
Keira duduk dengan gelisah, meskipun Evan menggenggam erat tangannya yang berada di bawah meja, kecemasannya tak sepenuhnya hilang.
Menatap ketenangan yang terjadi di meja makan, membuat Keira semakin tak tenang. Mata Keira bergerak memandang Kusuma dan Lestari yang menikmati makanan dengan santai. Lalu pandangannya beralih ke arah Dizza dan Nada. Dua adiknya duduk dalam diam, mungkin sama tegang dengan dirinya.
Secara tiba-tiba Kusuma meminta Lestari memanggil Nada untuk makan malam bersama. Ketika wanita itu terdiam membeku, Kusuma dengan enteng mengucap beberapa kata, "Apa yang salah kalau aku mengundang anak itu? Dia anakmu, adik Keira."
Lestari bukannya tidak merasa gembira, dia luar biasa takjub mendengar permintaan Kusuma tapi karena dia tahu watak pendendam Kusuma, dia justru ketakutan bila suaminya itu menyembunyikan maksud lain. Lestari luar biasa gelisah, tapi demi menghormati dan menghargai Kusuma, dia berusaha tidak menunjukkan kecurigaannya.
"Keira, kenapa nggak makan?" tanya Kusuma.
"Egh, aku .... "
"Kalau kamu nggak suka makanananya harusnya kamu bilang. Kamu bisa menyampaikan ke ibumu atau langsung ke dapur, biar mereka menyajikan makanan yang kamu inginkan."
"Aku suka, kok," jawab Keira berusaha mengusir kegugupannya. Perlahan dia mulai mencoba memasukan makanan ke mulutnya.
"Dizza, Zea, kenapa kalian juga nggak makan?" tegur Lestari.
Kusuma menoleh ke arah Dizza dan Nada yang seketika memotong makanannya.
"Ini lagi makan, Bu. Enak, kan, Nad?" Dizza menyenggol lengan Nada yang tergagap mengiyakan.
"Zea, saya mengundang kamu datang karena ingin membicarakan sesuatu," kata Kusuma tiba-tiba membuat Keira seketika meletakkan sendoknya.
Evan kembali meremas tangan Keira untuk menenangkannya. Nada seketika bertambah gugup, tapi bukannya menatap Kusuma, dia justru menatap Keira yang gelisah.
"Saya ingin kamu tinggal bersama kami di sini," kata Kusuma mengejutkan semua orang.
"Yah?" Dizza yang pertama kali menyela.
"Kamu nggak keberatan, kan?" tanya Kusuma pada Dizza yang seketika menggeleng.
"Aku senang, Yah. Tapi apa alasannya? mengapa tiba-tiba?"
Nada diam tak bereaksi hanya matanya yang sibuk melirik ibu dan kakaknya yang sama-sama tidak bersuara.
Kusuma meletakkan sendoknya, mengambil minum lau berdiri.
"Alasannya? Kita keluarga, kan?" kata Kusuma lalu pergi begitu saja meninggalkan meja makan yang dipenuhi ketegangan.
Tak ada yang bersuara karena semua sama bingung dan gelisahnya, mereka tidak mengetahui apa rencana Kusuma sesungguhnya.
"Zea, kamu mau tinggal di sini?" tanya Lestari tiba-tiba.
Nada menoleh menatap ibunya lalu balik bertanya, "Ibu berharap aku nggak mau?"
"Zea ...." Keira menegur Nada yang seketika terdiam.
"Bukan begitu maksud Ibu, tapi ...."
"Ah, akhirnya! Sudah lama aku mengkhayalkan hal ini! Zea, besok aku bantu kamu memindahkan barang-barangmu! Kamarmu di sebelah kamarku!" sorak Dizza dengan riang untuk mengurangi ketegangan.
"Za!" Evan menegur Dizza yang terlihat tidak memahami situasi.
"Kakak juga nggak suka aku di sini?" tanya Nada sinis menatap Evan.
__ADS_1
"Bukan begitu, Nad, Aku ...."
Keira seketika berdiri lalu menatap Nada."Zea, temui Kakak di kamar," kata Keira lalu bergegas pergi meninggalkan meja makan.
Nada memandang Lestari yang ingin bicara tapi ditahannya karena Nada sudah berdiri mengikuti langkah Keira yang sudah jauh meninggalkannya.
***
"Kemarin kamu kemana?" tanya Keira saat Nada duduk di sampingnya.
"Maaf, Kak, aku ada kerjaan."
Keira tersenyum lalu terdiam karena seorang pelayan datang menyajikan teh dan makanan ringan.
"Makan dulu, Zea, tadi kamu nggak bisa makan, kan?"
Nada tertawa, mengambil sepotong biskuit lalu menyodorkan ke mulut Keira, "Kakak yang nggak bisa makan, kan?" tanyanya sembari memaksa Keira menerima suapannya.
Keira terpaksa mengunyah biskuit di mulutnya sambil tersenyum karena Nada juga ikut mengunyah seperti dirinya.
"Zea, kamu mau tinggal di sini?" tanya Keira hati-hati.
"Kakak keberatan?" tanya Nada.
Masih tetap menatap Nada, Keira duduk bersandar lalu menerawang, "Kamu tahu, Zea, menemukan kamu dan tinggal bersama kamu lagi itu dua mimpi yang selalu menghantui Kakak. Meskipun dulu kamu sudah dinyatakan meninggal, Kakak masih selalu berharap kalau kita bisa tinggal bersama lagi."
Nada ikut bersandar di sebelah Keira lalu kembali bertanya, "Jelaskan yang mengganjal hati Kakak. Aku akan mendengarkan dan menimbangnya untuk memutuskan apa yang harus aku lakukan."
Keira menoleh lalu tersenyum,"Kamu masih percaya Kakak, kan?"
Keira memejamkan matanya, "Seandainya Kakak tahu apa yang harus kita lakukan saat ini."
Nada seketika tertawa, "Aku percaya pada orang yang bahkan tidak tahu apa yang harus dia lakukan? Yang benar saja Kak. Ayolah, jelaskan apa yang mengganjal hati Kakak."
"Zea, Kakak cuma mau kamu selamat dan bahagia. Untuk keselamatanmu kamu lebih aman tinggal di sini, tapi untuk bahagiamu, Kakak nggak tahu."
Nada mengambil sekeping biskuit lagi lalu mengunyah dengan santai, meminum tehnya juga dengan santai. Selama itu Keira hanya memperhatikannya dengan sabar karena dia tahu tabiat Nada sejak kecil adalah menguji kesabarannya.
"Aku mau tinggal di dekat Kakak ...." kata
Nada akhirnya sembari menatap Keira yang tidak bereaksi, "Tapi kalau kehadiranku mengusik Kakak ...."
"Kenapa Kakak harus merasa terusik oleh kehadiran adiknya?" tanya Keira heran.
Nada tidak menjawab, kepalanya terlalu penuh oleh berbagai kemungkinan hingga Keira menyenggol lengannya.
"Zea, Kakak lebih tenang kalau melihat kamu ...."
Nada tidak mendengarkan Keira, dia sibuk merenung memikirkan keributan yang dia ciptakan di rumah Baksoro terakhir kali.
Setelah menikmati makan malamnya, Nada tanpa sengaja mendengar suara Baskoro dengan Leah yang masih merencanakan kejahatan merebut semua milik Kusuma.
Karena kaget, Nada tanpa sengaja menyenggol vas hingga jatuh dan menimbulkan suara gaduh.
Baskoro langsung menemuinya dengan tatapan tajam.
__ADS_1
"Apa yang kamu lakukan?" tanyanya dingin.
"Kamu masih berencana menyakiti Kakak?"
"Ibumu tidak mengajari kamu sopan santun untuk tidak menguping pembicaraan orang lain?!" bentak Leah.
"Berkat lahir dari benih seorang penjahat, ibuku setengah lupa kalau aku masih anaknya!"
Leah terbahak, "Lalu mengapa kamu masih menyebutnya ibu dan membela anak kesayangannya?"
Nada tergugu karena mendengar kata anak kesayangan. Dia mencintai Keira setulus hati tapi fakta bahwa hanya kakaknya yang dianggap anak oleh Lestari tetap menyakiti hatinya.
"Zea, lupakan mereka. Tinggal di sini bersama Ayah."
"Ayah?" Zea mendongak menatap Baskoro.
"Kamu sebut dirimu ayah padahal kamu membuatku lahir ke dunia bukan atas dasar cinta! Kamu menghancurkan ibuku juga aku!"
Baskoro terdiam hingga Nada bergerak untuk pergi lalu dia berteriak.
"Aku membuatmu karena aku mencintai ibumu, orang yang sudah menghancurkan hatiku. Ibumu yang tidak memberiku pilihan lain saat itu!"
Nada menghentikan langkahnya lalu kembali menatap Baskoro dan Leah yang mematung.
"Cinta? Lalu mengapa wanita ini bisa melahirkan iblis lain dari benihmu? Iblis yang kamu rasuki untuk menodai kakak, anak wanita yang kamu bilang kamu cintai?" jerit Nada mengungkit tentang Hans, anak kandung Baskoro dengan Leah yang tega menodai Keira waktu masih remaja.
Baskoro terdiam begitupun Leah yang memilih pergi setelah tanpa suara menghancurkan dua vas lainnya.
"Kamu hanya iblis serakah, aku bukan anakmu!" Nada menjerit menolak kenyataan darah yang mengalir di tubuhnya adalah darah Baskoro.
"Sekeras apa pun kamu menolak, kamu tetap anakku! Orang yang kamu anggak sebagai kakak itu tidak pantas kamu sebut sebagai kakak, dia hanya mementingkan bahagianya sendiri. Zea, sadarlah!"
"Zea!" Keira menyenggol Nada lalu memeriksa dahinya karena Nada tampak gemetaran.
"Kamu sakit, Ze?" tanya Keira cemas.
Nada menoleh dan seketika memeluk Keira dengan erat.
"Kak, aku keluargamu, kan? Aku adikmu, kan?" tanyanya linglung.
"Kamu ngomong apa, sih, Zea? Kamu adikku!" Keira melepaskan pelukan Nada karena ingin memeriksa tubuhnya yang tiba-tiba menghangat tapi Nada kembali memeluknya.
"Jangan lepas, aku ...."
"Kamu kenapa, Zea?" tanya Keira curiga.
"Aku kangen Kakak," jawab Nada akhirnya membuat Keira mengerutkan dahi tapi tidak bertanya lagi, sebaliknya Keira balas memeluk Nada sambil mencium pelipisnya.
"Ah Zea, kenapa kamu jadi manja begini?" tanya Keira sambil tertawa.
"Karena aku adikmu!" jawab Nada masih tak mau melepaskan pelukanya.
"Ah ya, ya, kamu adik Kakak. Selamanya adik kecil Kakak yang menjengkelkan!" kata Keira sambil tertawa.
Nada ikut tertawa walau hatinya gundah tak terkira.
__ADS_1
Aku keluargamu, Kak, tapi apa mereka semua menganggapku seperti itu?