No Rose Without A Thorn

No Rose Without A Thorn
NRWT2: Malaikat


__ADS_3

"Halo Kak!" Nada tiba-tiba muncul di kamar, mengagetkan Keira yang sedang meneguk air setelah menelan obatnya.


"Kamu ngagetin, Zea!" Keira mengelus dadanya sendiri.


Nada tertawa lalu segera mengambil gelas di tangan Keira dan meletakkannya di meja. Melihat Keira celingukan menatap meja yang penuh berbagai makanan, Nada ikut memperhatikan isi meja.


"Mau makan yang mana? Aku ambilkan."


"Coba ambil roti itu, Kakak mau coba." Keira menunjuk kotak berisi roti dalam ukuran mini. Nada segera mengambilnya lalu duduk di tepi tempat tidur.


"Kata Dizza kamu putus, bener Ze?"


Nada menatap Keira lalu tersenyum, "Iya, nggak asik."


"Apa yang nggak asik?"


"Ya pacaranya nggak asik. Ya udahlah, putus aja, " jawab Nada sambil merunduk menatap roti lalu mencomotnya sepotong dan memakannya.


Keira menatap Nada lalu menyentuh kepalanya.


"Kamu baik-baik aja, Ze?"


"Ya ampun Kak, cuma putus bukan bercerai! Biasa aja lah."


"Siapa yang putus?" tiba-tiba Lestari masuk sambil membawa teko teh panas.


"Aku," jawab Zea ringan sembari membantu Lestari menuang teh ke dalam cangkir.


"Baguslah." Lestari tampak menarik napas lega, sejenak Nada menghentikan gerakan tangannya.


"Kamu bisa mendapat yang jauh lebih baik dari Jack," kata Lestari sambil menyeruput tehnya.


Keira yang memperhatikan gerak gerik Nada menyadari bahwa adiknya itu tidak baik-baik saja. Apalagi saat Nada dengan nada datar memberi Lestari sebuah pertanyaan.


"Jadi ibu memang nggak suka sama Jack, ya?"


"Bukan nggak suka. Dia baik tapi menurut Ibu kamu bisa mendapat pria yang jauh lebih baik."


"Memangnya aku jauh lebih baik dari Jack?" tanya Zea sinis.


Lestari dan Keira menyadari nada bicara Nada yang mulai berubah. Sebelum terjadi pertengkaran dan perdebatan yang sering menguap di antara ibu dan adiknya, Keira berusaha menengahi.


"Perutku nggak enak, Bu!" keluh Keira dengan sedikit berlebihan.


Lestari dan Nada serentak menoleh dan mendekati Keira.


"Kenapa, Kak?" tiba-tiba Dizza masuk dan ikut mendekat.


Keira menatap ketiga wanita di depannya bergantian lalu mengeluh, "Kalian ini mirip pasukan perawat! Jangan ngeliatin aku seolah-olah aku ini pasien sakit parah!"


"Memang Kakak parah!" Dizza mendengus kesal.


"Kalau nggak parah, nggak disuruh bedrest!" Nada menimpali.


"Sebenarnya aku nggak apa-apa. Hamil itu bukan sesuatu yang berlebihan, kan?"


Lestari dan kedua anaknya menarik napas menatap Keira yang tampak tersenyum manis.


"Memangnya bagaimana rasanya hamil, Kak?"


"Entahlah. Nggak ada perasaan khusus. Hanya merasa beruntung karena ada calon anak di perutku," jawab Keira sambil tersenyum.


"Itu yang buat kamu selalu menutupi keluhanmu, kan? Kamu nggak mau anakmu dianggap menyusahkan kamu?" tanya Lestari


"Ya, seperti itu. Menurutku semuanya wajar saja dan nggak perlu dilebih-lebihkan hanya karena aku hamil"


"Keira, manja saat hamil itu hal wajar. Kamu itu yang justru menakutkan karena selalu bersikap santai sampai-sampai ibu mengira kamu nggak peduli dengan calon anakmu."


Keira terkesiap, tak menyangka ibunya berpikir demikian.


"Bu, bagaimana bisa aku nggak peduli dengan anakku?"


"Maaf, Kei, Ibu hanya salah mengira. Kamu terlalu santai dan mengabaikan kesehatanmu. Kamu terlihat seolah kehamilanmu ini bukan hal penting."


Keira kembali merasa terpukul, ucapan ibunya menyadarkan dirinya kalau bisa jadi Evan juga menganggapnya demikian. Evan mungkin kecewa karena dirinya seolah meyepelekan kehamilannya yang sudah mereka tunggu.


"Jadi menurut ibu aku mengecewakan Evan?"


Lestari tersenyum lagi, "Dia pasti heran melihatmu seperti ini. Keira, dia pasti nggak keberatan walaupun kamu meminta hal yang aneh. Jangan lagi memendam apa yang kamu inginkan. Apa pun yang kamu mau, bilang. Kalau Evan nggak sanggup mencarinya, ibu dan ayah pasti mengusahakannya. Kedua adikmu juga nggak mau keponakannya lahir dengan liur yang terus menetes."


Keira seketika tertawa lalu mengambil tangan ibu dan kedua adiknya.


"Terima kasih karena kalian semua selalu mengkhawatirkan aku, bisa kubayangkan betapa manjanya nanti anakku karena kalian semua." Keira pura-pura mengeluh membuat kedua adiknya terbahak.


**


"Van ..." Keira memanggil Evan yang sedang menekuri laptopnya.


"Ya, butuh apa?" tanya Evan dengan sabar.


"Van ..." Keira masih memanggil, membuat Evan segera menghentikan aktifitasnya lalu menoleh.


"Maaf, Kei, sedikit lagi. Sebentar ya, kamu butuh apa? Sebentar lagi aku ambilkan." kata Evan lalu kembali menatap laptopnya.

__ADS_1


Keira tak menjawab melainkan hanya merengut kesal, perlahan dia menurunkan kakinya lalu berdiri mendekati Evan dengan langkah pelan.


"Kamu ngapain, sih?" tanya Keira mengangetkan Evan yang segera berbalik lalu menggendong Keira dan mengembalikannya ke tempat tidur.


"Jangan keras kepala! Kan, sudah dibilang nggak boleh turun dari tempat tidur!"


"Ini berlebihan!" Keira menjerit kesal.


"Sayang, aku tahu kamu bosan tapi plis, jangan membantah ya."


Keira menarik napas kesal, dia merasa dirinya sudah sehat tapi seisi rumah menganggapmya bagai sehelai kapas yang bisa hanyut kapan saja.


"Kamu butuh apa?" tanya Evan


"Panggilkan aku dokter!"


"Kenapa? kamu sakit lagi? Yang mana?" Evan segera mengambil ponsel sembari memeriksa perut Keira dan mengusapnya perlahan.


Keira tersenyum penuh kemenangan ketika Evan mematikan telepon lalu menatapnya dengan panik, "Sebentar lagi dokter datang. Mana yang sakit, Kei? Gimana caranya aku bisa buat kamu nyaman?"


Keira memutar bola matanya lalu menepuk tempat kosong di sebelahnya.


"Sini, temani aku. Aku nggak suka ngeliat kamu kerja sementara aku nggak boleh kerja sama sekali."


Evan seketika tertawa lalu mengacak rambut Keira, "Kamu iri?" tanyanya sembari naik ke tempat tidur, berbaring di sebelah Keira demi menuruti permintaan istrinya.


"Iya. Aku iri karena kamu bisa bebas ke mana saja, melakukan apa saja, sementara aku, kamu kurung di sini. Bosan, Van."


"Maaf, Keira. Kalau kamu sudah sehat, kamu boleh kerja lagi, kok."


"Bohong. Ayah ngelarang aku kembali ke kantor, kan?" tanya Keira tiba-tiba.


Evan terkesiap, setahunya mereka masih merahasiakan opsi agar Keira sementara waktu tidak kembali ke kantor. Demi kesehatan dan keselamatan Keira akibat penguntit yang menghilang.


"Kamu ..."


"Aku dengar. Kalian ngobrol di ruang tengah, aku nggak tuli, Van."


"Seharusnya kamu nggak dengar kalau kamu tetap di kamar. Kamu keluar tanpa sepengetahuanku!"


"Plis van, aku bukan tawanan! Kamu kira enak sepanjang hari berada di sini?"


"Keira, kamu kira aku juga senang ngeliat kamu begini setiap hari? Bikinnya seneng berdua, tapi udah hamil kamu yang menderita sendirian. Kamu kira aku nggak sedih? Kalau seandainya bisa, lebih baik aku yang gantiin kehamilan kamu itu!"


"Ya sudah kamu aja yang hamil!"


Hening seketika lalu keduanya tertawa bersamaan.


"Plis Van, aku bosaaaaaan!" Keira tiba-tiba merengek sembari menyentuh kedua pipi Evan.


"Kamu mau aku gimana biar bosan kamu berkurang?"


Keira memejamkan matanya lalu membawa tangan Evan ke pinggangnya.


"Tepukin ya," pintanya tanpa membuka mata.


"Oke." Evan segera menepuk pelan pinggang Keira.


"Sakit ya, Kei?"


"Nggak, cuma enak aja kalau kamu tepuk begini."


"Kenapa kamu baru minta sekarang?"


"Karena aku takut kamu nggak bisa nahan diri kalau aku minta aneh-aneh."


Evan seketika menghentikan tepukannya lalu menatap mata Keira yang terpejam.


"Kei ..."


Keira membuka matanya lalu tersenyum, perlahan dia mencium Evan yang tampak bengong. Sesaat Evan terpana lalu kemudian dia lepas kendali. Perlahan dia memposisikan diri di atas Keira, tanpa menindihnya, Evan mencium Keira dengan sangat lama hingga tiba-tiba dia berguling ke samping Keira menarik napas panjang.


"Bahaya ini, Kei."


"Hmm, maaf ya."


"Aku nggak apa-apa, kok. Jadi ngidam kamu tuh begini?"


Keira menutup wajahnya lalu tertawa sendiri. "Anak ini mungkin perempuan, dia nggak mau jauh-jauh dari kamu, Van."


"Alasan. Anak kita apa kamunya aja yang nggak bisa jauh dari aku?" goda Evan sambil merapikan rambut Keira.


"Ya aku juga. Van, maaf ya, aku belum bisa penuhin kewajiban aku di...."


Evan memeluk Keira untuk menghentikan ucapannya.


"Ini cuma sementara, aku bisa tahan dan baik-baik saja. Jadi tolong bantu aku dengan mempercepat kesembuhanmu. Oke sayang?"


Evan jelas berbohong, dia tidak baik-baik saja. Evan sama menderitanya karena harus menahan diri tidak menyentuh Keira selama kehamilannya. Sudah beberapa minggu mereka tidak pernah berhubungan badan dan itu jelas membuatnya sedikit tersiksa. Keira menyadari hal itu, sebagai istrinya dia sangat paham tabiat Evan. Pria itu sulit menahan diri bila di dekatnya. Selama ini sebelum dia hamil, Keira nyaris tidak pernah menolak keinginan Evan untuk menyentuhnya.


Karena merasa tidak bisa melaksanakan kewajibanya aeperti biasanga Keira akhirnya membatasi dirinya untuk berdekatan dengan Evan. Hal yang juga mengiksa Keira yang sejak hamil justru ingin terus berdekatan dengan suaminya.


"Keira, kamu dengar aku?" tanya Evan membuyarkan lamunan Keira.

__ADS_1


"Ya, aku coba. Tapi paling nggak ijinkan aku kerja dari rumah. Aku nggak mau tiap hati cuma baring nonton tv, makan, tidur. Kayak orang mau nunggu di eksekusi!"


"Ya memang lagi nunggu waktu aku eksekusi kamu, Kei!"


"Evan! Aku serius."


Evan terkekeh lalu mencium kening Keira,


"Nanti aku bilang ayah. Kan, dia atasan kamu. Kalau dia yang pecat kamu, aku bisa apa?"


"Ya, kamu bantu bilang kalau aku tambah stres karena nggak boleh kerja."


Evan menarik napas lalu mengeratkan pelukannya. Dia sadar ucapan Kerira ada benarnya. Wanita itu bisa tambah stres karena dilarang bekerja. Keira sudah cukup bersabar menahan diri untuk tidak membahas masalah Baskoro. Keira menerima ucapan kusuma untuk tidak mempertanyakan kasus penguntit dan mempercayakan segalanya pada Kusuma. Meskipun Evan tahu kalau Keira masih tetap khawatir, tapi wanita itu berusaha untuk tidak membahasnya lagi.


"Kei, kamu percaya kalau aku bisa menjaga dan melindungu kalian, kan?"


"Aku percaya, tapi ..."


"Kak, dokternya datang!" Dizza membuka pintu kamar tanpa mengetuk membuat Evan refleks melepaskan Keira dan beranjak berdiri dengan canggung.


Dizza hanya menggelengkan kepalanya sambil menggerutu, "Ingat loh dokter bilang Kakak nggak boleh capek!"


"Bawel kamu, Za!" Evan mengacak rambut Dizza lalu mempersilahkan dokter untuk memeriksa Keira yang mengedipkan sebelah matanya pada Dizza.


Sepeninggal dokter, Evan segera mengunci pintu lalu kembali berbaring di sebelah Keira dan memeluknya.


"Makasih sayang!" kata Evan senang karena dokter mengatakan Keira membaik.


"Hm..." Keira segera mendorong Evan dan beranjak berdiri.


"Mau ke mana?"


"Kan, dokter sudah bilang kalau aku sudah boleh jalan-jalan. Bosan di kamar terus. Aku mau ke taman."


"Sudah malam, Kei."


"Ya udah ke balkon aja. Boleh, ya."


Evan tersenyum lalu segera mengangkat Keira dan membawanya ke balkon.


"Kamu mulai berlebihan ketularan orang rumah ini, Van."


"Biarkan. Kalau kamu sakit terus aku yang paling rugi," kata Evan santai membuat Keira tertawa. Keira melngkarkan tangannya di pinggang Evan lalu disandarkan kepalanya di bahu Evan sambil merenung.


"Van, jujur aku masih takut. Paman kamu ..."


"Jangan takut Keira. Nggak akan ada yang terjadi, aku janji."


"Siapa yang membantunya keluar dari penjara? Nggak mungkin orang biasa, kan?"


"Yang jelas sesama iblis, Kei."


Keira kembali terdiam beberapa saat.


"Tapi aku punya banyak malaikat, kok." katanya lagi sambil tersenyum.


Evan menoleh untuk menatap Keira yang sedang mengelus perutnya sendiri.


"Satu lagi ada tambahan malaikat kecilku."


Evan membalik tubuh Keira agar berhadapan lalu dia berlutut untuk meletakkan kepalanya di perut keira.


"Halo sayang, sehat-sehat di dalam ya. Malaikat Papa pasti bisa ngerasain, kan, kalau mama itu orang kuat?"


"Malaikat kita punya papa yang hebat, dia pasti nggak sabar ketemu kita, Van."


Evan terkekeh lalu berdiri dan menangkupkan tangannya di kedua pipi Keira.


"Aku cinta kalian berdua," katanya sambil mencium bibir Keira dengan perlahan.


Keira tampak menikmati ciumannya hingga tiba-tiba dia mendorong Evan dan menatapnya dengan serius.


"Kenapa, Kei?"


"Aku tiba-tiba ngebayangin bubur ayam, Van. Masih ada yang jual nggak jam segini?"


Evan seketika melotot karena saat ini sudah lewat tengah malam tapi melihat wajah Keira yang sepertinya sangat menginginkan makanan itu, Evan langsung tersenyum. Dengan cepat dia mengangkat Keira ke tempat tidur lagi.


"Tunggu di sini, aku bawakan secepatnya."


Keira mengerutkan dahi tapi tidak membantah, dia hanya melihat kepergian Evan sambil tersenyum. Selebihnya dia tidak melihat kalau Evan menghebohkan seisi rumah untuk membantunya membuat semangkuk bubur ayam pesanan Keira.


"Kenapa Kakak tiba-tiba mau makan bubur ayam?" tanya Dizza ikut panik.


"Jangan banyak tanya, Za. Bantuin aja!" Evan menjawab dengan kesal.


Lestari yang baru turun bersama Kusuma memandang keduanya dengan heran. Lalu setelah mendengar penjelasan Evan, Lestari mengusirnya dari dapur.


"Biar Ibu yang buatkan. Kalau kamu yang buat, bisa-bisa malah hilang selera makannya Keira!"


Evan menciut, dia segera menyingkir dan hanya menyaksikan ibu mertuanya membuat semangkuk bubur dengan cekatan.


Di dalam kamarnya Keira berbaring sambil mengelus perutnya.

__ADS_1


Tuhan tolong jaga aku dan malaikatku, jangan biarkan satu iblis pun mengusik kami.


__ADS_2