No Rose Without A Thorn

No Rose Without A Thorn
Pengakuan Adrian


__ADS_3

Dooooor!


Terdengar suara tembakan yang menghentikan teriakan Nada dan Dizza. Mereka berpelukan menutup mata, tak sanggup melihat apa yang terjadi.


"Berhentiii!" teriak seseorang.


"Adrian?" Dizza yang pertama kali menyadari kehadiran pria yang sedang menodongkan senjatanya pada Kusuma, di belakangnya, Evan menyusul dengan panik.


Keira memandang mereka namun tidak bergerak. Kusuma memandang Keira, tidak mempedulikan Adrian atau Evan yang memintanya menurunkan senjata. Kusuma menarik pelatuk dan bersiap menembak kepala Keira.


"Jangan.......!" Semua menjerit. Keira memejamkan matanya lagi.


Dooor!


Terdengar suara tembakan lagi tapi tak ada yang terjadi. Kusuma menembakkan pistol nya ke arah lain.


"Apa kamu benar-benar berpikir Ayah sanggup membunuh putri Ayah sendiri?" tanya Kusuma sembari memandang Keira dengan sedih lalu ia berjalan pergi.


Nada, Dizza dan Adrian menghela napas lega.


Evan segera berlari memeluk Keira yang terjatuh lalu menangis.


***


Adrian membawa semua ke rumahnya. Menurutnya saat ini hanya rumahnya yang aman.


Evan berusaha menenangkan Keira yang masih gemetaran. Nada duduk merenungi semua perkataan Kusuma.


Adrian menyenggol kaki Dizza.


"Hey, saudara-saudaramu sepertinya butuh istirahat."


Dizza segera menyeret Adrian untuk menjauh.


"Sekarang tolong jelaskan mengapa kamu bisa berada di sana?"


Adrian tersenyum.


"Aku melihat kalian di Royal Spa, mengendap-endap mencurigakan. Aku mengikuti kalian dan melihat kalian dibawa mereka. Laki-laki itu, apa dia menyukai Kakakmu?"


Dizza melirik Evan yang sedang menepuk-nepuk bahu Keira.


"Dia juga tak sengaja melihat kalian. Jadi kami bersama-sama menyusul. Sudah begitu saja."


"Mengapa kamu membawa pistol?" tanya Dizza.


"Ehm, itu aku ... Aku memang selalu membawanya."


"Sekarang jelaskan padaku, siapa kamu sebenarnya?" Dizza menuntut. Adrian tersenyum jahil.


"Baiklah, tapi tolong sekalian buat minuman. Mereka tampak seperti mayat hidup semua."


Dizza segera membuat minuman demi mendengar kelanjutan kisah Adrian.


**


Keira menatap Nada lalu mendekatinya, ia menggengam tangan Nada.


"Sejak kapan Kakak tahu?"


"Zea ...."


"Jadi apakah karena ini ibu membuangku?Karena inikah Ibu lebih menyayangi Kakak?"


"Bukan Zea, Bukan ...." Keira mengelus tangan Nada. Nada terisak.


"Ibu menyayangimu, sama seperti Kakak, dia juga takut kehilangan kamu." Keira memeluk Nada.


Nada masih menangis lalu melepaskan pelukan Keira.


"Bagaimana bisa Kakak masih menyebutku adik? Setelah semua yang Kakak alami karena pria itu ... anaknya ... bahkan ia mencoba membunuh Kakak ...." Nada merasa frustasi. Ia kini mengerti mengapa Kusuma membencinya.


"Mengapa ibu menyiksa diri dengan melahirkan aku?"


Keira meneteskan air mata. Ia kembali memeluk Nada.


"Sudahlah Zea ... Kakak sudah nggak apa-apa. Jangan menyalahkan dirimu atas perbuatan mereka. Selamanya kamu tetap adik Kakak." Keira memeluk Nada dengan erat.


"Maafkan Kakak pernah mengingkari janji. Kakak nggak akan meninggalkan kamu lagi."


Dizza yang datang membawa minuman terdiam melihat Keira memeluk Nada. Dia berbalik menuju dapur dam menenangkan dirinya sendiri. Diliriknya Keira yang masih memeluk Nada dengan rasa sayang.


"*Dizza, siapa dia?"

__ADS_1


"Dia kakakku*!"


Dizza teringat betapa dia selalu bangga menunjukkan pada semua orang kalau Keira adalah kakaknya tapi sekarang kenyataannya adalah Keira kakak Nada.


***


Lestari menangis sesegukan. Dizza baru saja mengabarkan semua yang terjadi, termasuk semua kegilaan Ny Wijaya.


"Kalian di mana?" Lestari memaksa Dizza memberi tahu alamat mereka dan kini wanita itu duduk berhadapan dengan Nada dan Keira.


"Zea ...." Ibu memanggil nama asli Nada untuk pertama kalinya.


"Apa kamu tidak memaafkan Ibu? Tak apa, kamu berhak melakukannya ...."


Keira menahan air mata. Zea hanya diam.


"Zea ...." Ibu menyeka air matanya.


"Mengapa Ibu melahirkan aku?" tanya Nada. Lestari mendekati Nada lalu membelai pipinya.


"Mengapa? Apakah seorang ibu harus membunuh anaknya?" tanya Lestari.


"Tak peduli sekejam apa pun ayah kandungmu, tapi kamu anak Ibu. Saat Ibu menyadari kehadiranmu di rahim Ibu, ibu memang ketakutan. Tapi kamu bagian dari diri Ibu, apakah mungkin Ibu membunuhmu?" Lestari menangis.


"Tak peduli siapa pun ayah kalian, kalian semua anak yang ibu kandung, ibu lahirkan. Ibu bersalah karena membuatmu terpisah selama ini, maafkan Ibu."


Nada menangis di pelukan Ny Lestari, begitupun Keira.


Dizza menyaksikan ketiganya berpelukan, ia menahan air matanya.


Jadi, begini akhirnya. Mereka anak kandung Ibu, aku bukan. Mereka saudara satu ibu, aku bukan siapa-siapa.


Adrian menyenggol Dizza.


"Kalau ingin menangis, menangis saja."


Dizza melengos dengan kesal, ia berniat pergi ketika Ny Lestari memanggilnya.


"Dizza ...."


"Kemarilah."


Dizza mendekat perlahan.


"Aku? Mengapa?" tanya Dizza menutupi perasaannya.


Ny Lestari memeluk Dizza.


"Kamu memang bukan terlahir dari rahim Ibu tapi kamu adalah salah satu nyawa Ibu. Jangan pernah berpikir untuk meninggalkan Ibu, mengerti?"


Dizza terharu mendengarnya.


"Apakah karena ibu juga menyayangiku?" tanya Dizza.


"Bukan. Karena Ibu sudah berjanji pada Ayuni untuk menjagamu."


Dizza terlihat kecewa lalu Lestari memukul kepalanya.


"Bodoh, mengapa kamu bertanya lagi? Kita bukan pasangan kekasih, haruskah Ibu juga mengungkapkan rasa cinta padamu?" Ibu memeluk Dizza. Dizza tertawa bahagia.


Keira dan Nada ikut tertawa.


"Kak?!" Dizza memanggil Keira yang masih merangkul Nada.


"Apa?"


"Aku juga masih adikmu, kan?" tanya Dizza hati-hati.


"Dia kakakku!" Nada seketika memeluk Keira yang tertawa. Dizza tak mempedulikan Nada, bergegas dia ikut memeluk Keira hingga ketiganya terjatuh di sofa.


"Perut Kakak!" Keira merintih karena kedua adiknya tanpa sengaja menyentuh perutnya.


"Maaf Kak!" Nada dan Dizza seketika memeriksa perut Keira tapi melihat Keira tertawa keduanya merasa kesal lalu kembali menggelitik Keira hingga membuat Ny Lestari ikut tertawa melihat ketiga putrinya.


"Hei, ini rumahku!" Adrian memprotes tiga wanita di depannya yang terlihat menghancurkan sofa rumahnya.


Ibu menoleh lalu menatap Adrian.


"Nak, kemari."


Adrian mendekat.


"Apa kamu menyukai anakku?"

__ADS_1


"Ibu!" Dizza berteriak marah. Keira dan Nada tertawa, Adrian menggaruk kepalanya.


"Aku .... "


"Ya ... kamu pikirkan jawabannya nanti, tapi kalau kamu menyukainya, aku merestui kalian."


Seketika semua terdiam.


"Bu, jangan menggoda mereka." Keira menyela.


Lestari tak menanggapi lalu berdiri.


"Ibu serius, ibu akan merestui pria yang melindungi anak-anak Ibu."


Tepat saat itu Evan masuk, ia tak tahu bahwa Lestari berkunjung. Evan dan Lestari saling pandang.


"Bukan pria yang sudah menyakiti hati anak Ibu!" Lestari melanjutkan.


Semua mengerti maksud kata-kata Lestari kecuali Adrian. Keira membuang wajahnya, seakan tak mendengar kata-kata Lestari tapi wanita itu ingin menegaskan kata-katanya.


"Keira, apa kamu dengar?"


"Bu, sudahlah." Dizza menenangkan Ibu.


"Aku dengar, Bu." Keira menjawab sambil berlalu. Evan memandang Keira. Lestari berpamitan pulang.


"Bu, apakah ibu tidak apa-apa pulang ke rumah?" Nada bertanya khawatir.


Lestari tersenyum. "Ibu baik-baik saja. Jangan khawatir."


Lestari berjalan melewati Evan lalu ia memanggil Dizza.


"Dizza, bisakah kamu mencari tempat tinggal lain? Yang tidak bisa di datangi sembarangan orang?" tanya Ibu ketus.


Dizza segera mendorong Lestari keluar agar tidak kembali menyinggung Evan.


Nada memandang Evan dengan Iba.


"Maafkan ibu, Kak ... Kakak pasti mengerti, kan? Pasti nanti dia akan luluh."


"Dia benar, aku terlalu banyak menyakiti hatinya." Evan memandang ke arah kamar Keira.


Adrian menyaksikan segalanya lalu menggumam sendiri.


Orang-orang macam apa yang kutolong ini? Sungguh membuat gila.


*


Keira mondar-mandir di kamar. Ia memikirkan Bara dan Kusuma.


Dizza menatapnya dengan kesal


"Dizza, Kakak harus menghubungi Bara."


"Untuk apa? Ibunya pasti sudah mengadu yang tidak-tidak."


"Ayah. Bagaimana ayah?" tanya Keira khawatir.


Dizza duduk tegak di tempat tidur, saat itu Nada masuk ke dalam kamar.


"Mengapa ayah bergantung pada Wijaya?" tanya Dizza.


"Karena perusahaan kita akan perlahan bangkrut kalau Wijaya menarik investasinya."


"Bukankah Grup Oshi sudah berinvestasi?"


Dizza teringat bahwa Evan adalah salah satu petinggi Grup Oshi.


"Kak Evan saja nggak memaksa Kakak menikah dengannya."


Keira sedang tidak ingin bercanda. Ia benar-benar gelisah.


"Kak, kalau kita menemukan investor lain, apakah kita bisa bebas dari Wijaya sinting itu?"


"Sulit menemukan investor di saat seperti ini, Dizza. Para pemegang saham sudah memutuskan untuk bekerjasama dengan Wijaya. Mereka akan sangat marah kalau Wijaya mengundurkan diri."


Dizza dan Nada terlihat berpikir.


"Wijaya itu bermain curang." Tiba-tiba Adrian muncul di kamar.


"Kalau kita menemukan permainan kotor Wijaya, para pemegang saham pasti memaklumi alasan Kak Keira memutuskan hubungan dengan Wijaya."


"Bagaimana kamu tahu?" tanya Keira bingung.

__ADS_1


"Aku ... Aku sebenarnya menyelidiki keluarga itu."


__ADS_2