No Rose Without A Thorn

No Rose Without A Thorn
NRWT 2: Mantan


__ADS_3

Keira berulang kali menghubungi Nada tapi adiknya itu menolak semua panggilannya, mengabaikan semua pesan Keira dan menghilang selama beberapa hari.


Dizza mengumpat sikap kekanakan Nada tapi seperti biasa Keira membela adiknya.


"Za, tolong kamu cari Zea ya, Kakak nggak tenang," pinta Keira dengan wajah cemas yang tidak bisa disembuyikan.


Rasa iri merayap dalam hati Dizza karena Keira sangat mencintai Nada, adiknya yang sedarah. Seakan mendengar umpatan Dizza dalam hati, Keira menyambung kalimatnya.


"Kamu tahu kalau kamu yang menghilang, Kakak juga nggak bakal tenang, kan, Za?"


Dan Dizza tak pernah bisa membuat kakaknya merasa bersalah atau semakin cemas. Perlahan dia tersenyum lalu mengangguk pelan sambil menggenggam tangan Keira. "Aku tahu, Kak. Jangan cemas, aku akan mencarinya. Ayo kita pergi."


Keira bergegas bersiap mengikuti langkah Dizza yang akan mengantarnya ke dokter karena Evan sedang ada meeting di Let's Read terkait pembukaan cabang baru toko bukunya.


"Kak, masih sering sakit?" tanya Dizza.


"Nggak, Evan aja yang berlebihan," jawab Keira sambil tersenyum lalu detik berikutnya ponselnya berbunyi.


"Ya, Van. Aku sudah di klinik. Nggak usah ke sini, Dizza bisa ngantar aku pulang lagi, kok."


"Oke, love you too."


Keira menutup telepon lalu memandang Dizza yang sedang menertawakannya.


"Ah, semenjak hamil Kakak jadi romantis, ya?"


Wajah Keira bersemu merah lalu mengabaikan Dizza agar tidak terus mengganggunya. Dizza mengikuti langkah Keira lalu tiba-tiba dia melihat seseorang berjalan dengan cepat menabrak Keira hingga Keira nyaris terjatuh.


Dizza memekik kaget tapi ternyata sebuah tangan menahan Keira.


"Kak!" Dizza segera mendekati Keira yang pinggangnya masih ditahan seorang pria.


"Terima kasih," Keira melepaskan diri lalu mendongak, seketika wajahnya berubah.


Dizza yang sudah berada di dekatnya juga seketika membeku lalu tanpa sadar menggumam pelan.


"Kak Bara?"


"Hai, apa kabar?" tanya Bara dengan senyuman.


Keira tanpa sadar berpegang erat pada lengan Dizza dan Bara melihatya.


"Kamu baik-baik aja, kan, Kei?" tanya Bara dengan ekspresi sedikit cemas yang dihapal Keira dan Dizza.


"Baik. Kamu?" tanya Keira ragu.


"Aku ... kamu pasti tahu. Bagaimana mungkin aku baik-baik saja setelah apa yang terjadi di antara kita?"


Keira merasa salah tingkah karena ada Dizza di dekatnya.


"Aku bercanda, Keira." Bara tertawa kecil.


"Aku baik-baik saja. Kamu ke sini mau ngapain?" tanya Bara santai.


"Ini klinik kandungan, Kak Bara, sudah jelas tujuan kami ke sini untuk periksa kandungan. Kakak yang ngapain di sini?" tanya Dizza mencoba mencairkan situasi tegang.


Bara tertawa sambil mengangguk lalu tiba-tiba datang seorang wanita muda mendekatinya.


"Sudah selesai, Lin?" tanya Bara pada wanita yang menatapnya tanpa ekspresi.


Wanita itu hanya mengangguk pelan lalu menoleh menatap Keira dan Dizza.


"Aline, ini Keira, mantan tunanganku dulu. Kei, kenalkan ini Aline, tunanganku." Bara meminta Aline mengulurkan tangannya.


Sekejap Dizza dan Keira terkejut tapi berikutnya Keira menghela napas lega.


Wanita bernama Aline itu tersenyum singkat, membuat Keira dan Dizza merasa tak enak hati.


"Bara, aku duluan, ya." Keira memutus pertemuan tak menyenangkan itu secepat mungkin.


"Oke, hati-hati Kei, sampai ketemu lagi," kata Bara sambil tersenyum lebar.


Keira menatapnya dengan bingung hingga Bara kembali bicara, "Aku yakin suatu saat kita pasti ketemu lagi. Kita masih tinggal satu kota, kan?"


Keira hanya teraenyum lalu mengangguk sopan pada Aline yang menatapnya dengan pandangan hampa, setelahnya dia mempercepat langkah sambil berpegangan pada Dizza yang berbisik dengan pelan, "Itu tunangannya kenapa kayak manekin, ya, Kak?"


"Hush! Manekin gimana?"

__ADS_1


"Diam kayak patung. Aneh. Turun level banget habis tunangan sama Kakak, kok dapat arca pucat gitu."


"Mulut kamu Dizza, sembarangan ngomong aja!" Keira mencubitnya namun Dizza malah tertawa.


"Tapi baguslah kalau dia sudah punya tunangan lagi, berarti sudah move on dari Kakak dan nggak akan menganggu Kakak lagi."


Keira tertawa membenarkan tapi hatinya sedikit resah. Perlahan dia menoleh ke belakang dan melihat Bara berjalan sendirian di depan meninggalkan Aline di belakangnya.


Dizza benar, Aline tampak seperti manekin. Pucat dan tak bergerak lalu Dizza kembali mengucapkan kalimat santai yang tak menyenangkan bagi Keira.


"Semoga saja wanita itu bukan hanya pelarian dari rasa putus asanya kehilangan Kakak. Melihat bagaimana kerasnya dia berusaha merebut Kakak, agak mengejutkan kalau dia tiba-tiba bertunangan lagi!"


*


Rumah besar Bara mendadak ribut oleh suara tangisan seorang perempuan.


"Ampun, Maaf!" Aline jatuh di lantai, bersujud di kaki Bara memohon agar pria itu berhenti memukulnya.


"Berapa kali aku bilang, bertingkahlah seperti manusia normal di luar sana!"


"Kepalaku pusing. Maaf, ampun!"


"Banyak alasan!" Bara mendorong Aline hingga terjatuh lagi.


"Jangan menangis! Aku benci mendengar suaramu!" Bara memaki Aline yang berusaha menahan tangisnya.


Bara memandang Aline lalu pergi begitu saja. Setelah Bara pergi, Aline mengepalkan tangan.


"Karena perempuan itu aku yang menjadi korban! Apa salahku?" jerit Aline dalam hati.


**


"Van ..." Keira mencoba merayu Evan yang sedang membuang wajahnya. Berpaling dari Keira yang menatapnya dengan serius.


Akibat Dizza kelepasan menceritakan pertemuannya dengan Bara di klinik, Evan marah. Berulang kali Keira mengatakan mereka hanya bertegur sapa tak sampai lima menit, tapi Evan tetap tidak terima.


"Seharusnya kamu nggak perlu menegurnya!" kata Evan kesal.


"Ya, masa aku langsung pergi begitu aja, Van? Nggak sopan, kan?"


"Kei, kamu lupa ibunya hampir membunuh kamu? Memangnya ibunya sopan waktu dua kali menculik kamu?"


"Nggak salah? Dia bahkan hampir menodai kamu, kan? Kamu nggak ingat atau pura-pura lupa?"


Keira seketika terdiam. Dia terduduk di kursi, tak tahu harus bagaimana menghadapi kecemburuan Evan yang merajalela.


"Van, jadi aku mesti gimana? Aku sudah minta maaf, kan?"


"Jangan lagi menegur dia sekalipun dia menegur kamu!"


"Kenapa sih, kamu jadi sensistif begini, Van? Dia cuma mantan ...."


"Cuma mantan?" Evan memotong ucapan Keira.


"Cuma mantan tunangan yang mengesankan?" tanya Evan kesal.


Keira tersentak lalu menunduk, enggan menanggapi kemarahan Evan.


"Aduh... duh ...." Keira tiba-tiba merintih dan seketika Evan menoleh. Melihat Keira meringis sambil memegangi perut, Evan segera mendekat dan berlutut.


"Kenapa, sayang? Apa yang sakit?"


"Nggak tahu, sakit, Van." Keira meringis sambil memegang bahu Evan.


"Aku panggil dokter, ya?"


Keira tak menjawab karena perutnya semakin sakit, Evan segera mengangkat Keira dan membawanya ke tempat tidur. Ketika akan beranjak, Keira menahan tangannya.


"Di sini aja, tungguin aku," pinta Keira sambil menatap Evan dengan wajahnya yang memucat. Evan segera berteriak memanggil Dizza untuk membantunya menelpon dokter.


Setelah dokter pergi, Dizza balas mengomeli Evan yang dia tuduh sebagai


penyebab kambuhnya sakit di perut Keira.


"Kak, Kakak, kan, tahu kalau Kak Keira nggak boleh stres, kenapa sih, nggak bisa menahan emosi?"


Evan terduduk diam, mengakui kesalahannya. Karena terlalu cemburu dan khawatir, dia tanpa sadar memarahi Keira dan menyebabkan pikirannya tertekan.

__ADS_1


"Za, sudah. Kakak mau istirahat, bisa tinggalin kamar ini, kan?" tanya Keira menengahi keributan.


Dizza menatap Evan dengan kesal lalu sambil menghentakan kaki dia beranjak pergi setelah mengumpat lagi,


"Untung ayah dan ibu nggak ada di rumah. Kalau dia tahu Kak Evan bikin Kakak sakit, Kak Evan pasti sudah dihajar ayah tuh!" runtuknya geram.


"Kei maaf ya ... Aku nggak bermaksud nyakitin kamu, aku ..."


"Temanin tidur ya Van, aku mau peluk kamu," potong Keira sambil menepuk tempat kosong di sebelahnya.


Evan perlahan naik ke sisi Keira lalu memeluknya.


"Van, aku nggak punya pikiran apa pun tentang Bara. Tanpa kamu minta aku juga berusaha menghindar tapi kejadian tadi nggak bisa dihindari, sayang."


"Ya, maaf aku terlalu cemas aku ..."


"Kamu cemas atau cemburu?


Evan terdiam lalu menjawab pelan "Dua-duanya."


"Ada-ada aja Van," Keira terkekeh geli.


"Dia bisa aja menganggu kamu, Kei"


"Kamu ini nggak logis deh, Van. Memangnya ada cowok yang mau mengganggu perempuan hamil?" tanya Keira sambil tertawa.


"Bisa aja Kei..."


"Ih, kamu ini keterlaluan. Aku ini hamil anak kamu, dia juga tahu, Van. Nggak mungkinlah dia mau menganggu-ganggu lagi."


"Tetap aja dia mantan kamu!" sahut Evan kesal.


"Cuma mantan Van, apa istimewanya? Nggak ada yang ngalahin kamu, suami aku yang sudah bikin aku hamil anak kamu!"


Evan menatap Keira lalu tersenyum. "Manisnya kata-kata kamu, Kei."


"Kalau manis, nggak mau ngerasain bibirnya?" tanya Keira menggoda.


Evan segera mencium Keira dengan lembut lalu mengecup keningnya.


"Maaf soal tadi, aku janji nggak akan bahas lagi."


Keira tersenyum lalu kembali bercerita "Aku belum selesai cerita kalau Bara tadi pergi sama tunanganya, namanya Aline. Hubungan mereka kayaknya udah serius banget, Van."


"Tunangan?" tanya Evan heran.


Keira mengangguk lalu menguap, "Cantik tunangannya tapi kata Dizza kayak manekin."


"Manekin gimana?"


"Diam aja nggak bergerak, tanpa ekspresi. Tapi nggak tahu, ya, mungkin itu daya tariknya." kata Keira sambil memejamkan mata.


Evan seketika merenung lalu kembali memeluk Keira.


"Pasti lebih cantik kamu, kan?"


Keira membuka sebelah matanya lalu tersenyum lagi.


"Memangnya ada yang lebih cantik dari istri kamu?"


Evan tertawa lalu menggeleng.


"Istriku yang tercantik sejagad raya. Love you Keira, sekarang tidur ya, istirahat!"


"Love you too, sapa anak kamu dulu, Van."


Evan segera merunduk lalu mencium perut Keira kemudian mengusapnya perlahan.


"Maaf ya nak Papa tadi marah-marah karena nggak suka dengar mama ketemu mantan temannya."


Keira hanya tertawa, tidak menanggapi sikap kekanakan Evan yang tidak mau mengakui Bara sebagai mantan tunangan Keira.


Apa istimewanya mantan? Buat aku hanya bagian dari perjalanan masa lalu, nggak mungkin dilupakan tapi nggak akan pernah menjadi bagian dari masaku yang sekarang.


Keira tersenyum lalu memeluk Evan, "Kamu adalah hidupku saat ini dan masa depanku," batin Keira.


Mantan tunangan bukanlah orang sembarangan. Dia yang pernah memuja kamu sedemikian rupa tidak mungkin bisa melepasmu begitu saja.

__ADS_1


Evan balas mengeratkan pelukan sambil menggumam dalam hati. "Aku nggak akan membiarkan mantanmu merusak hidup dan masa depan kita."


__ADS_2