No Rose Without A Thorn

No Rose Without A Thorn
Tentang Hubungan Cinta


__ADS_3

Keira terbangun keesokan harinya. Ia benar-benar ketiduran di pangkuan Evan yang tak berani mengangkat Keira. Evan juga tertidur di sofa.


Keira memandangi wajah Evan yang masih tidur, ia mengambil ponsel dan diam-diam mengambil gambar Evan. Keira tersenyum senang.


"Kak, apakah Kakak melihat Kak Keira?


Mobilnya ada di de......"


Nada membuka pintu ruangan Evan dan terkejut melihat Keira yang tak sempat bangun saat mendengar suara Nada.


"..pan cafeku."


Keira segera bangkit dari tidurnya, Evan yang terbangun tak menyadari kehadiran Nada. Ia menatap Keira lalu tersenyum.


"Sejak kapan kamu bangun?" tanya Evan.


Keira membuang wajahnya.


"Maaaf!" Nada segera berlari keluar meninggalkan Keira dan Evan yang salah tingkah seakan kepergok berbuat dosa.


"Maafkan aku ketiduran." Keira merapikan diri lalu berjalan keluar.


Di luar ia bertemu dengan Nada yang sedang berbisik-bisik pada Dizza.


"Kak, apa sejak semalam Kakak di sana?" tanya Nada.


Keira tak menjawab ia mencari kunci mobil.


"Kakak akan segera pergi, bye!" Keira melembaikan tangan pada kedua adiknya.


***


Semenjak kejadian Nada menemukan Keira di ruangan Evan di pagi hari, Keira berusaha menghindari bertemu dengan kedua adiknya. Ia beralasan sibuk bekerja, bila terpaksa bertemu ia akan menghindari topik mengenai Evan.


Keira juga menghindari Evan. Ia merasa sedikit takut berduaan dengan Evan. Takut tak bisa menolak kejadian di luar kuasa mereka. Ia tahu walau tak pernah mengatakannya, Evan pasti sangat menginginkannya karena dia adalah pria dewasa normal. Sedangkan Keira juga hanyalah wanita dewasa yang juga normal. Tapi Keira juga memiliki kenormalan logika, walaupun ia bisa mencegah kehamilan-kalau dia mau- dia tetap takut kelepasan.


Ia selalu teringat bahwa ia adalah anak hasil keteledoran kedua orang tuanya. Ia memang tidak kekurangan apa pun, tapi ia cukup mendengar predikat 'anak haram' berhenti pada dirinya. Ia tidak ingin menambah jumlah anak yang memiliki predikat sama di mata orang lain.


Alasan sederhana, tapi akan terdengar tak masuk akal bagi sebagian orang karena itu Keira tak pernah mengatakannya. Ia takut membuat Evan tersinggung bila jujur, tapi dia juga takut menolak saat kejadian itu terulang. Keira merasa bingung karena ia juga tak ingin Evan menganggapnya tidak sungguh-sungguh menginginkannya karena sesungguhnya dia sangat mencintai Evan.


"Kamu kenapa?" Evan bertanya dengan curiga. Ia melihat Keira beberapa waktu ini terlihat murung. Mereka sedang membantu Dizza dan Nada mempersiapkan pembukaan cafe mereka. Keira mendadak gelisah berada di dekat Evan, dan perutnya menjadi tak nyaman.


"Kamu kenapa?" Evan mengulang pertanyaannya sambil memeriksa dahi Keira.


"Nggak apa-apa." Keira menepis tangan Evan dengan halus.


Nada sempat memperhatikan Keira.


"Apa kamu sakit?" Evan kembali bertanya.


Keira menggeleng. Ia merasa tak nyaman berada di dekat Evan.


"Maafkan aku, aku ...." Keira menimbang ucapannya.


"Ada apa?" Evan terlihat tak sabar.


"Aku hanya ...." Keira mencari alasan untuk menjelaskan tapi ia tak menemukannya.


Perutnya malah semakin mual dan....


"Ueeeeksss!" Keira berlari ke dalam kamar mandi.


Nada dan Evan memandangi Keira dengan heran. Evan segera berlari menyusul, ia mengetuk pintu kamar mandi.


"Keira ... Apa kamu baik-baik saja?" Evan terlihat khawatir karena suara Keira masih menunjukan ia sedang muntah.


"Aku baik-baik saja. Kamu bisa meninggalkan aku."


Evan akhirnya pergi walau masih tak tenang. Nada memperhatikan mereka lalu mengirim pesan pada Dizza yang sebenarnya hanya berada tak jauh darinya. Dizza menerima pesan lalu mengernyitkan dahi, ia melihat Keira keluar dari kamar mandi.


"Di mana Evan?" Keira bertanya pada Nada yang menunjuk arah dapur tanpa bicara.


****

__ADS_1


"Apa kamu sakit?" tanya Evan saat Keira menyusul.


"Bisakah kita bicara?" Keira balik bertanya


"Bicaralah, ada apa?" tanya Evan.


Keira memandang ke sekeliling.


"Kita bicara di luar." Keira memutuskan untuk bicara di halaman belakang rumah mungil Nada.


Ia tak menyadari kedua adiknya menguping pembicaraan mereka.


**


Keira dan Evan duduk di ayunan.


"Kalau kamu mual, duduk di sini bisa membuatmu semakin mual," kata Evan mengajak Keira pergi tapi Keira menahan Evan, memintanya tetap duduk.


"Aku akan sembuh kalau bicara padamu," Kata Keira pelan.


Evan memandang Keira dengan serius.


"Mengapa kamu terlihat menakutkan?"


Keira menarik napas lalu membuangnya.


"Begini, sejujurnya aku ingin bertanya padamu, apa kamu merasa aku aneh?"


"Aneh?Aneh bagaimana?" tanya Evan bingung.


"Tentang ...."


"Keira, mengapa kamu berputar-putar? tolong ...."


"Tentang hubungan kita di tempat tidur."


Keira berkata cepat. Ia membuang muka, sejujurnya ia malu.


"Ada apa?" Evan memaksa Keira menatap matanya. Keira menoleh lagi, menahan rasa malu di dadanya.


"Inikah alasanmu menghindariku beberapa waktu ini? Kamu takut?" tanya Evan.


"Kamu tahu kalau aku menghindarimu?"


"Aku bahkan tahu kamu nggak mau melakukannya."


Keira merasa malu tapi Evan segera menggengam tangan Keira.


"Keira kita nggak harus melakukannya kalau kau nggak mau, aku nggak akan memaksa."


"Aku nggak ingin melakukannya bukan karena aku nggak menginginkanmu atau nggak mencintaimu." Keira berkata pelan.


"Aku hanya merasa nggak ingin melakukan di waktu yang salah. Mungkin menurutmu ini terdengar konyol, tapi aku harus mengatakannya. Aku mencoba sekuat tenaga mencari cara agar kamu mengerti bahwa aku mecintaimu walau aku nggak bisa menunjukan bukti cinta itu saat ini."


Evan memandang Keira lalu tertawa.


"Bukti cinta?"


Evan lalu meraba perut Keira.


"Kamu bahkan sudah membuktikannya jauh sebelum kamu mengakui perasaanmu."


Keira melirik perutnya, yang dimaksud Evan adalah luka tusukan itu.


"Kamu berkorban untuk aku. Apa aku harus mempermasalahkan masalah hubungan tempat tidur?"


"Aku hanya merasa bersalah padamu." Keira mengakui.


"Aku tahu kamu nggak mau melakukannya sebelum kita menikah.


Keira menoleh lagi.


"Kamu tahu tapi mengapa pura-pura nggak tahu?" Keira bertanya kesal lalu tertawa. Ia merasa lega.

__ADS_1


"Aku hanya merasa kamu nggak ingin membahasnya. Aku ingin kamu tahu bagiku hubungan cinta nggak terbatas pada tempat tidur, kita bukan nggak akan melakukannya hanya menunggu setelah menikah. Aku menghargai kejujuranmu."


Keira menatap Evan. "Terima kasih." Ia mengecup bibir Evan dengan cepat.


Evan tertawa lalu ia mengelus perut Keira sembari berbisik di telinganya, "Aku juga ingin kamu tahu, aku mencintai kamu setulus hatiku, bukan hanya karena ingin menikmatimu sayang."


Keira mendorong Evan karena merasa malu tapi pria itu memeluknya dengan erat. Keduanya masih berpelukan benberapa saat.


****


Nada dan Dizza seketika memegang dada. Mereka sedang mencuri dengar pembicaraan Keira dan Evan dari lantai atas, tapi mereka tidak bisa mendengar isi pembicaraannya, mereka hanya melihat gerak gerik Keira dan Evan.


Mereka hanya memperhatikan Evan dan Keira yang awalnya terlihat bicara serius lalu Evan yang memegang perut Keira sambil tertawa. Mereka mengaitkan dengan sikap sensitif Keira beberapa hari ini, menghindari mereka dan Keira yang muntah-muntah.


"Fix!" Nada dan Dizza saling tatap. Mereka berdua berlarian turun ketika Keira berteriak memanggil mereka.


Mereka bersiap untuk mengatur pembukaan Cafe pada sore hari. Nada mengkoordinasi semua karyawan. Dizza mengkoreksi dekorasi ruangan, Adrian dan Evan membantu para pekerja yang mengatur meja kursi, sound system dan lainnya.


Keira mondar mandir menelpon para pengatur acara, mc, sponsor dan pengisi acara lainnya. Keira duduk di sebuah kursi mengawasi kedua adiknya, ia tertawa lalu merasa lelah.


"Kakak lelah, Kak?" Nada menyodorkan segelas minuman.


"Ya, sedikit."


"Istirahatlah di dalam." Nada menarik tangan Keira.


"Kakak masih ingin membantu."


"Kakak, kan, bisa menelpon sambil berbaring di kamar."


"Mengapa Kakak harus berbaring saat yang lain sibuk? Kakak ingin melihat kesibukan kalian."


Keira berjalan menuju Evan dan Adrian, ia melihat keduanya keberatan memindahkan meja besar.


"Sepertinya kalian butuh bantuan." Keira segera membantu.


"Jangan!" Evan dan Adrian melarang.


Adrian karena tak enak dibantu perempuan, Evan karena masih mengkhawatirkan perut Keira.


"Aku juga kuat." Keira meyakinkan, ia akan membantu mengangkat ketika Dizza menarik tangannya.


"Jangan melakukan pekerjaan berat. Bantu aku memasang ini saja." Dizza meminta Keira duduk mengawasi apakah ia memasang lukisan dengan benar.


"Sudah pas?" Dizza bertanya.


"Kurang ke kiri sedikit. Yang kanan kurang turun ... ka.u terlalu banyak menggeser ..." Keira berdiri dengan kesal.


"Dizza, minggir! Biar Kakak yang pasang."


Keira meminta Dizza menyingkir dari atas tangga.


"Kakak mau apa?"


"Kamu yang melihat, Kakak yang pasang."


"TIDAK!" Dizza bersikeras.


Keira memandang heran.


"Kakak duduk saja di sana. Ibu, oh ya tolong telepon ibu." Dizza mengusir Keira secara halus.


*


Acara sore itu berjalan dengan lancar. Para tamu menikmati acara dan sajian yang diberikan. Keira masih mondar mandir memastikan tak ada yang terlewatkan.


"Kak, kalau Kakak capek, istirahatlah." Nada memperingatkan Keira.


"Kakak belum capek. Kamu berlebihan." Keira berlalu. Ia duduk di dekat dapur memeriksa makanan. Keira menatap buah-buahan yang terlihat menggiurkan. Ia mengambil beberapa buah dan duduk di dekat koki yang sedang menata buah-buah itu.


Keira berbicara dengan koki sambil menikmati buah di piringnya. Ia tertawa sesekali. Ia tak sadar Dizza memperhatikannya.


Mengapa Kau sangat bahagia, Kak?

__ADS_1


__ADS_2