
Rangga akan masuk ke penginapan. Telah lama Nana mengobrol hal yang tak jelas padanya dan membuat bosan. Setelah selesai dan gadis itu pergi ke kamarnya, Rangga berdiri sebentar mengecek jika ada mahasiswa baru yang berkeliaran di luar penginapan. Mahasiswa kampus elit ternyata sudah berada di dalam penginapan semua. Mereka tak satu pun tertarik untuk keluar dari kamar.
Tiba-tiba Rangga mendengar sebuah teriakan, dia terkejut mendengar seseorang meminta pertolongan dari arah hutan pinus di belakang penginapan. Lelaki itu segera berlari ke sumber suara. Dia menyalakan senternya ke arah hutan pinus.
"Kenapa, Ngga?" Tepukan di pundak Rangga mengagetkan lelaki itu ketika sedang mengamati hutan pinus. Sonny, sahabatnya yang juga bertugas sebagai tim medis mendekatinya.
"Kamu tadi dengar ada yang teriak, Son??" tanya Rangga.
Sonny mengangguk, "Iya, aku baru buang air kecil di kamar mandi belakang penginapan, dengar suara teriakan seorang cewek. Makanya aku ke sini. Kita kan tim medis, takutnya mahasiswa baru jatuh di dalam hutan pinus, tapi apa mungkin? Suara itu tak terdengar lagi, Ngga!"
"Ah, apa iya hanya perasaan kita aja?" ujar Rangga ragu.
"Ya udah, yuk kita check dulu mahasiswa-mahasiswa baru itu dengan para panitia. Apa udah lengkap di dalam?" ajak Sonny.
Rangga terdiam. Hatinya berkeyakinan lain. Dia merasa harus mencari seseorang yang jatuh di bawah hutan pinus. Dia berjalan sambil menerangi hutan.
"Sebentar, aku akan memeriksa ke dalam hutan."
Sonny menghela napas, "Baiklah, aku akan menyuruh panitia aja buat check absensi." Dia menelepon temannya di dalam penginapan sambil menunggu Rangga.
Sebentar kemudian Rangga berteriak, "Son! Itu ada orang, Son!" seru Rangga. Matanya terbelalak saat melihat tubuh seseorang tergeletak di bawah hutan.
"Mana?? Mana, Ngga!!" teriak Sonny. Dia berlari ke dalam hutan dan ikut melongok ke bawah.
"Tuh! Sepertinya dia terjatuh!"
"Oh, iya! Rangga, kamu tunggu di sini. Aku panggilkan teman-teman agar datang membawa peralatan!"
"Oke! Cepat, ya? Aku mau coba turun!" ujar Rangga. Jiwa penolongnya meronta-ronta.
"Hati-hati, Ngga!" teriak Sonny sambil berlari ke dalam penginapan.
Rangga menunjukkan jemarinya, ibu jari dan telunjuk yang disatukan pada Sonny, lalu menuruni jalan yang tidak licin. Cukup tinggi juga. Namun, dia merasa harus turun.
Setelah berhasil sampai di bawah, Rangga segera membalikkan tubuh gadis yang terjatuh itu.
"Kiki??!!!" ujarnya tak percaya. Pelipis gadis itu telah basah oleh darah yang mengalir karena kepalanya terantuk batu.
Rangga memeluk tubuh Yuki. Menepuk-nepuk pipinya, tapi gadis itu belum juga terbangun. Rangga mengecek denyut nadi gadis itu.
__ADS_1
"Syukurlah, masih terasa. Bangunlah Kiki ...."
Pertolongan segera datang. Sonny bersama panitia lain dari kampusnya membawa peralatan untuk mengangkat Rangga dan Kiki. Rangga menggendong Kiki ke tandu. Mereka sangat sigap, hingga keduanya telah berada di atas kembali.
"Rangga, kamu kenal?" tanya Sonny.
"Iya! Nanti aku jelaskan! Ada ambulans, nggak?" tanya Rangga cemas.
"Kita harus menunggu-...." Ucapan Rio, panitia kampus elit terputus saat Rangga bergegas menggendong gadis itu berlari ke mobil Sonny, yang kebetulan dibawa untuk keperluan darurat.
"Son! Bantu aku bawa dia ke rumah sakit!! Cepetan!!"
"I-iya!"
Sonny segera berlari ke arah mobilnya, dan membukakan pintu mobil. Rangga meletakkan Kiki di jok belakang, lalu mereka berdua masuk dan melajukan mobil ke rumah sakit.
"Rio! Kamu kasih tau ke panitia kampus X di penginapan sebelah kalo ada mahasiswinya yang dibawa ke RS terdekat!!" teriak Rangga pada Rio yang termangu tak tau harus berbuat apa. Dia segera menganggukkan kepalanya lalu mengajak yang lain untuk memberi tahu pada panitia kampus X.
Sesampainya di rumah sakit, Rangga segera keluar dari mobil lalu menggendong Yuki masuk ke rumah sakit. Sonny tertegun memandang kecemasan sahabatnya itu.
"Cemasnya udah kayak mau lahiran ... ck ... ck ... ck ...." gumamnya.
Seorang perawat langsung membawa brankar saat melihat Rangga menggendong Yuki, lalu menyuruh Rangga untuk membaringkan gadis itu di sana. Mereka membawa Yuki untuk diperiksa.
"Ngga, kamu belum cerita siapa gadis yang kita tolong ini."
"Eh, dia asisten di rumah bibiku. Rumah yang aku tinggali selama kuliah ini," jawab Rangga.
"Oh, tapi cemasmu melebihi seorang suami yang menunggu istrinya melahirkan," ujar Sonny jujur melihat perilaku Rangga pada gadis itu.
Rangga hanya tersenyum kecut.
"Jangan-jangan kamu suka pada dia? Dia manis juga lho!" goda Sonny.
Belum menjawab sahabatnya itu, dokter telah keluar dari ruang periksa. Rangga segera menanyakan keadaan Yuki pada dokter.
"Gimana keadaan gadis itu, Dok?"
"Anda yang mengantarnya kemari?" tanya dokter.
__ADS_1
"Iya, Dok!"
"Dia cedera kepala ringan. Karena benturan itu, pasien bisa kehilangan kesadaran selama beberapa detik atau menit. Untung segera dibawa ke sini dan tak mengenai bagian kepala dalam, jadi tidak membahayakan. Biar pasien dipindahkan dulu di ruang perawatan. Kami telah menginfusnya, dia harus dirawat beberapa hari dulu di sini. Nanti jika pasien sudah sadar, baru kami melakukan pemeriksaan neurologis untuk mengetahui fungsi penglihatan, pendengaran dan keseimbangannya. Pasien harus beristirahat dulu," jelas dokter.
Rangga menghela napas, setidaknya penjelasan dokter agak melegakan.
"Oh, syukurlah. Makasih, Dok!"
Dokter mengangguk, lalu meninggalkan Rangga. Yuki telah dibawa ke sebuah kamar rawat. Rangga baru akan masuk ke bangsal, seseorang datang menepuk pundaknya.
"Bro, makasih ya? Kamu 'kan yang membantu kami? Karenamu, mahasiswi kami bisa dibawa secepatnya ke rumah sakit untuk mendapatkan pertolongan. Aku Ferry, ketua BEM fakultas Universitas X."
Ferry mengulurkan tangannya yang disambut oleh Rangga dan Sonny.
"Oh ya, tak masalah," jawab Rangga.
Tiba-tiba ponsel Sonny berdering.
"Halo," jawabnya. Seketika wajahnya berkerut mendengar apa yang dikatakan oleh si penelepon.
Dia menatap Rangga yang juga menatapnya.
"Ya, baik. Kami akan segera kembali!"
Setelah menutup telepon, Sonny mengajak Rangga kembali ke penginapan karena keadaan darurat.
"Ngga, para mahasiswa mulai terserang sakit malam ini. Ayo, Ngga! Kita balik dulu, kita harus bertanggung jawab dengan kesehatan mereka!" ajak Sonny.
Rangga mengangguk, merasa bertanggung jawab akan tugasnya, meski berat meninggalkan Yuki yang sedang tak sadarkan diri. Namun, dia terpaksa harus melakukan tugasnya. Dia mendekati Ferry.
"Tolong jaga dia, ya? Aku mau balik ke penginapan. Ada hal penting yang harus kami lakukan."
Rangga menepuk bahu Ferry, lalu pergi berlalu dari depan kamar yang diliriknya sebentar lewat kaca pintu. Masih terbujur seorang Yuki yang masih juga memejamkan matanya di sana.
Kiki, cepatlah sadar. Aku akan menjemputmu besok.
Lantas Rangga bersama dengan Sonny berjalan cepat ke parkiran mobil.
Ferry masuk ke kamar perawatan. Dia perlahan mendekati Yuki yang masih belum sadar.
__ADS_1
Ferry menatap gadis itu, "Cantik juga, seperti putri salju yang sedang tidur!" gumamnya pelan.
Tiba-tiba tangan Yuki bergerak, lalu matanya mulai terbuka.