No Rose Without A Thorn

No Rose Without A Thorn
Lamaran


__ADS_3

Keira memandang wajah Evan dengan kesal.


"Apa kamu pikir pernikahan itu permainan?" tanya Keira.


"Apa kamu belum ingin menikah?" tanya Evan hati-hati.


Keira semakin kesal.


"Keira, mari kita menikah." Evan mengulang.


"Apa kamu sedang melamarku?!" Keira berteriak kesal melihat Evan.


Nada dan Dizza menertawakan kelakuan Evan.


Evan memutar bola matanya, terlihat berpikir lalu ia berlutut.


"Ya, aku melamarmu. Mari kita menikah."


Bukan hanya Keira yang terkejut, Nada dan Dizza ikut terkejut lalu detik berikutnya Keira tertawa.


"Berhentilah bermain-main, pekerjaan kita masih banyak." Keira merasa lelah.


"Aku serius." Evan menatap Keira lalu perlahan ia mengeluarkan sebuah kotak dari sakunya. Kotak cincin.


Keira terkejut begitu juga kedua adiknya.


"Aku serius. Menikahlah denganku."


Sejenak Keira terhipnotis, "Kamu sudah mempersiapkanya?" tapi detik berikutnya ia menyilangkan tangan di dada.


"Kamu melamarku di dalam toko yang tutup, di depan kedua adikku? Yang benar saja!"


"Apa salahnya di depan mereka? Kamu bahkan rela berkorban demi mereka berdua, apa salahnya kalau mereka meluangkan waktu untuk melihat lamaran ini?"


Nada dan Dizza seakan melihat pertunjukan komedi secara langsung.


Keira masih tak mau menjawab.


"Van, setelah semua yang kita lewati untuk bisa bersama, kamu serius melamarku seperti ini?"


"Maafkan aku, aku sudah merencanakan berbagai ide lamaran yang kulihat dari internet tapi semuanya tak bisa kulakukan. Pertama karena terlalu ribet dan aku nggak bisa meminta bantuan kedua adikmu yang bisa langsung menyebarkannya kepada keluargamu. Kedua, karena aku tahu kamu nggak akan suka sebuah lamaran yang meriah, menjadi pusat perhatian, dan sedikit norak."


"Tapi ini norak." Dizza menyela.


Keira menahan tawanya.


"Aku rasa aku nggak akan sempat mencari ide lain lagi. Aku ingin menikah denganmu sesegera mungkin!"


"Tapi di tempat ini, aku bahkan nggak berdandan!" Keira terlihat kesal.


"Kamu selalu cantik apa adanya. Keira jawablah, kakiku gemetaran." Evan perlahan membuka kotak cincinnya. Keira melihat cincin bermata bunga mawar merah. Ia terdiam.


"Mengapa aku harus menerimanya?" tanya Keira masih bersikeras.


"Karena kamu mencintaiku!" Jawab Evan dengan cepat.


"Yang satu keras kepala!" ucap Dizza pelan.


"Yang satu bodoh!" Nada menimpali


"Keduanya sama bodohnya!" Nada dan Dizza menyahut bersamaan.


"Baiklah, karena cincin itu sepertinya terlihat cantik di tanganku, aku akan menerimanya." Keira menyodorkan tangan kanannya.


Evan melompat berdiri lalu memakaikan cincin itu di jari manis Keira. Mereka tersenyum lalu tanpa memperdulikan Nada dan Dizza, mereka berciuman.


"Aku tahu kamu pasti akan melamarku, walau aku terkejut karena ini sedikit norak dan memalukan!"


"Aku nggak tahu mengapa aku melakukannya sekarang, yang aku tahu hanyalah kamu nggak akan menolak menikah denganku!"


"Aku mencintaimu!" Evan mencium Keira lagi.

__ADS_1


Nada dan Dizza perlahan berjalan mundur dan pulang. Tak peduli bila besok tukang cat datang dan buku-buku itu masih berserakan. Mereka pulang dengan gembira.


"Walau yang satu keras kepala dan yang satu agak bodoh, tapi mereka saling mencintai."


Nada tertawa mendengar ucapan Dizza.


"Semoga mereka bahagia."


***


Keira dan Evan duduk di hadapan Lestari dan Kusuma.


"Kalian benar-benar akan menikah?" tanya Kusuma. Keduanya mengangguk. Evan memandang wajah Kusuma, orang yang dulu pernah ia panggil sebagai ayah.


"Baiklah, menikah saja." Kusuma berkata pelan.


"Terima kasih Ayah." Keira menatap Kusuma dengan mata berbinar. Kusuma terpana sekian detik, dia nyaris tidak pernah melihat Keira tersenyum bahagia seperti saat ini. Bertahun lamanya putrinya itu selalu memberinya wajah datar dan senyum palsu.


"Keira, semoga kamu bahagia. Jangan terluka lagi."


Keira tersenyum lagi lalu Kusuma menatap Evan.


"Aku gagal menjadi ayah yang baik untuk Keira. Kamu harus menjaga putriku. Jangan sampai kamu menyakiti dia."


"Ayah ...." Keira terharu mendengar permintaan Kusuma.


"Aku minta maaf atas apa yang telah kalian lalui di masa lalu." Kusuma membuang wajahnya keluar jendela lalu kembali menatap Keira yang masih menunduk.


"Jangan merenung! Aku tak mungkin mengeluarkan satu-satunya putri kandungku dari daftar pewarisku!"


Keira mendongak lagi menatap Kusuma. Lestari hanya tersenyum memandang suaminya.


"Tapi kamu harus tetap menghidupi putriku dengan layak!" Kusuma mengancam Evan yang terperangah.


"Ya, aku janji." Evan merunduk, takut menatap Kusuma.


"Jadi, bagaimana pernikahan ini akan dilangsungkan?" Lestari bertanya dengan gembira untuk mencairkan suasana.


Bagian tersulit melangsungkan pernikahan adalah berdebat dengan ibu yang menginginkan jenis perayaan berbeda.


"Ini pesta pernikahan pertama kita, haruskah kita mengundang beberapa penyanyi terkenal?"


"Bu?!" Keira memprotes.


"Ini pesta anakmu, biarkan dia yang menentukan!" Kusuma memelototi Lestari lalu melangkah pergi.


Tapi lestari tampak tak peduli, "Ayahmu dulu tidak memberikan ibu pesta pernikahan, kamu harus memiliki pesta yang indah, mewah, dan meriah!"


Keira dan Evan saling pandang lalu menghela napas panjang.


***


"Apa kamu tahu bahwa mantan tunangan anakmu itu akan menikah?"


Kabar rencana pernikahan Keira dan Evan menyebar begitu saja. Walau mereka berusaha tidak menyebarkannya, tapi para pencari berita tak kekurangan sumber.


"Mengapa gadis itu memilih menikah dengan pria sederhana yang bukan dari kalangan kita?"


"Setelah semua skandal yang menyebutkan dia sebagai wanita matre, nyatanya ia sama sekali tidak memilih harta."


"Apakah sebenarnya dulu ia terpaksa bertunangan dengan anakmu?"


Ny Wijaya merasa tekanan darahnya naik.


Ia merasa sakit hati pada keluarga Kusuma.


Ny Wijaya tak ingin membahas pernikahan mantan tunangan anaknya. Ia pulang ke rumah dengan hati kesal.


"Beraninya dia melanjutkan hidup dengan tenang! Apa dia pikir dia akan bahagia sementara anakku menderita?!"


Ny Wijaya melempar gelas. Ia memang tak menyukai Keira, tapi ia tak bisa menerima kenyataan bahwa gadis itu yang memutuskan pertunangan dan mencampakkan putranya. Ia tak menerima saat keluarga itu dengan angkuhnya menolak tawaran investasi dengan imbalan putrinya untuk Bara.

__ADS_1


Ia semakin marah karena mengetahui Bara sangat membutuhkan gadis itu. Bara sangat terluka hingga memilih tinggal di luar negeri, meninggalkan ibunya.


"Dia telah melukai anakku! Beraninya dia bersenang-senang di atas penderitaan Bara!"


Ny Wijaya menelpon seseorang.


***


"Keira," Evan menghentikan langkahnya, membuat Keira ikut berhenti melangkah.


Mereka sedang berjalan-jalan di halaman rumah Keira untuk melepas ketegangan setelah bertemu Kusuma yang teryata memberikan restunya.


"Kamu lega, kan?" tanya Evan.


Keira tersenyum, "Sangat lega."


Evan mengenggam tangan Keira lalu menatapnya dengan serius.


"Aku janji akan menjaga kamu, membahagiakanmu, melindungi kamu ..."


Keira meletakkan jarinya di bibir Evan.


"Aku nggak suka makan janji. Buktikan saja," ucap Keira pelan.


Evan terperangah lalu mendecak kesal, "Kamu semakin mirip ayahmu!"


"Menyesal?" tanya Keira.


Evan tertawa lalu menarik pinggang Keira.


"Manisnya mulut wanita ini. Boleh disentuh?"


Keira tertawa lalu memiringkan kepalanya, "Masih ada ayahku di rumah ini, berani?"


"Ayahmu bilang aku harus membahagiakan kamu, kan?"


"Hmm, dia di belakangmu ...."


Evan tak mempedulikan Keira dia semakin mendekat dan ...


"Apa yang kalian lakukan?!"


Jeritan Dizza dan Nada terdengar membahana di sekeliling taman.


Keira menoleh dan Evan sontak melepaskan diri.


"Jangan terlalu vulgar, kalian ini nggak memberi contoh yang baik untuk adik-adiknya!" Nada mencemooh.


Keira tertawa sementara Evan salah tingkah.


"Egh ...." Evan berusaha membela diri.


"Kalian berdua masuklah dulu." Keira memberi perintah kedua adiknya yang seketika merengut.


"Kak, kami ...."


"Masuk!" Keira meninggikan nada bicaranya. Evan sampai terperangah.


Nada dan Dizza segera masuk ke dalam rumah sambil merengut dan menggerutu, "Lihatlah sekarang yang ada di mata Kakak hanya pria itu!"


"Dia bahkan nggak mau melihat kita!"


Keira hanya tertawa lalu menarik Evan dan menciumnya sebelum pria itu tersadar.


"Kei!"


Keira hanya tertawa lalu berlari meninggalkan Evan untuk menyusul kedua adiknya.


Evan berbalik dan melihat Keira merangkul kedua adiknya sambil tertawa.


Aku hanya ingin melihatnya terus tertawa bahagia seperti itu.

__ADS_1


__ADS_2