
Sekejap Keira dan Evan saling pandang, keduanya terpaku, tak menyangka bertemu di tempat dan waktu yang tak terduga.
"Kakak?" Nada perlahan menghampiri.
Dizza menoleh dan ikut terkejut melihat Evan dan Nada.
"Secepat ini kalian kembali?" Dizza memeluk Nada dengan bahagia. Tak menyangka akan bertemu mereka di tempat ini.
"Mengapa kalian kembali?" tanya Keira ketus, merusak suasana.
Evan menatap Keira, Keira memalingkan wajahnya. Tak ingin membuang waktu, Evan mendekat dan menarik tangan Keira. Keira tak mau beranjak.
"Kita harus bicara!"
"Lepas, nggak ada yang harus dibicarakan."
Evan tak mau mendengar, dengan kekuatan penuh ia menarik Keira, memaksanya untuk bicara diluar.
Nada dan Dizza terpaku.
Seisi kedai terpana melihat mereka.
"Apakah kita sedang menonton drama?"
"Coba kau cek, barangkali mereka benar-benar artis yang sedang syuting."
Dizza terbatuk-batuk. Pemilik kedai dan pelayan-pelayannya pura-pura kembali sibuk.
"Bagaimana bisa kamu secepat ini kembali?" tanya Dizza.
"Bagaimana bisa kita tetap di sana saat mengetahui kejanggalan itu."
Nada memandang keseliling penghuni ruangan yang sedang mencuri-curi melirik mereka lalu pandangannya terhenti pada pakaian dan dandanan Dizza.
"Hei, sebenarnya kalian sedang mengadakan pertunjukan apa disini? Apa kalian sedemikian depresinya hingga tak bisa membedakan antara pakaian ke pesta dan ke kedai mie?"
Dizza menggetok kepala Nada dengan sumpit.
"Jangan banyak bicara, ceritanya panjang. Tapi karena aku lapar, kita makan dulu. Pesta itu sungguh merusak suasana hati dan selera makan."
"Aku juga sangat lapar."
"Makanlah punya Kakak dulu, nanti kita pesankan Kakak lagi."
"Itu pun kalau dia masih punya selera makan."
"Ya, mereka pasti sedang adu argumen. Yang satu keras kepala, yang satu cenderung bodoh."
"Dua-duanya bodoh."
Dizza dan Nada tertawa seolah tak ada beban. Mereka berharap hari ini akan menjadi awal kebahagiaan mereka. Mereka yakin bahwa masalah di antara mereka akan segera selesai.
*****
Evan menarik tangan Keira ke luar kedai, ia celingukan lalu mengenali seorang pria yang dia curigai sebagai supir Kusuma. Evan menarik Keira menjauh dari pandangn pria itu, ia membawa Keira ke bagian samping Kedai.
"Lepas." Keira berusaha melepaskan tangannya. Evan memandang Keira.
"Aku tidak akan melepaskan kamu lagi, gadis bodoh!" Evan berteriak marah. Keira tertegun.
"Hentikan semua kebodohanmu!"
Keira berhasil melepaskan tangannya, lalu berjalan meninggalkan Evan. Evan menarik tangan Keira lalu memeluknya.
"Kenapa bisa kamu sebodoh ini? Kenapa menanggung semua sendirian? Bukankah aku bilang padamu, kita akan keluar dari lingkaran ini bersama? Kalau kamu masih marah padaku, aku akan menerimanya. Tapi sebelum kamu menghukumku, jangan menghukum dirimu sendiri." Evan meneteskan air mata.
Keira menahan air matanya, ia masih bersikeras melepaskan pelukan Evan.
__ADS_1
"Tolong, jangan ganggu aku lagi." kata Keira tajam lalu ia berlalu, saat itu Evan melihat jepit mawar di rambut Keira. Evan tertegun. Tanpa berpikir panjang, Evan menarik Keira lalu menciumnya. Keira terkejut, selama dua detik ia larut dalam suasana lalu ia cepat-cepat melepaskan diri.
PLAK.
Keira menampar wajah Evan
"Kamu jangan membohongi dirimu sendiri!" Evan berkata dengan marah.
"Kamu yang harusnya sadar. Kamu tahu bahwa sejak awal kita nggak ditakdirkan bersama. Ka ...."
"Tolong ... tolong ... segera...."
Pertengkaran Keira dan Evan terhenti oleh teriakan minta tolong.
"Apakah ada dokter di dekat sini? Di dalam ada gadis yang perlu pertolongan!"
Keira dan Evan menoleh.
"Hei, teman kalian ..."
Keira segera berlari ke dalam kedai diikuti Evan.
Dizza sedang berusaha membantu Nada yang muntah-muntah. Wajah Nada pucat, ia tak bisa berdiri tegak.
Keira segera memeriksa Nada.
"Kamu kenapa? Zea ..." Keira sangat panik lalu ia melirik mangkok mie di meja.
"Apakah dia memakan makanan Kakak?" tanya Keira panik. Dizza menggangguk.
"Dia alergi kepiting. Mengapa ia tak menyadarinya? Mengapa kamu memakannya?" Keira menepuk-nepuk punggung dan wajah Zea dengan panik.
Nada tak bisa menjawab, ia merasa pusing dan detik berikutnya jatuh pingsan.
"Kita harus segera membawanya ke rumah sakit!" Pemilik Kedai berteriak histeris.
***
"Kak, maafkan aku, aku nggak tahu kalau dia alergi kepiting." Dizza tampak merasa bersalah.
Keira tak menjawab. Ia teringat saat kecil, Nada juga pernah mengalaminya. Sejak saat itu ibunya tak pernah memasak kepiting.
"Aku juga nggak tahu kalau Kakak memesan Mie kepiting. Tak ada kepiting dalam mangkok itu, Nada juga pasti tidak tahu."
Keira masih diam, ia gelisah.
"Siapa walinya?" tanya dokter
"Saya!" Keira dan Evan refleks menjawab dan berdiri bersamaan.
Dokter memandang keduanya.
"Salah satu segera mengurus administrasi, yang satu silahkan melihat kondisi pasien. Pasien mengalami alergi. Untung saja segera di bawa ke sini. Sekarang sudah tidak apa-apa. Ia hanya perlu sedikit perawatan."
Keira segera masuk ke dalam ruangan. Nada berbaring sambil menggaruk lengannya.
"Apa kamu sebegitu bodohnya nggak bisa mencium aroma kepiting?" Keira bertanya dengan marah. Nada tersentak.
"Aku nggak menyadarinya ...."
"Apa selama ini kamu nggak menyadarinya? Selama ini apa kamu selalu makan sembarangan?!" Keira masih membentak. Nada melotot.
"Mengapa Kakak begitu marah?"
"Apa kamu nggak tahu kamu bisa mati kalau makan kepiting?!" Keira berteriak histeris. Dizza segera masuk untuk menenangkan Keira.
"Lalu mengapa kalau aku mati? Apa Kakak peduli?!" Nada balas berteriak.
__ADS_1
Keira menahan air matanya. Nada menangis. Dizza ikut menangis.
Evan yang baru saja datang tertegun.
Suster buru-buru masuk lalu mengusir ketiganya.
"Ini rumah sakit. Harap tenang!"
*****
"Lalu sekarang bagaimana?" tanya Dizza. Ia memandang Keira dan Evan yang duduk bersebelahan di lantai lorong rumah sakit. Mereka tidak berani masuk karena suster yang mengusir masih berada di dalam.
Dizza tiba-tiba teringat ucapan Ny Wijaya tentang ramalan peramalnya.
"Wanita tua itu ternyata benar!" Dizza berkata nyaring.
"Ada apa?" tanya Evan kaget.
"Wanita itu selama ini tak mengijinkan Kakak ke rumah sakit karena takut Kakak bertemu masa lalunya di rumah sakit!"
Evan dan Keira menatap Dizza yang masih mengoceh tanpa rasa bersalah.
"Ternyata ia benar ...."Dizza berseru gembira.
Evan menatap Keira. Keira segera berdiri.
"Ayo pulang," Keira berjalan meninggalkan Dizza.
"Tapi, Kak, Nada ...."
Keira tak mendengarkan Dizza, ia segera keluar dari rumah sakit.
Dizza berlari-lari mengikutinya.
****
Dizza mengeluarkan segepok uang dari dalam dompet lalu memberikan pada supir mereka.
"Ini anggap saja uang lembur."
"Wah, Non ...."
Dizza mengeluarkan uang lagi lalu memberikannya lagi.
"Yang ini anggap biaya perjalanan mengantar temanku ke rumah sakit."
"Tapi, Non ...."
"Tapi kalau sampai kejadian ini tersebar sampai ke telinga ayah, aku akan dengan senang hati membantu istri bapak memesan nisan atas nama bapak!"
Supir itu ketakutan. Keira hanya mendengarkan ocehan Dizza yang terdengar mirip ayahnya.
"Kamu lebih mirip Ayah dari pada Kakak."
"Benarkah?" tanya Dizza.
"Apa Aayah juga seperti itu saat mengacam Kakak?" Dizza mulai mengorek informasi.
Keira menghela napas lalu membuang muka.
Dizza memeluk Keira.
"Ahhh, entah mengapa aku menjadi iri pada orang yang memiliki alergi ...."
Keira tak menanggapi tapi ia tersenyum kecil.
Bertemu masa lalu di rumah sakit? Yang benar saja, kami bertemu di kedai Mie.
__ADS_1