
Keira memutuskan untuk menemui Kusuma. Walaupun Dizza melarang karena takut ayahnya akan melukainya, Keira tetap bersikeras menemui ayahnya.
Keira duduk di hadapan Kusuma dengan perasaan campur aduk. Dia sebenarnya bingung mengartikan perasaannya pada pria itu, apakah dia takut, segan atau menghormati ayah kandungnya. Yang jelas dia merasa perlu meminta maaf pada Kusuma, biar bagaimana pun pria itu yang menghidupinya dengan sangat layak selama ini.
"Ayah, maafkan aku ...."
Kusuma menatap Keira dalam diam sebelum akhirnya bicara.
"Apakah kamu senang?" tanya Kusuma.
"Semua sudah berakhir." Kusuma menyindir Keira.
Tiba-tiba Keira berlutut lagi.
"Aku tahu Ayah nggak bisa memaafkan aku. Tapi aku tetap memohon maafmu. Maafkan aku karena nggak bisa menjadi anak berbakti, aku mohon jangan paksa aku meneruskan pernikahan dengan Bara."
"Berdiri, Keira, lukamu ...."
"Keira.....!" tiba-tiba terdengar teriakan Bara memasuki rumah.
Bara berteriak memanggil Keira, ia bertanya pada pelayan yang menunjukkan Keira berada di ruangan Kusuma. Bara langsung masuk ke dalam tanpa permisi, ia melihat Keira sedang berlutut.
"Keira, apa yang kamu lakukan?" Bara duduk di samping Keira, memeluknya. Keira spontan melepaskan diri.
"Ayo, kita pulang ke rumah kita. Mari kita mulai dari awal lagi."
Keira menatap Kusuma, menunggu jawaban ayahnya tapi Bara segera menarik tangan Keira untuk pergi.
"Bara, aku nggak akan ikut denganmu. Pertunangan kita sudah berakhir."
"Nggak, kita menikah sekarang!" Bara memaksa menarik Keira.
"Bara, kita harus bicara." Kusuma menyela tapi Bara masih menarik Keira yang bergeming.
"Lepaskan Keira, kita bicara berdua." Kusuma memberi perintah.
Bara akhirnya melepaskan Keira. Entah apa yang dibicarakan antara Kusuma dan Bara, Keira mendengar suara benda jatuh. Bergegas Keira menerobos masuk dan memekik kaget karena melihat Kusuma sudah jatuh ke lantai memegang dadanya.
"Ayah......!" Keira berteriak untuk mendekat tapi Bara menahan dirinya.
"Lepas!" Keira memberontak. Ia berteriak meminta tolong, para penjaga dan pelayan berlarian masuk untuk menolong Kusuma. Di tengah kekacauan itu Bara mengatakan bahwa Kusuma memerintahkan ia untuk menjaga Keira.
"Lepas! Aku ingin melihat ayah. Cepat bawa ayah ke rumah sakit!" Jerit Keira panik.
"Kamu nggak boleh ke rumah sakit!" Bara mendekap Keira dengan erat.
"Lepas, Bara! Aku mau mengantar ayah!"
"Tidak!" Bara bersikeras sembari menyeret Keira pergi ke mobilnya.
Para penjaga lebih mempercayai Bara dari pada Keira karena seperti biasanya Kusuma memang meminta mereka mengawasi Keira dan melarangnya ke rumah sakit.
Mereka segera membawa Kusuma ke rumah sakit dan mengabaikan Keira yang menjerit histeris.
Lestari yang baru saja datang sangat kaget melihat suaminya dibawa ke rumah sakit, ia segera mengikuti suaminya tanpa memperhatikan Keira yang berteriak di dalam mobil Bara.
***
Saat mendapat kabar Kusuma dilarikan ke rumah sakit, Dizza segera berlari menyusul Lestari. Ia menemukan ibunya menunggu dengan gelisah.
"Apa yang terjadi, Bu?" tanya Dizza.
"Ibu tidak tahu. Ibu baru saja pulang dan melihat mereka membawa ayah."
__ADS_1
"Di mana Kakak?" tanya Dizza.
"Kakak? Bukankah dia bersama kalian?" tanya Lestari.
Dizza mengernyitkan dahi.
"Kakak menemui ayah di rumah." Dizza menjawab.
"Di mana Kakak?" Dizza bertanya pada para penjaga.
"Nona besar bersama tuan Bara. Tuan Bara membawa Nona besar karena Nona tidak boleh ke rumah sakit."
"Apa?!" Dizza seketika panik. Ia segera menelpon Evan dan Nada.
****
Keira duduk dengan gelisah, sementara Bara duduk di sebelahnya dengan tenang.
"Maaf soal ayahmu, dia tiba-tiba jatuh. Jangan bersedih, dia pasti baik-baik saja." Bara menenangkan Keira.
"Aku mau ke rumah sakit." Keira beranjak berdiri tapi Bara menahannya.
"Keira, kamu nggak boleh ke sana!"
"Bara, apa kamu gila percaya ramalan itu?!" Keira berteriak.
"Aku nggak ingin mempercayainya, tapi aku sudah melihatnya!"
Keira merasa stres menghadapi Bara.
"Baiklah, terserah kalau kamu percaya, tapi apa pengaruhnya sekarang? Hubungan kita sudah selesai ...."
"Keira, apa kamu memilihnya?" tanya Bara.
Keira terdiam, dia tidak mengatakan akan memilih Evan tapi biar bagaimana pun dia tidak bisa bersama Bara.
"Stop Bara!" Keira merasa lelah mendengar masa lalunya berulang-ulang.
"Aku sudah lelah mendengarnya." Keira terduduk di lantai.
"Bara, apa kamu benar-benar mencintaiku?" tanya Keira pelan.
"Haruskah aku berulangkali mengatakannya? Kamu adalah segalanya untukku." Bara mulai menangis.
"Mengapa kamu nggak bisa melepaskan aku? Kalau kamu mencintaiku, apa kamu nggak menginginkan aku bahagia?"
Bara menatap wajah Keira lalu menggeleng pelan
"Aku bisa kehilangan segalanya, tapi aku nggak bisa kehilangan dirimu. Maafkan aku, aku nggak bisa melepasmu. Aku pasti akan membuatmu bahagia."
"Jadi kamu tetap akan menahanku?" tanya Keira.
Bara terdiam, "Kamu nggak memberiku pilihan."
"Apakah menurutmu ini cinta?" tanya Keira dengan perasaan hampa.
"Kamu memaksakan dirimu, Bara. Kamu nggak mencintaiku, ini hanya obsesimu memiliki aku!"
"Aku mencintaimu!" Bara berteriak.
"Bukan, ini hanya obesesimu!" Keira balas berteriak.
"Lalu apa kamu pikir dia mencintaimu?! Dia menyakiti kamu, Keira!"
__ADS_1
"Tapi yang sekarang kamu lakukan yang justru menyakiti aku!"
"Aku mencintaimu dan harus memilikimu!" Bara menatap Keira tajam lalu meninggalkannya.
Keira menghela napas panjang sembari memandang sekeliling ruangan. Mereka sedang berada di rumah yang dulu Bara rencanakan sebagai rumah mereka bila sudah menikah.
Keira berusaha membuka pintu tapi terkunci, jendela bisa terbuka tapi juga tidak bisa dilewati. Keira kesal karena ia lupa membawa ponsel. Ia hanya bisa berdoa tak ada yang terjadi pada ayah dan dirinya.
Tapi trkadang iblis juga mendengar doa manusia dan meneruskan pada manusia lainnya. Ketika seseorang berdoa untuk keselamatannya, iblis berusaha mengagalkannya.
Setelah berjam-jam mengurung diri di kamar, Bara akhirnya keluar. Ia menemui Keira dan duduk di sebelahnya.
"Kamu mabuk?" Keira mencium bau alkohol.
Saat mencium bau alkohol di dekatnya, pikirannya selalu melayang pada masa lalu dan itu membuat Keira ketakutan.
"Kamu harus jadi milikku! Kita menikah, oke?" Bara meracau. Ia mengeluarkan cincin Keira dan memaksa Keira memakainya.
Takut terjadi sesuatu, Keira mengambil cincin itu dan memakainya.
"Aku sudah memakainya. Tenangkan dirimu!" Keira mencoba tegar.
Tak puas hanya memaksa memakai cincin, Bara lalu memaksa mencium Keira. Keira mendorong Bara. Selintas traumanya kembali.
"Bara, jangan seperti ini." Keira mulai pusing antara mencium bau alkohol dan trauma yang kembali. Bara kembali mendekati Keira dan mendorongnya hingga membentur sofa.
Keira kembali teringat Hans.
"Bara, jangan seperti ini!" Keira berteriak panik.
"Mengapa kamu berteriak Keira?Bukankah kita sudah menikah?"
"Jangan begini!" Keira berusaha mendorong Bara yang mencengkram bahunya dengan kuat.
"Kamu milikku, Keira! Kita sudah menikah, jangan menolak aku!"
Keira kehabisan tenaga melawan Bara dan akhirnya memilih menyerah.
"Baiklah, kita akan melakukannya!Tapi jangan seperti ini, jangan memaksa!" Keira berusaha mengendalikan diri dan menyelamatkan diri.
"Kamu berubah pikiran?" tanya Bara.
Keira mengangkat tangannya yang memakai cincin pertunangan mereka.
Bara tersenyum senang. Sungguh pengaruh alkohol tidak bisa membedakan dunia nyata dan halusinasi. Bara berhalusinasi Keira benar-benar mencintainya.
Bara menatap wajah Keira lalu mencium bibir Keira, Keira terpaksa menanggapi sementara matanya berkeliling mencari celah untuk menyelamatkan diri.
Bara mendorong Keira hingga ke dinding sementara Keira berusaha mengulur waktu dengan berpura-pura menikmati sentuhan Bara. Diabaikannya perasaan terhina ketika Bara menggumam tak jelas sembari menyesap pundaknya yang seketika memerah.
Keira menjerit tapi Bara menanggapinya sebagai respon bahwa Keira menikmati perlakuannya yang sebenarnya membuat Keira ingin menangis.
Mereka berada di lantai, di antara meja dan sofa. Keira menahan perasaannya lalu memeluk Bara, berusaha mencari-cari kunci yang berada di kantong Bara.
Bara yang terlalu sibuk memuaskan hasratnya, mencium bibir, kening dan leher Keira, tak menyadari bahwa wanita yang berada di bawahnya itu berusaha mencuri kunci.
Sekejap Keira melihat sekelebat bayangan manusia di luar tapi ia mengabaikannya.
Keira kewalahan merogoh kunci dalam keadaan Bara yang terus menciumnya. Bara bahkan sedang menarik-narik atasan Keira. Keira fokus mencari kunci, tak memperdulikan roknya yang sudah tertarik-ke sana kemari. Dia sedikit tersentak ketika Bara membuka paksa kancing-kancing bajunya.
Keira berhasil merogoh kantong tapi tak ada kunci, Keira panik. Lalu ia melihat saku kemeja Bara. Ia memegang dada Bara dan merasa ada kunci di saku itu.
Keira kesulitan mengambilnya karena Bara terlalu dekat dengannya. Saat ia memiliki kesempatan mengambil kunci, seketika Keira membeku, ia tanpa sadar melihat ke jendela.
__ADS_1
Evan sedang berdiri melihatnya dalam keadaan berciuman dengan Bara, dengan pakaian yang sudah berantakan. Dalam keadaan tangannya seakan memeluk Bara.
Evan mundur perlahan-lahan.