No Rose Without A Thorn

No Rose Without A Thorn
Obsesi


__ADS_3

Lestari memandangi wajah Kusuma dengan geram.


"Aku tidak kembali padamu untuk membuat anak kita menderita!"


Kusuma tak menjawab, ia bingung. Lestari menggebrak meja.


"Bisakah kamu lihat wajahku? Kamu berjanji akan melindungi kami, tapi ...."


"Kenapa kamu membohongiku? Anak itu ...."


"Karena aku tahu sifatmu!"


"Kalau kamu marah, seharusnya kamu membunuhku. Aku yang memilih melahirkan dia ... Aku bahkan sudah membuatnya menderita hanya karena ketakutan padamu. Teganya kamu ..." Lestari terisak.


"Dan Keira, bagaimana bisa kamu menjualnya demi perusahaaan?"


"Diam!"


Kusuma membentak istrinya.


"Aku tidak menjualnya. Bara mencintai Keira. Keira akan bahagia."


"Ayuni mencintaimu, apa kamu bahagia?!"


tanya Lestari, nyaris sama seperti yang pernah dilontarkan Dizza padanya.


Kusuma terdiam, dia gelisah.


"Kamu tahu Keira tidak akan bahagia, apalagi orang tua Bara ternyata tak waras. Apa kamu tak takut menyerahkan anakmu pada keluarganya?"


"Semua yang kubangun akan hancur... sia-sia ...."


"Dan semua yang kamu miliki akan pergi kalau kamu tetap memaksa Keira hidup bersama Bara!" jerit Lestari.


Keduanya terdiam lalu Lestari menggenggam tangan Kusuma.


"Bukankah kamu tahu, aku tidak akan pernah meninggalkanmu walau kamu jatuh? Menyerahlah, walau akhirnya kita tidak memiliki apa-apa, setidaknya kita memiliki Keira. Hidup kita yang panjang sudah banyak berlalu, tapi kehidupan anak kita masih panjang. Kumohon, hentikan perjodohan itu."


"Selama ini Keira selalu menderita, dia selalu menahan perasaannya. Apa kamu tega menghancurkan hidupnya lagi? Dia tidak mencintai Bara, Kusuma!"


Lestari menangis, Kusuma masih terdiam.


***


Bara sudah mengetahui semuanya. Ia tidak menyelesaikan pekerjaannya di Jepang, dan langsung kembali mencari Keira.


Keira, Dizza dan Nada sudah pindah ke apartemen Evan karena tak ingin merepotkan Adrian. Sebenarnya Keira bersikeras mencari rumah sendiri tapi Dizza dan Nada takut kalau keselamatan Keira terancam lagi, maka mereka memaksa Keira tinggal di apartemen Evan. Sedangkan Evan memilih mondar mandir antara rumah dan Lets Read.


Bibi Ani sangat senang melihat Keira tapi Nada salah tingkah melihat Bibi Ani.


Ketiga gadis itu membaca sebuah berita di surat kabar.


Pernikahan Putri Kusuma dan Putra Wijaya dikabarkan batal. Putri Kusuma memilih berpisah karena menyadari mereka tidak bisa melanjutkan pernikahan. Belum ada keterangan dari kedua belah pihak. Kusuma dikabarkan merestui perpisahan putrinya, akankah perpisahan ini berdampak pada proyek mega hotel?


"Siapa yang membuat berita ini?"


"Kakak bahkan nggak bertemu siapa pun."


"Ayah?" tanya Dizza


"Ayah tidak akan seceroboh ini."


"Ibu?!" Ketiganya berteriak bersamaan.


"Hanya ibu yang memiliki keberanian sekaligus kecerobohan. Ahhh, dia memang Ibuku ...." ucap Dizza bangga.


Keira dan Nada menatap Dizza heran.


"Mengapa melihatku seperti itu? Ibu mirip sekali dengan seseorang, berani dan ceroboh." Dizza menyinggung Keira.


"Mengapa kamu menyinggung Kakak?" Keira bertanya kesal.


"Apa aku menyebut Kakak? Sensitif ...."


Nada menjitak kepala Dizza.


"Sudahlah. Semua sudah berlalu."


Lalu ia menatap Keira.


"Tapi Kak, jangan ulangi hal bodoh lagi. Meskipun Kakak berani, tapi jangan bodoh!"


"Kau?" Keira merasa kesal.


"Ke mari kalian berdua." Keira meminta kedua adiknya mendekat.


"CEPAT!"


Nada dan Dizza mendekat dengan takut.


Ia mencubit pinggang kedua adiknya, Nada dan Dizza berteriak lalu tanpa sadar mereka berguling di lantai. Mereka bertiga tertawa.

__ADS_1


"Kalau waktu bisa diulang, Kakak akan tetap memilih jalan yang sama."


Nada dan Dizza memandang wajah Keira.


"Apa pun akan Kakak lakukan untuk kalian,"


ucap Keira tulus.


"Kak apakah Kakak tahu prosedur penyelamatan di pesawat?" tanya Dizza.


"Penumpang harus memakai masker oksigen untuk dirinya dahulu sebelum menyelamatkan orang lain." Nada menjawab.


Keira mendengarkan.


"Kami tahu Kakak akan melalukan segala hal untuk kami dan ibu. Tapi, setidaknya Kakak harus membahasnya bersama kami. Jangan menyimpan masalah sendiri."


"Hmmm ...."Keira menjawab.


"Ternyata kalian sudah dewasa." Keira memejamkan matanya.


Dizza akan mencubit pinggang Keira ketika ia menyentuhnya ia baru menyadari ada perban di sana.


"Awwww!" Keira meringis.


"Maaf-maaf..." Dizza meminta maaf.


Keira segera duduk kembali, ia memeriksa perutnya.


"Sepertinya Kakak harus ke rumah sakit!"


****


Evan mengantar Keira ke rumah sakit. Walaupun Keira bersikeras menolak, Evan tetap mengantarnya. Nada dan Dizza beralasan mereka memiliki kesibukan. Sepanjang perjalanan keduanya hanya diam.


"Kamu tunggu di sini saja." Keira melarang Evan ikut masuk ke ruang pemeriksaan.


Dokter membuka perban di perut Keira dan memeriksanya .


"Luka ini sudah bisa dibuka, tidak perlu memakai perban lagi."


Keira tersenyum senang. Dokter memberinya vitamin untuk mempercepat pemulihan.


"Apa kata dokter?" tanya Evan.


Keira tak menjawab. Ia terus berjalan ke arah mobil. Evan terpaksa mengikutinya.


"Keira, sampai kapan kamu akan mendiamkan aku?"


Evan mendekati Keira dengan perasaan cemas.


"Kei ...."


"Jangan mendekat."


"Keira."Evan Khawatir


"Aku harus menyelesaikannya, tolong tunggu aku di mobil."


Evan masih khawatir tapi ia menuruti Keira, ia meninggalkan Keira dan Bara.


***


Keira duduk di bangku, Bara menyusulnya.


"Keira, mengapa kamu ke rumah sakit?"


Keira menatap Bara tak percaya.


"Mengapa?" Keira balik bertanya.


"Kamu nggak boleh kerumah sakit." Bara putus asa.


Ia sudah melihat dengan mata kepalanya sendiri. Keira berada di rumah sakit bersama Evan, masa lalunya.


Tadinya ia tidak ingin mempercayai ramalan itu, tapi ia tak sengaja melewati rumah sakit ini dan berhenti begitu saja. Ia tak menyangka melihat Keira.


"Kamu menemuinya saat aku tidak ada?!" tanya Bara.


"Apakah kamu selama ini melakukannya?" tanya Bara.


"Melakukan apa?" tanya Keira.


"Bertemu dengannya di belakangku?!"


Keira semakin kesal pada Bara lalu tanpa sadar dia meluapkan emosinya.


"Bukankah kamu tahu selama ini dia tidak tinggal di sini? Bukankah selama ini kamu selalu mengawasi aku?!" suara Keira meninggi.


"Keira, ayo pulang!" Bara menarik tangan Keira.


"Ibumu menculik aku, " kata Keira datar sembari menahan diri untuk tidak bergerak, dia menarik tangannya yang digenggam Bara.

__ADS_1


Bara terdiam, ia sudah mendengar dari Kusuma.


"Tolong maafkan ibuku, kita bicarakan ...."


"Dia memintaku tidak menikah denganmu, tapi menjadi wanita simpananmu."


"Keira ...." Bara kembali memegang tangan Keira, Keira melepas tangan Bara.


"Maafkan aku, aku nggak akan melakukan keduanya."


"Keira, kumohon jangan tinggalkan aku. Maafkan ibuku. Aku tidak akan meninggalkanmu. Kita bisa pergi sejauh mungkin agar ibu tidak menganggumu lagi ..."


Keira menatap Bara dengan frustasi.


"Bara, kumohon lepaskan aku. Kamu seharusnya mendapat wanita yang lebih baik dari aku."


"Tidak!" Bara bersikeras.


"Aku tidak akan melepaskanmu lagi. Kumohon Keira, kembali pulang. Aku akan melakukan segalanya untukmu, aku mampu. Aku akan membantu proyek ayahmu. Bila ibu tidak mengijinkan kita menikah, kita tidak perlu menikah. Asal kamu ada di dekatku, sudah cukup bagiku. Aku mencintaimu." Bara memeluk Keira.


Keira melepaskan diri dari pelukan Bara.


Itu bukan cinta, tapi obsesi.


Keira teringat ucapan Dizza.


Perlahan Keira melepaskan cincin pertunangan mereka. Bara masih memohon.


"Maafkan aku Bara, aku memang bersalah padamu. Tapi aku nggak bisa bersamamu, maafkan aku ..." Keira meneteskan air mata.


"Keira, jangan pergi ...." Bara masih memohon. Tapi Keira tak mempedulikan Bara, ia sudah menetapkan hatinya, ia akan pergi.


***


Keira masuk ke dalam mobil dalam diam. Evan tak berani bicara. Keira menutup mukanya lalu terisak.


Evan hanya memandangnya tapi Keira terus terisak akhirnya Evan memberanikan diri merangkul dan memeluk Keira. Ia menepuk-nepuk bahu Keira yang masih menangis.


"Tak apa, menangislah ..." Evan masih memeluk Keira.


Nada melihat Keira pulang dengan mata sembab. Keira tak bicara apa-apa, ia langsung masuk ke dalam kamar.


"Kakak apakan Kak Keira?" tanya Nada menuduh.


"Mengapa menuduhku?" tanya Evan kesal.


"Hmm, bukankah Kakak yang ahli membuatnya menangis?" Nada menyinggung. Evan memukul kepala Nada.


"Dia bertemu Bara."


"Apa yang terjadi?" tanya Nada ingin tahu.


"Aku nggak tahu, ia memintaku menjauh, lalu ia kembali ke mobil dan menangis."


Nada segera menyusul Keira.


"Kak, apa Kakak baik-baik saja?" tanya Nada khawatir.


Keira tersenyum. "Kakak hanya ingin istirahat."


Nada mengangguk lalu menutup pintu.


"Kak, jangan ganggu Kakak ya!" Nada mengancam Evan.


"Kamu mau ke mana?" tanya Evan.


"Aku ada pertemuan dengan Dizza dan Adrian."


"Pertemuan?"


"Kalian meninggalkan kami berdua saja?" tanya Evan, tiba-tiba ia merinding.


Nada memukul Evan.


"Apa yang Kakak pikirkan? Jangan macam-macam!"


Evan menggeleng. Mengingat apa yang pernah ia lakukan pada Keira, ia menolak untuk ditinggal berdua.


"Aku ikut kalian. Aku akan menelpon Bibi Ani untuk menemani Keira."


Nada menatap Evan heran.


"Mengapa Kakak begitu ketakutan?" tanya Nada heran.


Evan tak menjawab.


Karena dia terlalu cantik...


Karena aku begitu menyukainya..


Evan menjerit dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2