No Rose Without A Thorn

No Rose Without A Thorn
Ketika Tikus dan Kucing Bersatu


__ADS_3

Dizza mengumpat Nada dengan kesal. Mereka baru saja di usir dari gedung apartemen karena membuat kekacauan


.


"Apa kamu yakin mereka tinggal di sini?" tanya Dizza kesal.


"Tentu saja aku yakin! Aku bahkan bertemu dia!"


Aku bahkan menamparnya, dan anehnya aku menyesal.


"Kak Evan pasti membawa dia pindah."


Nada merenung lalu ia teringat akan nasibnya sendiri.


"Sekarang bagaimana nasibku?Tiketku hangus, rumahku sudah kujual. Aku tidak mungkin bisa ke Lets Read di jam segini."


Nada mengeluh.


Dizza menoleh menatap Nada lalu melirik dua koper besar di bangku belakang.


"Karena Kakakmu menculik Kakakku, maka aku akan menjadikan kamu tawanan!"


Dizza menginjak pedal gas.


"Kamu gila. Kak Evan tidak menculik Kakakmu. Lagipula aku bukan adik Evan. Kamu salah orang!"


Dizza tak memperdulikan protes Nada, ia terus melaju pergi ke sebuah tempat.


"Apakah ini rumahmu?" Nada menyeret dua kopernya masuk ke dalam cafe yang belum jadi.


"Jangan protes." Dizza menyalakan lampu dan membawa Nada ke sebuah ruangan kecil berisi tempat tidur dan lemari.


"Kamu bisa tidur di sini untuk sementara. Maaf aku nggak bisa membawamu ke rumahku. Situasi benar-benar kacau."


"Kamu akan meninggalkan aku sendirian di sini?" Nada memandang keadaan cafe setengah jadi itu dengan merinding.


"Apa kamu pikir kita cukup dekat untuk berbagi kamar?" Dizza bertanya dengan kesal.


Nada hanya memandangnya lalu berikutnya Dizza sudah menelpon Ibunya.


"Jangan khawatir, aku tidur di rumah teman."


"Keluarga kalian terlihat sangat bahagia, "


kata Nada sambil melepas sepatunya.


Dizza bersandar di dinding lalu mengumam "Tidak semua yang terlihat di permukaan itu sama," ucapnya pelan.


Nada memandang Dizza lalu meralat ucapannya, "Kamu benar, sekarang saja kalau dipikir-pikir keluargamu kacau." Nada tertawa.


"Kalau sudah begini tiba-tiba aku bersyukur nggak memiliki keluarga." Nada berbaring di tempat tidur.


"Kamu nggak memiliki keluarga?" tanya Dizza heran. Nada menggeleng lalu entah apa yang merasukinya, ia menceritakan kisah hidupnya pada Dizza.


Dizza mendesah, "Hidupmu ternyata lebih rumit."


"Tapi sepertinya yang rumit hidupmu," Nada menguap.


"Kamu susah payah mencari Kakakmu, aku akan tertawa kalau ternyata dia sedang bermesraan dengan Kak Evan."


"Jaga ucapanmu! Kakakku tidak seperti yang kamu lihat. Dia sudah terlalu banyak menyimpan luka."


"Luka?" Nada mendadak bangun dari tidur.


"Bukankah dia yang melukai Kak Evan di masa lalu?"


"Masa lalu? Apakah mereka pernah punya hubungan?" tanya Dizza.


"Apa kamu tidak tahu?" tanya Nada heran.


Kedua gadis itu saling pandang lalu mereka mulai mengumpulkan informasi.


**


Ny Lestari mengumpulkan sisa-sisa kekuatan dan tekadnya untuk menemui Evan. Ia berhasil bertemu Evan setelah mengerahkan beberapa orang mata-mata.


"Hm, sungguh saya tidak menduga bahwa Nyonya bersungguh-sungguh mencariku." Evan bertepuk tangan sendiri.

__ADS_1


"Di mana kamu sembunyikan anakku?"


"Anak Nyonya yang mana? Yang besar atau yang kecil?" Evan bertanya.


"Apa maksudmu?" Ny Lestari bertanya heran.


"Apakah anda benar-benar menganggap anak yang kecil sudah mati?"


"Kkaau, jaga mulutmu!"


Evan tertawa.


"Jangan mencari Keira, kami akan hidup bahagia."


"Omong kosong. Kamu menyekapnya, bagaimana bisa kamu bilang akan bahagia?Kalau sampai sesuatu terjadi padanya, aku yang akan membunuhmu!"


Evan memandang Ny Lestari dengan tajam.


"Kalau anda berani macam-macam dengan saya. Saya pastikan seluruh dunia akan mengetahui bahwa anda membuang anak anda yang lain."


"KAU!" Ny Lestari terlihat frustasi, Evan memanfaatkan kesempatan itu untuk menilai perilaku Ny Lestari.


"Kamu gila. Anakku sudah tidak ada."


"Terserah anda. Asal anda tahu, Keira mengorbankan dirinya salah satunya adalah demi adiknya yang hilang."


"Keira mengorbankan diri? Apa maksudmu?"


Evan mengetuk-ngetuk meja.


"Bagaimana aku mengatakannya. Jika aku katakan kami saling mencintai, kau tidak terima. Kalau aku bilang dia mengorbankan dirinya mengikutiku, apa kau juga tidak terima? Dia bersedia melakukan apa pun untuk kalian. Jadi saranku, nikmatilah hidup anda menjelang detik-detik kehancuran Kusuma! Jangan biarkan pengorbanan Keira sia-sia."


"Apa yang kau lakukan padanya?!" Ny Lestari berteriak marah.


"Apa kau ingin bermain tebak-tebakan denganku?" tanya Evan.


Ny Lestari menampar wajah Evan.


"Seharusnya kau ikut mati 13 tahun yang lalu! Kau iblis seperti ibumu dan kakakmu!"


"Diam!" Evan menggebrak meja.


Evan meninggalkan Ny Lestari yang berteriak histeris.


*


PLAK.


Evan menampar wajah Keira yang seketika jatuh ke sofa, Bibi Ani ingin menolongnya namun Keira menyuruhnya pergi.


Evan kembali mabuk, ia membanting semua barang yang ditemukannya. Keira mencoba bertahan menahan rasa takutnya. Evan mengambil vas dan hampir melemparkannya pada Keira kalau saja Bibi Ani tidak berteriak.


"Jangan Tuan. Jangan.. Kasihan Nona..."


Keira memejamkan matanya, Evan membanting vas itu ke lantai lalu pergi ke kamarnya.


Bibi Ani segera menghampiri Keira dan memeluknya.


"Yang sabar ya Non.."


Keira hanya terdiam.


Apakah ini yang dilakukan Kusuma pada Ibunya?


*


Ny Lestari kehabisan akal. Ia ingin bicara dengan Kusuma untuk menyelesaikan masalah ini.


"Apa yang akan kita lakukan?" tanya Lestari.


"Kita harus menemukan Keira lebih dulu.


Memangnya kita bisa apa kalau Keira belum ditemukan?" Kusuma mengebrak meja.


"Dia bisa melukai Keira kapan saja." Kusuma berkata marah.


"Seharusnya dulu aku membunuh anak itu!"

__ADS_1


Lestari memandang Kusuma lalu menyumpahi Baskoro dalam hati, namun hati kecilnya menjadi gelisah. Ia teringat pada kata-kata Evan tentang anaknya yang lain.


Bagaimana kalau Kusuma tahu anak itu masih hidup?


Lestari mencoba mencari jalan keluar. Ia bergegas menelpon anak buahnya untuk melakukan sebuah pekerjaan.


*


Evan mengurung diri di kamar, ia teringat ia telah memukul Keira dan itu melukai hatinya sendiri. Setiap kali ia mendengar atau mengingat Ibunya dihina, ia selalu ingin melampiaskan kemarahannya. Dan kini Keiralah yang menjadi sasaran kemarahannya karena gadis itu selalu mengingatkannya akan Lestari dan Kusuma, pasangan yang sudah menghancurkan ibunya.


Evan membuka pintu kamar Keira, gadis itu sudah tertidur membelakangi Evan. Evan bersandar di tembok lalu terisak, tanpa ia sadari Keira juga meneteskan air matanya.


Jarak terjauh dari dua hati bukanlah ratusan kilometer, bahkan saat ia berada dekat di sampingku, aku tidak bisa memeluknya.


Keira bergumam dalam hati.


Evan memandangi Keira lalu berkata dalam hati.


Aku pasti sudah kehilangan dirimu. Kamu berada di dekatku tapi aku bahkan tak bisa menyentuh hatimu lagi.


Keduanya menangis tanpa saling melihat.


*


Dizza dan Nada sarapan di depan sebuah minimarket. Mereka sedang merencanakan sesuatu ketika Nada tiba-tiba merasa sakit kepala.


"Kamu kenapa?" tanya Dizza.


"Nggak apa-apa. Aku sering seperti ini. Ketika sebuah ingatan muncul, rasanya agak sakit."


Dizza menatap Nada dengan tatapan ngeri.


Mereka lalu berjalan ke Lets Read dan Nada mengajak Dizza masuk ke ruangan Evan.


Mereka mencari-cari informasi tentang Keira.


"Apa ini? Sepertinya aku pernah melihat kalung seperti ini." Dizza meraih sebuah kalung.


"Itu milikku." Nada mengambil kalung itu.


"Kak Evan meminjamnya. Ini salah satu barang berharga milikku."


"Berharga?rasanya itu benda pasaran. Aku pernah melihatnya...."


"Pasaran? kamu lihat, ini adalah...."


"Tunggu..." Dizza merebut kalung itu.


"Aku pernah melihat kakak memakai kalung seperti ini. Aku yakin."


Nada memandang Dizza.


"Apa katamu?"


Nada terduduk, lalu ia mulai membongkar foto-foto di laci. Beberapa potongan ingatan bermain-main di kepalanya. Nada berusaha mengendalikan dirinya, lalu ia meraih sebuah foto yang pernah ditunjukkan Evan. Panti Asuhan Sinar Bahagia.


Ibu jangan tinggalkan aku.


Kakak, tolong aku..


Mengapa aku tidak bisa ikut bersama kalian?


Kakak janji akan datang menjemputmu


Nada hampir mengingat sesuatu.


Namaku Zea. Umurku 9 tahun. Ibuku bernama Lestari. Kakakku bernama Keira.


"Tidak mungkin!" Nada berteriak, Dizza berusaha menenangkan.


Nada menggelengkan kepalanya namun ia semakin ingat semua potongan ingatan itu.


Ia adalah adik kandung Keira yang ditinggalkan di panti asuhan. Ia tanpa sengaja membakar panti asuhan karena menunggu Keira yang berjanji menjemputnya.


"Diaaaa membohongiku. Dia ingkar janji!"


Dizza mengguncang bahu Nada.

__ADS_1


"Apa yang kamu bicarakan?" tanya Dizza dengan heran.


"Tinggalkan aku. Aku ingin sendiri."


__ADS_2