
Awan mendung menghiasi langit sore, dari ruang kerjanya Keira bisa memperhatikan titik-titik air mulai berjatuhan. Setelah menghela napas berat, wanita itu mengalihkan pandangannya ke lembaran kertas di mejanya.
"Nggak pulang, Nak?" Suara seorang pria mengejutkan Keira, kepalanya sontak terangkat demi menatap Kusuma yang mendekat.
"Sebentar, lagi, Yah."
"Hmm, jangan lembur, ingat kesehatanmu." Kusuma menepuk bahu Keira.
Wanita itu menoleh lalu tersenyum, beberapa detik menatap wajah ayahnya yang menua. Pria itu masih sama dingin dan kejamnya, tapi tidak padanya. Semenjak hubungan mereka membaik, Kusuma lebih sering menunjukan perhatian pada putrinya. Terlebih sekarang anak semata wayangnya itu sedang mengandung cucu pertamanya.
"Ayah antar pulang, ya?"
"Nggak usah, Yah. Nanti ...."
Brrtt. Ponsel Keira bergetar menampilkan nama Evan.
"Evan sudah di depan," kata Keira sambil tersenyum. Bergegas dia membereskan berkas-berkasnya dan mengambil tas.
"Ayo sama Ayah turunnya." Kusuma refleks membantu Keira berdiri karena khawatir padahal perut Keira sama sekali tidak terlihat membesar.
"Aku nggak apa-apa, Yah." Keira tersenyum geli menerima perlakuan berlebihan Kusuma.
Tapi Kusuma tak peduli, dia tetap mengandeng Keira berjalan melewati deretan karyawan yang tampak kagum melihat atasan mereka yang biasanya bersikap dingin kini luar biasa hangat pada putrinya.
"Keira, apa kamu nggak sebaiknya cuti saja?"
"Yah, ini baru tiga bulan. Aku baik-baik saja. Nanti ..."
"Tapi Ayah lihat kamu sering pucat. Jangan capek, Keira. Ibumu juga khawatir."
Keira menghentikan langkahnya lalu menatap Kusuma sambil tersenyum, "Cucu Ayah pasti baik-baik saja. Aku janji."
Kusuma hanya bisa mengangguk pasrah lalu melepaskan pegangan tangannya pada lengan Keira yang segera berpamitan.
"Aku pulang duluan ya, Yah."
"Ya, hati-hati."
Keira kemudian berlalu meninggalkan ayahnya yang berdiri mematung melihat Evan turun berlari membawa payung untuk menjemput Keira dan menggiringnya ke mobil. Perlahan seulas senyum merekah di bibir Kusuma ketika Keira melambai seiring dengan suara klakson yang dibunyikan Evan.
**
"Ada yang mau dimakan?" tanya Evan sambil mengemudi.
"Nggak ada. Lagipula ini hujan."
"Kalau ada yang kamu mau, nggak apa-apa Kei, bilang aja."
"Nggak, aku mau istirahat aja." Keira menguap lalu memejamkan matanya. Evan menoleh menatap istrinya lalu tersenyum. Disentuhnya perut Keira sambil menggumam.
"Kamu yang nggak rewel atau mama kamu yang hebat sih, Nak? Sudah tiga bulan tapi kok, Mama kamu nggak pernah minta aneh-aneh?"
__ADS_1
Keira seketika tertawa walau masih terpejam.
"Bisa berhenti sebentar?" tanya Keira tiba-tiba.
Evan segera menghentikan mobilnya lalu menatap Keira yang masih memejamkan mata.
"Kenapa, Kei?"
Perlahan Keira membuka matanya lalu menatap Evan hingga pria itu kebingungan.
"Kenapa?" ulang Evan.
"Nggak tahu kok, rasanya aku kangen kamu ya hari ini?"
Evan melotot mendengar ucapan langka Keira. Dia menggaruk kepalanya yang tak gatal lalu mendekat.
"Mau dipeluk?" tanya Evan.
"Kamu ini nggak kayak bapak-bapak lain, Van. Meluk aja, kok, pake nanya?"
"Ya biasanya, kan, kamu nggak suka kalau disentuh di luar selain di kamar." Evan mengedipkan matanya.
"Ralat ya, nggak suka kalau di depan orang. Kamu juga, kan?"
Evan terkekeh, dilepasnya seatbeltnya dan Keira lalu ia mendekat untuk memeluknya.
"Nggak nyaman kalau ada orang lain. Kalau cuma berdua kan, bebas. Karena tiap kali nyentuh kamu bisa berbahaya, Kei. Aku bisa nggak tahan untuk berlanjut ke adegan selanjutnya."
Keira seketika tertawa lalu mengeratkan pelukannya, "Sekarang bahaya, dong?" tanyanya lagi.
Keira terdiam, sejak dia hamil, mereka memang membatasi hubungan badan karena Evan tidak mau membahayakan kesehatan anak dan istrinya.
"Keira, tapi kamu nggak sakit, kan? Kamu ..."
"Aku kangen kamarku." Keira menyela membuat Evan mengernyitkan dahi.
"Boleh nggak kalau hari ini pulang ke rumah ibu? Tiba-tiba aku kangen Ibu," pinta Keira penuh harap. Dia tahu Evan selalu kurang nyaman tinggal di rumahnya karena masih merasa canggung berdekatan dengan Kusuma.
Evan melepas pelukannya lalu menatap mata Keira dan tersenyum, "Boleh. Mau nginap?"
"Iya."
"Oke, kita pulang ke sana ya." Evan mengacak rambut Keira lalu kembali menyalakan mesin mobil tapi Keira menahan tangannya.
"Kenapa lagi?"
Keira hanya tersenyum lalu menggeleng.
"Nggak ada. Hanya memastikan kamu masih suamiku."
"Kei, apa kamu sakit?" tanya Evan tiba-tiba dengan curiga. Selama Keira hamil, istrinya itu jarang mengeluh atau menyulitkan namun itu justru membuat Evan cemas tanpa sebab. Kadang kala dia melihat Keira muntah dan mual tapi wanita itu tak pernah mengeluh sakit. Tak jarang Evan memergoki wajah pucatnya tertidur di sembarang tempat tapi Keira bersikeras dia baik-baik saja.
__ADS_1
"Nggak. Aku baik-baik saja. Aku dan anak kamu aman, Van."
"Yakin?"
Keira mengangguk pasti dan karena tak ingin berdebat, Evan memilih meneruskan perjalanan berbelok menuju rumah Kusuma.
**
Keira masuk ke dalam rumah lebih dulu meninggalkan Evan yang sedang memarkirkan mobil dan memeriksa perlengkapan di bagasi. Suasana rumah saat itu terasa hening, Keira menduga ayahnya masih berada di kantor. Perlahan Keira berjalan menyusuri ruang demi ruang untuk menuju ruang keluarga. Saking pelannya dia berjalan, langkah kakinya nyaris tak bersuara.
"Bagaimana bisa dia kembali?!" terdengar jeritan Lestari dari suatu ruang.
Langkah Keira terhenti demi mendengar suara ibunya yang terdengar panik, lalu suara itu berganti dengan suara Dizza.
"Bu, jangan panik!"
"Bagaimana bisa Ibu tidak panik? Pria gila itu bisa menyakiti kakakmu lagi!"
"Ayah nggak akan membiarkan itu terjadi!"
"Tapi ayahmu terkadang lalai! Dulu dia bahkan tidak tahu kalau Keira terjebak drama grup Oshi! Dia bahkan baru menyadari ada yang menguntit Keira setelah seminggu berlalu dan sekarang bagaimana bisa penguntit itu kabur?"
"Bu, jangan berteriak!"
Tapi Lestari justru menjerit, "Lalu bagaimana kalau dia sampai tahu kalau Zea... Ibu tak sanggup ... Bagaimana kalau ayahmu kembali melampiaskan pada Zea?"
"Nggak mungkin, Bu. Ayah sudah berubah!"
"Tapi Baskoro tak mungkin berubah! Iblis itu seharusnya mati, bagaimana bisa dia berkeliaran lagi? Ibu takut Zea ...."
Lutut Keira seketika terasa lemas. Jantungnya berpacu dengan cepat seiring dengan keringat dingin yang mengucur dengan deras di dahinya. Keira mencari pengangan di dinding tapi suara Lestari semakin membuatnya ketakutan.
"Baskoro iblis!"
Bayangan saat pria itu menusuk perutnya kembali menguasai otaknya. Lalu berganti dengan kisah kekejaman lainnya menghancurkan ibunya. Seakan belum cukup, Keira kembali teringat saat Hans menodai dirinya.
Sudah lebih dari setahun Keira berhasil menghilangkan kenangan buruk itu. Selama ini dia sudah hidup bahagia tanpa memikirkan masa lalunya tapi hari ini mendengar bahwa pria bejat itu kembali, Keira seketika ketakutan.
Mendadak perutnya terasa mual dan kepalanya terasa pusing. Sekuat tenaga dia berusaha berdiri tapi pandangannya semakin kabur.
"Keira!" Evan datang tepat waktu saat Keira nyaris jatuh.
Dengan cepat, pria itu menyangga Keira yang wajahnya memucat. Teriakan Evan membuat Lestari dan Dizza segera keluar ruangan. Keduanya panik karena menduga Keira pasti mendengar percakapan mereka.
"Kak?"
"Keira kenapa tiba-tiba datang?" tanya Lestari salah tingkah.
Keira menatap ibunya sesaat lalu teringat seruan Lestari bahwa Baskoro adalah iblis, bahwa seseorang menguntitnya. Keira tak sanggup menjawab, beberapa detik berikutnya dia jatuh pingsan di pelukan Evan.
"Keira!"
__ADS_1
Bagaimana bisa iblis bangkit dengan cepat?
Bagaimana bisa dunia membuatnya kembali dengan mudah?