
Sejak pertengkaran itu, Dizza tidak mau menegur Keira. Dia menghindari bertemu dengan Keira. Bila tanpa sengaja berpapasan di rumah, Dizza akan pergi begitu saja tanpa menyapa. Begitu juga bila kebetulan bertemu Bara di rumah. Dizza mengabaikan kehadirannya.
Jika Keira pulang ke rumah, Dizza akan pergi keluar rumah dan pulang larut malam. Keira bukan tidak menyadari perilaku Dizza, tapi ia berusaha memberi Dizza waktu untuk berdamai, maka ia mendiamkan sikap kekanakan Dizza.
Saat makan malam ayahnya bertanya ke mana Dizza, Keira akan membuat banyak alasan tentang ketidakhadiran Dizza. Kusuma menerima saja alasan-alasan itu, tapi tidak dengan Bara. Ia baru saja akan pulang ke rumah setelah mengantar Keira ketika berpapasan dengan Dizza di depan pintu. Dizza melewatinya begitu saja tanpa menyapa.
Bara melihat Dizza dengan heran.
"Ada apa dengannya?" tanya Bara.
"Nggak ada apa-apa. Mungkin dia lelah." Jawab Keira sembari menggandeng lengan Bara sambil tersenyum.
"Apa kalian bertengkar? Seumur hidupku baru kali ini aku melihatnya begitu tak acuh melihatmu."
Keira mencoba tertawa.
"Ya, kami bertengkar. Tapi bukan hal besar, sebentar lagi kemarahannya pasti hilang."
Bara tertawa. "Baiklah, aku pulang dlu. Jaga dirimu." Bara mencium kening Keira.
Keira melambaikan tangan lalu bergegas mencari Dizza. Ia melihat Dizza akan berjalan ke luar rumah kembali, saat melewati Keira lagi-lagi Dizza tak menegurnya.
Keira menarik tangan Dizza, memaksanya berhenti melangkah.
"Ke mana kamu pergi setiap malam?"
Dizza tak mau menjawab. Keira menyilangkan tangannya di dada.
"Kamu boleh marah pada Kakak, boleh bersikap tak acuh pada Kakak. Tapi jangan berbuat seperti itu pada Kak Bara."
Dizza menatap Keira dengan marah, tapi ia enggan menjawab maka ia kembali berjalan.
"Apa Kakak pernah mengajarimu bersikap tidak sopan?" Keira bertanya marah.
Dizza menghentikan langkahnya lalu berbalik.
"Kakakku bahkan mengajariku mengabaikan saudara sendiri, mengajarkan bahwa segala sesuatu dapat diselesaikan dengan menjual diri!"
"Dizza...!" Keira berteriak marah karena Dizza kembali mengungkit hal itu.
"Jangan pernah tanyakan ke mana aku pergi. Jangan perdulikan aku lagi! Urus saja urusan Kakak sendiri!" Dizza berkata dengan sengit lalu berlalu.
Keira shock mendengar kata-kata jahat dari Dizza. Selama ini Dizza tak pernah membantahnya, tak pernah berkata kasar padanya.
Keira berjalan dengan lunglai ke kamar sembari mengulang perkataan Dizza barusan. Ia teringat saat Dizza merawatnya, membantunya, menemaninya. Ia teringat kekhawatiran Dizza saat ia mengalami pendarahan. Bagaimana ia berusaha menyelamatkan nyawa Keira.
Ia menyadari bahwa ia benar-benar telah mengecewakan Dizza.
Keira bersandar di dinding. Ia telah kehilangan Zea, kini ia juga kehilangan Dizza.
__ADS_1
*
Aroma permusuhan antara Dizza dan Keira akhirnya tercium oleh Lestari. Ia merasa bahwa kedua anaknya tidak lagi seharmonis dulu bahkan cenderung saling menghindari. Lestari akhirnya mencari tahu melalui Dizza.
"Dizza ...."Lestari membelai kepala Dizza yang sedang berbaring ke samping, membelakangi ibunya.
"Ya ...." Dizza menjawab tanpa menoleh.
"Apa kamu bertengkar dengan kakakmu?"
Dizza tak menjawab.
"Apa kamu masih marah karena masalah penerus itu?" Lestari bertanya dengan hati-hati. Dizza tak menjawab.
"Percayalah, kakakmu tidak melakukannya dengan sengaja ...."
Dizza berbalik lalu duduk tegak.
"Tapi apakah orang-orang di luar sana percaya?"
"Yang terpenting, kamu percaya." Lestari tersenyum.
"Kita nggak bisa mengontrol rumor yang diciptakan orang-orang. Selama rumor itu tidak masuk dalam berita maka hanya akan menjadi gosip belaka. Rumor seperti itu akan selalu ada ... Ibu juga pernah mengalaminya ...."
"Apa ibu tidak merasa sakit hati?"
Dizza terdiam.
"Mereka mengatakan kakak wanita murahan, menjual diri, bahkan rubah yang merebut kekuasaan!"
"Ibu memahami perasaanmu. Ibu juga tak senang mendengarnya. Tapi apa pun yang kita lakukan, tidak akan pernah cukup untuk membuat diri kita terlihat baik bagi semua orang."
"Kalau kamu bersikap seperti ini, bukankah itu semakin membuat kakakmu terluka?"
"Pasti sudah cukup menyakitkan mendengar gunjingan orang lain, tapi tak ada yang lebih menyakitkan bila yang mengucapkan adalah orang terdekat kita. Kamu tahu, kan, dia sangat menyayangimu?"
Dizza memandang Lestari.
"Apa ibu tega melihat kakak hidup nggak bahagia?"
"Mengapa dia nggak bahagia? Bara sangat mencintai Kakak. Keira nggak akan kekurangan cinta dari Bara."
Dizza memandang Lestari dengan tatapan tak percaya.
"Manusia hanya akan bahagia bila menikah dengan orang yang dia cintai, Bu. Sebanyak apa pun menerima cinta, bila kita nggak mencintainya, maka mustahil bahagia."
Dizza bangkit dari tempat tidur, ia kesal bicara pada Lestari.
Lestari tertawa.
__ADS_1
"Nak, kamu masih terlalu muda. Kamu belum mengerti tentang cinta."
"Aku tahu." Dizza masih mempertahankan pendapatnya.
"Tak akan ada yang bahagia bila menikah dengan terpaksa. Baik yang dicintai maupun yang mencintai. Keduanya akan terluka."
Ny Lestari masih menganggap kata-kata Dizza adalah kemarahan anak muda.
"Kita sudah melihat contohnya. Ayah dan ibuku." Kata Dizza cepat lalu membanting pintu. Lestari terdiam.
*
Dizza merenung sendirian. Ia sedang berada di cafe miliknya yang tak kunjung buka. Ia berbaring di kamar, tempat di mana ia dulu membawa Nada.
"Ah, di saat seperti ini aku merindukan gadis sinting itu." Dizza tertawa sendiri.
Ia menyalakan ponsel lalu mengirim pesan pada Nada.
Hey, saudara. Apa kamu baik-baik saja.
Saudara? Kamu gila. Aku baik-baik saja.
Kita memiliki kakak yang sama, tentu saja kita juga saudara.
5 menit kemudian Nada mengirim balasan.
Apa kamu sedang kesepian?Apa terjadi sesuatu?
Aku baik-baik saja.
Syukurlah.
Dizza bingung apa yang harus ia katakan lagi. Ia ingin menceritakan tentang Keira tapi ia tahu bahwa Nada tak ingin mendengar apa pun lagi tentang Keira.
Beep.
Ponselnya bergetar lagi.
Kamu pasti tidak sedang baik-baik saja. Ceritakan padaku, aku akan menjadi pendengar.
Dizza tertawa bahagia.
Evan sedang memikirkan Keira. Ia tak menyangka bahwa kisah mereka berakhir begitu saja. Semua adalah salahnya, seandainya ia tidak termakan hasutan pamannya, tentu ia tidak akan membuat kesalahan fatal. Membuat skandal Keira sebagai wanita simpanan, mengancam dan menyakiti perasaannya. Evan merasa ia mendapat kutukan karena tidak bisa melupakan Keira.
Mengapa kita tidak bisa memilih untuk mengenang dan melupakan bagian yang kita sukai dalam hidup.
Evan melamun memandang langit ketika ponselnya berbunyi.
Seketika wajah Evan mengeras.
__ADS_1