No Rose Without A Thorn

No Rose Without A Thorn
Cinta Buta


__ADS_3

Keira sedang berbaring di pangkuan Nada yang sibuk mengetik sesuatu di ponselnya.


Mereka sedang piknik di pantai.


"Zea, apa kamu mendengar Kakak?" tanya Keira kesal karena ia sudah dua kali bicara dan diabaikan Nada.


"Ya, aku mendengar. Mereka sepertinya berkencan." Nada memandang Dizza dan Adrian yang sedang bermain layangan.


"Mereka terlihat seperti orang bodoh. Layangan itu tak akan terbang kalau hanya dibawa lari ke sana ke mari, kan?" Nada tertawa, Keira ikut tertawa.


"Mengapa terkadang orang yang berkencan terlihat seperti orang bodoh atau menyedihkan, seperti kalian."


"Apa katamu?" Keira bangkit dari tidurnya.


Nada tertawa menatap Keira yang tampak kesal.


"Tapi Ke mana Kak Evan? Mengapa ia nggak ikut? Apa kalian bertengkar lagi?"


"Dia nggak ikut karena ada ibu. Dia masih nggak enak bertemu Ibu." Keira menatap Lestari yang sedang berjemur seorang diri.


"Apa ibu sudah tahu kalau kalian bersama lagi?" tanya Nada.


Keira menggeleng. Ia belum berani bicara pada ibunya. Nada kembali sibuk memperhatikan ponselnya.


"Apa yang kamu kerjakan?" Keira penasaran, ia mengintip ponsel Nada yang langsung ditutup oleh Nada.


"Apa itu?Apa kamu chatting dengan seseorang?" tanya Keira curiga.


"Nggak!"


"Evan?!" tiba-tiba Keira memekik kaget, Nada menoleh, Keira memanfaatkan kesempatan itu untuk mengambil ponsel Nada. Layarnya masih terbuka. Nada sedang melakukan chatting dengan admin kursus barista.


"Apa ini?" Keira bertanya.


Nada merebut ponselnya, dengan malu ia menceritakan bahwa ketika diasingkan di Singapura ia ingin belajar menjadi barista. Ia gagal mewujudkannya karena kembali ke Indonesia saat mendengar Keira ternyata berada dalam ancaman.


"Lalu saat aku menemani Dizza kesana lagi, aku bertemu mereka lagi..." kata Nada pelan.


"Mengapa kamu menyembunyikannya?"


"Aku nggak meyembunyikannya, hanya mencari waktu yang tepat untuk memberi tahu."


"Berapa lama kamu akan belajar?"


"Mungkin sebulan, atau dua bulan atau ..."


Keira menatap Nada dengan tatapan menusuk.


"Baiklah, dua bulan!" Nada menjawab.


"Haruskah belajar di sana? Di sini nggak ada?" Keira merasa berat melepas Nada pergi lagi karena mereka baru saja berkumpul.


"Ada, sih, tapi ... ada orang yang menungguku di sana." Nada mengakui.


"Tapi kalau Kakak nggak mengijinkan, aku nggak akan pergi."


Keira menatap Nada lalu tertawa.


"Baiklah, pergilah ke sana." Keira memberi ijin karena tidak mau mengekang adiknya.


Nada tertawa senang lalu memeluk Keira. Keira kembali duduk di pangkuan Nada.


"Zea, apa kamu nggak bingung dipanggil dua nama berbeda?"


"Nggak. Keduanya namaku, kan?"


"Zea, bukankah dulu kamu bilang menyukai Evan?"


"Aku menyukainya sampai hari ini," jawab Nada, membuat Keira terdiam.


"Aku menyukai dan mencintainya sama seperti aku mencintai Kakak. Aku baru menyadari bahwa aku memang menyayanginya sebagai kakakku. Dia menggantikan Kakak yang dulu hilang."


Keira tersenyum dan merasa lega.


"Apa selama itu dia baik-baik saja? Dia melewatkan banyak kesedihannya sendirian, membawa kesalahpahamannya sendirian."


"Mengapa Kakak menanyakannya? Bukankah kalian berdua sama? Kalian berdua menyimpan luka masing-masing selama bertahun-tahun. Apa yang Kakak rasakan, seperti itulah dia merasakan. Setiap hari dia memikirkan wanita yang dicintainya di masa lalu. Lucu sekali ternyata wanita itu kakakku sendiri, orang yang selalu aku cari." Nada tertawa.


"Zea, ceritakan pada Kakak tentang dirinya di masa Kakak nggak ada."


"Kak Evan?!" Nada berseru kaget, tapi Keira mengira Nada sedang membohongi dirinya.


"Zea, ceritakan apakah dia benar-benar nggak pernah bertemu wanita lain selama itu?"


"Hmm ... Kak ... Aku ... "

__ADS_1


"Jangan takut, ceritakan pada Kakak, apa dia pernah berp ...."


"Aku nggak pernah berkencan dengan wanita lain!"


Keira mendadak bangun dari tidurnya. Betapa kagetnya ia melihat Evan berdiri sambil menyilangkan tangan di dada.


"Mengapa kamu nggak menanyakannya langsung padaku?!" Evan menuntut.


Keira melotot pada Nada.


"Bukankah aku sudah bilang ada Kak Evan?" Nada segera berlari mendatangi Dizza, meninggalkan Keira yang salah tingkah dan Evan yang ingin menelan Keira.


"Mengapa kamu tiba-tiba datang?" Keira mengalihkan pembicaraan.


"Aku memutuskan untuk menghadapi tantangan. Kita nggak bisa terus bersembunyi dari ibumu, kan? Bagaimana bisa kita menikah tanpa restu ibumu."


"Menikah?" Keira mengulang kata-kata Evan.


"Siapa yang akan menikah?" tanya Keira kesal. Ia tidak sedang berencana menikah secara mendadak.


"Hmm, maksudku walaupun kita belum akan menikah, tapi kita nggak bisa behubungan secara sembunyi-sembunyi dari ibumu. Aku merasa kita seperti sedang selingkuh!"


"Selingkuh?Siapa yang berselingkuh?" tiba-tiba Lestari muncul dari belakang Keira dan Evan.


"Ibu?! Bukankah Ibu tadi berjemur di sana?" tanya Keira khawatir.


"Sepertinya matamu hanya kamu gunakan memandang pria ini sampai kamu tak melihat Ibu berjalan kemari?!"


"Maaf, Bu, aku sungguh nggak melihat. Mengapa Ibu berada disini?"


Lestari memandang Evan dengan tajam.


"Harusnya Ibu yang bertanya pada anak ini. Mengapa kamu berada disini?" tanya Lestari setengah berteriak.


Dizza dan Nada memandangi mereka dari jauh. Mereka mendekat untuk mencari tahu.


Evan dan Keira tak menjawab.


"Aku ulangi pertanyaanku. Mengapa kamu berada di sini, memandang anakku lalu berkata berselingkuh?" tanya Lestari.


"Selingkuh?" Nada dan Dizza menatap Evan tajam.


Evan merasa seperti berada dalam pengadilan. Pengadilan berisi wanita-wanita yang tidak logis.


"Dengar, kalian salah paham." Keira mencoba menjelaskan, membantu Evan.


Nada dan Dizza duduk di sisi Lestari.


Keira dan Evan menunduk seakan menjadi terdakwa kasus pencurian.


"Keira, jelaskan pada Ibu!"


"Jelaskan apa, Bu?"


"Mengapa ia ada di sini?"


"Aku nggak tahu. Memangnya mengapa kalau dia berada di sini? Bukankah ini tempat umum?" Keira membela Evan.


"Mengapa kamu nggak pergi ke tempat umum lainnya saja?" tanya Ny Lestari geram.


"Karena ... karena ...." Evan gelisah.


"Karena aku mencintai Keira!" Evan berseru cepat.


Sedetik suasana menjadi hening, hanya terdengar suara angin dan deburan ombak.


Keira menutup mukanya menahan malu. Nada dan Dizza terpingkal, Lestari terbatuk kaget.


"Beraninya kamu!" Lestari ingin memukul Evan. Nada dan Dizza menahan Lestari, Keira mencoba menghalangi.


"Apa sekarang kamu melindunginya?" tanya Ibu.


Keira serba salah, ia mengalah, mundur dan membiarkan ibu memukul Evan.


"Beraninya kamu mengatakan mencintainya setelah kamu menyakiti hatinya ... kamu ... sungguh ...."


"Bu, hentikan!" Keira berusaha menghentikan ibunya.


Lestari tak peduli, ia terus memukul Evan hingga tak sengaja membuat Keira terdorong. Bukannya minta maaf, Lestari malah beralih memukul Keira.


"Kamu juga, apa nggak ada pria lain? Jangan bilang kamu juga mencintainya! Kamu pikir kalian sedang main drama?"


Nada dan Evan membulatkan bibir mereka. Melihat Keira yang dipukul, Evan segera memeluk Keira, melindungi Keira dan membiarkan dirinya yang dipukul. Lestari semakin marah.


"Siapa kamu berani menyentuh dan memeluk putriku?!" Lestari menarik Evan untuk menjauh.

__ADS_1


"Nyonya ... kumohon maafkan aku! Pukul saja aku, aku yang bersalah karena berani mencintai dirinya setelah menyakiti hatinya. Maafkan Aku!"


"Bu, maafkan kami." Keira akhirnya berani bicara.


Lestari kehabisan napas. Ia berhenti memukul lalu memandang putrinya.


"Mengapa kamu meminta maaf?"


"Karena aku juga mencintainya."


Evan tertegun mendengar pengakuan Keira yang diucapkan di hadapan ibu dan kedua adiknya yang seperti dayang-dayang penuh gosip.


Ibu menatap Keira dengan kesal.


"Setelah semua yang terjadi, kamu tak punya pilihan lain?" tanya Ibu.


Keira mengangguk, "Aku ... nggak pernah memilih orang lain." Jawab Keira jujur.


"Aku juga nggak pernah memiliki orang lain. Sejak awal aku hanya memilih dia." Evan menimpali. Keduanya duduk bersimpuh di depan Ibu.


"Kamu!" Lestari menghardik keduanya.


Keira mundur sedikit, ketakutan.


"Bu, apakah ibu nggak bisa melihat cinta keduanya?" tanya Dizza.


"Bahkan pipi keduanya memerah." Nada menimpali.


Keira melirik kedua adiknya dengan kesal.


Mereka tidak membantu, malah membuat Lestari semakin kesal.


"Evan, kamu yang paling tahu semua yang pernah dilalui Keira, mengapa kamu masih berani bersamanya?"


Evan tak menjawab.


"Dan kamu, Keira. Kamu ... Ibu kehabisan kata-kata ... Mengapa kamu masih bersedia menerima dia?" Lestari putus asa.


"Apakah untuk kalian cinta itu sedemikian membutakan mata kalian?" tanya Lestari.


Keira dan Evan hanya menunduk.


"Evan!" Lestari membentak Evan yang segera mengangkat wajah menatap Lestari.


"Ya, Nyonya ...."


"Kalau sampai aku melihat anakku menangis lagi atau menderita karena dirimu, aku tidak akan pernah memaafkanmu!"


Keira dan Evan memandang Lestari. Lestari tak sudi melihat keduanya, dia berdiri lalu pergi begitu saja.


Evan dan Keira saling pandang.


"Apakah ini nyata? Apakah sudah berakhir? Apakah benar-benar berakhir? Begitu saja?" Evan masih tak percaya Lestari memberinya restu.


"Begitu saja?" Dizza menyela, ia menyilangkan tangan menggantikan Lestari.


"Itu bukan restu, itu ancaman!" Nada tertawa. Lalu Dizza dan Nada menatap Evan.


"Sungguh, Ibu tak akan main-main. Kalau sampai kami melihatnya menangis lagi, Kakak tak akan selamat di dunia bahkan di neraka!" Dizza mengancam lalu pergi bersama Nada.


Keira melongo menyaksikan kegilaan yang baru saja dihadapinya.


Keluargaku sungguh mengerikan.


"Kau, nggak apa-apa?" tanya Keira menatap Evan. Evan memandang Keira dengan takut.


"Seharusnya aku yang bertanya padamu, apa kamu baik-baik saja? Ibu dan adikmu sungguh luar biasa. Kamu nggak perlu membayar pengawal lagi, mereka saja sudah cukup!" kata Evan kesal.


Keira tertawa lalu merangkul lengan Evan sembari berbisik, "Kamu menyesal berkencan denganku?"


"Aku menyesal nggak melalukannya dari dulu." Evan memandang Keira sambil tersenyum.


Mereka duduk memandang langit yang mulai gelap.


Langit bisa berubah dalam sekejap.


Kadang terang, kadang gelap.


Terkadang dalam gelap aku salah melangkah.


Aku tahu di balik setiap keindahan senja, ada kegelapan yang menanti.


Aku takut menyongsong gelap, tapi aku tak bisa mengabaikan keindahan transisi perjalanan matahari.


Tuhan, ijinkan aku menikmati keindahan ini lebih lama lagi.

__ADS_1


Berikan aku keberanian menyongsong gelap dan terang bersamanya..


Agar aku tahu bahwa cinta ini, bukan cinta buta semata.


__ADS_2