
Rangga dan Yuki, keduanya tersenyum saat menyematkan cincin di jemari pasangan masing-masing. Cincin yang telah diukir dengan tanggal pernikahan dan nama dari masing-masing pasangan.
Kemudian mereka berfoto di depan media khusus peliputan pernikahan dengan memamerkan cincin itu di jari manisnya dengan senyum bahagia.
Media cetak maupun elektronik telah menunggu siaran pernikahan besar itu. Mereka akan menayangkan serempak acara resepsi pernikahan Rangga dan Yuki. Sebuah pernikahan paling akbar sepanjang tahun.
"Bersiaplah dua minggu ke depan, Mas Rangga!" desis Yuki melihat mulainya keramaian acara di hari pertama.
Rangga tertawa lebar.
"Kalo bersanding denganmu, seumur hidup pun akan siap kujalani."
Mereka tertawa bahagia sejenak dan terhenti saat photographer khusus mengarahkan gaya mereka saat akan diambil gambarnya. Keduanya mengikuti arahan pria bertopi dan berambut gondrong, tapi rapi itu.
Usai puas mengambil foto-foto terbaik setelah proses ijab, mereka dibawa ke sebuah ruangan di gedung untuk berganti baju. Balutan kebaya berwarna hitam material bludru, khas Jawa dengan ukiran emas di kedua sisinya, membuat kesan mewah bagi kedua pengantin. Nyonya Marlina Moon menghendaki mereka untuk memakai kebaya itu di hari pertama resepsi. Setelah itu, terserah Yuki.
Gedung itu telah penuh dengan tamu undangan yang diundang di hari pertama, tinggal menunggu kedua mempelai untuk duduk bersanding di atas pelaminan.
Para reporter panen berita di depan gerbang gedung. Mereka mencegat ajudan presiden, beberapa menteri yang datang, beberapa artis dan pejabat untuk diwawancarai perihal pesta pernikahan akbar ini.
Sonny dan Nana turun dari mobil bersama dengan mama Nana. Mereka membawa sebuah kado besar untuk Rangga dan Yuki. Sementara Dhea datang bersama mamanya juga. Bu Yayah, sudah berada di dalam gedung sejak acara ijab tadi. Dia sosok yang tak lepas dari wartawan saat tahun lalu dia dikejar-kejar oleh mereka tentang penyamaran Nona Muda di rumahnya.
__ADS_1
Para saudara, rekan bisnis datang keesokan harinya. Para ibu tetangga Bu Yayah datang di hari ketiga menurut undangan, agar tak berdesakan. Begitu juga dengan tamu tetangga di rumah, di hari keempat dan seterusnya. Bukan membedakan tapi memikirkan kenyamanan mereka untuk berkumpul di dalam gedung.
Hari pertama itu, di akhir acara, Yuki melemparkan buket bunga mawar dengan sedikit lily dengan menghadap ke belakang, semua wanita yang belum menikah, berusaha menangkap buket itu.
"Siap! Lempar!" seru pembawa acara.
Para wanita menaikkan tangan ke atas ke arah kemana buket itu terbang. Mereka berteriak kegirangan dan tertawa konyol. Menariknya, orang yang mendapatkan buket bunga itu adalah Dhea! Gadis yang malah kebingungan. Belum punya pasangan tapi kenapa malah dia yang mendapatkan itu. Namun, dia tetap tertawa di dalam keseruan pesta.
*
Rangga menggendong Yuki yang berbalut dress warna putih di hari kedua pernikahan. Malam pertama mereka lalui dengan tidur karena tubuh mereka terlalu lelah berdiri selama beberapa jam.
Lelaki itu menggendong istrinya ala bridal style, membawa si pengantin wanita naik tangga ke kamar yang sudah dibersihkan dari taburan kelopak bunga mawar dan hiasan dua angsa bertautan pada malam pertama mereka yang tak digunakan untuk menjebol pertahanan si pengantin wanita. Bagi mereka malam pertama tidak harus di malam pertama pernikahan. Karena kelelahan, mereka harus menjaga stamina agar kuat di hari esok karena masih dua minggu akan dipajang seperti itu. Belum lagi akan diadakan pesta keluarga di keluarga pihak pria. Resiko anak satu-satunya di kedua pihak, ingin membuat pesta perayaan semeriah mungkin karena harapan mereka hanya akan diadakan sekali seumur hidup.
"Sayang, terima kasih ya, untuk mau bersanding denganku."
Rangga menatap ke wajah Yuki yang melingkarkan tangan ke lehernya. Gadis itu pun menatap kedua mata prianya.
"Terima kasih juga suamiku, Mas Rangga Sayang, karena telah memilihku sebagai pendampingmu," jawabnya menyunggingkan senyuman.
Yuki merasa sangat berdebar. Ini yang kedua kalinya debaran itu dia rasakan setelah dulu bertemu Rangga untuk pertama kali. Debaran yang ini menandakan akan penyerahan kesucian pada sang suami tercinta. Bahkan mereka belum pernah sama sekali berciuman. Ini akan menjadi kejutan di malam pertama di hari kedua pernikahan.
__ADS_1
Sampailah mereka di dalam kamar. Rangga menurunkan istrinya, kemudian menutup pintu kamar dengan hati-hati. Yuki melepas mahkota yang berat di atas kepalanya. Namun bertolak belakang dengan riasan hari kedua ini, tak seberat di hari pertama. Dia meminta hari-hari selanjutnya tak dirias dengan tebal. Natural dan ringan saja hingga mudah untuk dibersihkan. Rambut pun hanya diurai dan diikal.
Rangga melepas jas, kemudian memeluk pinggang istrinya yang sedang memamerkan ketiak saat melepas jepit yang tersangkut di rambutnya. Hingga harus menghentikan kegiatannya, mereka saling menatap dan mendekat.
Entah bagaimana ciuman itu mereka lakukan begitu saja. Masih sama-sama kaku, tapi secara natural akhirnya bisa juga. Ini benar-benar hal pertama yang mereka lakukan sepanjang hidup.
Hingga Rangga melepaskan dress yang membalut tubuh istrinya, begitu pula Yuki. Mereka hanya berbalut baju dalam saja. Rangga menatap tubuh istrinya dengan takjub. Belum pernah Yuki memperlihatkan semua itu. Gadis itu pun melihat tubuh Rangga yang atletis, tapi dia pernah menebak-nebaknya seperti gambar-gambar iklan susu pria. Haha, tak tau kenapa pikirannya berkelana sampai ke sana saat melihat iklan itu. Ternyata benar, Rangga pun mempunyai kotak-kotak seperti itu.
Mereka melepas semua yang menempel di tubuh dan makin kagum atas keindahan yang dibuat oleh Tuhan. Rangga mengecup semua keindahan itu, membuat Yuki merasa kegelian.
"Ayo buat generasi baru," ujar Rangga terkekeh.
Yuki tergelak. Namun berdebar juga tak bisa membayangkan bagaimana rasanya.
Suara desahan kecil terdengar di telinga Rangga saat bibirnya mulai menelusuri semua yang dipandangnya tadi. Beberapa saat mereka hanyut di dalamnya.
"S-sakit ...." rintih Yuki saat Rangga mulai menerobos sesuatu di bawah.
"Maaf, Sayang. Tahan dulu, nanti tak akan sakit lagi."
Yuki menurut dan kemudian benar ucapan Rangga, dia mulai merasa nyaman meski sedikit darah mengotori sprei yang menutup tempat tidur mereka.
__ADS_1
Keduanya terkulai lemas setelah melepas semua keinginan malam itu. Mereka melanjutkan mimpi indah mereka dengan saling berpelukan di atas tempat tidur, menyatukan perasaan yang telah terjalin sempurna.