No Rose Without A Thorn

No Rose Without A Thorn
Iblis Masa Lalu


__ADS_3

Keira sudah diperbolehkan keluar dari rumah sakit. Dizza yang paling bahagia karena akhirnya Keira bisa kembali tinggal di rumah.


Keira mengemasi barangnya, Dizza membantu memasukan beberapa barang.


"Sudah berapa lama kita tinggal di sini? Mengapa barang-barangku yang banyak?" Dizza mengeluh melihat skincare nya berserakan di atas tempat tidur.


Keira tertawa kecil sementara Dizza merapikan kembali skincare itu, ia melemparnya ke dekat tas yang ada di hadapan Keira. Keira memasukannya ke dalam tas. Saat botol skincare terakhir masuk, Dizza melempar sebuah kertas. Keira menatap kertas itu dengan heran. Dizza berpura-pura tidak melihat, ia berjalan keluar.


"Aku akan menunggu Kakak di luar."


Keira duduk di tepi tempat tidur lalu mulai membuka kertas yang merupakan surat dari Bibi Ani.


Aku tahu kamu sangat terluka. Aku bahkan tidak pantas meminta maaf, maka jangan memaafkan aku. Aku tahu bagaimana rasanya hidup menyimpan sakit hati pada orang yang kita cintai. Aku melakukannya sekalipun ternyata aku salah, tapi kamu berbeda. Aku hanya salah menyangka bahwa kamu menyakitiku, tapi aku benar-benar menyakitimu. Sepanjang hari aku berdoa, aku ingin mengakhiri semua ini, tapi aku tidak bisa melakukannya. Aku hanya ingin mendengar suaramu sekali lagi. Ingin melihat wajahmu sekali lagi. Aku ingin berlutut dan meminta maaf karena sekeras apa pun aku mencoba, aku tidak bisa berhenti mencintaimu. Biarlah ini menjadi kutukan dan hukuman untukku, tapi kamu harus memulai hidup bahagia. Kamu harus melupakan masa lalu ini. Kamu tak perlu memaafkan aku, kamu hanya perlu melupakan aku.


Keira meremas surat itu lalu membuangnya. Ia tak ingin ibu atau ayahnya mengetahui surat itu. Mereka sudah mengancam Evan agar pergi menjauh dari kehidupan mereka setelah Evan mengembalikan nama baik Keira. Keira tidak ingin menangis lagi. Ia bergegas mengemasi barang-barangnya dan menyusul Dizza.


Dizza mengamati Keira yang terlihat biasa saja. Ia menduga Keira tak membacanya.


"Kak, Kakak nggak membacanya?" Dizza menyenggol Keira, ia melirik ke depan, takut kalau supir mereka mengadu.


"Hmm." Keira menjawab singkat.


"Sudah belum?"


"Sudah." Keira menjawab lagi.


Dizza mendadak penasaran mengenai isi surat itu, mengapa Keira sama sekali tidak bereaksi, menangis atau meminta bertemu Evan. Dizza memandangi wajah Keira yang sedang melihat jalanan di luar.


"Kak, Kakak baik-baik saja?" tanya Dizza.


"Ya, aku baik-baik saja."


Keira lalu memandang Dizza.


"Kalau kamu bertemu dengannya lagi, katakan bahwa Kakak sudah tidak memiliki urusan dengannya." Keira berkata dengan tajam lalu ia melirik sekilas supir yang mencuri dengar pembicaraan mereka.


Dizza terpaku mendengarnya.


Sudah tak memiliki urusan? Kakak bahkan mengorbankan nyawa demi dia. Bagaimana bisa sekarang seakan tak memiliki perasaan padahal baru saja berada di antara hidup dan mati demi menyelamatkan pria itu.


*


Hal pertama yang dilakukan Keira ketika sampai di rumah adalah mencari ibunya.


Lestari memeluk putrinya lalu menanyakan makanan apa yang ingin ia makan.


"Bu, katakan yang sebenarnya."


Lestari melepas pelukannya lalu memandangi Keira dengan bingung. Mereka sedang berada di dalam kamar.

__ADS_1


"Mengapa ibu membuang Zea?"


"Apa yang kamu bicarakan?"


Keira mengambil pisau buah lalu mengancam lestari.


"Ketika aku berada di ambang kematian, aku bersumpah jika aku kembali ke dunia ini maka aku akan mencari kebenaran tentang Zea. Kalau akhirnya aku tidak mengetahuinya, aku lebih baik kembali ke sana."


"Jangan, Keira lepaskan pisau itu!" Ny Lestari menjerit panik.


Keira masih memegang pisau itu, siap menyayat nadinya sendiri.


"Ibu melakukan itu semua demi kalian. Demi kalian berdua!"


"Ibu selalu mengatakan hal itu berulang kali. Tapi kenyataannya Ibu sama sekali tidak mempedulikan Zea!"


"Ibu peduli!"


"Kalau waktu itu kamu membawa lari Zea, dia pasti tidak akan selamat."


Keira terperanjat.


"Mengapa? Mengapa Ibu hanya membawaku, mengapa Ibu nggak menukarnya membawa Zea?"


"Tidak bisa. Kamu harus tinggal di sini agar kamu selamat. Tapi Zea agar selamat, ia tidak boleh berada di sini!"


"Karena Kusuma bisa membunuhnya!"


Keira semakin terkejut.


"Kalau ayah bisa membunuhnya, mengapa Ibu membawaku? Mengapa ayah tidak membunuhku?"


"Karena kalian berbeda!"


"Apa yang berbeda?! "


"Karena kamu putri kandung Kusuma!"


Keira seketika menjatuhkan pisaunya, belum hilang keterkejutannya, ibunya kembali membeberkan fakta lain yang tak kalah mengejutkan.


"Dan adikmu adalah putri kandung Baskoro!"


Keira terjatuh ke lantai. Dua kenyataan yang didengarnya itu adalah hal yang berada di luar dugaannya. Ia sama sekali tak menyangka ibunya menyembunyikan kenyataan itu selama ini.


Lestari akhirnya menceritakan rahasia yang ia simpan bertahun-tahun.


Lestari dan Kusuma sudah menjalani hubungan sejak Lestari bekerja di perusahaan Kusuma, jauh sebelum ia menikah dengan Ayuni. Mereka terpaksa mengakhiri hubungan karena Kusuma harus menikah dengan Ayuni, wanita pilihan keluarganya.


Lestari mengalah, atas desakan Baskoro dan Resti ia pergi dari kehidupan Kusuma tanpa mengetahui bahwa ia sudah mengandung Keira.

__ADS_1


Kusuma dan Baskoro adalah rekan bisnis yang memiliki hubungan dekat. Karena sering bertemu, Kusuma mengenal Resti, seorang aktris yang akhirnya rela menjadi wanita simpanan Kusuma.


Baskoro terus mencari Lestari karena ia tahu Lestari memiliki anak dengan Kusuma, sementara Ayuni tidak juga memiliki anak. Baskoro ingin menyingkirkan Keira dan Lestari, tapi ia tak bisa menemukannya karena Lestari berpindah-pindah tempat membesarkan Keira seorang diri. Lalu suatu hari saat Keira berusia 4 tahun, Baskoro menemukan mereka. Baskoro melakukan segala cara untuk menyingkirkan mereka berdua.


"Ibu bisa menahan semua yang ia lakukan pada ibu, tapi saat ia akan melukaimu, Ibu tidak bisa menahannya." Ny Lestari menangis.


Malam itu Lestari memohon jika Baskoro ingin membunuhnya maka biarkan Keira hidup. Ia akan melakukan apa saja agar Keira dibiarkan hidup. Baskoro yang dalam keadaan mabuk menyetujuinya, ia meminta salah seorang anak buahnya untuk membawa Keira sementara ia melampiaskan kejahatannya pada Lestari.


"Anak buah itu adalah Dany, orang yang selama ini kamu kenal sebagai ayah kalian."


Dany tak sanggup mendengar teriakan Lestari, maka atas dasar kemanusiaan, ia memberontak, ia melawan anak buah lainnya dan berhasil membawa lari Keira dan Lestari. Mereka berhasil kabur ke pinggir kota.


"Tapi ternyata kutukan itu tidak berhenti." Ibu menyeka air matanya. Dari hasil kejahatan Baskoro, Lestari ternyata hamil. Saat mengetahuinya, Lestari ingin menggugurkan janin itu tapi Dany melarangnya. Ia bersedia menikahi Lestari dan mengakui anak itu sebagai anaknya.


Keira menangis lagi, ia tak menyangka ibunya sangat menderita.


Mereka hidup dengan bahagia sampai suatu saat Baskoro kembali menemukan mereka. Baskoro membunuh Dany.


"Ayahmu tidak meninggal karena kecelakaan. Baskoro membunuhnya dengan menabraknya. Saat itu Ibu benar-benar ketakutan. Siapa lagi yang akan melindungi kita?"


"Lalu Kusuma berhasil menemukan Ibu."


Kusuma tahu bahwa Keira adalah anak kandungnya, tapi ia tidak tahu bahwa Lestari memiliki anak lain dari Baskoro. Ia meminta Lestari untuk tinggal bersamanya. Lestari memikirkan keselamatan Keira, Keira akan aman jika tinggal bersama Kusuma, tapi bagaimana kalau Kusuma tahu Zea adalah anak Baskoro. Maka Lestari berbohong pada Kusuma, ia mengatakan bahwa Zea adalah anak Dany dan ia tidak akan membawa Zea bersamanya.


Tentu saja Kusuma setuju, ia tak pernah melihat Zea yang dititipkan di panti asuhan.


"Selama itu ibu mencari cara agar kita bertiga bisa pergi bersama ke luar negeri. Tapi ternyata tregadi itu terjadi. Saat kamu mengalami peristiwa mengerikan itu, Kusuma sangat marah. Ia mengamuk dan mencari Baskoro. Ia bersumpah akan menghabisi semua keluarga Baskoro. Itulah yang membuat Resti ketakutan dan akhirnya bunuh diri. Ibu juga ketakutan. Ibu tidak mungkin membawamu lari saat itu dan ketika kebakaran itu terjadi, Ibu menemukan cara yang akhirnya ibu sesali saat ini. Ibu meminta Kepala Panti menyatakan Zea meninggal. Sesungguhnya ibu mengirim Zea keluar negeri bersama sepasang suami istri yang menjaganya sebagai anak angkat. Ibu memastikan Zea hidup dengan baik, sekolah dengan baik, sama sepertimu. Setiap bulan ibu menerima kabar darinya namun tiba-tiba semua kabar itu terhenti. Orang tua angkat Zea meninggal dan ibu kehilangan kabar. Ibu sudah berusaha mencari Zea, tapi ibu tidak tahu bahwa ia kembali ke sini."


"Kamu tahu bagaimana perasaan ibu saat tahu gadis itu adalah Zea? Ibu ingin memeluknya, meminta maaf, tapi ibu tidak bisa melakukannya. Terlebih setelah semua yang terjadi padamu, apa kamu pikir ayahmu akan membiarkan Zea selamat?"


Keira menangis, tak percaya bahwa kisah hidup mereka menjadi serumit ini.


"Kamu tahu, saat kamu mengalami hal yang sama dari Hans, Ibu ingin membunuh anak itu. Ibu sangat menyesal lalai menjagamu, Ibu takut kamu mengalami hal yang sama dengan ibu. Untunglah kamu tidak sampai hamil. Bagaimana bisa ayah dan anak menjadi seperti iblis?!" Lestari mengepalkan tangannya.


"Ibulah yang mendatangi Hans malam itu."


"Ibu ...."


Lestari mengangguk.


"Ibu mana yang tidak hancur melihat putrinya diperlakukan seperti itu? Ibu tidak mendorongnya ke jurang, ibu hanya memaksanya melakukan sendiri."


Keira memandang ibunya yang terlihat lelah.


Sekarang aku tahu mengapa iblis bertambah banyak. Karena api kemarahan mampu mengubah seorang yang seperti malaikat menjadi iblis.


Lalu apakah seorang iblis bisa berubah menjadi malaikat?


Keira menangis di pangkuan Ibunya. Ia tak menyangka, demi dirinya ibunya rela mendapat banyak penderitaan.

__ADS_1


__ADS_2