
Keira berusaha menenangkan dirinya yang gelisah. Dalam waktu 20 menit, dia akan mengikuti rapat umum pemegang saham. Rapat luar biasa yang akan membahas proyek mega hotel, kegagalan investasi grup wijaya, serta ketidakkompetenan dirinya. Intinya adalah mendepak Keira yang mereka anggap tidak becus sebagai wakil direktur.
Keira berpapasan dengan seorang petinggi, teman baik Kusuma.
"Selamat pagi, Tuan Fin."
Pria yang disapa Keira menoleh. Ia menatap Keira dengan iba.
"Keira, maafkan saya." Pria itu bicara pelan lalu ia memandang sosok Evan yang baru saja pergi mengantar Keira.
"Mengapa kamu terus membuat masalah?Setelah semua rumor yang beredar, bagaimana bisa kamu bersama wakil direktur Oshi? Bagaimana bila para direksi tahu?" tanya Pria itu.
Keira memandangi punggung Evan.
"Maafkan saya mengecewakan kalian, Tuan. Dia bukan wakil direktur Oshi. Dia hanya pemilik toko buku."
Pria itu terbatuk karena kesal.
"Maafkan saya Keira, saya sangat menyukai dirimu secara pribadi, tapi saat ini saya tidak bisa berdiri di pihakmu." Pria itu meninggalkannya dengan kesal.
Keira tetap tersenyum. Tak apa, dia tahu dia akan dipecat. Keira akan berjalan lagi ketika ia melihat Bara berjalan menuju ke arahnya.
Seketika Keira ketakutan.
"Keira ...." Bara mendekat.
Keira diam tak menjawab.
Bara memandang wajah Keira.
"Kamu tahu betapa aku merindukanmu?"
"Aku ingin bertanya sekali lagi padamu sebelum aku melangkah keluar. Bisakah kita kembali lagi?" tanya Bara.
"Bisakah kamu memaafkan aku dan ibuku?
"
"Aku bisa memaafkanmu tapi kita nggak bisa kembali."
Bara menatap Keira kecewa.
"Ku harap kamu nggak akan menyesal, " ucap Bara getir lalu meninggalkan Keira.
Apakah ini ancaman?
"Bara ...." Keira memanggil Bara lagi.
Bara menoleh, menatap wajah wanita pertama yang dicintainya bahkan sampai detik ini.
"Tetaplah menjadi orang baik," kata Keira tulus. Bara tersenyum sinis.
"Setelah semua yang kamu lakukan padaku, apakah menurutmu aku bisa menjadi orang baik?"
Pria ini sungguh penuh ancaman.
Keira memandang Bara dengan iba. Pria yang selalu menolongnya, menerimanya apa adanya, menjaganya. Pria yang sudah memberikan seluruh hatinya untuk Keira.
"Jangan memaafkan aku. Tapi janganlah merubah hatimu yang seperti malaikat. Malaikat nggak akan berubah menjadi iblis hanya karena seorang wanita, kan?" Keira masih menatap Bara.
Selama bertahun-tahun Bara yang selalu ada untuk Keira, menghibur hatinya, berkorban untuk Keira.
"Mengapa kamu begitu egois? Kamu meninggalkan aku lalu memintaku tidak berubah hanya karena seorang wanita? Aku bukan hanya dikecewakan oleh wanita biasa. Tapi wanita yang mewakili seluruh hidupku!"
Keira mencoba tersenyum.
"Ya, aku memang egois. Tapi aku tahu kamu akan melakukannya. Tetaplah menjadi baik, kamu akan menemukan wanita lain yang jauh lebih baik dari aku. Terima kasih untuk segalanya, kamu nggak perlu memaafkan aku."
Keira mundur lalu berbalik pergi, meninggalkan Bara yang hanya diam menatap kepergiannya.
**
__ADS_1
Keira mulai merasa mual, dia gelisah menghadapi rapat ini tanpa Kusuma. Mendadak ia merindukan pria yang pernah yang menodongkan pistol di kepalanya itu.
Biasanya di saat perusahaan sedang dalam kegentingan, Kusuma mampu meyakinkan para direksi atau komisaris.
Rapat di mulai dengan segala basa basi tentang kemunduran perusahaan yang di telinga Keira terdengar bagai cacian halus untuk dirinya.
"Kami mengevaluasi kinerja Nona Keira dan dengan ini meminta yang bersangkutan sementara ini untuk meninggalkan posisinya sebagai wakil direktur. Yang bersangkutan diberi kesempatan untuk memberi pembelaan pada rapat berikutnya."
Keira mendengarkan dengan seksama.
Ia memandang wajah orang di sekelilingnya.
"Apa anda menerimanya Nona Keira."
"Ya, saya menerimanya."
Memangnya apa lagi yang bisa kulakukan saat ini?
"Kami memutuskan untuk mengganti ketua direktur sementara dengan Dizza Kusuma sesuai dengan kesepakatan para pemegang saham."
Keira mendengarkan dengan setengah hati. Sampai ia menyadari sesuatu.
"Dizza?" Keira bertanya heran.
"Adikku?" Keira memastikan.
"Kapan kalian memutuskannya? Kalian bisa memecatku tapi apa kalian serius mengangkat Dizza sebagai ketua?" Keira menatap heran jajaran pemegang saham di hadapannya.
Tiba-tiba pintu terbuka, Dizza masuk terengah-engah.
"Maafkan keterlambatanku, pesawatku mengalami delay."
Keira memandang adiknya yang berdiri dengan percaya diri di hadapan para pemegang saham.
Dizza balas menatap Keira.
"Kamu Ketua Kusuma Grup? Mengapa dunia senang bercanda. Apakah rapat ini sebuah lelucon?"
"Maaf Kak, Kakak pasti terkejut." Dizza berkata gugup.
"Dizza apa yang kamu lakukan?Jangan bercanda ...."
"Aku nggak bercanda. Lagipula saat ini kepemilikan sahamku lebih besar dari punya Kakak."
Keira sedang tidak ingin membahas saham mereka.
"Jelaskan pada Kakak ...."
"Nona Dizza memiliki sejumlah saham yang diberikan padanya sejak ia lahir, saham yang diberikan ibu kandungnya, serta saham yang diberikan oleh kakek dari Kusuma, Kakek dari ibunya, bahkan, maaf Nona Keira, ibu anda bahkan memberikan sebagian sahamnya pada Nona Dizza."
Keira menatap Dizza tak percaya.
"Mohon memberi salam pada Direktur yang baru." Seseorang memberi arahan.
Dizza berdiri di depan lalu ia memberi salam.
"Maafkan atas keterlambatan dan kabar yang mungkin mengejutkan untuk sebagian orang ini, " Dizza melirik Keira yang mengepalkan tangannya dengan kesal. Ia tertawa kecil.
"Bicaralah dengan serius!" Keira memberi peringatan kecil. Dia tak mengerti bagaimana bisa adiknya yang bahkan tidak pernah menjadi staf apa pun di perusahaan ini tiba-tiba menjadi direktur, melewati karirnya yang berhenti di kursi wakil direktur dan segera didepak.
Dizza menatap ke depan lagi.
"Mari kita lanjutkan membahas tentang darurat investor proyek mega hotel. Kita akan mendapat investasi dari Grup Falcom dan Wonda Grup."
"Wonda Grup dari Singapura?" tanya seseorang.
Dizza mengangguk.
"Untuk lebih lanjut masalah investasi itu akan dilanjutkan oleh .... Kak, apa jabatan untuk ketua proyek?" Dizza berbisik.
"Aku sudah dipecat!" Keira mengingatkan.
__ADS_1
"Oh ya, untuk investasi ini, kedua grup hanya ingin melanjutkan dengan Nona Keira. Sementara ia memikirkan pembelaan diri terkait posisinya sebagai wakil direktur, aku memberi wewenang padanya untuk melanjutkan kemajuan investasi ini. Nona Keira akan bertindak sebagai penanggung jawab investasi proyek mega hotel. Kita akan mendengar keberhasilannya di pertemuan selanjutnya sekaligus mendengar pembelaan Nona Keira."
Dizza menutup pidatonya.
Tak ada yang merespon.
Hening.
Dizza bicara lagi.
"Apa kita akan membuang waktu dan tidak akan segera kembali bekerja?" tanya Dizza.
Seseorang segera mengambil alih rapat dan mengumumkan rapat telah usai.
Perlahan para peserta rapat keluar dari ruangan meninggalkan Dizza, Keira dan beberapa petinggi yang sedang berkemas.
"Kamu merencanakan ini?" tanya Keira.
Dizza tersenyum manis.
"Apa Kakak tersentuh?" tanya Dizza.
"Apa kamu gila?" tanya Keira.
"Singapura? jadi kamu pergi kesana untuk ini?"
"Nggak, aku sungguh berlibur. Kakak boleh bertanya pada Nada. Tidakkah Kakak melihat kulit kami yang menjadi eksotis karena berjemur di kapal pesiar?"
"Dizza .... "
"Aku berlibur sambil mengunjungi Kakek."
Keira tertawa kesal. Ia tahu Wonda Grup adalah milik kakek kandung Dizza, itulah salah satu alasan mengapa adiknya itu suka menghambur-hamburkan harta. Ia tak perlu bekerja, warisannya menghasilkan banyak harta. Tapi meminta kakeknya berinvestasi bukanlah hal mudah. Kakeknya tidak bersahabat dengan Kusuma.
"Kamu memohon? Apa yang kamu korbankan?" Keira menyelidik, belajar dari pengalamannya.
"Memohon? Yang benar saja. Aku bahkan nggak memiliki sesuatu untuk dikorbankan."
"Dizza, Kakak serius."
"Aku mengajukan proposal, Kakak. Aku mempelajari proposal Kakak. Aku mengingat yang aku bisa untuk membujuk Kakek. Kakek bilang ia akan memikirkannya lebih lanjut ketika mendengarnya langsung dari orang yang bertanggung jawab pada proyek ini. Dan orang itu adalah Kakak!" Dizza menunjuk Keira.
"Baiklah, ketua investor, waktu kita habis. Silahkan kembali bekerja."
Dizza mengusir Keira dengan tangannya.
Tuan Fin mendekati mereka.
"Saya bangga padamu, Dizza." Tuan Fin menatap Dizza lalu menoleh pada Keira.
"Ada kalanya seorang Kakak belajar dari adiknya." Tuan Fin menyinggung.
Keira menunduk sopan pada Tuan Fin yang berlalu.
"Kakak pergi," Keira akan meninggalkan Dizza.
"Direktur. Panggil aku direktur!" Seru Dizza.
Keira kembali lalu menempelkan post it di dahi Dizza.
"Bakklah, Direktur!" Keira berjalan meninggalkan Dizza yang berteriak marah.
"Kak, tunggu aku!"
Adakalanya seorang Kakak belajar dari adik.
Aku banyak belajar dari kedua adikku.
Mereka tidak hanya membuatku belajar banyak hal, mereka menguatkan aku.
Darah atau air tak ada yang lebih kental dari rasa cinta itu sendiri.
__ADS_1
Sedarah atau bukan, kalau kamu mencintai saudaramu, maka kamu akan rela berkorban untuk mereka.