No Rose Without A Thorn

No Rose Without A Thorn
Pendarahan


__ADS_3

Keira kembali ke rumah kepala desa dengan terbungkuk-bungkuk, perutnya terasa sakit. Dizza yang mengetahui Keira menghilang, mondar-mandir di teras dan memarahi beberapa penjaga.


"Kak, Kakak dari mana saja? Ada apa?"


Dizza membantu Keira berjalan dan mendudukannya di kursi.


"Sakit," Keira meringis.


Dizza membuka baju Keira dan melihat perban Keira mengeluarkan darah.


"Ya, ampun, Kak!" Dizza tampak panik.


"Dizza, tolong Kakak, ayo kita pulang ...." Keira memegang erat tangan Dizza.


Dizza berteriak memerintah semua orang untuk berkemas.


"Bu, maafkan kami pergi terburu-buru. Terima kasih atas bantuannya, lain kali saya akan datang lagi." Dizza menyempatkan diri untuk berpamitan pada pemilik rumah.


"Ya, tidak apa-apa. Oh iya, ini titipan dari teman kalian. Katanya tertinggal saat wanita itu meninggalkannya." Wanita pemilik rumah memberikan sebuah jepit rambut bunga mawar. Dizza menerima jepit itu dengan heran.


"Kak, sabar ya ...." Dizza memegang tangan Keira, ia sudah mencari-cari obat perada rasa sakit milik Keira tapi sepertinya mereka meninggalkan obat itu di rumah.


Keira gemetar menahan sakit di perutnya. Dizza berusaha menelpon ibu atau ayahnya tapi ia kehilangan sinyal.


"Apakah kita langsung ke rumah sakit?" tanya Dizza


"Jangan. Kita pulang ke rumah, ya ...."Keira memohon. Dizza mengangguk walau ia gelisah.


Perjalanan mereka masih membutuhkan waktu sekitar 1,5 jam, Keira sudah mulai setengah tak sadar dan mengigau, tubuhnya dingin.


Bukan hanya Dizza yang gelisah, supir yang membawa mereka juga gelisah. Meskipun dia mengemudikan mobil dengan kecepatan maksimal, jarak mereka ke rumah tetap masih jauh.


"Non, apa tidak sebaiknya kita berhenti di rumah sakit terdekat?" tanya supir itu gelisah.


Dizza semakin gelisah, apalagi ketika dilihatnya darah di perut Keira mulai merembes keluar pakaian. Keira sudah terlihat sangat lemah.


"Kak, Kakak!" Dizza menepuk-nepuk pipi Keira.


"Ya ... apa kita sudah sampai rumah?" Keira bertanya dengan terbata-bata. Dizza menyeka keringat dingin di dahi Keira. Lalu memeluk tubuh Keira yang semakin dingin.


"Kak, tetap sadar! Bicaralah!" Dizza semakin panik. Tapi Keira tidak bisa bicara, napasnya bahkan terasa berat.


"Nona kecil, kasihan sekali Nona besar, saya takut terjadi apa-apa kalau kita terlambat membawa pulang." Supir mereka terlihat semakin gelisah.


"Lima ratus meter di depan kita sudah berada di jalan kota, ada rumah sakit daerah ...."


"Ya, ya, kita berhenti di sana." Dizza membuat keputusan sendiri.


"Persetan dengan aturan ayah!" Dizza mengumpat kesal.


Para penjaga membawa Keira ke dalam rumah sakit daerah. Keira sudah setengah tak sadar, ia tak bisa membedakan berada di rumah sakit atau di rumahnya sendiri.


"Dokter, tolong, itu luka ...." Dizza menunjuk perut Keira yang mengeluarkan darah, tepat saat itu Keira memejamkan matanya.

__ADS_1


"Kak!" Dizza semakin panik melihat Keira kehilangan kesadarannya tapi dokter segera menghalangi Dizza yang berusaha mendekat.


"Silahkan tunggu di luar."


Dizza menanti di luar dengan gelisah, ia berusaha menelpon ibu dan memberi tahu keadaan Keira.


"Bu, maaf aku membawa Kakak ke rumah sakit. Aku takut kalau menunggu di rumah, darah ...."


Ny Lestari berterima kasih atas keputusan Dizza, ia akan menyusul dan tidak akan memberi tahu Kusuma. Dizza lega ibunya mengerti keadaan mereka.


"Nona kecil, darah di mobil cukup banyak. Apa Nona Besar baik-baik saja?" Supir yang baru saja kembali membersihkan bekas darah di mobil melapor pada Dizza.


"Bapak jangan membuatku ketakutan. Kita berdoa saja."


Dokter keluar dan memanggil Dizza.


"Apa yang terjadi pada pasien? Luka sebesar itu harusnya ia tidak jongkok, berlutut, atau duduk di lantai. Apa kalian sedang dalam perjalanan jauh?"


"Ya, kami dari kota, apakah itu karena terlalu lama duduk di mobil?"


"Sepertinya lukanya sudah robek lebih dulu ... Pasien membutuhkan donor darah segera. Apa di antara kalian ada yang bisa mendonorkan darah?"


DEG! Dizza gemetar. Golongan darahnya berbeda dengan Keira. Ia segera mengumumkan pada penjaga bila ada yang memiliki golongan darah B, ia akan memberikan bonus dua kali lipat. Tapi di antara lima orang itu tak ada golongan darah B.


"Saya akan mencarinya, " supir itu segera pergi.


Dizza mengangguk dengan gelisah, ibunya memiliki golongan darah yang sama dengan Keira, tapi ibunya masih jauh dan ibunya darah tinggi.


Tanpa sengaja Dizza memasukkan tangannya ke dalam saku, ia meyentuh jepit bunga mawar lalu terlihat berpikir. Dizza menelpon Nada.


"Ada apa lagi? Dia sudah memutuskan hubungan denganku."


"Kami di rumah sakit daerah. Luka tusukan itu robek, dia butuh donor darah. Darahku dan semua penjaga disini tidak cocok, apakah darah kalian sama?" Dizza bicara tanpa jeda lalu ia menutup telepon.


Nada terlihat shock, Evan yang sedang menyetir bertanya heran. Mereka baru saja melewati rumah sakit yang dimaksud.


"Nad, ada apa?"


"Putar. Ayo kita putar ke rumah sakit itu!"


Evan segera memutar kembali kendaraannya, mereka berlari menemui Dizza yang menunggu dengan gelisah.


"Aku tahu kalian pasti datang." Ia memeluk Nada dengan gembira.


Ny Lestari mengatakan pada Kusuma bahwa ia menyusul Keira dan Dizza yang terpaksa menginap di penginapan pinggir kota karena kemalaman. Ia sepakat dengan Dizza akan merahasiakan yang sebenarnya karena kalau Kusuma tahu Keira pendarahan saat perjalanan itu, maka ia tidak akan memberi ijin Keira keluar rumah lagi. Mereka juga merahasiakannya dari Bara.


"Siapa yang mendonorkan darah?" tanya Ny Lestari sembari menyelimuti Keira yang masih tak sadar.


"Nada." Dizza menjawab santai.


"Ibu tidak ingin mengucapkan terima kasih? dia ada di kafetaria."


Ny Lestari terdiam. Ia memandang wajah Dizza dengan sedih, lalu membelai rambutnya.

__ADS_1


"Dizza, terima kasih karena kamu selalu menjaga Keira."


Dizza menatap ibunya dengan heran.


"Bukan aku yang mendonorkan darah, Bu."


Ny Lestari mengangguk. "Ibu tahu. Tapi kamu juga menjaga Keira selama ini. Kamu sudah mengorbankan banyak waktu menemani Keira, mengurus banyak hal, kamu benar-benar sudah dewasa. Kamu mirip ibumu. Dia pasti bahagia di sana."


Dizza terpaku sesaat lalu bertanya dengan sedikit heran, "Ibuku, apakah ibu mengenalnya?"


Lestari mengangguk. "Tentu saja. Dia adalah salah satu orang yang Ibu hormati."


Dizza menatap Lestari tak percaya tapi Ny Lestari justru tersenyum. "Apa kamu tak percaya bahwa kami dulu berteman?"


Lestari lalu teringat pada Ayuni, teman dekatnya dahulu. Ayuni dan Lestari adalah teman sejak SMA, mereka kuliah di tempat yang sama dan tinggal di asrama yang sama. Ayuni yang memberikan Lestari rekomendasi untuk bekerja di perusahaan Kusuma.


Sejak mereka berteman, Ayuni selalu mengalah dan mengurus Lestari yang tidak memiliki orang tua. Bila Lestari sakit, Ayuni yang menjaganya. Bila Lestari merenung karena tidak bisa membayar biaya kuliah, Ayuni selalu memberinya pinjaman yang tak pernah ditagih. Lestari tahu bahwa Ayuni selalu mendapat kemarahan orang tuanya karena sering membantu Lestari.


Ketika akhirnya Ayuni harus menikah dengan Kusuma, mereka berdua sepakat untuk berpisah. Lestari mengalah, ia pergi tanpa memberi tahu Ayuni bahwa ia mengandung anak Kusuma. Suatu hari Lestari menerima sebuah surat dari Ayuni, entah bagaimana caranya ia berhasil menemukan Lestari.


Lestari, aku tahu kamu memiliki anak dengan Kusuma. Mengapa kamu dulu tidak memberitahu aku dan membuatku menjadi wanita jahat?Aku sering berkhayal bahwa seandainya kamu yang menikah dengan Kusuma, pasti saat ini aku bisa menggendong anakmu. Aku kesepian di sini tanpamu. Lestari, dokter mengatakan bahwa kemungkinan besar aku tidak bisa selamat bila melahirkan anak ini. Aku mohon, bila aku meninggal dan Kusuma memintamu kembali, tolong bawa anakku.


Lestari memandang Dizza, "Ternyata anakmu yang sekarang menjaga anakku," ia berkata lirih lalu meninggalkan Dizza.


*


Ny Lestari memandang wajah Nada. Ia tak bisa lupa saat terakhir kali melihat Zea di rawat di rumah sakit karena kebakaran itu. Ia meninggalkan Zea untuk menjalani operasi, mengirimnya ke luar negeri dan bersyukur bahwa Zea kehilangan ingatannya.


"Terima kasih karena telah menolong Keira." Ny Lestari berkata dengan canggung.


Nada memandangi wajah ibunya dan bertanya-tanya. Apakah seluruh hidupnya hanya untuk Keira? Ia teringat bahwa ibunya selalu mengatakan kepada semua tetangganya bahwa Keira adalah anak yang cerdas, ia tak pernah mendapat pujian dari ibunya walaupun ia memang tidak cerdas. Ibunya memang tidak pernah membedakan apa pun. Ia dan Keira makan makanan yang sama, tidur di tempat yang sama, tapi ibunya selalu menomorduakan Zea dengan alasan Keira adalah kakak, orang yang lebih tua dari Zea.


Saat Keira membutuhkan kehadiran orang tua untuk pertemuan sekolah dan Zea melakukan penampilan seni, ibunya akan pergi ke sekolah Keira lebih dulu dan terlambat hadir di sekolah Zea hingga melewatkan bagian perannya.


Tapi saat Keira melakukan penampilan seni dan Zea membutuhkan kehadiran orang tua karena ia melakukan kesalahan dan harus dihukum, ibunya lagi-lagi terlambat datang di sekolah karena Keira tampil di akhir acara. Zea selalu marah karrna hal-hal semacam itu, tapi Keira akan membuatnya luluh. Keira akan menghiburnya dan mengalah dalam hal-hal lain agar Zea tidak marah. Keira selalu berhasil membuat Zea tertawa.


"Apa dia baik-baik saja?" tanya Nada dengan kecemasan yang tidak disembunyikan.


"Dokter bilang jahitan operasinya robek, dia kehilangan darah. Tapi dia akan baik-baik saja. " Ny Lestari meneruskan keterangan dokter.


Nada menerawang, ia melirik Evan yang berada tak jauh dari mereka lalu Nada berdiri seraya berkata, "Kalau begitu, aku akan pergi. Selamat tinggal."


"Ibu akan memberikan kamu uang untuk ...."


Nada meradang menatap wanita yang pernah melahirkannya.


"Dia kakakku! Aku melakukannya bukan karena sekarang kalian menjadi kaya raya! Sekalipun Ibu meninggalkan aku, tapi Kakak .... "


Ny Lestari menunduk lalu menyela pelan,


"Hiduplah dengan baik. Jaga dirimu dan jangan maafkan Ibu."


Nada menatap wanita di hadapannya dengan pandangan tak percaya.

__ADS_1


Apakah dia benar-benar ibu kandungku?


Nada tak bicara lagi, ia pergi begitu saja dengan perasaan terluka.


__ADS_2