Nona Muda Pura-pura Miskin

Nona Muda Pura-pura Miskin
Berangkat ke Desa


__ADS_3

Malam itu, Yuki hanya bisa mengerjap-ngerjapkan matanya gara-gara kejadian di kamar Rangga. Tiduran, duduk, berjalan mondar-mandir dengan tersenyum-senyum.


Apa Mas Rangga juga suka sama aku, ya?


Gadis itu salah tingkah sendiri di dalam kamarnya. Puluhan panggilan dan sms dari Ferry tak diperhatikannya.


Di lain kamar, seorang lelaki sedang merenungi apa yang hampir dia lakukan. Dia menutup wajahnya. Rasa malu dan bersalah menyergapnya malam itu.


Bisa-bisanya aku hampir aja khilaf melihat gadis itu! Tol*lnya kamu, Rangga!


Lelaki itu pun tak bisa memejamkan mata menyadari hal bodoh yang hampir saja ia lakukan.


Hingga jam tiga pagi, mereka baru bisa memejamkan mata.


Keesokan harinya, suara ayam berkokok membangunkan Yuki yang masih sangat mengantuk. Kedua matanya seolah masih lengket saja. Namun, rasa tanggung jawab mengalahkan segalanya. Dia menggeliat, lalu duduk dan melipat selimut. Dia meraih ponselnya, membaca puluhan sms dari Ferry yang menanyakan apa yang sedang dia lakukan. Pertanyaan klasik untuk seseorang yang sedang melakukan pendekatan.


"Apa Kak Ferry menyukaiku, ya?"


Gadis itu mengabaikan pikiran serta pesan-pesan itu. Kemudian dia membersihkan kamarnya sendiri, lalu bergegas keluar dari kamar untuk mandi lalu membersihkan dapur seperti biasanya.


Saat Yuki menyapu lantai, Rangga pun terlihat terburu-buru untuk masuk ke kamar mandi. Dia nampak berusaha menghindari Yuki.


Di ruang makan, Rangga tak kelihatan juga. Dia berangkat kuliah pagi-pagi benar.


Yuki jadi merasa nggak enak dan menyesal karena telah meminjam laptop dan printer Rangga. Dia merasa yang mengakibatkan semua menjadi kaku seperti ini.


Hingga seminggu berlalu, Yuki tak pernah bertemu untuk berbincang dengan Rangga, karena lelaki itu setiap hari berangkat pagi dan pulang hingga malam. Pertanyaan Bu Yayah pun tak dijawabnya dengan jelas.


"Ngga, kok setiap hari pulang malam?" tanya Bu Yayah.


"Iya, Bi. Ada kegiatan kampus."


Itu saja jawabannya. Sampai esok hari, Yuki berpamitan pada Bu Yayah untuk melakukan kegiatan bakti sosial di desa dan membutuhkan waktu untuk menginap.


"Ini surat dari fakultas untuk kegiatannya, Bu."


Yuki menyodorkan selembar kertas berisi keterangan tempat dan jadwal kegiatan bakti sosial pada wanita tambun yang suka berdaster itu. Bu Yayah menerimanya dan memeriksa tulisan dalam kertas itu.


"Jadi kamu harus menginap satu hari?" tanya wanita itu.


"Iya, Bu."

__ADS_1


"Baiklah, tapi nanti kupotong gaji, ya?"


Aaaaaarghhh!!


"Ya, Bu."


Yuki pasrah saja. Bu Yayah menyerahkan kertas itu kembali ke tangan Yuki. Gadis itu menerimanya.


"Terima kasih atas ijinnya, Bu," ucap Yuki.


Potong gaji nggak apa-apa lah. Setidaknya aku bisa mengikuti kegiatan fakultas.


Kegiatan itu benar-benar menjadi kegiatan wajib untuk mahasiswa baru. Akan ada beberapa kakak semester yang mendampingi mereka sebagai panitia dan beberapa mahasiswa seangkatan Yuki, yaitu keempat gadis geng angkuh itu. Entah bagaimana Queensya bisa jadi ketua panitianya. Mungkin karena uangnya.


Minggu lalu uang sebanyak dua juta rupiah telah benar-benar dibayarkan oleh Ferry. Jadi, Yuki merasa bebas mengikuti kegiatan itu, meski dia anggap semua itu adalah utangnya pada Ferry.


Gadis itu melangkahkan kaki dengan ringan, membawa beberapa baju ganti, peralatan mandi yang dia beli dari toko Bu Yayah menggunakan gajinya. Pagi itu dua buah bis telah siap di pelataran kampus. Bis-bis itu yang akan membawa mereka ke desa, tempat pelaksanaan bakti sosial.


Yuki mempercepat langkahnya menuju ke ruang kuliah. Rasanya tidak sabar untuk mendatangi desa itu. Dia membayangkan sebuah desa yang sejuk dan asri, dengan banyak pepohonan dan tumbuhan di sekitar, serta beberapa penduduk yang berada di sawah seperti yang dia lihat di televisi.


Ruang kuliah telah ramai dengan semua mahasiswa dan mahasiswi yang berkumpul membahas acara itu, tak biasanya mereka berangkat awal. Namun, sepertinya mereka excited dengan kegiatan itu.


"Kiki! Sini!" Dhea memintanya untuk mendekat pada gadis itu.


"Udah. Ini, aku bawa banyak cemilan. Nanti kita sekamar ya? Mmm ... satu kamar ada tiga orang, kita sekamar lagi sama Nana, tapi dia belum datang."


Dhea celingukan mencari Nana, mahasiswi yang juga satu ruang kuliah dengan mereka. Nana, adalah salah satu mahasiswi seangkatan dan sefakultas dengan Yuki dan Dhea. Namun, mereka belum begitu mengenal dekat.


Sejenak kemudian, seorang gadis berambut panjang dengan wajah oriental, masuk ke ruangan.


"Nah, itu Nana. Nana!" panggil Dhea.


Gadis itu menoleh lalu tersenyum pada Yuki dan Dhea. Dia berjalan ke arah mereka.


"Hai," sapa Nana.


"Aku Kiki," ucap Yuki mengulurkan tangan pada Nana.


"Aku Nana," balas gadis itu menyambut uluran tangan Yuki.


"Nanti kita satu kamar," ujar Yuki lagi.

__ADS_1


"Iya, senang berkenalan dengan kalian," kata Nana.


Kelas mendadak senyap, mereka melihat Queensya dan geng masuk ke kelas dengan beberapa mahasiswa semester tiga.


"Perhatian semuanya, hari ini kita akan berangkat pukul delapan tepat. Kalian udah membaca kertas edaran pengumuman baksos, 'kan? Nah, daftar regu kalian sudah tertera di dalam kertas itu. Silakan nanti setelah sampai di rumah penginapan, regu kalian harus sekamar," jelas Queensya.


Semua mahasiswa dan mahasiswi mengangguk.


"Kalian mengerti, kan? Ayo sekarang kita mulai persiapan. Masuk ke bis masing-masing sesuai dengan daftar!"


Yuki merasa lega karena dia tidak satu bis dengan Queensya dan geng. Dia menjadi satu bis dengan mahasiswa dengan ekonomi menengah. Jika mungkin ada tiga bis pengelompokan, pasti Queensya akan menaruh namanya di bis terakhir yang berisi mahasiswa dengan ekonomi kelas bawah.


Mereka bertiga masuk ke bis, lalu mencari duduk. Yuki duduk di sebelah Dhea, dan Nana berada di belakang mereka.


"Kamu nggak apa-apa duduk sendiri, Na?" tanya Yuki.


"Santai aja," ujar Nana.


Semua mahasiswa telah berada di dalam bis. Karena jam menunjukkan pukul delapan, maka perjalanan dimulai. Bis melaju menuju ke desa, tempat dimana berlangsungnya kegiatan bakti sosial. Perjalanan ke desa menghabiskan waktu selama satu setengah jam.


Akhirnya, mereka telah sampai di desa yang dituju. Seperti yan dibayangkan oleh Yuki, desa itu memang masih sangat asri dan sejuk. Banyak tumbuhan dan tanaman di sekitar situ, dikelilingi oleh lahan perkebunan cengkeh dan beberapa tanaman sayur. Sepertinya nanti siang pun masih akan sejuk suasananya. Ada hutan pinus di sebelah desa itu. Jauh sekali dengan keramaian kota. Tak ada asap kendaraan bermotor. Jika ada, hanya ada asap sisa hasil pembakaran sampah.


Yuki dan teman-temannya menghirup udara segar dalam-dalam, berasa kaya akan oksigen.


"Semuanya!"


Suara khas seseorang yang Yuki kenal terdengar dari sebuah megaphone, Kak Ferry! Rupanya dia naik bis satunya. Yuki mengira itu pasti diatur oleh kelompok Queensya, supaya Kak Ferry dekat dengan Anggi. Namun, buatnya tak jadi masalah sedikit pun.


"Semuanya mohon untuk berkumpul di halaman! Akan segera kita adakan briefing!" ujarnya.


Para peserta segera berkumpul di halaman penginapan yang akan digunakan untuk bermalam para mahasiswa.


"Berbaris yang rapi ya!" lanjut Kak Ferry.


Mereka semua berbaris dengan tertib sambil berbicara satu sama lain. Saat itu muncullah dua bis dari arah yang sama dengan bis-bis kampus Yuki. Sebentar Kak Ferry mengatur barisan, dengan keempat anggota geng Queensya yang melipat tangan di sebelahnya. Matanya menganggap para peserta adalah bawahan mereka, menambah rasa konyol dalam hati Yuki mengingat otak mereka yang di bawah standar.


Queensya menatap ke arah bis yang datang. Kak Ferry menghentikan arahannya karena semua mahasiswa ikut memperhatikan bis-bis yang datang.


Kedua bis itu parkir di tempat yang sama dengan parkiran kampus Yuki. Sebentar kemudian, para mahasiswa pun turun dari bis-bis itu. Ada seseorang yang disambut oleh Queensya. Tanpa rasa malu dan canggung, gadis itu mendekat ke arah pintu bis, lalu menggandeng tangan seorang lelaki, Putra!


Cih! Kalian sukses membuatku muak!

__ADS_1


Yuki melengos. Namun, sebentar kemudian dia terperanjat sekaligus senang saat melihat seseorang turun dari salah satu bis itu.


Mas Rangga!


__ADS_2