Nona Muda Pura-pura Miskin

Nona Muda Pura-pura Miskin
Bagai Petir di Siang Bolong


__ADS_3

Tampaknya orang tua Queensya sedang menawarkan kerjasama perusahaan pada Tuan Bhanu di saat itu, karena setiap ingin bertemu, selalu saja pria nomor satu itu tidak di tempatnya. Sekarang lah kesempatan untuk menawarkan kerja sama. Bukankah itu sangat menguntungkan jika pengusaha nomor wahid itu menyetujuinya?


Para undangan telah mulai berdatangan. Queensya bertemu dengan gengnya. Mereka tak ingin berkumpul dengan orang-orang dari kalangan biasa. Semua orang boleh datang. Hanya saja, tak semua orang merasa percaya diri untuk datang ke gedung mewah itu. Sebagian memilih untuk menonton siaran langsung dari rumah masing-masing.


Dhea dan Nana pun datang beserta keluarganya.


"Sayang sekali, Kiki nggak bisa dihubungi, ya? Kasihan dia melewatkan acara akbar ini," ujar Nana pada Dhea yang mengangguk-angguk setuju.


*


"Ayo Rangga! Nanti kita terlambat!" seru Nyonya Selly.


Rangga masih mondar-mandir memakai tuxedo-nya sambil mencoba menelepon seseorang. Siapa lagi kalo bukan Yuki. Dia merasa frustasi, lalu membiarkan ponselnya di atas tempat tidur dan duduk di tepi ranjang, menutup wajahnya. Sebuah dress cantik telah dia siapkan. Namun, si gadis tak juga mengangkat panggilan telepon.


"Kalian duluan saja lah!" suruh Rangga pada kedua orang tuanya yang telah bersiap di depan.


"Ya udah, Ma. Ayo, kita harus segera berangkat! Sepuluh menit lagi acara akan mulai!"


"I-iya, Pa! Rangga, nanti nyusul, ya!!" seru Nyonya Selly.


"Iya!!" teriak Rangga.


Entah ingkar atau tidak, mereka tak memperdulikan hal itu dan meninggalkan anak lelakinya dengan tergesa-gesa.


*


Suasana pesta sudah sangat meriah. Gedung berukuran kurang lebih tujuh ratus meter persegi itu, dengan luas halamannya berjumlah satu hektar telah dihias dengan sangat indah. Banyak sudut yang cantik untuk ber-swafoto. Hingga gadis-gadis anak pejabat, pengusaha serta artis bahkan warga sekitar dan orang biasa yang mau datang pun betah untuk berlama-lama di sana.


Perias memasang jepit rambut yang berkilauan indah di rambut Yuki yang dibuat ikal, menjuntai dan sedikit dijepit ke atas. Sungguh elegan berpadu dengan dress putihnya. Warna lipstik yang lembut menghiasi bibirnya dengan sapuan make up yang tak terlalu tebal.


Yuki mengambil kotak kecil, lalu memakai cincin berlian pemberian Rangga.


"Cincinnya cantik, pemberian seseorang, ya?" tanya perias khusus sambil membenahi rambut Yuki.


"Iya, dari seseorang yang spesial."


"Mana yang spesial? Diundang nggak?" tanya Nyonya Marlina Moon yang tiba-tiba telah berada di sampingnya.


"Ish, Mami, berasa tukang parkir aja tiba-tiba dateng padahal tadi nggak ada! Nggak diundang, tapi entahlah, dia pengusaha, mungkin dia dan keluarganya datang."


"Siapa sih??"

__ADS_1


"Mami kepo," ujar Yuki.


Wanita itu mendengus lalu melihat jam tangannya.


"Ah, udah waktunya! Kamu segera bersiap, ya? Abis ini pembawa acara akan membuka acara!"


"Udah kok, Nyonya!" ujar si perias.


Asistennya yang berjumlah tiga orang itu pun telah memberesi semua peralatan di kamar rias.


"Oh, ya udah. Yuk!" ajak Nyonya Marlina pada anaknya.


"Sebentar, Mi, aku gugup sekali!" kata Yuki.


"Ah, biasa aja, jangan gugup! Harus terbiasa dengan sorotan!"


"B-bukan gitu, Mi, tapi ...."


"Nggak ada tapi-tapian!"


Wanita itu menarik lengan anak gadisnya yang telah bertambah cantik dengan riasan yang natural dan elegan.


Mereka berjalan ke belakang rumah yang menghubungkan dengan belakang gedung.


"Ayo masuk!" ujar Nyonya Marlina.


"Nanti kalo saatnya tiup lilin!"


Nyonya Marlina menghela napas lalu berjalan ke depan dan mengikuti arahan pembawa acara yang sedang membuka acara.


Bersamaan dengan itu, Tuan Lee, Nyonya Selly tiba. Begitu juga Pak Hendra dan kedua anaknya datang tergopoh-gopoh. Undangan yang tertulis juga menyebutkan namanya, istri beserta kedua anaknya. Sebenarnya Pak Hendra tak habis pikir dengan itu. Namun, dia datang juga ke pestanya.


"Nah, setelah membuka acara dengan doa. Ini acara santai, ya? Kalian boleh mengambil makanan dan minuman yang tersedia, semua untuk kita!!"


Suara alunan lagu terdengar begitu meriah. Semua orang merasa takjub dengan acara itu. Namun, mereka pun bertanya-tanya kenapa anak Tuan Bhanu tak kunjung keluar dari belakang panggung? Sementara kedua orang tuanya telah duduk di pinggir panggung.


"Marilah saatnya acara tiup lilin! Kita sambut dengan meriah Nona Yuki Amaranggana!!"


Yuki menyesal kenapa juga dia mau merayakan ulang tahunnya. Saat pembawa acara menyebutkan namanya serasa dipanggil oleh dosen karena dia salah. Berdebar-debar.


"Non! Itu dipanggil!" bisik Sumi.

__ADS_1


"Iya, aku dengar!"


Yuki berdiri dan berjalan pelan, mendekati ke panggung. Hingga sang pembawa acara memanggil untuk yang kedua kalinya, membuat para hadirin yang datang riuh berbisik-bisik.


Yuki berhenti sejenak, menarik napas dalam-dalam kemudian mengembuskan perlahan lalu melanjutkan langkah ketika merasa lebih tenang.


Semua orang yang ada di ruangan itu seketika bungkam saat melihat seorang putri cantik datang dari belakang dan naik ke panggung dan mengangguk pada semua hadirin.


Hening.


Semua menatap tak berkedip, membuat Yuki canggung dan hanya berucap, "Halo semua!"


Suasana masih hening dan tak ada satupun yang bergerak cepat. Semua mata tertuju pada Yuki, hingga terdengar suara gelas pecah yang terlepas dari tangan Queensya, tapi tak juga mengubah kekagetan beberapa dari mereka.


Prang!


Gadis itu beserta ketiga pengikutnya melongo melihat siapa yang ada di atas panggung. Remahan kue yang ada di mulut mereka tak mampu lagi mereka telan. Rasanya tiba-tiba pahit sekali. Sepahit wajah mereka saat itu.


"Aku nggak percaya, mataku pasti minus. Aku pasti mabuk!" ujar Queensya meraba-raba tembok karena kepalanya seketika terasa pening. Namun, tak ada yang memperdulikannya karena masih terkesima dengan kenyataan di hadapan mereka.


"Nggak ada alkohol, Nona!"


Entah siapa menanggapi kata-kata Queensya dengan pelan.


Begitu pun Candra, "Gawat ...."


Hanya itu yang terucap dari mulutnya. Wajahnya pucat pasi seketika.


Nana dan Dhea pun saling berpandangan. Seperti keempat geng Queensya, mereka seketika terasa sulit menelan makanan yang terasa lezat, tapi kaget mereka bukan takut atau kecewa. Namun, takjub atas kenyataan itu.


"K-kita ... selama ini ... temenan ... sama ... anak konglomerat ... nomor satu?" ujar mereka bersamaan dan saling berpandangan. Kue yang mereka pegang berhamburan.


Mulut Tuan Lee dan Nyonya Selly menganga dan mata mereka terbelalak melihat bahwa kekasih anaknya berada di depan panggung dan diakui sebagai anak satu-satunya pengusaha nomor wahid yang mereka takuti dengan kekuasaan tiada tandingannya.


"Pa ... itu ... itu ... Kiki pacarnya Rangga, kan?"


Tuan Lee tak menjawab, ia tak bisa berucap apapun. Bibirnya tak bisa bergerak, lidahnya terasa kelu. Seperti terkena stroke. Dia tak mampu mengedipkan mata atau bergerak.


"Kak Kikiii!!!"


Tiba-tiba seorang gadis kecil berlari dari kerumunan. Pak Hendra yang masih ikut terkejut karena melihat asisten pemasak opor kesukaannya sedang berdiri dengan anggun di atas panggung, membiarkan anak gadisnya berlari ke depan.

__ADS_1


Yuki membiarkan Aurel mendekapnya, dia mengelus lengan gadis kecil itu.


__ADS_2