
Keira berjalan menyusuri taman sekolah. Evan mengikuti di sebelahnya. Mereka berdua sedang dihukum membersihkan taman karena sama-sama tidak mengerjakan tugas rumah.
"Ah, senangnya bebas...." Keira tertawa lepas.
Evan membersihkan sampah sambil menggerutu, lalu ia menatap mawar yang tumbuh di halaman.
Ia ingin mengambil mawar itu, ketika tangannya akan memetik, Keira mengagetkannya. "Jangan diambil. Mawar itu berduri."
Benar saja, Evan tertusuk duri.
"Mengapa mawar harus berduri?" Evan menggerutu kesal.
Keira memberi tisu untuk membersihkan darahnya.
"Karena mawar itu indah dan menjadi incaran tangan-tangan nakal sepertimu!" seru Keira tertawa sambil tertawa.
"Ada mawar yang tak berduri." sergah Evan.
"Tidak ada. Semua mawar pasti berduri."
"Kamu nggak." Evan menjulurkan lidahnya.
"Kamu indah tapi tidak berduri."
Keira terdiam seketika lalu berdiri.
"Di dunia ini tidak ada mawar yang tidak berduri. Tidak akan ada keindahan yang tidak berduri. Tidak akan ada kebahagiaan tanpa kesakitan."
"Kita bisa bahagia..." Evan membantah.
Keira menjulurkan lidahnya lalu kbali berseru, "Hitung sampai 3. 1, 2 ,3...."
"Apa yang kalian lakukan??!!" Suara guru yang mengawas mengagetkan mereka. Evan dan Keira berlari sambil tertawa.
*
Evan menangis mengingat kenangannya bersama Keira, mengingat betapa ia telah menyakiti gadis itu, hatinya sangat terluka.
"Pasien masih koma. Kondisinya kritis." Dokter memberi informasi yang membuat
Kusuma, Lestari dan Evan mendesah dengan gelisah. Lalu Dizza dan Bara berlari-lari menemui mereka.
"Apa yang terjadi? Bagaimana keadaan Kakak?" Dizza bertanya dengan khawatir, Ny Lestari hanya menangis.
Bara menatap Evan, ia tak bicara apa pun.
Kusuma meninggalkan semuanya.
Dokter membawa Keira yang masih koma ke ruang ICU, Dizza dan Lestari menangis mengikuti Keira. Evan dan Bara saling diam. Evan akhirnya memilih pergi.
"Apa kamu mencintainya?" tanya Bara.
Evan menghentikan langkahnya lalu ia pergi tanpa menjawab.
Apa aku berhak mencintainya?
*
Dizza memandangi wajah Keira yang terbujur tak bergerak. Berbagai peralatan medis terpasang untuk menopang hidupnya yang dalam status koma.
"Mengapa Kakak sebodoh ini, Kak?" tanyanya.
"Bangunlah, aku ingin menumpahkan kekesalanku. Kakak membuatku susah! Aku mencari Kakak ke mana-mana tapi Kakak malah berakhir di sini!"
Dizza terisak lalu ia teringat sesuatu.
"Bu, aku ingin bicara." Dizza mengajak Lestari bicara di kantin Rumah Sakit.
Lestari mendengarkan setiap kata Dizza tanpa ekspresi, lalu setelah Dizza selesai bicara, Lestari menatap Dizza.
"Ibu mohon satu hal. Demi Keira yang terbaring di sana, berjanjilah kamu akan merahasiakan hal ini dari ayahmu."
Dizza menatap ibunya tak percaya, ia baru saja menceritakan tentang Nada yang sebenarnya adalah Zea.
"Tapi Bu ...."
__ADS_1
"Jauhi dia ...." Lestari berdiri.
Dizza memainkan ponselnya dengan bimbang.
"Ibu hanya memintaku berjanji merahasiakan dari ayah, kan?" Dizza membatin.
*
"Apa hatimu terbuat dari batu?" Dizza melempar Nada dengan kacang.
"Sudah aku bilang aku ingin sendiri!" Nada berteriak marah.
"Tapi ini, kan, tempatku!"Dizza menjawab kesal. Nada balas memandang kesal lalu mengemasi barang-barangnya.
"Hei, aku nggak mengusirmu!" Dizza berteriak.
Nada tetap mengemasi kopernya, karena kesal Dizza menendang koper Nada hingga menjauh.
"Tidak bisakah kamu berpikir dewasa?!"
Nada memandang Dizza dengan kaget tapi kemudian dia justru meneriakan kemarahannya.
"Siapa yang tidak berpikir dewasa?! Mereka bukan keluargaku! Kakak bahkan tega membohongi aku hingga aku terbakar! Mereka bahkan sengaja membuang aku tanpa pernah berusaha mencari aku!"
"Kalau bukan karena fakta ia terus mencarimu, aku nggak sudi bicara denganmu! Keras kepala!"
"Mencari aku?! Dia tidak pernah mencari aku! Sementara aku dua kali masuk panti asuhan, Kakak hidup nyaman dengan kalian! Bagaimana bisa kamu bilanh dia mencari aku?!"
Dizza memegang kepalanya.
"Apa kamu tahu yang sebenarnya terjadi saat kebakaran itu? Apakah kamu tahu apa yang dikorbankan Kakak demi menjemputmu? Kamu tahu siapa yang dia lindungi hingga seluruh dunia menghujatnya sebagai wanita murahan? KITA! Dia melindungi kita!"
Nada memandang Dizza dengan kesal, tapi belum sempat ia memprotes, Dizza menceritakan semua tragedi yang dia tahu.
Nada terperanjat mendengar kisah Dizza, ia bahkan menganggap Dizza berbohong dan mengarang cerita. Tapi walaupun masih banyak kepingan cerita yang menjadi misteri dalam hidupnya, Dizza akhirnya berhasil membujuk Nada untuk menjenguk Keira yang masih koma.
Tiga belas tahun yang lalu dia keluar dari rumah untuk menjemputmu tapi kemudian dia justru mengalami peristiwa yang membuatnya trauma seumur hidupnya. Jangankan menyelamatkanmu, menyelamatkan dirinya sendiri saja dia tidak bisa! Kamu salah, selama ini dia tidak hidup bahagia!
Nada mengulang ucapan Dizza yang menutup kisah mengerikan yang dialami Keira.
*
Kak, bangunlah. Bangun dan jelaskan semuanya padaku. Kakak berjanji akan menjemputku dan tidak akan meninggalkan aku. Jangan bertingkah seperti ini. Aku harus membuat perhitungan dengan Kakak.
Tanpa sadar Nada menyeka air matanya, Dizza ikut meneteskan air mata.
"Ah, mengapa keluargaku penuh dengan drama?!" Ia menggerutu dalam hati lalu mengintip keluar jendela.
"GAWAT!" Dizza berteriak panik. Nada menoleh kaget.
"Ada apa?"
"Ibu datang! Kamu bersembunyilah di kamar mandi! Cepat!" Dizza mendorong Nada.
"Kamu di sini?" Lestari menatap Dizza.
"Aku baru saja datang." Dizza berbohong.
Lestari mengabaikan Dizza lalu memeriksa keadaan Keira yang masih sama. Ia menghela napas kecewa.
"Nak, sadarlah ...."Lestari mengenggam tangan Keira.
"Maafkan Ibu...."
Dizza menanti dengan gelisah, Lestari menatap Dizza.
"Kamu nggak pulang?" tanya Lestari.
"Aku di sini saja. Ibu saja yang istirahat di rumah."
"Ibu di sini saja. Ibu tidak bisa tenang kalau tidak melihat kakakmu di sini."
Lestari tiba-tiba berjalan ke arah kamar mandi, Dizza cepat-cepat mendahului.
"Kamu ini kenapa?" tanya Lestari heran.
__ADS_1
"Aku sakit perut. Ibu pakai kamar mandi bersama di luar saja ya." Dizza segera masuk kamar mandi dan menutup pintu, ia menyuruh Nada tetap diam.
"Dizza! Kamu sakit perut? Apa yang kamu makan?"
"Entahlah ... Bu, ini akan lama, Ibu pakai kamar mandi di luar saja, ya?"
"Kamu yakin baik-baik saja?"
"Aku baik-baik saja, hanya sepertinya perlu memakai kamar mandi ini dengan lama."
"Baiklah, Ibu akan menemui dokter dulu."
Dizza dan Nada berdiam diri di dalam kamar mandi.
Ada rasa sakit yang menjalar di hati Nada, bagaimana bisa ibunya terlihat mengkhawatirkan Dizza yang bukan anak kandungnya sedangkan dulu ibunya tega meninggalkannya di panti asuhan.
"Bu!" Dizza berteriak, karena tak ada jawaban, Dizza keluar perlahan lalu mengecek lorong rumah sakit.
Dizza segera menarik Nada dan menyuruhnya segera keluar dengan cepat. Nada terseret lalu ia menyempatkan diri melihat Keira.
Ia melihat Keira membuka mata, Nada ingin bicara namun Dizza segera mendorong Nada keluar.
"Cepatlah!"
"Dia sadar," Nada tercekat.
"Kalau kita nggak segera pergi, ibu pasti menyadari."
Nada menepis tangan Nada.
"Kakak sadar. Aku melihatnya membuka mata!"
"Apa?!" Dizza histeris.
"Kamu cari jalan keluar sendiri ya, aku akan memeriksanya." Dizza segera berlari ke kamar dengan panik, meninggalkan Nada yang terdiam.
Aku bukan bagian dari keluarga itu!
Nada menyeka air matanya lalu berjalan ke luar rumah sakit dengan linglung.
Dizza memandang Keira yang ternyata memang membuka matanya. Jarinya bergerak-gerak. Dizza segera menekan tombol memanggil perawat.
"Dia sadar!" Dizza berteriak histeris.
Dokter dan perawat segera memeriksa Keira. Ibu yang mendengar Keira telah sadar segera berlari. Ia tertawa bahagia dan memeluk Dizza saat melihat Keira membuka mata dan tersenyum.
"Di mana, Zea?" Keira bertanya dengan suara serak. Senyum Lestari perlahan menghilang.
*
Bara mengunjungi Keira di rumah sakit. Kondisi Keira sudah jauh membaik, ia masih belum bisa duduk, tapi ia bisa membuka mata dan bicara walaupun tak banyak. Ia masih sering tertidur.
Saat Bara datang, Keira masih tertidur. Bara menggenggam tangan Keira.
"Syukurlah kamu kembali, aku nggak akan melepaskan tanganmu lagi." Bara berjanji dalam hati.
Di saat bersamaan Evan juga datang mengunjungi Keira. Ia hanya berdiri
melihat Bara menggengam tangan Keira. Bara bahkan tak menyadari kehadiran Evan.
Keira terbangun, saat ia membuka mata, orang pertama yang dilihatnya adalah Evan yang sedang menatapnya. Mereka saling memandang tanpa bicara.
"Kamu sudah bangun?" Bara membelai rambut Keira. Keira masih menatap Evan lalu Evan memilih pergi perlahan saat Bara mengecup kening Keira.
"Apa kamu sudah merasa lebih baik?"
tanya Bara.
"Maaf pak, pasien belum bisa terlalu banyak bicara. Kondisi psikisnya juga belum membaik, jangan memaksanya menjawab pertanyaan." Seorang perawat yang tiba-tiba masuk memberi penjelasan.
"Oh, maafkan saya." Bara tersenyum.
Keira menatap pintu, berharap Evan kembali datang.
Mengapa aku ingin melihatnya lagi sementara rasa sakit itu masih ada?
__ADS_1