No Rose Without A Thorn

No Rose Without A Thorn
Baskoro


__ADS_3

Sepanjang perjalanan menuju rumah, Dizza dan Keira saling diam. Sebelumnya mereka sudah berdebat karena Keira melarang Dizza bertemu dengan Evan. Dizza menanyakan alasan yang dijawab dengan Keira dengan satu kata tegas.


"Jangan bertanya. Percaya pada Kakak kalau orang itu bukan orang baik!"


"Kakak mengenalnya?" Dizza masih tak percaya.


Keira tak menjawab, sebagai jawaban ia megemudikan mobilnya dengan kencang, membuat Dizza ketakutan.


Dizza menghentakan kakinya dengan kesal saat memasuki rumah, Lestari kebingungan melihat kedua anaknya pulang dalam keadaan aneh. Yang satu berjalan sambil marah, yang satu berjalan acuh tak acuh. Keduanya tak saling tegur seperti biasa, bahkan mengabaikan ayah dan ibu mereka yang menatap keduanya dengan heran di ruang keluarga.


"Ada apa dengan mereka?" tanya Lestari heran. Kusuma tak menanggapi istrinya, ia meminum kopinya lalu kembali membaca koran, namun baru beberapa baris terdengar keributan di lantai atas.


"Sudah Kakak bilang, kembali ke kamarmu!"


BRAK!! Terdengar suara pintu dibanting. Lestari memegangi dadanya lalu melirik Kusuma dengan takut. Ia tahu Keira yang membanting pintu. Lestari bersiap berdiri.


"Biar aku lihat apa yang terjadi..."


"Tak usah." Kusuma melipat korannya. Lestari terlihat khawatir, ia takut kalau Kusuma yang bertindak, tapi suaminya hanya melipat koran dan mengambil cangkir kopi kembali.


"Bukankah kakak beradik seharusnya memang seperti itu?" tanya Kusuma sembari menyeruput kopinya.


Lestari terdiam, ia memandang Kusuma yang seolah-seolah tak mendengar pertengkaran kedua gadis di lantai atas padahal Dizza masih menjerit-jerit marah sambil menggedor-gedor pintu kamar Keira. Kusuma seakan malah menikmati pertengkaran mereka.


Bukankah kakak beradik seharusnya memang seperti itu?


Lestari mengulang kata-kata Kusuma dalam hati lalu tersenyum, hanya sekejap karena berikutnya ia teringat pada sosok anak perempuan lain, Zea.


*


"Jelaskan padaku semuanya!!" Nada melipat tangannya di dada, menuntut penjelasan Evan. Ia marah karena merasa dibohongi Evan.


"Sejak kapan Kakak mengenal mereka?"


Evan masih tak menjawab.


"Baiklah, tak usah menjawab pertanyaanku. Aku sudah terbiasa di abaikan!" Nada berjalan menahan tangisnya.


"Nad, maafkan aku," Evan berkata pelan.


Nada terus melangkah dengan sedih.


"Nad..."


Nada tak mendengarkan Evan, ia membanting ponsel barunya ke meja lalu berjalan pulang.


Nada menangis di kamarnya, ia benar-benar merasa sendirian. Selama ini ia terbiasa diabaikan. Semenjak orang tua angkatnya meninggal, Bibi yang seharusnya merawatnya malah meninggalkannya di panti asuhan. Di panti asuhan dan di sekolah, Nada nyaris tak mempunyai teman karena sifat pemarahnya. Hanya Evan yang selama ini mengerti dirinya. Evan yang selalu membelanya seperti kakaknya sendiri. Bahkan Evan yang membantunya kuliah dan mencarikan tempat tinggal saat Nada keluar dari panti asuhan.


Nada kecewa bahwa Evan yang selama ini ia percaya, membohonginya. Evan tahu bahwa selama ini ia berurusan dengan kakak beradik Keira dan Dizza, tapi Evan tak pernah sekalipun mengatakan bahwa ia mengenal mereka.


Melihat cara Keira dan Evan bicara, Nada bahkan menduga keduanya telah lama saling mengenal. Nada menghapus air matanya lalu ia teringat tatapan Keira, selintas ia mengingat sesuatu yang serupa. Ia seperti pernah melihat tatapan seperti itu. Nada memegang kepalanya, sekelebat ingatan mempermainkannya.


"Kakak, Kakak pasti datang, kan?"


"Kakak, aku mau makan ayam goreng!"

__ADS_1


"Kakak, tolong aku...."


Nada mengambil kalungnya lalu mengumpat dengan kesal.


"Siapa kakak yang selalu menghantuiku?"


Lalu ia kembali teringat Keira yang mengintipnya di rumah sakit dan Keira yang memarahi Dizza di toko buku.


"Seandainya kakak yang aku cari seperti dia. Seseorang yang sangat menyayangi adiknya."


Nada akhirnya tertidur dalam keadaan marah. Di dalam tidurnya Nada bermimpi.


Tunggu Kakak, Kakak pasti datang.


*


Lestari menemui Keira dan menanyakan apa yang terjadi antara dia dan Dizza.


"Mengapa kalian bertengkar?" tanya Lestari ingin tahu. Keira tak menjawab.


"Dizza bilang kamu melarangnya bertemu seseorang. Mengapa?" tanya Lestari lagi.


Keira memandang ibunya, ia sudah mengatakan pada Dizza untuk merahasiakannya dari ayah dan ibu mereka.


"Karena orang itu Evan!"


"Apa?!" Lestari mendadak sakit kepala.


"Bagaimana bisa?Apa yang terjadi? Apa Dizza mengetahui siapa Evan?"


Lestari terlihat berpikir. "Apa mau anak itu?"


"Balas dendam."


"Kamu sudah bertemu dengannya?" tanya Lestari.


Keira mengangguk walau tak mengatakan belakangan ini ia terlalu sering bertemu Evan yang mengancamnya.


"Bu, apa sebenarnya yang terjadi?Apa sebenarnya dia memiliki hak atas harta ayah?"


"Omong kosong!!Apa dia yang mengatakannya padamu?"


Keira diam. Ia terlalu bingung menghadapi ibunya.


"Aku ke panti asuhan itu..."


"Kau...?!" Lestari memegang kepalanya.


"Zea, masih hidup, kan, Bu?" tanya Keira.


"Apa kamu gila? Adikmu sudah dikubur! Berhenti mengungkitnya agar dia bahagia!"


"Tapi aku merasa dia masih hidup!"


"Kalau begitu kamu harus berpikir bahwa adikmu hidup bahagia di dunia yang berbeda dengan kita!"

__ADS_1


Lestari memandang Keira dengan marah.


"Dengarkan ibu. Jangan pernah temui Evan, dan jangan lagi membahas adikmu!"


Keira tak menjawab.


"Kalau kamu mau kita semua selamat, kita harus bertindak sebelum mereka!"


"Mereka siapa?" tanya Keira heran.


"Baskoro. Dia pasti sudah keluar dari penjara."


"Siapa Baskoro?" Keira semakin bingung.


"Dialah penyebab semua kekacauan ini! Dia adalah paman Evan!"


Keira tersentak, ia tak mengerti pembicaraan ibunya.


"Bu, sebaiknya ibu jelaskan semua padaku."


Lestari memandang putrinya lalu menggeleng.


"Kamu tidak perlu khawatir, Ibu akan menyelesaikanya."


Keira ingin mempercayai kata-kata Lestari namun ia justru semakin khawatir.


**


Seorang pria sedang menghisap rokok sambil tertawa di sudut ruang kerjanya.


"Setelah sekian lama, akhirnya Kusuma hanya memelihara tiga wanita bodoh!"


Evan memandang pria itu dalam diam. Sesungguhnya ia tak menyukai Baskoro-orang yang ia panggil paman- namun hanya pria ini satu-satunya anggota keluarganya yang tersisa.


"Evan, kamu harus membalas kematian ibu dan kakakmu!"


Evan tak menjawab. Ia memandangi punggung Baskoro dan menyadari bahwa ia tak memiliki banyak kenangan dengan pria itu. Ia bahkan sempat meragukan apakah pria itu benar-benar saudara kandung ibunya.


Ibunya adalah orang yang biasa tak pernah bicara kasar padanya, sementara Baskoro adalah pria kejam, hampir serupa dengan Kusuma. Saat di penjara, Baskoro terus mengirimkan utusannya untuk mencari Evan, saat menemukannya di panti asuhan, Baskoro memberi Evan kesempatan untuk mandiri. Ia memberi Evan banyak harta untuk memulai kehidupan di luar panti asuhan.


"Kamu sudah meninggalkan toko buku itu?" tanya Baskoro.


"Aku berencana menjualnya sebelum gadis itu menawarkan kerja sama yang menarik."


Baskoro tertawa.


"Baiklah, Paman percayakan padamu," Baskoro masih tertawa sembari meninggalkan Evan yang termenung.


"Cari tahu tentang gadis yang selalu bersama Evan!" Baskoro memberi perintah pada anak buahnya saat di mobil.


"Baik, Tuan."


Baskoro menghisap kembali rokoknya dan menatap jalanan di luar jendela.


"Saatnya akan segera tiba, aku akan merebutnya kembali!" Ucap Baskoro dalam hati saat memandang gedung bertuliskan

__ADS_1


KUSUMA Centre.


__ADS_2