No Rose Without A Thorn

No Rose Without A Thorn
Nada


__ADS_3

Keira memarkir mobilnya di balik pohon besar di dekat Lets Read. Ia berencana menunggu Nada keluar dan mengikutinya. Hampir tiga jam ia menunggu namun gadis yang dinantinya belum juga keluar. Akhirnya Keira melihat seorang karyawan Lets Read berjalan keluar, Keira keluar dari mobil dan mengejarnya.


"Tunggu, " Keira memanggil.


Gadis yang dipanggil menoleh dan menatap Keira dengan heran.


"Anda memanggil saya?"


Keira mengangguk.


"Kau bekerja di Lets Read?"


"Ada yang bisa saya bantu?"


"Apakah anda mengenal gadis yang bekerja di sana yang keluar dari rumah sakit beberapa waktu lalu."


"Nada?"


Keira mengangguk.


"Dia sudah tiga hari tidak masuk kerja."


"Apa dia sakit?"


Gadis itu mengangkat bahu.


"Apa kamu tahu dia tinggal di mana?"


Gadis itu menunjukan sebuah jalan masuk tak jauh dari Lets Read.


"Masuk dan jalan lurus. Di depan rumahnya banyak bunga."


"Terima kasih."


Keira berjalan mengikuti petunjuk itu dengan ragu. Ia melangkah perlahan hingga menemukan rumah yang dimaksud.


Sebuah rumah kecil dengan banyak bunga yang tak terawat. Keira mengernyitkan dahi melihat banyak tanaman kering di dalam halaman berpagar rendah tersebut. Keira mencari-cari bel namun tak menemukannya, ia nekat ingin membuka pintu pagar karena tak ingin berteriak dari luar pagar.


"Apa kamu tidak tahu bahwa masuk ke dalam pekarangan rumah orang lain tanpa ijin bisa dilaporkan ke pihak berwajib?"


Keira tersentak, Nada berdiri di belakangnya.


"Maafkan aku. Aku tidak menemukan bel."


Nada membuka pagar lalu masuk ke dalam rumah, Keira terdiam di luar.


Nada meletakkan kantong belanjanya di kursi teras lalu masuk ke dalam rumah. Ia kembali dalam beberapa detik membawa sebuah amplop coklat. Di teras Nada memandang Keira yang masih berdiri di luar pagar.


"Masuklah kalau ada yang ingin kamu bicarakan, " Nada mengambil kantong belanjanya, meletakannya di lantai agar Keira bisa duduk.


Keira masuk dengan ragu, ia tak mengulurkan tangannya ketika Nada menyerahkan amplop coklat itu.


"Maafkan perbuatan ibuku. Dia hanya bingung." Keira mengambil amplop itu dengan ragu. Nada tertawa.


"Ibumu tidak terlihat ragu saat menemuiku. Dengan yakin ia mengatakan bahwa aku bisa pergi jauh dan tidak mencari masalah karena jika kedua kali dia bertemu denganku, dia tak akan segan menghilangkan aku dengan paksa."


Keira tersentak, ia tak percaya ibunya bisa berkata sekejam itu.


"Ada yang ingin kamu tanyakan lagi?" tanya Nada tak sabar, tanpa sadar kakinya menyenggol kantong belanja, membuat Keira terpaksa menoleh dan melihat sebuah obat di antara barang-barang lain.


"Apa kamu sakit?" tanya Keira. Nada memandang obat di kantong belanjanya.


"Apa kamu tinggal sendiri?" tanya Keira, kepalanya menoleh ke arah pintu rumah yang tertutup.


"Kurasa kita tidak cukup dekat untuk saling menceritakan kehidupan pribadi. Urusan kita sudah selesai, kamu bisa pergi." Nada berdiri. Keira masih diam.


"Apa hubunganmu dengan Evan?" tanya Keira akhirnya.


Nada menghela napas kesal.


"Mengapa kamu tidak menanyakan padanya?"

__ADS_1


Keira menatap gadis di hadapanya yang melihatnya dengan kesal.


"Ada lagi keperluan lain?" tanya Nada tak sabar.


"Aku minta maaf atas perbuatan ibuku." Keira berdiri.


Ia sebenarnya ingin melihat bekas luka di tengkuk Nada yang tertutup rambut, tetapi melihat gadis itu sangat tidak bersahabat, ia mengurungkan niatnya.


"Selamat tinggal," Keira berjalan pergi.


"Apa kamu gadis dari masa lalu Kak Evan?"


Keira spontan menghentikan langkah kakinya. Nada menunggu jawaban namun Keira diam saja.


"Jadi memang benar kamu, orang yang sudah memberi luka cukup dalam pada Kak Evan?"


Keira menahan sesak di dadanya.


"Kurasa kita tidak cukup dekat untuk saling membicarakan masalah pribadi." Keira membalas ucapan Nada. Nada tertawa.


"Kamu benar. Sebaiknya kita tidak perlu saling bertemu lagi. Tapi, bagaimana kamu menertibkan adikmu yang masih datang menemui Kak Evan? Apa dia tidak tahu masa lalu kalian?"


Keira berbalik menatap Nada lalu bertanya.


"Sejak kapan kamu mengenal Evan?"


Nada tak mau memberi tahu.


"Apa kamu benar-benar mengenalnya dengan baik? Apa kamu tahu apa yang dia sembunyikan? Masa lalunya?" tanya Keira.


"Kamu sepertinya masih terlalu muda untuk mengerti tentang luka orang lain."


"Apa kamu mengerti?" Nada balik bertanya.


"Aku bertaruh orang sepertimu tidak akan pernah mengerti. Kalian hidup dalam kesenangan kalian sendiri. Kalian sesuka hati datang dan pergi dalam kehidupan orang lain. Kalian bahkan merasa berhak mengutus orang lain untuk pergi. Apa kamu tahu sakitnya ditinggalkan? Apa kamu pernah merasakan perihnya diabaikan dan harus hidup sendiri?" Nada bertanya dengan penuh emosional.


"Kamu yang meninggalkan Kak Evan demi kejayaanmu sendiri, kan?"


"Stop! Kamu tidak tahu apa-apa!"


"Kamu nggak apa-apa?"


Nada menepis tangan Keira yang berusaha menolongnya.


"Aku tidak butuh bantuanmu!" Ia mendorong Keira, saat itu Keira tanpa sengaja melihat bekas luka di tengkuk Nada.


Keira menatap wajah Nada.


"Darimana kamu dapatkan bekas luka itu?" tanya Keira.


Nada menatap Keira dengan heran, ia baru saja mengusir Keira namun gadis itu malah mempertanyakan bekas lukanya. Keira malah mendekat dan membuka kerah leher Nada dengan paksa untuk melihatnya lebih jelas.


"Siapa kamu sebenarnya?" tanya Keira histeris. Nada kebingungan. Keira mengguncang bahunya.


"Katakan, siapa kamu sebenarnya?"


"Apa maksudmu?" Nada balik bertanya dengan bingung.


"Bekas luka itu. Katakan bagaimana kamu mendapatkannya?"


Nada masih menatap Keira dengan tatapan bingung.


"Aku nggak tahu." Akhirnya Nada menjawab.


"Bagaimana mungkin kamu tidak tahu?" tanya Keira.


"Aku nggak tahu!" Nada membentak.


"Mengapa kamu mempermasalahkan bekas luka orang lain?" Nada tersinggung.


Keira menatap wajah Nada, hatinya penuh pertanyaan.

__ADS_1


"Bisakah kita bicara baik-baik?" tanya Keira mencoba sabar.


"Tidak. Aku sudah tidak ingin bicara denganmu!"


Keira frustasi lalu mecengkram lengan Nada.


"Aku hanya ingin bertanya beberapa hal tentangmu."


"Dia tidak akan menjawabnya!"


lagi-lagi Evan muncul seperti hantu, mengagetkan kedua wanita yang sedang bersimpuh di lantai.


Evan membantu Nada berdiri hingga Keira terpaksa melepaskan cengkraman tangannya.


"Apa kamu tidak tahu sopan santun membuat keributan di rumah orang?" tanya Evan.


Nada diam saja. Keira menatap Evan dengan marah, matanya memerah.


"Kamu...."


"Pergi sekarang." Nada menyuruh Keira untuk pergi. Keira memandang Nada dan Evan lalu dengan terpaksa ia melangkah pergi. Baru dua langkah berjalan, Evan berteriak panik


"Nad, kamu kenapa?"


Keira berbalik dan melihat Nada jatuh pingsan.


*


Keira mematung di pintu kamar Nada, melihat dokter memeriksa kondisi Nada. Evan berdiri di belakang Keira.


"Mengapa kamu ke sini?" tanya Evan.


"Apa hubungan kalian?" Keira balik bertanya.


"Kalian tinggal bersama?" tanya Keira lagi.


"Apa urusanmu?"


Keira memandang keluar kamar, ke arah dapur dan ruang tv. Ia melihat foto Evan dan Nada di mana-mana.


"Kamu cemburu?" tanya Evan.


Keira tersenyum tipis.


"Maaf, aku tidak peduli kehidupan pribadimu."


"Lalu kamu tak perlu peduli dengan kehidupan Nada juga."


"Siapa dia sebenarnya?"Keira masih bersikeras bertanya. Evan mendekati Keira lalu berbisik pelan, "Bukan urusanmu."


"Dia baik-baik saja. Hanya demam karena kelelahan." Dokter keluar kamar memandang Evan yang berdiri terlalu dekat dengan Keira.


"Nona Keira?"


Keira refleks menjauhkan diri dari Evan dan memandang dokter itu dengan bingung, dokter itu balik memandang Evan dan Keira bergantian.


"Saya juga dokter di klinik dekat kantor Pak Bara." Dokter itu menjelaskan.


"Saya datang ke pesta pertunangan kalian."


"Oh..." Keira mencoba tersenyum, tiba-tiba ia gelisah. Dokter itu menatap Evan lalu memberikan resep kemudian pulang.


Keira memandang Nada yang tertidur.


"Apa ada yang menjaganya?" tanya Keira lagi.


"Pertanyaanmu sungguh menggelikan. Kamu bisa pulang sekarang."


"Kalian memang tinggal bersama?" Keira kembali bertanya.


"Apa kamu harus terus menanyakan hal itu?"

__ADS_1


Keira memandang Evan lalu ia berkata pelan.


"Tolong, lupakan masa lalu kita."


__ADS_2