatkan aku...
Keira berusaha keluar dari rumah yang sudah terbakar sebagian, ia terbatuk-batuk. Pandangannya terhalang asap dan kepalanya pening. Keira terjatuh untuk kesekian kalinya.
Tuhan, kumohon ijinkan aku hidup.
__ADS_1