No Rose Without A Thorn

No Rose Without A Thorn
Rubah Yang Menjual Cinta


__ADS_3

Sudah dua hari sejak Dizza meninggalkan rumah, ia benar-benar tidak kembali.


Keira merenungi kepergian Dizza, Bara melihat ekspresi sedih di wajah tunangannya.


"Kali ini kuduga kalian bertengkar hebat, sampai ia harus meninggalkan rumah." Bara merangkul Keira.


"Apa yang terjadi di antara kalian?" Bara ingin tahu.


"Dia marah dan nggak ingin melihat wajahku." Keira berkata sedih.


Bara tertawa. "Dia sangat menyayangimu, percayalah, dia nggak akan bertahan lama jauh darimu. Sama seperti aku." Kata Bara menghibur. Keira memaksakan diri tersenyum.


"Kita keluar saja ya, ada yang ingin aku tunjukkan padamu." Bara berdiri lalu memberikan tangannya pada Keira. Keira melirik jam.


"Aku mengantuk." Keira berusaha menolak.


"Sebentar saja." Bara memaksa. Akhirnya Keira menurut.


"Mau pergi?" tanya Lestari


"Keluar sebentar, Bu." Keira berpamitan.


Bara ikut pamit lalu merangkul Keira.


****


Dizza menekuk lututnya di dalam kamar Cafenya ketika ia membaca sebuah pesan yang masuk. Deretan kata-kata itu ia baca dengan berulang-ulang, lalu dengan ekspresi tak sabar dia menelpon.


"Apa benar yang kamu katakan?"


"Mengapa wanita itu melarang Kakak ke rumah sakit? Apakah dia gila, bukankah itu membahayakan Kakak? Apa? Demi nama baik? Nama baik apa yang bisa hancur di rumah sakit? Sinting!" Dizza bicara berapi-api.


Dizza menutup telepon lalu bergegas pergi.


****


Beeep.Beep.Beep. Ponsel Dizza bergetar menampilkan kontak ibu. Dizza ingin mengabaikannya, tapi telepon itu terus berdering.


"Dizza, apa kamu masih marah pada Ibu?"


"Hmm..."


"Dizza, kamu berada di mana? bisakah kamu menolong Ibu?"


Apa??!


Dizza ingin sekali berteriak. Dia sedang kabur dari rumah dan ibu dengan santainya meminta tolong padanya.


"Ibu sedang tidak enak badan. Tolong kamu pergi ke Paris Love."


Paris Love adalah sebuah restoran tempat biasanya para sosialita tua berkumpul.


"Untuk apa aku kes ana? Bukankah itu tempat biasa teman-teman Ibu berkumpul?"


"Iya, Ibu sudah berjanji akan mengirim beberapa hadiah untuk mereka. Tapi tidak enak badan. Tolong kamu berikan hadiah itu pada mereka, supir akan membawa hadiahnya sekalian menjemput ke tempatmu."


Dizza tertawa. Ini hanya akal ibu untuk mengetahui tempat persembunyiannya.


"Mengapa bukan supir itu saja yang langsung memberikannya?"


Lestari terbatuk. Dizza terlihat khawatir.


"Tidak sopan. Kamu yang harus mewakili ibu."


"Baiklah, bertemu saja langsung di Paris Love."


"Terima kasih sayangku..."


Dizza menutup telepon sambil menggerutu.


Dizza tak mengerti perkumpulan apa yang diikuti ibunya. Mengapa membawa hadiah? Dizza menenteng 4 paper bag milik toko parfum ternama.


"Hadiah apa ini?Ah, apakah nanti aku juga menjadi seperti ini? Ah ...." Dizza mengomel.


"Nona, tadi Nyonya berpesan, kalau bisa Nona kembali ke rumah malam ini karena Nyonya nggak enak badan."


"Apa memang tidak enak badan?" tanya Dizza curiga.


"Nyonya memang agak pucat, Non."


"Baiklah baiklah baiklah ...." Dizza kesal lalu ia melangkah masuk.

__ADS_1


Paris Love berisi wanita-wanita paruh baya dan tua dari kalangan atas. Entah apa yang membuat mereka senang menikmati makan malam di sana. Dizza pernah sekali menemani ibunya dan menurutnya makanannya tidak enak


.


BRUK. Dizza menabrak seseorang.


"Maaf, Nona ...."


"Ahh..." Dizza mendongak, ia melihat seorang pria berwajah malaikat sedang meminta maaf. Sedetik Dizza terpesona, ia memandang pria itu.


"Kamu pegawai?"


"Hmm, Nona, saya ...."


"Lain kali hati-hati." Dizza berkata angkuh.


"Pantas saja wanita-wanita kurang kerjaan ini senang berada di sini, ahh, licik sekali menggunakan pria-pria berwajah malaikat."


Pria itu mendengar ocehan Dizza, ia ingin protes tapi gadis itu sudah melangkah pergi.


"Maaf, ibu sedang tidak bisa datang, Ia menitipkan salam dan ini." Dizza berkata dengan sopan sembari meletakkan kantong-kantong titipan ibunya di meja.


"Ah, aku tidak menyadari kalau Lestari memiliki dua putri yang cantik-cantik. Mengapa kamu jarang terlihat?"


"Ah, anak muda mana mau pergi bersama ibunya ... Sampaikan salam kami pada Ibumu, semoga dia cepat pulih."


"Lain kali datang lagi bersama ibumu. Siapa tahu kamu bisa berjodoh dengan anak kami."


Wanita-wanita itu tertawa. Dizza memaksakan diri untuk tertawa, lalu ia segera pamit karena tak ingin terjebak lebih jauh dalam pembicaraan yang menurutnya tak masuk akal.


Dizza melangkah pelan-pelan, mengamati interior Paris Love sebagai perbandingan dengan interior cafe miliknya. Tanpa sadar ia masuk ke dalam ruangan privat, suara musik mengalun dengan lembut. Ia sedang berada di balik pembatas ketika ia mendengar seorang wanita bicara.


"Jadi kamu tetap mengijinkan Bara menikahi gadis itu?"


mendengar nama Bara disebut, refleks Dizza menoleh untuk mengintip, ia melihat dua orang wanita sedang duduk menyeruput secangkir minuman. Ia mengenali salah satunya sebagai Ny Wijaya.


"Aku sudah mengerahkan segala cara untuk menentang pernikahan itu. Tetapi Bara bersikeras tetap ingin melanjutkannya. Suamiku bilang kami harus mengalah. "


Dizza mengernyitkan dahi.


"Tapi gadis itu terlalu bermasalah, semacam membawa kesialan."


Wanita yang satunya tertawa.


"Kecantikan tidak selalu membawa keberuntungan. Masa lalunya terlalu mengerikan. Bahkan peramal mengatakan bahwa hidupnya selalu dalam bahaya."


"Peramal? Dia pikir kita ada dalam jaman apa?" Dizza mengutuk dalam hati.


"Peramal itu memintaku menjauhkannya dari rumah sakit. Peramal itu bilang, rumah sakit bisa membawa gadis itu kembali bertemu masa lalunya. Kamu tahu bukan akan sangat memalukan kalau sampai gadis itu mengulang skandal dengan pria lain?"


"Apa?" Dizza menutup mulutnya tak percaya.


"Ayahnya menolak saat aku mengatakan kebenaran itu, dia memikirkan luka putrinya yang belum benar-benar sembuh. Tapi perawatan, kan, bisa dijalankan di rumah."


"Lalu apa akhirnya ayahnya setuju?"


"Tentu saja setuju. Aku mengancamnya bila ia tidak mau menjauhkan


anaknya dari rumah sakit, lebih baik pernikahan dan kerja samanya batal."


kedua wanita itu tertawa.


"Ah, kasihan sekali menantumu."


"Tapi mau bagaimana lagi, ini demi mereka juga dan nama baikku."


Dizza ingin sekali menemui Ny Wijaya dan membuat perhitungan ketika seseorang menariknya paksa.


"Apa yang kau lakukan?!" Dizza memberontak saat menyadari pria yang tadi ditabraknya menariknya.


"Kamu ingin membuat keributan di tempat ini?" tanya pria itu.


"Wanita terhormat tidak akan melakukannya."


Dizza tertawa sinis.


"Bagaimana kamu tahu?"


"Dari tadi aku berada disampingmu dan mendengar percakapan mereka."


"Apa kamu mengenal siapa yang mereka bicarakan?" tanya Dizza heran.

__ADS_1


"Tentu saja tidak. Tapi aku melihat ekspresi di wajahmu yang ingin menelan mereka."


Dizza menghentakan kaki lalu pergi meninggalkan pria yang tak dikenalnya itu, ia kecewa saat mendapati kedua wanita tadi sudah berjalan pergi.


***


Keira berdiri terpaku di depan sebuah rumah. Bara merangkulnya dengan gembira. Rumah itu tidak sebesar rumah Kusuma, hanya rumah sederhana dengan halaman tak terlalu besar.


"Ayo masuk." Bara menggandeng Keira.


Bagian dalam rumah juga terlihat sederhana.


"Ini adalah hadiah untukmu."


"Untukku?" Keira mengernyitkan dahi.


"Ya, aku tahu kamu tidak terlalu menyukai rumah besar dengan berbagai interior mewah. Aku tahu kamu menyukai rumah sederhana yang nyaman."


"Tapi ...." Keira ingin mengatakan sesuatu.


"Sssst ... rumah ini akan menjadi tempat tinggal kita setelah menikah."


Keira terdiam. Ia tak pernah membayangkan sebelumnya akan tinggal bersama Bara. Ia memang memutuskan untuk menikah dengan Bara, tapi ia tak pernah membayangkan akan seperti apa kehidupannya setelah itu.


Keira memandang sekeliling ruangan. Rumah itu memang seperti impiannya, tapi bukan keinginannya. Ketika ia memandang Bara yang dengan bahagia berjalan menuju dapur, hatinya terasa kosong. Ia tak sedikit pun merasa bahagia.


"Kamu senang?" tanya Bara.


"Ehh hmmm ...." Keira bingung, ia sama sekali tidak senang.


"Ya, tentu saja. Aku hanya sedikit kaget." Lalu ia tersenyum. Tak mungkin ia mengecewakan pria yang sudah menyelamatkan hidupnya.


Bila Bara menolak pernikahan dan kerja sama itu. Hidupnya akan hancur seketika karena ayahnya tidak akan melepaskan Evan dan Zea. Ia harus belajar mencintai Bara seperti Bara mencintainya.


Keira berjalan ke ruang tengah untuk menunjukan antusiasnya, ia meletakkan ponselnya di meja lalu berjalan ke dapur menyusul Bara.


"Kamu mau minum?" tanya Bara.


"Biar aku yang buat." Keira menawarkan diri. Keira membuat dua cangkir teh. Bara memeluknya dari belakang, lalu mencium lehernya.


"Seharusnya aku menyiapkan wine ...." Bara berkata menggoda. Keira tertawa.


"Lepaskan, aku nggak bisa mengaduknya." Keira meminta Bara melepaskan pelukannya tapi Bara tak mau melepaskannya.


"Kamu tahu, sejak pertama kali kita bertemu di kampus, aku sudah menyukaimu. Aku tahu suatu saat kamu akan menoleh ke padaku. Saat ayahmu mengajakmu berkunjung ke peresmian perusahan cabang baru ayahku, aku tahu bahwa kita akan bersama."


Keira hanya mendengarkan kata-kata Bara. Bara memang selalu bersikap baik padanya. Tapi ia tak tahu bahwa Bara menyukainya sejak mereka masih kuliah. Bara membalik badan Keira, hingga mereka saling bertatapan.


"Kamu tahu, aku nggak akan bisa hidup tanpamu. Aku akan melakukan apa saja untukmu. Kumohon, jangan pergi lagi." Bara mendekatkan wajahnya lalu mencium Keira.


Bara terus mencium Keira yang masih berpura-pura bahagia.


"Kamu bersedia hidup denganku, kan?" Bara bertanya.


"Kita mulai kehidupan baru..."


Keira mengangguk, Bara kembali menciumnya, ia membawa Keira menuju sofa dan membaringkan Keira dengan perlahan. Mereka masih berciuman, Keira merasa Bara lebih agresif. Tapi ia diam saja.


Apa yang kulakukan?


Bara menatap wajah Keira dalam-dalam, Keira mencoba mengatasi perasaannya ketika akhirnya tangan Bara bergerak membuka kancing baju Keira, ia diam sejenak.


Mengapa menjual diri demi perusahaan?


Keira teringat kemarahan Dizza. Bara masih mencium dan terus membuka bajunya perlahan.


Kakakku bahkan mengajariku bahwa semua bisa diselesaikan dengan menjual diri.


Bara menatap wajah Keira yang terdiam, ia hampir menurunkan kemeja Keira melewati bahunya. Ia menunggu Keira. Semua ucapan Dizza dan ancaman ayahnya bermain-main di kepala Keira. Akhirnya ia mengangguk pelan pada Bara, Keira bahkan melingkarkan tangannya di pinggang Bara dan memejamkan matanya. Membiarkan Bara kembali menciumnya dan menyelesaikan apa yang telah ia mulai.


Aku bukan malaikat, sayang.


Aku bukan malaikat.


Aku tidak memiliki mukzijat untuk mengubah dunia menjadi lebih baik.


Aku bahkan tidak memiliki kekuatan untuk melindungi mereka yang kusayangi.


Aku hanya memiliki cinta yang ternyata tidak cukup untuk membuat semua bertahan.


Dan kini aku telah menjual semua cinta yang ada.

__ADS_1


Semuanya telah berakhir.


Aku hanyalah rubah yang menjual cinta.


__ADS_2