No Rose Without A Thorn

No Rose Without A Thorn
Menikah


__ADS_3

"Katakan yang sejujurnya." Lestari duduk di hadapan Keira dan Evan yang terus menyangkal.


"Aku nggak hamil, Bu." Keira menjelaskan.


"Kak, mengaku saja."


Keira menatap kedua adiknya dengan ekspresi ingin menelan mereka. Di saat kekacauan itu terjadi, datang kekacauan lain. Seseorang mengantar mangga muda pesanan Dizza.


"Siapa yang memakan mangga muda?" tanya Lestari.


Dizza menunjuk Keira dengan hati-hati.


Lestari mengamuk dan memaki Evan.


"Bukankah ayahnya sudah memberimu peringatan untuk menjaganya? Mengapa kalian sebodoh ini?" Lestari mengomel.


"Nyonya, Keira nggak hamil." Evan bicara lagi.


Lestari akhirnya melempar bungkus nutrisi ibu hamil ke meja.


"Ibu menemukan ini di kamarmu!" Lestari menunjuk Keira. Evan memandang Keira dengan bingung.


"Aku lupa membuangnya," Keira berbisik tapi yang lain mendengarnya.


"Bagaimana kalian bisa tidak menjaga diri seperti ini? Kalian harusnya bisa menahan diri atau setidaknya gunakanlah pengaman!"


GLEK!


Keira dan Evan saling membuang muka. Ibunya sungguh keterlaluan, Lestari menyadarinya. Lestari menoleh dan melihat Nada dan Dizza ikut salah tingkah mendengarnya.


"Kalian keluarlah." Lestari meminta kedua putrinya keluar.


"Maafkan Ibu." Lestari meminta maaf.


Keira tak mau bicara. Ia kesal pada ibunya.


"Keira ...."


"Aku nggak hamil Bu!" Keira berkata bersungguh-sungguh.


"Jangan bersikeras, dan jangan berpikir untuk menggugurkannya."


Keira terlihat mulai depresi.


"Nyonya, Keira nggak hamil. Kami bahkan nggak pernah melakukan hal yang Nyonya tuduhkan. Keira nggak mungkin hamil saat ini karena dia menjaga dirinya sampai kami menikah!" Evan memberi penjelasan.


Lestari kaget. Ia memandang putrinya yang masih membuang muka.


"Apa Ibu ingin aku membeli test pack sekarang?" tanya Keira


"Tapi ..." Lestari bingung sendiri.


Evan akhirnya menceritakan kejadian yang sesungguhnya. Setelah Evan selesai bercerita, Lestari terdiam lalu tertawa terbahak-bahak.


"Kalian ini sungguh keterlaluan ...."


"Ibu sudah percaya, kan?" tanya Keira. Lestari mengangguk lalu memandang Keira kesal.


"Anak jahat, menghancurkan harapan Ibu. Ibu pikir, Ibu benar-benar akan mendapat cucu."


Keira dan Evan kembali salah tingkah.


****


Akhirnya Nada dan Dizza mengetahui kebenaran tentang kehamilan Keira. Mereka merasa kesal dibohongi tapi juga meminta maaf karena salah menyangka Keira hamil.


"Tapi sejujurnya aku sangat berterima kasih pada kalian. Kalian benar-benar menyayangi Keira." Evan mengacak rambut kedua adik Keira.


Keira tertawa lalu ia pergi bersama Evan ke apartemen untuk mengambil tasnya yang tertinggal.


Suasana apartemen sangat sunyi karena Bibi Ani hanya datang saat dipanggil.


Keira membuat minuman untuk Evan yang sedang duduk di kursi. Lama ia memandangi Evan yang tertawa menonton sebuah kartun.


Keira menyerahkan minumannya lalu duduk di sebelah Evan.


"Tolong maafkan ibuku." Keira merasa tak enak pada Evan. Evan memandang Keira lalu tertawa.


"Aku nggak apa-apa," sahut Evan lalu kembali menonton. Keira menyandarkan dirinya di sofa, tanpa sadar tangannya menekan remote TV. Channel berganti ke sebuah tayangan drama di mana adegannya adalah dua orang anak manusia sedang berciuman.


Keira kaget lalu ia segera memencet tombol, ingin mengganti channel lain. Karena terburu-buru ia malah menekan tombol volume hingga tayangan itu tak bersuara sama sekali.


Suasana seketika hening dengan layar TV yang menampilkan adegan dewasa. Evan memandangi Keira yang baginya jauh lebih cantik dari pada pemeran drama di hadapannya. Evan mendekat, ia meraih Keira dan mencium bibirnya. Keira memejamkan matanya.


Dan sejauh mana aku mampu bertahan?

__ADS_1


Keira pasrah bila akhirnya ia harus gagal menjaga prinsip. Keira memeluk Evan.


Evan memandang wajah Keira lalu tersenyum.


"Ayo kuantar kamu pulang, sebelum aku hilang kesadaran."


Keira memandangi Evan lalu tersenyum. Ia memandangi Evan yang segera berdiri mengambilkan tasnya dan menunggunya di luar pintu.


Aku tahu mengapa aku sangat mencintainya.


***


Keira sedang berbaring menyamping di kamarnya ketika Lestari masuk ke dalam. Lestari meletakkan segelas minuman di nakas lalu duduk di tepi ranjang.


"Keira ...." Lestari menepuk punggung Keira.


"Ya, Bu."


"Mengapa kalian tidak menikah saja?" tanya Lestari, mengagetkan Keira.


"Aku nggak hamil, Bu." Keira menjawab.


"Justru itu ...."Lestari masih menepuk-nepuk punggung Keira.


"Kalian adalah manusia dewasa yang saling mencintai. Sampai kapan kalian akan menjalin hubungan sepasang kekasih? Bukakah ayah sudah memberi restu?"


"Restu?" Keira berbalik.


"Apakah Evan nggak memberitahumu?"


Keira menggeleng sementara Lestari tersenyum.


"Ibu nggak memaksa, tapi hanya menyarankan agar kalian segera menikah."


Keira menatap ibunya lalu terpaksa tersenyum.


Keira kembali berbaring lalu berpikir. Ia mengenang semua yang telah mereka alami. Dipihaknya, ia memang tak memiliki alasan untuk menunda pernikahan. Ia sangat mencintai Evan dan tidak memiliki halangan lagi untuk hidup bersama Evan.


Tapi bagaimana ia akan menyampaikan pada Evan? Menikah bukanlah perkara mudah yang bisa ia minta begitu saja.


Keira menutup kepalanya dengan bantal.


Haruskah aku yang meminta ia menikahiku?


****


Ada yang menilai Keira memiliki kinerja yang layak dipertimbangkan, yang lain menganggap Keira tidak memiliki kompeten dalam pekerjaan. Mereka memutuskan akan melakukan pemungutan suara minggu depan.


Kusuma sudah kembali menjadi direktur di kantor, Dizza bernapas lega karena ia bisa kembali mengendalikan Cafe nya.


Dizza menatap Keira yang lagi-lagi merenung.


"Kak ...."


"Hmm ...."


"Apa Kakak merisaukan pemungutan suara itu?"


Keira menggeleng.


*Aku lebih merisaukan masa depanku. Bagaimana caranya aku akan meminta Evan menikah*iku?


"Kak, mengapa Kakak nggak menikah saja?" tanya Dizza.


Keira tersentak. Itulah yang sedang dipikirkannya, tapi ia tak mungkin mengatakannya.


"Mengapa kamu mengatakannya?Apa karena Kakak akan segera menjadi pengangguran jadi Kakak harus mencari penopang hidup?" Keira tertawa dan Dizza ikut tertawa.


"Aku serius, Kak. Menikahlah dan hidup bahagia."


Keira menatap Dizza.


Apa menurut anak ini meminta seseorang menikahimu itu seperti meminta permen?


Meskipun keduanya memiliki rasa sama-sama manis tapi sungguh itu adalah dua hal yang jauh berbeda.


"Kalian saling mencintai, kan? Menikah saja lah. Kalian, kan, dua makhluk dewasa."


Keira tak menjawab, ia menutup wajahnya dengan majalah yang dipegangnya.


***


Keira sedang membantu Evan menata ulang Lets Read. Semua karyawan sudah pulang meninggalkan mereka berdua yang masih memindahkan beberapa buku-buku.


Nada dan Dizza yang melihat keduanya masih sibuk, datang untuk membantu.

__ADS_1


"Mengapa nggak menunggu besok saat karyawan lain datang?" Dizza mengeluh.


"Rencananya besok pagi akan langsung di cat ulang. Kalau kita menunggu besok, pengecatan pasti tertunda. Kalian pulang saja." Evan memberi penjelasan.


"Kamu juga pulang." Evan bicara pada Keira.


"Aku sekarang pengangguran jadi aku akan bekerja di sini." Keira membantah.


"Kakak akan bekerja di sini?" tanya Nada.


"Tentu saja." Keira tersenyum.


"Siapa yang akan menerimamu?" Evan bertanya menggoda.


"Aku nggak sedang dalam keadaan membutuhkan karyawan baru."


Keira membanting buku yang dibawanya dengan kesal lalu seperti biasa karena kecerobohannya ia terpleset dan jatuh.


"Kakak ... berhati-hatilah !"


Dizza mengomel. Keira bangun tapi ia merasa tangannya sakit.


"Apa kamu baik-baik saja?" tanya Evan.


Keira tak menjawab, ia kembali mencoba mengangkat beberapa ensiklopedia tebal.


"Ehhhh letakan itu!" Evan berteriak.


Keira kaget. "Itu terlalu berat!" kata Evan.


Keira berganti ingin mendorong sebuah box, Evan kembali berteriak.


"Tinggalkan itu!"


Keira meninggalkan box dengan kesal.


"Kamu kenapa?" tanya Keira kesal. Evan mendekat sembarj bicara dengan nada tak kalah kesal. "Memangnya aku nggak melihat tanganmu terluka?"


Evan meminta Keira menyerahkan tangan kirinya yang memerah.


"Kamu melihatnya?" Pipi Keira memerah.


Evan menggosok tangan Keira dengan lembut dan perlahan.


"Kalau kalian seperti ini terus, kapan pekerjaan ini akan selesai?" tanya Nada.


Keira tiba-tiba merasa malu. Ia akan kembali bekerja saat Evan kembali berteriak .


"Kamu, duduk saja di sana!"


Keira tak mengindahkan, ia kembali mengangkat buku-buku.


Evan mendekat lagi lalu mengomel.


"Mengapa kamu nggak mendengarkan aku?"


"Aku nggak apa-apa." Keira menjawab singkat.


"Tapi tanganmu itu ...."


"Kalau Kak Evan sangat mencintai Kakak kami yang tercinta ini, mengapa nggak menikahinya saja dan membawanya pulang ke rumah dari pada membuat keributan dengan bekerja bersama seperti ini?" ucap Dizza sembari mengangkat buku-buku.


"Ya benar. Kalian lebih baik menikah saja." Nada menimpali tanpa rasa bersalah.


Keira menjatuhkan buku di tangannya tanpa sadar.


"Menikah?" Evan mengulang kata-kata itu.


Evan memandang Keira yang berpura-pura menyusun buku.


"Menikah itu atas kemauan dua pihak. Bukan sepihak." Kata Evan lagi.


"Memangnya kalian nggak ingin menikah?Atau ada yang nggak ingin menikah?" Dizza menyelidik.


"Bukan nggak ingin menikah, tapi belum siap." Evan meralat. Keira tersentak. Ia menemukan jawabannya, Evan belum siap.


"Mengapa kalian terus bicara? Kapan selesainya?" Keira menyela, tak ingin membahas tentang pernikahan.


"Menurutku tak ada yang tak siap. Mungkinkah karena Kak Evan tak berani mengungkapkannya?" Nada masih penasaran.


Keira dan Evan mendengarnya. Evan memandang Keira, ia gelisah. Ia berjalan meninggalkan Keira lalu tanpa diduga ia kembali lagi.


"Keira, bagaimana kalau kita menikah saja?" tanya Evan.


Keira tersentak kedua kalinya.

__ADS_1


Apakah pria ini mulai gila?


__ADS_2