
Kasus kecelakaan yang melibatkan Nada, Dizza dan Keira berlalu begitu saja. Kusuma membungkam semua media. Baik Dizza maupun Nada tak ada yang saling menggugat atau pun meminta maaf.
Keluarga Kusuma menanggung biaya rumah sakit Nada, namun tak ada yang menengoknya setelah kasus amplop yang ditinggalkan Ny Lestari. Keira yang memprotes tindakan ibunya tak mendapatkan hasil apa pun, menurut ibunya itu adalah cara penyelesaian terbaik.
"Kamu lihat, dia diam dengan amplop itu."
"Ibu salah. Dia nggak mengambilnya."
"Kenyataannya amplop itu tak kembali," Ibu merasa menang.
Keira mendengus kesal.
"Lagipula kenapa kamu membelanya?" tanya Ibu.
Keira terduduk di kursi lalu merenung."Entahlah, aku merasa ada sesuatu pada gadis itu."
"Jangan berpikir macam-macam. Orang-orang semacam itu hanya mencari keuntungan ...."
"Orang-orang semacam itu?!" Keira meninggikan suaranya. Ia mulai kesal pada Ny Lestari yang seakan lupa bahwa dulu mereka juga tidak berkecukupan.
Ny Lestari terdiam, ia tahu Keira marah.
"Kita pernah berada dalam keadaan seperti mereka, dan seingatku kita pun tak pernah mencari keuntungan!" Keira membanting pintu dan meninggalkan ibunya. Ia melewati Dizza yang menatapnya heran.
*
Nada hampir pulih namun belum bisa berjalan dengan normal. Ia berhenti dari pekerjaannya di toko bunga, sebagai gantinya ia bekerja di Let's Read, toko buku milik Evan. Ia tak bekerja melainkan hanya duduk-duduk di dalam gudang.
Nada mencoba mengingat semua masa lalunya namun hasilnya nihil. Ia masih belum menemukan nama aslinya.
Evan memperhatikan Nada dan merasa iba, belakangan ini ia jarang bertemu Nada karena ia sibuk menyusun rencana balas dendam dengan seseorang yang juga membenci keluarga Kusuma.
"Kamu baik-baik saja?" tanya Evan.
Nada tampak tak bersemangat. "Aku mengingat potongan lain, tapi aku masih belum berhasil."
"Nggak perlu kamu paksakan." Evan menasehati. Evan memperhatikan kalung di genggaman Nada, lalu ia seperti teringat sesuatu.
"Boleh kulihat kalung itu?" tanya Evan.
Nada menyerahkannya, "Terkadang aku merasa kalung itu tak berarti apa pun. Tapi aku nggak sanggup membuangnya."
Evan mengamati kalung itu tapi tak berhasil menemukan jawaban.
"Semoga kamu segera mengingatnya."
Nada tak menjawab, ia larut dalam khayalannya sendiri.
*
Keira berjalan sendirian, ia kesal pada Ny Lestari dan ingin menghibur diri. Ia mengemudikan mobil tak tentu arah lalu tiba-tiba saja ia sudah berhenti di depan Lets Read karena merasa melihat seseorang yang dikenalinya.
Keira keluar dari mobil dan mencoba memperhatikan pria yang dilihatnya mirip dengan Evan, namun segerombol anak sekolah menghalangi pandangannya. Keira menarik napas.
"Apa benar dia ada di kota ini?" tanya Keira dalam hati.
"Tapi walaupun ia kembali, itu tak berarti apa-apa lagi." Keira merenung sambil memainkan cincin pertunangannya. Lalu ia melihat Nada berjalan terseok-seok, seketika Keira keluar mobil dan mengejar Nada.
"Hey, tunggu!" Keira memanggil namun Nada tak mendengar. Ia berjalan terseok mencari Evan di ujung jalan. Keira lagi-lagi terhalang sekelompok anak sekolah, harusnya ia bisa menyusul langkah Nada yang tertatih-tatih.
__ADS_1
"Kak, kamu meninggalkan dompetmu!" Nada menelpon Evan dan mengatakan menunggunya di ujung jalan. Evan segera berbalik untuk menemui Nada sementara Keira sudah berada pada jarak dekat dengan Nada. Ia akan memanggil Nada namun diurungkannya ketika ia melihat Nada sedang berbincang dengan Evan.
Keira tak mengenali Evan yang mengenakan helm, ia hanya menunggu sambil memainkan ponselnya. Ia hanya ingin mengambil kembali amplop dari ibunya agar wanita itu tak salah paham pada Nada. Ketika akhirnya Evan pergi, Keira memanggil Nada.
"Kamu, gadis yang patah tulang." Keira berteriak. Nada menoleh dan memandang Keira dengan heran.
"Biasakah kita bicara?" tanya Keira.
Nada bersikeras untuk berbicara di depan Lets Read walaupun Keira menawarkan untuk makan siang. Keira mengalah, mereka duduk di depan Lets Read sambil menyeruput minuman. Keira hanya meletakkan minuman itu di meja.
"Tolong jangan salah paham. Aku hanya ingin menanyakan amplop yang ...."
"Ah, aku mengerti," sela Nada.
"Aku meninggalkan amplop itu di rumah, kamu bisa mengambilnya di rumahku."
Keira terlihat tidak suka pada cara bicara Nada yang blak-blakan.
"Jadi, kapan kamu ingin mengambilnya?" tanya Nada. Keira memandang kaki Nada.
"Apa kamu baik-baik saja?" pertanyaan itu meluncur begitu saja dari mulut Keira membuat Nada tertawa, "Tentu saja."
Nada menunduk melihat kakinya, saat itu sekilas Keira melihat bekas luka di tengkuk Nada. Raut wajah Keira berubah kaget, ia memandang Nada curiga.
"Bolehkah aku lihat ...."
Kalimat Keira terpotong oleh suara motor yang berhenti tepat di hadapan mereka.
"Loh, kenapa Kakak kembali?" tanya Nada heran mengacuhkan Keira.
Evan yang belum menyadari kehadiran Keira membuka helmnya, tepat saat Keira menatapnya. Mereka berpandangan dan berseru kaget.
"Kamu!" Keira berdiri dan memegang dadanya. Evan menatap Keira dalam.
"Ya, ini aku." Evan menjawab santai.
Evan menyuruh Nada masuk masuk ke dalam toko, tak mempedulikan tatapan penuh tanya dari Nada.
"Kamu, apa kamu baik-baik saja?" tanya Keira gelisah.
"Aku baik-baik saja, mengapa kamu gelisah?" tanya Evan.
Keira tak menjawab. Ia tak menyangka akan bertemu Evan kembali. Selama ini ia menyangka Kusuma sudah menyingkirkan Evan, ia lega bahwa Evan ternyata masih hidup.
Evan memandangi Keira, sejuta kenangan melintas di kepalanya. Betapa ia dulu sangat mencintai Keira, gadis yang kini terasa asing di hadapannya.
"Bagaimana rasanya hidup sebagai pengkhianat?" tanya Evan sadis.
Keira tak menyangka Evan akan sekasar itu pada pertemuan pertama mereka.
"Kamu...."
"Ada baiknya aku bertemu denganmu hari ini," Evan menyela Keira.
"Aku ingin menyampaikan satu hal. Aku akan membalas kalian semua!" Mata Evan merah menahan marah.
"Kamu salah paham!" Keira memekik.
"Salah paham? Ya aku memang pernah salah paham karena pernah mempercayaimu!"
__ADS_1
Keira menahan air matanya, tak menyangka Evan akan sangat membencinya.
"Evan, aku ...."
"Aku tidak butuh penjelasanmu. Pulanglah, dan katakan pada ibumu, aku akan membalas kalian semua."
"Ibuku tidak bersalah!" Keira membela ibunya.
"Lalu apakah ibuku yang bersalah?seseorang jelas membunuhnya!"
"Ibumu bunuh diri!" Keira balas berteriak.
Evan mengebrak meja. "Beraninya kamu ...."
Keira terdiam. Semua potongan masa lalu berputar-putar di benaknya. Evan mendekati Keira lalu merendahkan suaranya.
"Sayang, aku akan menantikan pertemuan kita berikutnya."
"Tak ada pertemuan berikutnya. Aku tak mau bertemu denganmu lagi!"
"Sayangnya bukan kamu yang memutuskan! Kita akan kembali bertemu untuk menyelesaikan masa lalu kita!"
Evan meninggalkan Keira sendirian.
*
Evan tidak merencanakan bertemu dengan Keira secara tiba-tiba, karena itu ia merasa kesal. Melihat wajah Keira dari dekat sempat menggoyahkan hatinya. Ia ingin sekali memeluk Keira untuk meluapkan kerinduannya, namun bayangan wajah ibu dan kakaknya mengeraskan hatinya.
Keira terlihat shock, ia sama sekali tak menyangka Evan kembali ke kota ini. Ia tahu Evan pasti akan menyalahkan keluarganya atas semua yang menimpa ibunya.
Di malam seharusnya Keira menjemput Zea, ia juga seharusnya bertemu Evan. Mereka berjanji akan pergi bersama, keluar dari lingkaran kehidupan Kusuma.
Namun sesuatu terjadi, Keira tak bisa menjemput Zea atau menemui Evan.
Malam itu adalah petaka untuk mereka. Keira menangis mengingat hari yang tak akan bisa ia lupakan seumur hidupnya.
Begitupun Evan, ia tak akan bisa melupakan perbuatan Keira yang mengingkari janji mereka. Berjam-jam Evan menantikan Keira, namun gadis itu tak kunjung datang. Saat ia pulang, ia melihat beberapa orang pria keluar dari rumahnya lalu ia menemukan ibunya tergeletak menelan semua obat-obatan. Ibunya tak bisa diselamatkan tanpa sempat menjelaskan apa pun, keesokan harinya, disaat ia dan kakaknya seharusnya menguburkan ibunya, Hans terjun dari tebing. Ia pun ditemukan meninggal. Evan yang kala itu masih seorang anak sekolah, tak tahu harus berbuat apa. Di tengah kebingungannya ia menemui Kusuma yang malah mengusirnya.
"Pergi kau! Aku bukan Ayahmu!"
"Bukan Ayah, kan, yang membunuh ibu?" tanya Evan menangis.
Kusuma tak menjawab, ia memerintahkan anak buahnya untuk mengusir Evan dari kota ini.
Evan di bawa ke panti asuhan di luar kota. Selama beberapa tahun Evan tinggal di sana dan bertemu dengan Nada. Seorang anak hilang ingatan yang kehilangan orang tua angkatnya.
Keira dan Evan sama-sama menangis di tempat yang berbeda. Keduanya mengutuk nasib buruk yang ada. Tiba-tiba keduanya menyadari sesuatu yang mencurigakan. Evan teringat kalung Nada, sementara Keira teringat pada bekas luka di tengkuk Nada.
"Benarkah Zea meninggal?" tanya Keira curiga.
Evan teringat pada cerita Keira tentang adiknya.
"Adikku sangat lincah. Ia tidak akan menangis saat diganggu. Ia akan melawannya."
"Aku akan menjemputnya. Aku tidak akan meninggalkannya!"
Evan bertanya-tanya dalam hati.
"Apakah kamu kehilangan adikmu atau kamu akhirnya meninggalkannya?"
__ADS_1
Evan bertekat menyelidiki lebih dalam.
Sampai detik ini ia tak pernah bertemu dengan adik kandung Keira.