
Nada yang masih dalam keadaan sadar menendang-nendang Dizza dan Keira. Keduanya akhirnya tersadar dan segera membuka lakban dan ikatan di tangan Nada.
"Kamu nggak apa-apa?" tanya Keira panik.
Nada memandang keduanya.
"Yang mereka pukul itu kalian, bukan aku!" Nada menjawab kesal. Keira memeluk Nada.
"Maafkan Kakak."
"Hei, lalu Kakak nggak minta maaf padaku?" Dizza protes.
Keira tidak menjawab. Ia memandang gudang tempat mereka disekap.
"Ini pasti ayah." Keira menggumam.
"Ini ancaman ayah?" tanya Dizza.
Keira terduduk lemas lalu mengangguk.
"Apalagi ancamannya?" tanya Dizza.
Keira memandang Nada.
"Kakak bersedia menikah dengan Bara karena hal ini, kan?" Nada bertanya.
Keira tidak menjawabnya lagi. Ia larut dalam pikirannya sendiri. Ia takut ayahnya benar-benar akan mencelakai Zea.
"Dengar, kalau kamu selamat hari ini, pergi dan jangan kembali lagi." Keira memegang tangan Nada dengan panik.
"Tidak mau!" Nada membantah.
"Lebih baik mati di sini hari ini. Untuk apa aku hidup? Untuk melihat Kakak mati perlahan-lahan?"
"Kakak nggak akan mati, bodoh!" Keira frustasi.
"Kita semua akan mati!" Dizza menyela. Ia memegang erat tangan Keira. Seorang pria masuk ke dalam ruangan. Ia mengamati wajah ketiga gadis di hadapannya lalu tertawa sendiri.
"Betapa bodohnya kalian!" Pria itu mengumpat.
"Siapa yang menyuruhmu? Apakah ayah?" tanya Dizza.
Pria itu mengernyitkan dahi.
"Apa maumu?" tanya Nada.
"Bagaimana ini, tadi anak buahku salah tangkap, ternyata kamu malah menyerahkan diri." Ia tertawa.
Mereka saling berpandangan.
"Kami sebenarnya hanya membutuhkan Nona yang bernama Keira. Bagaimana ini?" Pria itu mondar-mandir.
"Mengapa ayah menculik Kakak?" tanya Dizza heran.
"Ayah?" tanya pria itu lagi.
"Kamu anak Wijaya?"
"Wijaya?!" Keira, Dizza, dan Zea berpandangan.
"Ya, Ny Wijaya meminta kami membawa Nona Keira."
"Brengsek!" Dizza mengumpat.
"Wanita gila!" Nada ikut mengumpat.
Keira berusaha menenangkan kedua adiknya.
"Mengapa ia ingin membawaku dengan cara seperti ini?"
"Tapi mengapa kalian menculik Nada?" tanya Dizza heran.
"Sudah kubilang kami salah tangkap. Anak buahku sudah mengawasi kalian sejak hari ulang tahun Nyonya. Nyonya hanya memberi perintah 'Bawa gadis yang memakai jepit berlian'. Bukankah kamu yang memakainya?" Pria itu menunjuk Dizza.
__ADS_1
"Kami mengawasimu beberapa waktu, tapi malah menemukan gadis yang ini di tempat itu."
Nyonya Wijaya tak menyadari Keira dan Dizza menukar jepit mereka.
"Kamu salah, aku yang dia cari." Keira mengaku.
"Ah, baiklah, kalau begitu kita selesaikan sekarang." Pria itu menyeret Keira.
"Heeeeiii apa mau kalian? Mau dibawa ke mana?" Nada dan Dizza berteriak-teriak tapi pria itu tak peduli.
***
"Kamu pasti terkejut, maafkan aku. Mereka tidak menyakitimu, kan?" Ny Wijaya bicara sambil memeriksa wajah Keira. Ia melihat dahi Keira sedikit lecet, Ny Wijaya berteriak marah.
"Siapa yang membuatnya terluka? Aku sudah bilang jangan menyakitinya! Anakku
bisa marah kalau melihatnya."
Ny Wijaya menampar wajah preman di hadapannya. Keira memandang calon ibu mertuanya dengan ngeri.
"Apa mau Ibu?"
"Ibu? Aku bukan ibumu! Dan tak akan menjadi ibu mertuamu!"
Keira terdiam mencoba memahami kelakukan aneh calon mertuanya.
Ny Wijaya dan Keira mendengar teriakan-teriakan Dizza dan Nada.
"Siapa itu?" tanyanya heran. Pria yang ditampar menjelaskan. Ny Wijaya kembali murka.
"Bagaimana bisa kalian membawa saksi?! Mereka tidak boleh menyebarkan berita ini?! Mereka harus dibungkam!" Ny Wijaya panik.
"Jangan sentuh mereka!" Keira berteriak marah.
"Tapi mereka akan membuka mulut."
"Mereka tidak akan berani. Tolong jelaskan apa keinginan ibu?"
Keira terdiam. Ia tak bisa menjawab. Tiba-tiba terdengar suara tembakan. Dizza dan Nada berteriak panik, Keira ikut panik. Ny Wijaya segera menarik Keira dan menjadikannya tameng. Pria yang bersama mereka perlahan membuka pintu.
Doooor!
Pria itu jatuh karena kakinya tertembak.
Seseorang masuk ke dalam ruangan dengan wajah dingin.
"Ayah?" Keira memandang Kusuma yang sedang berdiri memegang pistol.
Ny Wijaya menghela napas lega lalu melepaskan Keira.
"Tuan Kusuma, kamu menyelematkan kami. Preman-preman ini menculik kami ...."
"Ayah, Nyonya Wijaya ...."
"Ayo kita pulang." Kusuma menarik tangan Keira.
"Tapi ... Ayah ...."
Kusuma masih menarik Keira meninggalkan Ny Wijaya dan mempertemukannya dengan Dizza dan Zea. Ketiganya berpelukan.
"Berpura-puralah hari ini tidak pernah terjadi apa pun."
"Apa?!" Dizza berteriak marah.
"Wanita itu gila ...."
Kusuma mengangkat pistolnya, lalu ia menodongkannya pada Nada. Dizza dan Keira terperanjat.
"Ayah, jangan!" Dizza dan Keira memohon.
Kusuma mengeraskan hatinya.
"Bukankah kamu tahu Keira, siapa ayah anak ini?" tanya Kusuma. Keira memegang kaki Kusuma.
__ADS_1
"Ayah kumohon jangan lakukan ini, aku sudah melakukan semua keinginan Ayah. Aku berjanji nggak akan menemuinya lagi, tolong lepaskan dia."
Keira menangis, Nada dan Dizza ikut menangis.
"Biarkan Kak, kalau aku mati, Kakak bebas menikah dengan siapa saja."
"Apa Kakak kira aku bisa hidup kalau Kakak menikah dengan anak wanita gila itu?"
"Dia tidak akan menikah dengan anakku. Dia hanya akan menjadi wanita simpanan Bara." Ny Wijaya berkata dengan tegas.
"Bukankah Tuan Kusuma sudah setuju?"
Dizza memandang Tuan Kusuma dengan sangat marah.
"Ayah, dia putri kandungmu ..." Dizza mengingatkan. Nada terkejut mendengarnya. Putri kandung?
"Apa Ayah harus setega ini memperlakukan Kakak? Apa hanya demi perusahaan Ayah mengorbankan anak kandung? Mengapa Tuhan memberi anak pada orang seperti Ayah?" Dizza menangis.
Kusuma terdiam, Keira masih memegang kaki Kusuma.
"Kumohon Ayah lepaskan ... aku akan melakukan segalanya ... Menikah atau menjadi simpanannya aku akan melakukannya ...."
"KAKAK!" Nada dan Dizza berteriak marah.
Keira terisak, kepalanya pening karena penuh oleh banyak pikiran. Kusuma bersiap menembak Nada yang menatap Keira dengan sedih.
Ny Wijaya berlari keluar gedung. Ia tak ingjn ikut campur urusan keluarga Kusuma, ia sudah cukup puas menegaskan kemauannya.
"Ayahnya menodai ibumu, memisahkan kalian dari Ayah bertahun-tahun, ayahnya membuat kalian menderita hidup berpindah-pindah, ibumu tidak seharusnya melahirkan dan membesarkan anak ini."
"Apa maksudnya?" Nada bertanya dengan heran.
"Ayah ...." Keira masih memohon.
Nada dan Dizza mencoba memahami setiap ucapan Kusuma.
"Anak laki-lakinya juga menodaimu, Keira. Apa kamu tidak ingat? Bagaimana bisa kamu masih menyebutnya adikmu?" Kusuma bersiap menembakkan peluru ke arah Nada. Keira bangkit lalu berdiri di depan Nada, melindunginya
"Keira, minggir!"
"Dia adikku! Apa pun yang dilakukan ayahnya atau kakaknya, dia tetap adikku!" Keira bersikeras.
"Keira!"
"Semua itu bukan salah Zea. Dia bahkan tidak meminta dilahirkan." Keira menyeka air matanya.
"Aku sudah mengatakan akan melakukan semua permintaan Ayah, apa itu belum cukup?"
"Baskoro memang kejam, Hans juga kejam. Tapi siapa yang memulai kekacauan itu? Apakah Zea? Dia bahkan tidak tahu apa pun! Mungkin Ayah kesulitan melupakan masa lalu itu karena terus melihat wajahku."
Keira perlahan mendekati Kusuma.
"Semua ini nggak akan pernah berakhir, kan?" tanya Keira masih sambil terisak.
"Keira menjauh!" Kusuma mundur tapi Keira malah mendekat dan meletakkan pistol Kusuma di dahinya.
"Bunuh saja aku Ayah!"
"Kakak.....!" Dizza dan Nada berteriak histeris.
"Kalau Ayah ingin membunuhnya, bunuh aku sekalian. Aku nggak akan sanggup melihatnya mati, biar aku lebih dulu mati."
Keira menatap Kusuma dengan sedih.
Kusuma meneteskan air mata. Ia menarik pelatuk pistol.
Dizza dan Nada berteriak-teriak.
Keira memejamkan mata.
Ketika kau tak sanggup berlari, kau boleh berhenti.
Kalau kau sudah lelah, kau boleh berhenti.
__ADS_1