No Rose Without A Thorn

No Rose Without A Thorn
Pertumpahan Darah


__ADS_3

Baskoro naik pitam, ia marah pada Evan yang menunda proses eksekusi keluarga Kusuma.


"Paman berjanji tidak akan menyentuh Keira."


"Apa kamu masih mencintai gadis yang sudah membunuh ibu dan kakakmu?"


"Bukan dia yang melakukannya."


"Tapi keluarganya..." Ny Leah menyahut dengan marah.


Evan sebenarnya kesal dengan Ny Leah bergegas dia keluar lalu membanting pintu.


"Segera bereskan." Baskoro menelpon seseorang.


Evan berjalan dengan tergesa-gesa lalu tiba-tiba seseorang memukul punggungnya dengan keras.


*


Evan membuka mata dan melihat Ny Lestari berdiri di hadapannya.


"Jadi, begini yang dilakukan Nyonya terhormat?"


"Katakan di mana anakku?"


Evan hanya tertawa kecil


"Sebenarnya apa yang ingin kamu balaskan pada kami?" tanya Lestari.


"Tentang kematian ibumu, aku ikut berduka tapi itu bukan kesalahan kami."


"CCTV menunjukan bahwa kau berada di rumah kami sebelum ibuku ditemukan overdosis.


"


"Aku?" Ny Lestari tampak bingung.


"Apa cctv itu memperlihatkan wajahku? Itu pasti bukan aku. Itu wanita gila ibu kandung kakakmu!"


"Apa kamu bilang?" Evan tak mengerti


Ny Lestari menghela napas.


"Apa kau tahu yang sebenarnya terjadi 13 tahun lalu?!" Ny Lestari berteriak marah.


"Kalian membunuh ibuku dan Hans!!"


"Mereka murni bunuh diri, kau tahu kenapa?Karena Hans memperk*sa Keira!"


Evan merasa dunia runtuh seketika. Ia tak sanggup bicara, dipandangnya wajah Ny Lestari yang menangis di hadapannya. Ia ingin salah mendengar, namun kata-kata itu terngiang-ngiang di telinganya.


"Malam itu aku tidak tahu kalau Keira berencana melarikan diri. Aku lalai menjaganya. Ia berhasil keluar dari rumah, lalu semuanya terjadi."


Ny Lestari terisak.


"Aku yang menemukannya di garasi rumah. Kakakmu yang mabuk merusak hidupnya. Aku ingin sekali membunuh Hans saat itu juga. Aku tak mengerti apa alasannya melakukan hal itu pada Keira. Keluargamu memang sudah gila!"


Evan meneteskan air mata, ia tidak menyangka Keira selama ini menyembunyikan lukanya.


"Mengapa ia tidak pernah menceritakannya..."Evan terlihat sangat menyesal, ia teringat bagaimana Keira menjerit-jerit malam itu dan ucapan Dokter Sarah tentang trauma.


"Apa kamu pikir gampang menyembuhkan luka itu?Keira pasti tak ingin orang lain tahu masa lalunya, terlebih lagi kamu!"


"Kusuma sangat marah. Ia mendatangi rumahmu. Ia mencari Hans, Ibumu sangat malu mengetahui kejadian itu. Apa kamu tahu bahwa sebenarnya Hans bukan saudara kandungmu? Hans adalah anak Baskoro dan Anin. Mereka menitipkan Hans sebagai anak Resti. Baskoro sangat ketakutan kalau Kusuma menemukan Hans. Wanita yang kamu kira aku di cctv pasti adalah Anin. Hans menyadari ia telah melakukan kesalahan fatal, ia bunuh diri."


Evan terduduk dengan lemas. "Sekarang apa kamu puas membalas dendam pada orang yang salah? Seharusnya dulu kami membunuhmu!!" Ny Lestari berteriak marah.


Tiba-tiba ponsel Evan berbunyi.


Evan ingin mengabaikannya namun ia curiga karena Bibi Ani terus menelpon.


"Hall...."

__ADS_1


"Tuan, Nona hilang."


"Apa?!"


Evan segera berlari, Ny Lestari mengikuti Evan.


Sepanjang jalan Evan menangis mengingat luka yang dibawa Keira selama ini.


Evan kembali menelpon Bibi Ani untuk mendengarkan kronologisnya.


"Saya hanya pergi sebentar ke belakang, lalu saat masuk ke dalam, saya melihat Nona tidak ada, saya melihat sebuah mobil melaju kencang di depan rumah."


Evan mengepalkan tangannya.


Ny Lestari segera menghubungi Kusuma.


"Siapa sebenarnya Anin?" Evan bertanya dengan curiga.


"Pacar pamanmu. Pasangan gila. Ayah Anin tidak meyetujui hubungan mereka tapi Anin terlanjur memiliki anak. Mereka menitipkannya pada Resti."


Ny Lestari lalu teringat sesuatu.


"Siapa pimpinan Grup Oshi yang mengangkatmu sebagai anak?"


"Leah Wardana."


Ny Lestari mengatupkan bibirnya.


"Anin Wardana. Dia mengubah namanya. Bagaimana bisa Kusuma tidak mengetahuinya." Evan terus menginjak pedal gas dengan gelisah.


*


Keira memandang dua orang di hadapannya dengan bingung.


"Ny Leah?"


Ny Leah tersenyum. Senyum yang tidak di sukai Keira.


"Selamat datang." Ny Leah melebarkan tangannya.


"Bisakah kamu memberi video yang bagus? aku ingin memberi salam pada Kusuma."


Baskoro menyalakan ponselnya.


Ny Leah berdiri lalu menarik rambut Keira hingga wanita itu menjerit kesakitan.


"Kurang bagus." Kata Baskoro tanpa rasa bersalah. Ny Leah lalu menampar wajah Keira.


Tiba-tiba ponsel Evan berbunyi, ia menepikan mobilnya dan menerima pesan video Baskoro.


"Kurang ajaaar!" Evan memukul setir mobil dengan marah. Ny Lestari berteriak histeris.


Di tempat terpisah Kusuma menerima pesan video yang sama.


"Bangs*t!" Kusuma mengepalkan tangan.


"Seharusnya aku membunuhmu dari dulu!!"


Kusuma menelpon anak buahnya lalu bergegas pergi.


Evan meminta Ny Lestari untuk menunggu di rumah. Ia tak ingin Ny Lestari ikut terancam bahaya namun Ny Lestari menolak.


Bahaya apa pun akan dia tempuh untuk menyelamatkan putrinya.


Evan memutar ulang Video, ia mengenali tempat Keira disekap.


"Keira, apa kamu tahu kesalahanmu?"


tanya Baskoro.


"Karena kamu membuat anakku mati. Hans mati karena kamu." Ny Leah berkata tajam.

__ADS_1


Kepala Keira seakan berkunang-kunang demi mendengar nama Hans. Pria yang sudah menodainya saat remaja. Ia bahkan telah membuat mimpi buruk di hidup Keira dan wanita di hadapannya ini menyalahkannya.


"Dia pantas mati. Aku menyesal bukan aku yang membunuhnya!" Keira menjawab dengan marah.


PLAK.


Ny Leah kembali menampar wajah Keira, cincinnya mengenai bibir Keira hingga berdarah.


"Apakah Kusuma akan datang?" tanya Ny Leah.


"Tidak akan." Keira yang menjawab. Ia tahu bahwa bagi Kusuma ia tidak berarti apa-apa.


"Dia pasti datang. Dia bahkan rela mencarimu yang sudah menghilang selama 15 tahun." Baskoro memainkan sebuah pisau.


"Kamu seharusnya tidak pernah lahir!"


Keira tak mengerti apa yang dibicarakan Baskoro.


"Paman, hentikan!"


Tiba-tiba Evan dan Lestari menerobos masuk ke gudang persembunyian Baskoro.


"Kamu membawa bonus?" Baskoro melirik Lestari.


"Ibu!"


"Keira!" Ny Lestari tampak panik melihat Keira yang berdarah.


Evan mendekat tapi Baskoro mengancam leher Keira dengan pisau.


Ny Lestari histeris, Evan mengangkat tangannya.


"Apa mau Paman?"


"Aku mau semua yang menjadi milikku kembali. Perusahaan Kusuma."


"Kau gila!"


"Turunkan pisaumu!" Kusuma berteriak.


"Ayah?" Keira menatap Kusuma dengan heran.


"Tidak, sampai kamu memberiku perusahaan itu."


"Manusia serakah!" Kusuma berteriak lantang.


"Aku tidak suka basa basi" tiba-tiba Ny Leah menarik Keira dan mendorongnya ke pagar tangga. Ia mencekik leher Keira. Kusuma dan lestari berusaha menarik Ny Leah tapi wanita gila yang dikuasai iblis ternyata memiliki kekuatan yang luar biasa.


"Lepaskan anakku!" Kusuma berteriak murka membuat Keira sedikit terkejut.


Evan menggunakan kesempatan itu untuk segera berlari memukul Baskoro, Ny Lestari menarik Ny Leah, mencoba menghentikan cekikannya. Ny Leah terjatuh, ia berbalik menyerang Ny Lestari.


Kusuma menarik Lestari, Keira masih terbatuk-batuk sementara Evan bergulat dengan Baskoro. Kusuma menarik lengan Keira untuk segera pergi bersama Lestari.


"Pergi lebih dulu dengan ibumu!"


Keira baru saja akan berlari ketika ia melihat Baskoro siap menghujamkan pisau ke dada Evan yang tersungkur. Keira refleks melepas tangan Kusuma, ia berlari ke arah Evan untuk menghalangi Baskoro.


Kusuma dan Lestari berteriak namun terlambat, pisau itu menusuk perut Keira.


"Keira!" Evan menjerit histeris sembari menangkap Keira yang terhuyung menahan sakit. Baskoro menarik pisau itu lalu tanpa rasa belas kasih, ia kembali menusuk perut Keira. Keira roboh seketika dengan ditahan Evan yang berada di belakangnya. Kusuma menarik pistol di sakunya lalu menembak kaki Baskoro.


"Baj*ngan!" Kusuma menyerang Baskoro. Ny Leah berlari ke luar gudang tanpa sepengetahuan yang lain.


Ny Lestari menghampiri Keira yang tergeletak, Evan mengangkat kepala Keira.


"Bertahan Nak, bertahan ...." Lestari menangis.


"Kei ... Keira ... Maafkan aku ...." Evan menangis.


Darah terus mengalir dari perut Keira yang dua kali tertusuk pisau. Ny Lestari histeris melihat Keira kesakitan.

__ADS_1


"Keira ... bertahan sayang! Ini Ibu!" Ny Lestari mengenggam tangan Keira yang mulai dingin.


Keira menatap wajah Evan dan ibunya. Ia ingin mengucapkan sesuatu namun rasa sakit di perutnya sungguh tak tertahankan. Kata-katanya tercekat di tenggorokan, ia melihat Kusuma mendekat lalu semuanya menjadi gelap. Ia bahkan tak mendengar lagi ketika mereka berteriak-teriak memanggil namanya.


__ADS_2