No Rose Without A Thorn

No Rose Without A Thorn
Kehidupan Yang Sempurna


__ADS_3

Sebulan kemudian Dizza menepati janjinya. Ia benar-benar memberikan sebuah rumah sebagai hadiah pernikahan. Sebuah rumah mungil di pinggir kota.


Ketika Dizza mengumumkan hadiahnya, Adrian mencemooh.


"Kupikir orang kaya akan memberikan sebuah rumah besar di kompleks elit!"


Evan tertawa, ia belum pernah melihat rumah yang dimaksud, begitu juga Keira. Walaupun dirinya dan Keira telah sepakat untuk tinggal di apartemen milik Evan, mereka memutuskan untuk tinggal selama beberapa waktu di rumah yang diberikan Dizza, untuk menghargainya.


"Rumah itu juga tidak murahan!" Dizza berteriak kesal.


"Hmm, sama seperti Adrian, Kakak kira akan mendapat rumah besar di sebelah rumah Ibu!" Keira menggoda.


"Kakak pasti suka!" Nada membela Dizza.


Keira tertawa lalu memeluk kedua adiknya.


"Hanya bercanda, sebenarnya kalian nggak perlu repot-repot memberikannya. Kami, kan, sudah punya tempat tinggal."


Dizza menggeleng.


"Aku pantang mengingkari janji! Kalian nggak perlu tinggal di sana." Dizza membaca pikiran Keira dan Evan.


"Rumah itu bukan rumah tinggal, tapi rumah untuk hiburan. Kalian nggak bisa tinggal di sana, kecuali jika ingin liburan. Kami memilihnya sebagai tempat untuk kalian beristirahat."


"Oke, terima kasih sayang-sayangku!" Keira mencium kening kedua adiknya lalu menerima kunci rumah dari tangan Dizza.


"Jadi ...."


"Jadi apa?" tanya Keira


"Jadi pergilah kesana sekarang juga. Anggap saja honeymoon lagi!"


Evan merangkul Keira.


"Baiklah, kita akan tinggal di sana selama beberapa hari. Jangan mencari kami!" Evan mengedipkan mata.


Keira mencubit pinggang Evan.


"Pergilah! Jangan lupa oleh-oleh ya!" Nada melambaikan tangan.


"Oleh-oleh apa? Kan, masih dalam satu kota!" Evan memukul dahi Nada.


"Kalian mau Kakak bawakan apa?" tanya Keira berusaha menyenangkan keluarganya.


"Keponakan!" Dizza dan Nada kompak menjawab.


Keira sontak memukul kedua adiknya yang terbahak-bahak. Evan menggaruk kepalanya yang tak gatal akibat salah tingkah.


Adrian menatap orang-orang itu sambil tersenyum.

__ADS_1


***


Keira memandang sebuah rumah mungil di hadapannya. Sederhana. Hanya rumah mungil tapi sangat mempesona. Entah bagaimana caranya Dizza menemukan rumah indah itu dan merenovasinya.


Rumah itu terletak di atas bukit yang sunyi. Rumah-rumah lain jaraknya cukup jauh.


Saat berdiri di luar, angin berhembus menerbangkan rambut Keira. Seketika itu juga Keira jatuh cinta pada rumah pemberian Dizza.


Keira dan Evan meletakkan bahan makanan di meja. Keira membuat minuman lalu menatap bahan-bahan makanan itu dengan enggan. Tadinya ia bermaksud membuat makanan simple tapi saat ingin mengerjakannya ia kehilangan semangat.


Ia tak pernah memasak dan tak suka memasak. Evan tahu hal itu karenanya mereka tetap menggunakan bantuan Bibi Ani untuk mengurus dapur keluarga mereka. Tapi di rumah ini hanya ada mereka berdua.


"Ada apa?" tanya Evan.


"Aku sepertinya nggak bisa memasaknya. Jadi, kita makan apa?" Keira mengangkat sebuah kentang.


Entah apa yang dipikirkannya tadi saat membeli kentang


"Seharusnya tadi kita makan di kedai yang di bawah saja." Keira menyesal.


Evan masih memandangi Keira.


"Mengapa melihatku seperti itu? Apa sekarang kamu sedang menyesali nasib menikah dengan istri yang nggak bisa masak?"


"Tinggalkan saja ini. " kata Evan seraya mendekat dan menyingkirkan kentang dari tangan Keira.


"Kamu ingin kita ke kedai saja?"


"Aku mau makan yang lain."


Keira mengernyitkan dahi.


"Jangan aneh-aneh. Aku sungguh nggak bisa masak dan nggak bisa mencoba-cob ...."


Evan membungkam mulut Keira. Ia menarik Keira agar lebih dekat dengannya, Evan berbisik di telinga Keira yang kehabisan napas.


"Aku mau makan kamu saja." Lalu ia membawa Keira ke dalam kamar.


****


Keira mengedip-edipkan matanya. Ia baru saja terbangun dan merasa seluruh badannya sakit. Evan sudah menghilang.


Keira mengutuk Evan yang sama sekali tidak memberinya kesempatan istirahat. Semalaman ia meladeni Evan yang tak berhenti merayunya. Keira tertawa sendiri mengingatnya.


"Morning sayaang!" Evan masuk ke kamar dalam keadaan sudah rapi, bersih dan wangi.


"Hmm ...." Keira hanya menjawab singkat. Ia mencoba bangun tapi Ia sungguh merasa lelah, maka ia berpura-pura masih mengantuk. Evan mendekat lalu menatap wajah polos Keira.


"Apa aku menyakitimu?" tanya Evan khawatir.

__ADS_1


Keira memandang Evan lalu tersenyum.


"Sakit sedikit sih... tapi ... its okay..." Keira mengecup bibir Evan lalu berdiri. Ia segera masuk ke dalam kamar mandi meninggalkan Evan yang berteriak.


"Hey, kamu masih sanggup berjalan?"


Keira hanya tertawa.


Kalau boleh memilih aku masih ingin berbaring, tapi kalau aku tidak segera menjauh darimu, pasti akan terulang lagi.


Maaf sayang, aku masih lelah.


Keira sengaja berlama-lama di kamar mandi.


***


Liburan mereka sungguh menjadi petaka bagi perut. Selama tiga hari berada di rumah itu, mereka kelaparan. Karena daerah itu cukup terpencil, tak ada yang menjual makanan selain kedai kecil satu-satunya di jalan besar.


Ketika mencobanya pertama kali, Keira tak mau lagi. Ia tak suka makanannya. Evan masih bisa makan segala macam makanan instan tapi Keira tidak bisa makan makanan yang dia tidak suka. Maka ia selalu membohongi Evan dengan mengatakan sudah makan, masih kenyang dan lain-lain. Nyatanya ia hanya mengganjal perutnya dengan cemilan.


"Lain kali kalau ke sini lagi, tolong kamu pikirkan persediaan makanan kita, ya." pinta Keira saat mereka meninggalkan rumah itu untuk kembali beraktifitas.


"Baiklah, aku akan menyiapkan makanan kalau kita ke sini lagi. Adikmu sungguh memberi hadiah yang luar biasa." Evan mengemudikan mobil sambil sesekali menatap Keira.


"Kamu suka rumahnya atau nyonya pemilik rumahnya?" tanya Keira.


"Tentu saja aku menyukai rumah itu tapi aku lebih menyukai nyonya pemilik rumah itu."


Evan tersenyum jahil.


"Apa artinya rumah itu kalau tidak ada istriku yang menggoda ...."


PLAK.


Keira melempar Evan dengan botol minumannya yang kosong.


"Ahhh ... sungguh menyenangkan!" Keira menggumam sendiri.


"Apa yang menyenangkan? Rumahya atau kegiatan kita selama di rumah itu?" Evan menggoda.


Keira kembali melemparkan botol yang baru saja diletak an Evan.


"Sangat menyenangkan melihatmu meringis seperti itu!" kata Keira sambil tertawa.


Ia sungguh bahagia. Ia memiliki kehidupan yang ia impikan. Menikah dengan pria yang dicintainya dan mencintainya, memiliki dua adik yang sangat menyayanginya, obu yang telah banyak berkorban untuknya dan ayah yang akhirnya mau menerima keputusannya.


Kusuma perlahan-lahan berubah menjadi orang yang lebih bisa menerima kenyataan. Dia menerima pilihan Keira dan tidak mengeluarkannya dari daftar pewaris.


Keira bahkan sudah kembali bekerja. Setelah menimbang semua pembelaan Keira, fakta yang terjadi serta kasus penculikan yang dilakukan Ny Wijaya, Rapat pemegang saham memutuskan Keira bisa kembali ke perusahaan. Mereka menutup mata bahwa Keira menikah dengan pria yang dikenal sebagai pewaris grup oshi. Walau rumor dan desas desus tetap terdengar tapi tak sampai menghebohkan publik karena Kusuma menggunakan segala cara agar berita pernikahan itu tidak di dramatisir.

__ADS_1


Aku tahu bahwa tak ada kehidupan yang sempurna di dunia ini.


Tapi bila aku ingin bersyukur dan mengatakan bahwa aku sangat bahagia dan merasa ini sudah sempurna, kumohon jangan sampai ada iblis yang merusaknya lagi.


__ADS_2