No Rose Without A Thorn

No Rose Without A Thorn
Ending: Mawar dan Duri


__ADS_3

Keira terbangun dan seketika mengambil jam di samping meja. 08.15.


Ia terlambat.


Keira menyesali semua rayuan Evan semalam yang membuatnya terjaga di tengah malam dan akhirnya baru bisa tertidur lagi menjelang pagi.


Sesungguhnya ia sudah mengingatkan Evan dan dirinya sendiri bahwa ia memiliki pertemuan pagi ini di kantor. Entah apa yang merasuki Evan membangunkan Keira di tengah malam, memohon dan menggodanya. Dan bodohnya Keira menuruti saja kemauan Evan.


Kini ia hanya memiliki waktu kurang dari sejam untuk bersiap-siap dan melakukan perjalanan ke kantor.


Keira mengomel saat melihat Evan yang sudah selesai mempersiapkan diri untuk bekerja, Evan memang bangun lebih awal tapi ia tak ingin menganggu tidur Keira, jadi ia tak membangunkan Keira.


Dalam waktu dua puluh menit, Keira sudah siap. Ia harus bergegas karena perjalanan ke kantor membutuhkan waktu lebih dari 20 menit. Ia baru saja akan keluar kamar ketika Evan masuk ke dalam. Evan menatap Keira yang berdiri memandangnya dengan bingung.


"Hey, kamu kenapa?" Keira menggoyangkan tangannya di hadapan Keira.


Evan menangkap tangan Keira.


"Kamu mau kemana?" tanya Evan linglung.


"Ke mana? Tentu saja bekerja."


"Mengapa kamu berdandan secantik ini?"


Keira memperhatikan dirinya sendiri dan merasa tak ada yang berbeda dari penampilan biasanya ia ke kantor.


"Bukankah setiap hari aku memang seperti ini? Hentikan rayuanmu, aku harus segera ke kantor." Keira berkata kesal.


Evan menangkap kedua tangan Keira.


"Untuk apa ke kantor? Bekerja di rumah saja, ya?" Evan tersenyum jahil.


"Jangan mulai!" Keira mengecup bibir Evan.


"Oke, cukup?" Keira ingin segera pergi.


"Belum." Evan kembali mencium Keira dan membuat istrinya nyaris lupa daratan.


"Van, hentikan. Kamu bisa membuatku dipecat lagi!"


Evan tetap mendorong Keira ke tempat tidur.


"Aku sudah minta ijin pada ayahmu bahwa kamu nggak bisa datang ke kantor hari ini."


"Apa? Kamu gila!" Keira merasa kesal.


"Karena kita juga akan melakukan hal yang penting untuk perusahaan ayahmu!"


Keira mengernyitkan dahi.


"Tugas penting itu adalah memberi ayahmu seorang penerus!" kata Evan sambil menggigit telinga Keira.


Keira tertawa terbahak-bahak. Menurutnya Evan sudah keterlaluan, menggunakan segala cara untuk menahannya lebih lama.


"Hentikan Van, kamu sudah menahanku semalam!"


"Maafkan aku sayang, tapi aku nggak bisa menghentikannya." Evan memohon.


"Lagipula ayahmu sudah memberiku peringatan saat kita menikah. Pertama, membuatmu bahagia, kedua memberinya penerus. Aku sedang berusaha melakukan keduanya."


Keira masih tertawa. Evan kembali merayu dengan segala cara, Keira tak sanggup lagi mengelak. Dengan susah payah ia mengambil ponsel dan mengirim pesan pada sekretarisnya.


Tolong kabarkan bahwa saya tidak bisa mengikuti pertemuan hari ini.


Keira mengalah pada Evan.


Sebenarnya dulu aku tak pernah tahu seperti apa kehidupan pernikahan.


Kini setidaknya aku memahami satu hal.


Memutuskan menikah berarti memutuskan bahwa aku akan memberikan segala yang kupunya untuknya.


Segala yang kupunya adalah miliknya.


Dan entah mengapa aku bahagia memberikannya..


**


"Keira, apa kamu sudah merasakan ada tanda-tanda hamil?" tanya Ibu suatu hari saat Keira berkunjung ke rumah.


Keira tak suka pertanyaan itu, tapi ia mencoba menutupinya.


"Belum, Bu."


Lestari tersenyum lalu menepuk-nepuk bahu Keira.


"Nggak apa-apa, ibu hanya bertanya. Bila memang sudah waktunya, pasti akan datang. Lagipula kalian memang baru saja menikah."


Keira memaksakan diri tersenyum.

__ADS_1


"Jangan membuatmu khawatir. Kamu tidak boleh merasa terbebani."


Keira tersenyum, "Aku baik-baik saja, Bu."


"Tapi mengapa kamu kesini di jam kerja?" tanya Lestari heran, ia baru menyadari kalau Keira seharusnya sedang bekerja.


"Aku hanya ingin ke sini, " jawab Keira jujur.


Ibu memandang Keira dengan heran.


"Apa kalian bertengkar? Wajahmu terlihat tidak baik."


"Benarkah wajahku tidak baik?" tanya Keira heran.


"Kamu bertengkar?" Ibu menyelidiki.


"Nggak, kami baik-baik saja."


"Lalu mengapa kamu ke sini sendirian? Kamu ini aneh-aneh saja."


"Ibu yang aneh. Aku hanya ingin pulang ke sini dan bertemu ibu. Entah mengapa aku merindukan ibu."


Keira memeluk Ibu. Ibu terpaksa tersenyum walau merasa sedikit aneh.


Keira memang sedang tidak dalam keadaan mood yang baik. Ia hanya ingin pulang ke rumahnya, memeluk ibunya, dan tidur di kamarnya yang dulu. Ia telah memberitahu Evan untuk menjemputnya di rumah ibu bila sudah pulang.


Mengapa kamu ke sana? Apa kamu baik-baik saja?


Ya, aku hanya rindu rumah dan kamarku.


Baiklah, aku akan menjemputnmu jam 6.


Oke, selamat bekerja.


I love u


Keira hanya tersenyum membaca pesan terakhir tapi sengaja tak mau membalasnya.


Hey, I love you...


Evan masih mengirim pesan. Keira tetap tidak membalasnya. Evan kehabisan kesabaran lalu menelpon Keira.


"Apa kamu baik-baik saja?" tanya Evan.


"Hmm ... ya."


"Apa kamu membaca pesanku?"


"Lalu mengapa kamu nggak membalasnya?"


"Agar kamu menelponku dan mengatakannya langsung."


GLEK.


Hati Evan langsung berdebar.


"Kamu sungguh kekanakan!"


KLIK. Keira mematikan ponselnya.


Evan kembali menelpon.


"Oke, I love you, sayang ...."


Keira tertawa puas.


"I love u too ...." Keira membalas lalu segera mematikan ponselnya.


Leatari yang tak sengaja mendengar dari luar kamar Keira hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala.


Setelah menikah anak itu menjadi semakin aneh. Kemudian Lestari tertawa sendiri.


**


Keira berbaring sembari memikirkan kata-kata ibunya, mendadak dia sedikit takut.


Perutnya kembali mual. Penyakit yang selalu datang ketika gelisah. Sejak beberapa hari lalu Keira memang merasa tak enak badan tapi ia mengabaikannya. Ia tahu bahwa ia sering terlambat makan, apalagi beberapa hari ini dia juga melewatkan makan siang di kantor karena beberapa meeting.


Karena alasan itu pula ia ingin pulang ke rumah, ia ingin ditemani ibunya, tapi ia tak ingin ibunya tahu bahwa ia sedang tidak enak badan.


"Hey, Keira ...." Evan membangunkan Keira perlahan.


Keira membuka mata dan kaget melihat Evan.


"Apa aku ketiduran?" tanya Keira.


Evan mengangguk.


"Kamu sepertinya nggak sehat." Evan memegang dahi Keira.

__ADS_1


"Kamu mau pulang atau tetap tinggal di sini?"


Keira mencoba bangun dari tidurnya, kepalanya memang terasa pening.


"Apa kamu mau tinggal di sini hari ini?" tanya Keira.


"Kalau kamu ingin tidur di sini hari ini, aku akan tinggal di sini."


Keira menatap Evan.


"Baiklah, tapi jangan tergoda untuk mengangguku malam ini. Oke?"


Evan menatap Keira dengan kesal.


"Sepertinya kamu mabuk! Aku juga tahu kamu sakit!" Evan tersinggung. Keira tertawa, ia bangun dan....


Uueeeeekkkssss


Seketika perutnya terasa mual. Keira segera berlari ke kamar mandi.


"Keira, kamu baik-baik saja? Apa kita perlu ke dokter?" Evan membantu memegangi rambut Keira yang masih memuntahkan isi perutnya.


"Hmm, aku istirahat aja." Keira menolak ke dokter.


Ueeekkksss!


Keira kembali ke kamar mandi.


Ibu yang kebetulan melintas di depan kamar yang pintunya terbuka, mendengar suara Keira dan Evan.


"Apa kamu baik-baik saja?" tanya Evan.


Keira tak menjawab, kepalanya terasa pening. Ia duduk di tepi tempat tidur.


"Jangan-jangan kamu hamil!" seru ibu.


Keira menoleh.


Inilah yang ditakutkan Keira, praduga ibunya. Ia tak ingin memberikan harapan.


Evan memandang Keira.


"Aku hanya nggak enak badan, Bu." Keira memberi penjelasan.


"Apa kamu sudah memeriksakan diri?" tanya Ibu. Keira menggeleng. Evan duduk di hadapan Keira.


"Apa ... apa ... kau nggak ingin memeriksanya?" tanya Evan hati-hati.


"Kamu ingin tahu?" Keira balik bertanya. Ia masih merasa mual, Keira berdiri lalu tiba-tiba semua menjadi gelap.


**


"Tolong dijaga pola makan istri anda. Kejadian berulang seperti ini bisa berbahaya untuk kesehatannya."


Keira melirik Evan yang sedang mendengarkan keterangan dokter.


Ada sedikit gurat kecewa di wajah Evan tapi ketika menatap Keira ia tersenyum.


"Aku akan melarangmu bekerja kalau kamu masih tidak memperhatikan waktu makan!"


Keira mendesis kesal.


"Kamu kecewa, kan?" tanya Keira. Keira tahu bahwa dirinya tidak hamil, ia hanya menderita maag karena terlalu sering melewatkan waktu makan.


"Sedikit, " Evan mengakui lalu ia tertawa.


"Sesungguhnya aku nggak pernah mengira kau hamil hanya karena kamu muntah-muntah. Aku sudah sering melihatmu terserang mual tanpa sebab. Hanya saja saat ibu mengatakannya, yah, tiba-tiba aku penasaran."


Keira tertawa. Ia meminta Evan memberi tahu ibunya kebenaran. Evan mengangguk lalu mencium kening Keira.


"Aku akan memberinya penjelasan seringkas mungkin. Ingat, kita nggak akan pernah mempermasalahkan hal ini. Hidup kita akan tetap berjalan apa adanya. Aku akan selalu mencintaimu!"


Keira tersenyum, ia memejamkan matanya.


Ya, itu sudah cukup.


Aku mencintaimu.


Tolong katakan itu setiap hari.


Hanya itu yang ingin kudengar saat hidup bersamamu.


untuk mengingatkanku bahwa apa pun yang terjadi, kamu tetap ada di sisiku.


Ingatlah, duri akan selalu ada dalam setiap mawar.


Untuk mengingatkan bahwa hidup itu indah tapi kamu butuh pengorbanan untuk menemukan keindahannya.


"Aku mencintaimu." Keira menggumam sebelum matanya terpejam.

__ADS_1


*****


__ADS_2