
Lelaki itu berdiri termangu di ambang pintu. Dia terhenyak melihat gadis di atas panggung yang dia putuskan tiga tahun silam.
Putra mengucek matanya, kembali menatap Yuki yang memberi sambutan, dengan wajah penyesalan.
"Sial, aku membuang permata dan memungut sebuah batu tak berharga."
Batu itu datang dan menggamit lengan Putra. Dia seakan mau ambruk pingsan setelah melihat semua kenyataan yang terungkap di pesta besar itu.
Putra tak memperdulikannya. Dia menepis lengan yang digamit oleh pacarnya. Queensya mengembuskan napas, meski kesal dengan perlakuan pacarnya, tapi dia pun masih malu dan shock di dalam ruangan itu.
*
"Bu Yayah! Bu Yayah!!"
Wanita bertubuh gempal itu tiba-tiba pingsan melihat wajah Yuki di layar televisi yang ada di ruang tamu.
Semua orang yang diundang, baik itu ibu-ibu maupun pegawai toko terkesima mengetahui fakta bahwa gadis yang sehari-hari bersama mereka adalah seorang miliarder. Namun, yang paling terkejut adalah Bu Yayah.
"Ada balsem atau minyak yang bau menyengat??" teriak seorang ibu.
Pelayan rumah segera berlari ke kotak obat dan mengambil sebuah minyak angin.
Bu Yayah mengerjapkan mata perlahan setelah mencium bau minyak itu.
"Kiki itu ... Kiki itu ... ah, aku nggak mimpi, kan?"
Bu Yayah mencubiti pipinya sendiri.
"Sakit! Aku nggak mimpi ...."
Beberapa ibu membantu mendudukkannya. Seorang pelayan membawakan teh hangat untuk diminum Bu Yayah. Wanita itu menenggaknya sampai habis.
"Mbak, jadi Kiki itu adalah Nona Yuki, anak Tuan Bhanu, pengusaha nomor satu? Pemilik rumah ini?" tanya Bu Yayah memegang tangan pelayan, menahannya untuk bertanya.
"Kiki?" tanya pelayan itu bingung.
"Kiki yang tadi menyambut kami," jawab Bu Yayah.
"Oh, iya. Nona Yuki kami."
__ADS_1
Brukk!!
Bu Yayah kembali tak sadarkan diri. Pelayan kembali mengoles hidungnya dengan minyak angin. Wanita itu siuman kembali dan meraung-raung setelah sadar.
"Maafkan saya ya, semuanya .... Saya galak sama Nona kaliaan .... Jangan penjarakan saya ...."
Semua saling berpandangan kebingungan.
*
Yuki mulai menyapa semua hadirin lalu meniup lilin di depannya, yang ditancapkan di atas kue taart megah lalu memotong kue pertamanya untuk diserahkan kepada kedua orang tuanya. Sebelum itu, bola matanya mencari kehadiran seseorang, tapi kemudian dia kecewa karena lelaki itu tak nampak batang hidungnya.
"Sambutan oleh Tuan Bhanu Tungga Jaya!"
Suara pembawa acara kembali memecah suasana di ruangan itu.
Tuan Bhanu maju ke depan dan memberi sedikit sambutan.
"Selamat ulang tahun anakku," ujarnya pertama kali dan mencium dahi Yuki. Membuat sebagian orang tercengang dan sebagian lagi bahagia.
"Selamat datang rekan-rekan pengusaha, para pejabat, artis, tetangga tersayang, bahkan para warga yang datang dari mana pun serta rekan wartawan berita, wartawan infotainment, yang hadir meliput acara ini. Saya Bhanu Tungga Jaya berserta istri memperkenalkan pada kalian, anak gadis saya satu-satunya yang nanti akan mewarisi seluruh aset perusahaan, Yuki Amaranggana. Kami mohon maaf karena selama ini tak menunjukkan keluarga kami karena sewaktu kecil anak kami pernah akan diculik oleh sindikat penculikan anak terbesar. Sejak saat itu kami tak ingin membiarkannya keluar dari rumah dan menyembunyikan identitasnya. Meski begitu, dia kami lepas dengan nama Kiki. Mungkin sebagian dari kalian pernah bertemu atau pernah mengenalnya sebagai Kiki? Ya, itu anak saya. Dia ... membanggakan kami meski berjalan sendiri, mungkin dicemooh, diabaikan, tapi ada satu hal yang patut kami banggakan. Dia bisa bangkit, bisa membuat usahanya sendiri hingga sebesar itu tanpa campur tangan kami ...."
"... ah, bagaimana saya di sini malah mendongeng? Harapan saya semoga dia menjadi anak yang sukses, berbakti pada orang tua, negara dan agama, jadi anak yang berbudi baik, lancar sekolahnya dan ... enteng jodoh!"
"Itu saja yang ingin saya sampaikan dan harapan-harapan saya, semoga kita semua juga makin sukses. Bukan berarti hanya uang saja, tapi sukses dalam hidup. Waktu saya kembalikan pada pembawa acara."
Seluruh ruangan dipenuhi suara tepuk tangan para hadirin yang datang.
Orang tua Rangga masih terpaku. Entah rasa terkejut, malu, takut atau bahagia bercampur aduk dalam pikiran mereka.
Saat Tuan Bhanu turun, tiba-tiba Dhea maju ke depan, lalu memeluk Yuki yang kaget akan hal itu kemudian mengatakan sesuatu di depan para hadirin.
"Sebelumnya saya mohon maaf jika sedikit merusak kesenangan di acara ini. Namun, sedikit waktu saja saya ingin berbicara. Ada hal yang ingin saya sampaikan. Tiga tahun yang lalu saya diancam oleh empat gadis yang berdiri di pojok sana dan satunya sedang duduk di dekat lelaki itu untuk menipu Kiki, ehm maaf, Yuki, di hutan pinus hingga sahabat saya ini jatuh tergelincir ke dalam hutan pinus bertaruh nyawa hingga kepalanya terantuk batu tak sadarkan diri untuk mencari saya, untunglah dia sadar dan tak terjadi hal buruk pada luka di kepalanya ...."
"... Saya berutang maaf pada Yuki. Saat itu saya tak berani mengungkap karena ancaman mereka. Namun sekarang dengan kuasa Tuan Bhanu, saya yakin keadilan akan ditegakkan. Ada bukti di dalam ponsel saya tentang itu semua yang masih saya simpan!"
Dhea mengungkap peristiwa itu dengan lantang dan berani. Tak ada lagi ketakutan di wajahnya.
Semua orang langsung ricuh. Mereka menatap benci pada keempat gadis yang sekarang berbalik menjadi ketakutan itu. Wajah mereka semakin pucat mendengar pernyataan Dhea.
__ADS_1
Yuki terbelalak mendengarnya, "Benarkah itu?"
Dhea mengangguk mantap.
Tuan Bhanu berdiri dan menatap keempatnya dengan murka.
"Edi! Bawa mereka ke ruang depan! Interogasi mereka!"
Tuan Bhanu menyuruh keamanan untuk membawa mereka. Keempat gadis itu berjalan dengan lemas dibawa oleh lima orang, yaitu satpam dan bodyguard keluarga Tuan Bhanu. Pak Hari yang juga datang pun terlihat geram pada keempat mahasiswinya yang sering bermasalah.
"Hari?"
Tuan Bhanu meminta penjelasan pada dekan universitas, sahabatnya itu.
"Err ... ini bisa aku jelaskan, Bhanu."
Dengan gugup Pak Hari mencoba memelankan nada suaranya. Dia bisa menghukum para mahasiswa dengan tegas. Namun, kali ini dia gugup menghadapi 'killer man' di depannya.
"Papi, nanti soal Om Hari, aku bisa jelaskan," bela Yuki.
Dahi Tuan Bhanu berkerut, "Oke."
Hanya itu akhirnya yang keluar dari mulutnya.
Keluarga keempat gadis itu menunduk dengan wajah pucat pasi tak berani mengangkat kepala mereka, tak percaya anak-anak mereka melakukan hal sesadis itu. Tidak mencerminkan martabat anak-anak pengusaha. Mereka seketika pun takut karena Tuan Bhanu bisa saja membuat perusahaan mereka bangkrut dalam semalam. Mereka memilih untuk mengikuti kemana anak-anak remaja itu dibawa dan menghindar dari ruangan yang sedang diliput oleh wartawan itu.
Tuan Bhanu berterima kasih pada Dhea kemudian masuk ke rumahnya untuk mengurusi keempat anak itu, sementara pesta tetap dilanjutkan.
"Makasih ya, Dhea, kamu berani sekali," bisik Yuki pada Dhea yang menunduk takut.
"Kamu nggak marah, Kiki? Eh, maksudku, Nona Yuki?" tanya Dhea.
"Nggak, karena kamu, geng Queensya pasti akan dihukum! Hahaha, jangan canggung panggil aku Kiki atau Yuki nggak apa-apa, Dhea!" jawab Yuki.
"Makasih ya, Yuki?" ujar Dhea tersenyum lega.
Nana mendatangi mereka. Mama Nana dan Mama Dhea pun mendekat dan memberi selamat pada Yuki. Mereka pun mengatakan keterkejutan mereka atas fakta itu.
Nyonya Marlina datang mendekati mereka kemudian berkenalan dan berbincang dengan kedua orang tua Nana dan Dhea. Sepertinya mereka terlibat pembicaraan seru para wanita.
__ADS_1
"Yuki, kamu terlihat nggak bersemangat, kenapa? Ini kan ulang tahunmu? Seharusnya kamu bersenang-senang!" kata Nana.
"Mas Rangga belum datang," ujar Yuki lesu.