No Rose Without A Thorn

No Rose Without A Thorn
Senjata Makan Tuan


__ADS_3

Keira sudah membuat pembelaan untuk dirinya. Ia mengikuti kata-kata Evan. Membela diri bukan untuk poisisinya tapi untuk kebenaran bahwa ia tak pernah sedikitpun berniat mencelakakan perusahaan.


"Mengapa Kakak merenung?" tanya Nada. Ia menarik kursi dan duduk di sebelah Keira.


"Kapan kamu akan belajar menjadi Barista?"


"Secepatnya."


Keira memandangi wajah Nada lalu membelai rambutnya.


"Bisakah kamu membuatkan Kakak secangkir coklat?" tanya Keira setengah memohon. Nada mendesah kesal.


"Mengapa minum cokelat?" tanya Nada.


"Kenapa? Nggak boleh?" tanya Keira heran.


"Mengapa nggak minum susu?"


"Susu? Mengapa harus minum susu? Kamu ini sungguh aneh. Kakak ingin minum cokelat, bukan susu!"


"Mengapa tiba-tiba ingin minum cokelat?" Nada masih bertanya.


"Mengapa? Kakak nggak tahu. Kakak hanya ingin meminumnya saat ini!"


Nada terbengong.


Apa ini bawaan bayi? Cokelat?


"Demi Tuhan Zea, kamu sebenarnya nggak mau membuatkan atau apa? Mengapa kamu bertanya sedemikian rupa?" Keira mulai kesal.


"Tenang, Kak, jangan marah." Nada menenangkan Keira.


"Tak baik bersikap emosinal saat ...."


"Saat apa?"


"Saat ingin menikmati secangkir cokelat Kakak harus tenang." Nada berlari ke dapur.


Keira duduk menunggu dengan hati kesal. Beberapa hari ini ia sering melihat kelakuan Dizza dan Nada yang agak aneh. Mereka melarang Keira naik turun tangga, melarang mengangkat barang-barang. Melarang minuman megandung soda dan alkohol. Ia merasa seperti orang hamil berpenyakit yang dilarang beraktifitas.


GLEK. Keira mulai menebak sesuatu. Ia menatap kedua adiknya lalu mengepalkan tangan kesal.


"Kak, ini cokelatnya." Nada menyodorkan secangkir cokelat. Keira meminumnya sedikit lalu meletakkannya begitu saja.


"Sudah?" tanya Nada heran.


Keira mengangguk.


"Hanya ingin meminumnya sedikit. Maafkan Kakak." Keira tersenyum manis, sangat manis.


Keira lalu kembali membaca buku.


Beberapa menit kemudian dia memanggil Dizza.


"Dizza apa kamu tahu ke mana penjual siomay yang dulu biasa kita makan saat kamu masih SMP?"


"Kenapa Kakak menanyakannya? Sudah lama kita nggak pernah memakannya. Kudengar sudah pindah."


Keira terdiam sesaat seakan merenung.


"Ada apa Kak?"


"Entahlah, tiba-tiba Kakak ingin makan siomay itu."


"Siomay itu? Kakak ingin memakannya sekarang?" tanya Dizza.


Keira mengangguk.


"Tapi kita nggak ahu dimana penjual itu sekarang."


Dizza memandang Keira.


"Mengapa melihat Kakak? Kakak hanya bertanya, kalau kamu nggak tahu, nggak apa-apa."


Dizza memandang Keira lalu menarik napas.


"Aku akan mencarinya."


"Benarkah?" mata Keira berbinar sekejap lalu meredup.


"Nggak usah Dizza, pasti susah mencarinya. Kakak hanya kebetulan teringat ...."

__ADS_1


"Aku akan mencarinya. Tunggu ya," Dizza segera berlari mengambil ponsel dan menelpon beberapa penjaga untuk mencari keberadaan siomay itu.


Dua jam kemudian siomay itu datang, Dizza menemani Keira menikmati siomay yang diinginkannya, namun betapa kecewanya ia saat melihat Keira hanya memakan sepotong lalu meninggalkannya.


***


"Kita berhasil!"


Adrian, Keira, Dizza, Evan dan Nada bersorak bersama.


Mereka berhasil meyakinkan Falcom dan Wonda untuk berinvestasi.


Keira dan Evan berpelukan bahagia.


"Dizza, kamu luar biasa!" Keira memuji adiknya.


"Kamu mengagumkan!" Nada memberi jempol. Mereka lalu merayakannya dengan makan bersama di apartemen Evan.


Mereka duduk bersama. Dizza mengeluarkan minuman bersoda, memberi mereka semua kecuali Keira. Ia memberinya sekotak susu yang menimbulkan kerutan di dahinya.


"Mengapa kamu memberi Kakak ini?" tanya Keira. Adrian dan Evan ikut heran.


"Nggak apa, aku hanya berpikir Kakak lebih baik minum susu, lebih sehat."


Keira menggertakan gigi dengan kesal lalu ia mengirim pesan pada Evan untuk mengikutinya ke dapur.


"Ada apa?" Evan bertanya heran.


"Sepertinya kedua anak itu salah sangka."


"Salah sangka apa?"


Keira menggerutu lalu berbisik di telinga Evan yang sekita tertawa lepas.


"Kita akan membalas mereka agar mereka belajar untuk tidak lagi menarik kesimpulan sendiri."


"Beberapa hari ini mereka membuatku terpaksa menelan semua nutrisi ibu hamil tanpa aku sadari!" Keira berkata kesal mengingat ia begitu saja percaya menelan berbagai minuman yang diberikan kedua adiknya.


"Bagaimana kamu tahu kalau itu nutrisi untuk ibu hamil?" Evan tak sanggup menahan tawanya.


"Begitu aku mencurigai kelakukan mereka, aku membeli beberapa di minimarket dan membandingkan rasanya. Mereka benar-benar keterlaluan!"


Dizza menyusul ke belakang.


"Kalian sedang apa?"


Evan dan Keira berhenti tertawa, mereka berpura-pura salah tingkah.


"Nggak ada apa-apa." Keira akan turun dari kursi tapi ia terpleset, Evan refleks menangkap Keira.


"Kak, hati-hati." Dizza terlihat khawatir.


Evan sengaja memegang perut Keira.


"Kamu baik-baik saja?"


Keira sengaja menurunkan tangan Evan di perutnya lalu tersenyum pada Dizza yang tak bisa menyembunyikan kecemasannya. Dizza meninggalkan keduanya yang kemudian saling berhighfive.


**


Evan mengirim pesan pada Nada, ia meminta tolong untuk mencarikan jambu air berwarna merah.


*Untuk apa? Aku akan membelinya ketika aku melihatnya.


Terima kasih, Nad. Aku sudah berkeliling mencari tapi nggak menemukannya.


Untuk apa jambu itu.


Keira. Entah mengapa ia terus membicarakan jambu air berwarna merah.


Aku segera mencarinya*.


Evan merasa takjub. Tak sampai 2 jam, jambu itu benar-benar ada. Evan membawa pulang jambu itu dan memakannya sendirian setelah menelpon Keira yang tertawa.


***


Keira berkunjung ke cafe. Ia memandang Nada dan direktur perusahaan yang nyaris tak pernah ada di perusahaan.


"Kak, mengapa Kakak berada disini?" tanya Dizza.


"Kamu yang aneh, direktur seharusnya di kantor, mengapa kamu berada di sini terus?" tanya Keira.

__ADS_1


"Aku sedang cuti." Dizza tertawa mengelak.


Evan yang baru saja keluar dari Lets Read melihat mobil Keira terparkir di depan Cafe, ia bergegas menemui Keira.


"Mengapa kamu kesini?" Evan merangkul pinggang Keira.


"Seharusnya kamu lebih banyak istirahat," sambung Evan. Keira menatap Evan heran lalu ia tersadar. Dizza sedang memandang keduanya.


"Mengapa Kakak merasa lukisan itu aneh?" Keira tiba-tiba menunjuk sebuah lukisan di pintu masuk.


"Aneh bagaimana?" tanya Dizza.


Keira mendekati lukisan itu lalu menjauhinya.


"Entahlah, hanya merasa aneh." Keira berjalan, ia mengelus perutnya sambil lalu.


"Apa menganggu Kakak?" tanya Dizza khawatir.


Semenjak mengira Keira hamil, Dizza dan Nada gemar membaca informasi seputar kehamilan. Mereka berjaga-jaga karena khawatir Keira melakukan kecerobohan.


Ia pernah membaca beberapa perilaku aneh wanita hamil. Ia tak tahu bahwa Keira juga membacanya untuk tujuan berbeda.


"Ya, sedikit." Keira menjawab sambil duduk. Evan mengikuti Keira.


"Apa Kakak ingin kami memindahkannya?"


"Mengapa kamu ingin memindahkannya kalau menganggu Kakak? Ini, kan, cafe kalian. Lupakan, tak penting." Keira berpura-pura tak peduli.


"Baiklah kalau itu menganggu Kakak, aku akan memindahkannya." Dizza berjalan memanggil pegawai untuk memindahkan lukisan. Keira dan Evan tertawa.


"Kak, apakah jambunya enak?" tanya Nada tiba-tiba.


"Jambu?" Keira lupa perihal jambu yang diminta Evan.


Evan menendang kaki Keira.


"Oh ya, terima kasih Zea. Kakak sampai lupa baru saja menyusahkanmu tentang jambu itu. Kakak malah memikirkan mangga muda. Apa kamu punya mangga muda di dapur?" tanya Keira.


"Mangga muda?!" Nada dan Dizza heran.


Keira mengangguk tanpa rasa bersalah.


"Kalau nggak ada nggak apa-apa. Kakak hanya bertanya. Kakak akan mencarinya besok." Keira tersenyum.


"Jangan besok ...." Dizza segera mengambil ponselnya dan menelpon seseorang untuk mencari mangga muda.


Evan terperanjat, Keira tersenyum manis.


"Terima kasih."


**


Evan membawa Keira ke halaman belakang agar Dizza dan Keira tak mendengar mereka.


"Adik-adikmu benar-benar menyayangimu." Evan memuji Dizza dan Nada yang tak sadar dibohongi Keira.


"Kita terlalu kejam." Evan tertawa. Keira juga tertawa.


"Kita harus mengakhirinya," kata Keira.


"Ya, saatnya kita menjelaskan pada mereka kalau kehamilanmu ini ...."


"Apaaaaa?!" Keira dan Evan yang sedang berpelukan terlonjak kaget mendengar suara Lestari.


"Hamil?!"


Tanpa bisa dicegah Lestari berteriak histeris. Nada dan Dizza berlari mengikuti sumber suara.


"Keira hamil?!" Lestari bertanya pada Evan.


"Bukan, Bu ... Ini hanya..." Keira berusaha menjelaskan.


"Tenang Bu. Jangan marah pada Kakak, Ibu harus tenang." Nada mencoba menenangkan ibunya yang semakin murka.


"Kalian juga tahu?" tanya Lestari pada kedua putri lainnya.


Nada dan Dizza mengangguk.


Keira dan Evan menepuk jidat.


Inikah yang dinamakan senjata makan tuan?

__ADS_1


__ADS_2