
Keira masuk ke dalam kamar dengan sedih. Ia teringat ketika di rumah Nada, saat ia menanyakan apakah Evan dan Nada tinggal bersama. Keira berbaring lalu memejamkan matanya. Tanpa sadar Keira meneteskan air mata.
"Keira, apa kamu di dalam?" Ny Lestari mengetuk pintu.
Keira buru-buru menghapus air matanya dan duduk di tepi tempat tidur.
"Ada apa, Bu?"
Ny Lestari mengunci pintu lalu duduk di hadapan Keira.
"Ibu mendapat informasi bahwa Evan sudah cukup lama kembali ke sini."
Keira memandang ibunya tanpa reaksi.
"Apa yang ingin ibu lakukan?"
"Menyingkirkannya kembali!"
"Bu, tidak bisakah kita sudahi segalanya?"
"Sudahi? Kalau kita tidak menyingkirkan dia lebih dulu, kita yang akan tersingkir!"
"Memangnya apa yang akan dia lakukan, Bu?" Keira bertanya putus asa, walaupun sebenarnya dia pun tahu bahwa Evan ingin membalas dendam atas kematian Ibu dan kakaknya.
Ny Lestari memandang Keira tajam.
"Apa kamu lupa apa yang kakaknya lakukan padamu?!" tanya ibu setengah berteriak.
"Itu bukan kesalahan Evan, Bu."
"Itu kesalahannya. Kalau saja dia tidak membuat janji denganmu, malam itu...."
"Hentikan Bu... Kumohon hentikan...." Keira menutup telinganya. Ia tak ingin mendengar kembali luka masa lalunya diungkit. Ia sudah berusaha melupakan tragedi yang menyakitkannya. Ny Lestari memeluk Keira dengan iba.
"Anak itu benar-benar tidak tahu diri! Dia harusnya tahu apa yang sudah diperbuat Hans padamu! Baskoro pasti mencuci otaknya!"
Ny Lestari mengepalkan tangannya penuh dendam.
"Bu, tolong beri tahu aku yang sebenarnya tentang Zea."
Ny Lestari memandang Keira dalam diam.
"Nak, percayalah pada ibu. Ibu tidak pernah sekalipun dengan sengaja membuat kalian terpisah. Kalau saja ibu tahu keadaan akan menjadi serumit ini, ibu pasti tidak akan memilih melahirkan kalian berdua."
Ny Lestari mulai menangis.
"Tapi menjadi seorang ibu adalah pilihan ibu sendiri. Ibu tidak menyesal memiliki kalian, satu-satunya penyesalan ibu adalah karena gagal melindungi kalian."
"Kamu.. dan adikmu..."
Ny Lestari menangis.
"Ibu bersalah pada kalian berdua...."
Keira memeluk ibunya. "Kejadian itu bukan salah ibu.. "
"Ibu hanya ingin melindungi kalian..."
Keira lalu teringat pada Nada, ia mengeluarkan amplop coklat itu dan menyerahkannya pada ibu.
"Apa ini?"
"Anak yang ibu beri uang itu tak ingin menyimpannya. Bu, mengapa Ibu menjadi seperti ini? Apakah anak itu menganggu kita?"
"Ibu mengikuti perintah ayahmu."
Keira mendesah, ia sudah menduganya.
"Bu, anak itu tinggal bersama Evan."
Ny Lestari memandang Keira tak percaya.
"Bagaimana kamu tahu?"
Keira tak menjawab.
"Keira, jangan dekati mereka lagi!"
Keira hanya diam namun saat Ny Lestari akan pergi ia berkata pelan.
__ADS_1
"Anak itu punya bekas luka di tengkuk seperti Zea."
Ny Lestari yang telah memegang gagang pintu terdiam, ia menatap Keira tajam.
"Apa maksudmu?"
"Anak itu memiliki bekas lupa yang mirip dengan Zea." Keira mengulang kata-katanya.
"Tapi anehnya dia tidak mengenali kita.." Keira bicara sendiri.
Ny Lestari berusaha berdiri tegak.
"Ada banyak bekas luka yang serupa di dunia ini. Mengapa kamu menjadi risau?"
Keira memandang ibunya.
"Entahlah, seharusnya aku tidak risau, tapi entah mengapa ketika berada di dekat anak itu aku merasa..."
"Hentikan Keira, Zea sudah meninggal!"
Keira tak membantah lagi. Ia memejamkan matanya. Ny Lestari membuka pintu dan betapa kagetnya ia melihat Dizza berdiri mematung di depan pintu.
"Siapa yang sudah meninggal, Bu?"
Mendengar suara Dizza, Keira tersentak. Ia segera bangkit dan berlari ke depan pintu. Dizza sedang menatap ibunya dengan tatapan dingin.
"Apa yang kalian sembunyikan?"
"Kamu salah mendengar." Keira menjawab.
Dizza menatap Keira dan Ny Lestari bergantian.
"Baiklah, anggap saja aku salah mendengar."
Dizza mengalah lalu meninggalkan keduanya tapi Keira memanggil Dizza kembali.
"Kakak ingin bicara denganmu."
*
Keira dan Dizza berjalan kaki keluar rumah.
"Apa kamu masih marah?" tanya Keira.
Keira duduk di kursi taman lalu menatap bulan.
"Ayah akan sangat marah kalau kamu menemuinya."
"Ayah juga mengenalnya?"
Keira memandang Dizza.
"Apa kamu mengenalnya sebagai orang baik?" tanya Keira.
Dizza mengangguk. "Dia adalah fotografer yang sering bekerjasama denganku. Kakak, tolong jelaskan segalanya hingga aku tak perlu merasa marah."
Keira meraih tangan Dizza dan menggenggamnya. "Kamu tahu, kalau sesuatu yang buruk terjadi padamu, Kakak nggak akan bisa memaafkan diri sendiri."
Dizza hanya diam, ia tahu Keira menyayanginya.
"Tolong sekali ini saja, tinggalkan Evan. Kakak nggak bisa menjelaskan semuanya sekarang. Suatu saat kamu akan mengerti."
"Kak...."
"Berjanjilah untuk menjauhinya dan jangan beritahu Ayah."
Dizza ingin membantah namun melihat Keira berkata dengan bersungguh-sungguh ia mengurungkan niat untuk protes.
"Kapan aku akan mengetahui alasannya?"
Keira memandang bulan lagi. "Kamu tahu nggak kalau kamu adalah harta ayah paling berharga?" tanya Keira.
"Tidak. Aku pikir harta berharga ayah adalah perusahaannya."
Keira tersenyum, "Jangan konyol. Kamu adalah satu-satunya anak kandung ayah. Ayah melakukan segala hal di perusahaan adalah demi kamu, karena kamu adalah satu-satunya penerusnya."
Dizza menatap Keira.
"Aku rasa Kakak keliru. Aku selalu merasa bahwa Kakaklah yang akan mewarisinya, karena ayah selalu mempercayakan segalanya pada Kakak."
__ADS_1
Keira tertawa. "Kamu gila. Kakak bukanlah anak ayah. Kamu satu-satunya penerus."
"Sesungguhnya aku nggak peduli pada warisan itu," ucap Dizza pelan.
"Aku akan dengan rela memberikannya pada Kakak, asal Kakak dan ibu nggak meninggalkan aku."
"Dizza, kamu.."
"Kak, aku serius. Aku sejak lama ingin mengatakan hal ini pada kalian. Kelak jika ayah pergi, aku nggak akan mengambil perusahaan. Aku nggak peduli. Aku hanya ingin bersama kalian. Jadi.. jadi..."
Dizza tak meneruskan kalimatnya.
"Jadi apa?" tanya Keira.
"Jadi, seandainya ibu menginginkan Kakak yang memiliki perusahaan itu, kalian tak perlu menyingkirkan aku..."
Dizza tiba-tiba menangis.
"Maafkan aku kakak, maafkan aku karena berpikir seperti itu.. aku hanya... maafkan aku..." Dizza masih menangis.
"Aku nggak pernah berpikir bahwa kita akan memperebutkan perusahaan. Aku hanya takut jika suatu saat ternyata.... aku hanya ingin mengatakan bahwa kalian adalah hartaku yang paling berharga.. aku.. "
Dizza bicara tak karuan.
"Aku sering mendengar tentang tragedi perebutan kekuasaan keluarga lain. Aku nggak ingin...."
Keira ikut menangis. Ia tak menyangka bahwa Dizza memiliki ketakutan yang dipendamnya. Ia memeluk Dizza.
"Kakak nggak akan meninggalkanmu. Kakak berjanji akan menjagamu."
Keira memejamkan matanya teringat bahwa ia juga pernah menjanjikan hal yang sama pada Zea.
*
Malamnya Keira tertidur dengan pikiran yang saling tumpang tindih di benaknya. Evan, Zea, Nada, Dizza berkeliaran dalam mimpinya. Namun sebuah mimpi lain hadir kembali. Mimpi buruk yang sudah lama nyaris ia lupakan.
Sebuah kenangan yang membuatnya trauma selama bertahun-tahun. Sebuah tragedi yang membuatnya tidak bisa menemui Zea dan Evan malam itu.
Dalam gelap malam itu Keira berteriak-teriak histeris.
"Lepaskan aku.... Jangan... tolong kumohon....Jangaaaaaann..tolong...........!"
BRAK...
Pintu kamar Keira didobrak, Keira semakin menjerit-jerit dalam keadaan setengah sadar.
Tuan Kusuma menyalakan lampu, Dizza dan Ny Lestari segera menenangkan Keira.
"Kak, Kakak kenapa?" Dizza bertanya panik.
"Keira, sadarlah... ini Ibu.. " Ny Lestari berusaha memeluk Keira yang berteriak tanpa sadar.
Keira membuka matanya dan melihat Ny Lestari yang khawatir. Ia tanpa sadar menangis.
"Tenang Nak, tenanglah...tidak ada apa-apa." Ny Lestari memeluk Keira.
Dizza memandang Tuan Kusuma penuh tanda tanya, namun pria itu tak mengatakan apa pun. Ia meninggalkan kamar Keira, Dizza menatap ayahnya lalu bergegas keluar meninggalkan Keira dan Ny Lestari, mengikuti ayahnya.
"Jangan bertanya apa pun." Tuan Kusuma tahu bahwa Dizza ada di belakangnya.
"Mengapa aku selalu tidak tahu apa pun?" tanya Dizza.
"Kali ini aku ingin tahu mengapa Kakak seperti itu? Bukan sekali aku mendengarnya menjerit saat tengah malam. Belakangan ini dia tiga kali berteriak-teriak walaupun tak senyaring hari ini."
Dizza memang sudah tiga kali mendengar Keira berteriak saat tidur, dua kali sebelumnya ketika Dizza menggedor pintu kamar, Keira akan terbangun sendiri dan mengatakan dirinya hanya mimpi. Tapi kali ini, Keira tak menjawab gedoran Dizza bahkan semakin berteriak histeris hingga Dizza terpaksa membangunkan ibunya.
"Dia hanya mimpi buruk."
"Mimpi buruk apa yang selalu datang?" tanya Dizza heran.
Tuan Kusuma berbalik menatap putrinya.
"Mimpi buruk dari luka masa lalu akan selalu datang kalau kamu tidak benar-benar pulih."
"Apa?" Dizza tak mengerti.
"Luka masa lalu apa?"
Tuan Kusuma masuk ke dalam kamar dan menyuruh Dizza kembali tidur.
__ADS_1
Dizza kembali ke kamar Keira dan melihat kakaknya sudah lebih tenang bersama ibu. Ia berjalan ke kamarnya sambil berpikir, lalu ia menjentikan jarinya.
"Aku tidak akan lagi menjadi anak yang tidak tahu apa pun!"