
Waktu begitu cepatnya berputar hingga sampailah saat malam pernikahan kedua anak pengusaha besar yang akan diselenggarakan resepsi besar-besaran. Sebenarnya Yuki tak ingin acara yang terlalu heboh. Namun, dia tidak bisa memutuskan sepihak. Dia memiliki kedua orang tua yang hanya memiliki dia sebagai anak satu-satunya. Perempuan lagi.
Jadi mereka ingin merayakan kebahagiaan anak satu-satunya kebanggaan mereka itu dengan resepsi yang luar biasa. Ratusan ribu orang yang akan hadir, dari presiden dan wakilnya, menteri, para pejabat, artis, hampir seluruh artis diundang, kemudian para pengusaha besar hingga kecil. Sungguh pesta yang mungkin akan membuat tubuh terasa pegal karena telah terbayang seperti apa keramaian yang akan tercipta.
Yuki menatap pantulan dirinya di cermin. Memandangi setiap jengkal wajahnya. Rasanya tak percaya dia akan menikah besok pagi. Dia sudah akan dimiliki oleh orang lain. Dia akan menjalani hidup sendiri, berproses menjadi lebih baik hanya berdua dengan seseorang. Ini impian semua orang. Namun, gadis itu tetap menitikkan air mata. Walau bagaimanapun, dia memiliki kedua orang tua, dan mereka ... hanya memilikinya, anak tunggal dalam keluarga itu.
Acara malam pernikahan tadi telah usai, upacara siraman dan sebagainya telah dilakukan hari itu. Yuki merasa haru saat kedua orang tuanya mengguyur air bunga di atas kepalanya dengan sayang dan pelan-pelan agar anaknya tak menggigil, tapi tetap saja kedinginan.
Dia menarik jepit-jepit yang menghias rambutnya satu per satu. Seorang perias tadinya ingin membantu untuk melepaskannya, tapi Yuki ingin melakukannya sendiri.
Berkali-kali dia menarik jepit dan menatap ke jam dinding. Waktu terus berputar.
"Ternyata aku telah dewasa. Aku rindu manja pada Mami dan Papi, tapi aku pun harus melangkah. Ini tahap perjalanan hidup yang harus dilewati manusia kebanyakan. Menikah lalu mempunyai anak."
Yuki tertawa sambil menangis. Hatinya campur aduk. Bahagia, haru dan sedih.
Dia menggenggam jepit rambut yang telah berhasil ia kumpulkan lalu diletakkannya di sebuah kotak. Dia meraih sebuah sisir dan menelusuri bagian rambutnya pelan-pelan.
Gadis itu ingin menghabiskan malamnya sendiri. Ya, merenung sendiri.
*
"Sayang, Mami lebih bahagia kalo kamu menemukan pendamping yang baik seperti Rangga. Hidup hanya sekali. Jika Tuhan memberimu yang terbaik, ya itulah yang harus kamu jalani. Meski dalam dirimu ada rasa kehilangan dalam sebuah pertemuan baru, tapi bagi kami, kami merasa memiliki kalian sebagai anak-anak kami, percayalah!"
Nyonya Marlina meyakinkan putrinya yang menanyakan apakah dia akan baik-baik saja ketika dia menikah dan memilih tinggal bersama suaminya.
__ADS_1
Wajah Yuki masih polos belum terhias make-up pagi itu.
"Iya, Mi. Aku akan sering-sering mengunjungi Mami. Boleh menginap juga kan, Mi?" tanya Yuki pelan.
"Tentu saja boleh kalo kamu bawa suami kamu pula. Jangan sendiri. Nggak baik."
"Iya, Mami."
"Aku sayang banget sama Papi dan Mami. Terima kasih telah membesarkanku hingga sampai saat ini, Pi, Mi."
Kedua orang itu hanya mengangguk, tak mampu meloloskan kata dari mulut mereka yang akan menangis jika menjawab perkataan anaknya. Ucapan tegar hanyalah bohong belaka. Sesungguhnya mereka juga merasa kehilangan, tapi itulah takdir. Manusia harus menjalani takdir, meski anak yang mereka timang sedari kecil sekarang beranjak dewasa dan akan menikah.
"Eh, Papi dan Mami mau pakai baju dulu, kamu harus dirias sekarang!" ujar Nyonya Marlina saat perias pengantin telah tiba.
Tuan Bhanu dan Nyonya Marlina beranjak setelah melihat air muka anaknya berubah tenang dan bahagia.
Mereka melangkah ke kamar dan berpelukan, tersedu tanpa tahu apa yang ingin dikatakan.
"Sudah, Mi. Kalo nanti anak kita tau betapa sedihnya kita ini, malah nggak jadi menikah."
Nyonya Marlina Moon mengusap air mata dengan punggung tangan. Dia mengangguk pada suaminya, kemudian mengambil baju yang akan dipakai nanti.
*
"Papa, Rangga kita akan menikah, dan dia akan memiliki kewajiban terhadap istri dan anak-anaknya kelak," ujar Nyonya Selly terisak.
__ADS_1
"Iya, Ma. Udah donk, jangan menangis. Bukankah ini harapan semua orang tua? Sang anak bisa menjalankan pernikahan dengan orang yang dicintainya?" ujar Tuan Lee menenangkan istrinya.
"Iya, Mama rela, tapi rasanya baru kemarin dia lahir dan Mama mengajarinya untuk dapat berjalan, makan sendiri, mengantarnya ke gerbang sekolah, dan sekarang ... mengantarnya ke pernikahan. Waktu begitu cepat berlalu ya, Pa?"
Pria itu menganggukkan kepalanya, lalu memeluk istrinya.
"Tugas kita sebagai orang tua telah kita jalankan, Ma. Nanti, biarlah dia berjalan dengan istrinya, menata hidup mereka sendiri. Sebagai orang tua kita hanya wajib mengarahkan jika dalam belajar menata hidup, mereka kebingungan. Bukan mengatur mereka."
Nyonya Selly mengangguk-angguk kemudian melirik ke jam di dinding. Dia menyeka air mata dengan tangannya kemudian segera mengajak suaminya untuk masuk ke ruang rias.
"Udah jam enam, Pa. Tukang rias pasti udah nunggu!"
*
Rangga menatap terpesona pada gadis di depannya, cantik luar biasa. Dia cantik biasanya, tapi hari ini aura kecantikannya semakin kuat. Wanita itu, dengan balutan kebaya warna putih, dan riasan pengantin yang berbeda dari keseharian. Benar-benar membuat pangling.
Semua orang yang menghadiri acara akad mereka pun terkesima pada kedua calon pengantin yang terlihat sangat serasi. Mereka ingin sekali mengeluarkan ponsel, tapi sayangnya, hanya pihak tertentu yang boleh mengambil gambar mereka agar acara akad nikah berjalan dengan khidmat.
Air mata mengalir dari mata kedua wanita yang melahirkan mereka saat Rangga mengucap kalimat akad dengan mantap dan tak ada kesalahan sedikit pun dalam ijab kabulnya. Menunjukkan bahwa dia benar-benar mantap memilih pendamping hidup untuk selamanya.
Semua yang hadir mengucap syukur dan ikut berbahagia melihat kebahagiaan sepasang pengantin yang tampan dan cantik itu. Pak Hendra dan Bu Yayah pun terharu melihat mereka yang bisa bersatu mengingat meski ada rintangan yang pernah mereka lalui. Wanita tambun yang memakai gamis cantik itu mengusap air mata haru yang mengalir di kedua pipi tembemnya dengan sebuah tissue. Dia terus menatap ke arah sepasang pengantin dan mengucap doa untuk kedua mempelai dalam hatinya. Sementara Wildan dan Aurel pun tak banyak bicara. Mereka telah agak besar untuk bisa diam menyaksikan.
Tuan Bhanu dan Tuan John Lee pun tak kalah terharu menyaksikan putri dan putra mereka satu-satunya telah sah mengikat janji suci menjadi suami dan istri dalam pernikahan yang sakral.
Acara resepsi akan diadakan selama dua minggu penuh mengingat tamu yang diundang oleh Pak Bhanu berjibun banyaknya. Belum para saudara dan tetangga yang akan datang. Semua teman maupun pegawai Rangga dan Yuki pun diundang ke acara itu. Gedung yang luas itu telah dihias dengan manis oleh sebuah wedding organizer, dengan spot foto-foto yang banyak. Bunga-bunga mawar dan lily yang segar dipakai untuk menghiasi ruangan, hingga ruangan itu semerbak dengan wangi bunga.
__ADS_1