Nona Muda Pura-pura Miskin

Nona Muda Pura-pura Miskin
Ujian Tengah Semester


__ADS_3

Gadis dengan baju pink dan celana putih bersemangat berangkat ke kampus, masih sembari membaca buku catatannya. Ya, siapa lagi jika bukan Yuki.


Sebuah mobil yang dikendarai sendiri oleh si pemiliknya berjalan pelan di samping gadis itu. Ada empat gadis rese yang ingin mengganggunya, tapi tak dihiraukan oleh Yuki.


"Huh, ngapain sok rajin amat baca-baca buku sepanjang jalan!! Kayak nggak ada kerjaan! Palingan besok dia kalah sama Queensya!" teriak mereka bersahutan.


Namun, teriakan itu tak juga membuat pertahanan Yuki jebol, seolah masuk telinga kiri keluar telinga kanan untuk Yuki, atau bahkan tak pernah masuk telinga?? Entahlah, tapi yang jelas Yuki tak memperdulikan cemoohan gadis-gadis dengan gaya glamour itu.


"Huh, sombongnya! Baru aja mau ujian tengah semester yang nggak penting! Dia udah sok belajar tekun gitu, biar dipuji dosen, biar dapet simpati Kak ... eh, katanya gadis miskin itu mutusin Kak Ferry??" celetuk Wenny saat mereka tiba di parkiran.


"Hah?? Berani banget dia mutusin Kak Ferry yang keren itu??" tanya Anggi, dia merasa heran tapi juga senang karena berita putusnya Kak Ferry dan Yuki.


"Iya sih, kemarin aku denger kasak-kusuk katanya gadis miskin itu jadi bahan taruhan Kak Ferry dan Kak Candra. Lalu dia ngamuk-ngamuk mutusin Kak Ferry gitu di depan ruang kuliah!" ujar Wenny lagi.


"Gila, sombong banget! Eh, tapi baguslah dia putus! Sainganku berkurang, 'kan?" ujar Anggi.


Queensya mematikan mesin mobilnya, "Mana ada sih yang mau sama cewek yang nggak modis, asisten rumah tangga! Diajak kencan aja pasti nggak ada waktu! Ya, nggak? Pantes lah dia jadi bahan taruhan doang!"


Rachel menggeleng-gelengkan kepalanya, "Anggi, kamu mau jadi bahan taruhan selanjutnya??"


"Eh, ni anak pe'a, ya! Kamu aja, kali!!" Anggi menoyor kepala Rachel yang berdecak kesal.


Mereka tertawa bersama, "Eh, Queensya, udah kamu siapin kan buku catatan lengkap yang mau kita fotokopi kecil-kecil??" ujar Anggi mengingatkan.


"Udah, dong!! Lengkap!!" kata Queensya yakin.


"Siipp lah!!" Mereka berempat berteriak kompak.


*


"Kiki, mamaku bilang kalo masakannya enak! Dia mau order setiap hari kecuali Sabtu dan Minggu dengan harga segitu lagi! Aku kemarin juga nyicipin, lho! Eh, ini uang yang kemarin sama mama nitip buat empat hari ke depan!" ujar Dhea keesokan harinya sembari menyerahkan uang untuk Yuki.


"Syukurlah kalo cocok!" seru Yuki sumringah menerima uang itu.


"Iya, harganya nggak mahal, tapi rasanya oke! Ayamnya empuk! Pokoknya semua bumbu merasuk, enak!" puji Dhea. "Eh, itu semua kamu yang masak??" tanya Dhea lagi.


"Iya, dibantu Bu Yayah, aku yang bikin bumbunya!" jawab Yuki.

__ADS_1


"Kamu punya bakat masak ya ternyata?" puji Dhea lagi.


"Heleh, biasa aja. Bukan bakat, tapi bisa-bisaan doang! Aku belum berpengalaman juga, nekat aja!" tepis Yuki.


"Itu namanya bakat!"


"Ah, nggak tau lah!"


"Ngomongin apa, sih?" tanya Nana yang tiba-tiba sudah berada di dekat mereka.


"Itu, Yuki pinter masak! Masakannya enak, kemarin aku nyicip masakannya, kan ada bonusan dua kardus itu, nah itu buat papa dan aku!" ujar Dhea bersemangat.


"Nasi atau kue??" tanya Nana.


"Nasi box," jawab Yuki dan Dhea bersamaan.


"Oh, kamu jadi belajar bikin kue sama mamaku, nggak??" tanya Nana membuat Yuki berbinar-binar. Entah kali ini setiap mendengar kata 'masak', gadis itu merasa tertantang untuk membuat menu baru.


"Iya! Jadi, tapi abis ujian tengah semester, ya?" pinta Yuki.


"Makasih, Nana!!"


*


Dua minggu terasa sangat cepat. Tak terasa hari ini waktunya para mahasiswa berjuang untuk ujian tengah semester mereka. Di saat menyelesaikan orderan setiap hari, Yuki pun menyempatkan diri lebih giat belajar.


"Kiki, ini uang gaji kamu, trus ini uang hasil penjualan nasi box kita."


"Udah dibagi dua, Bu?"


"Udah, aku udah ambil, Ki. Wah kalo dapet orderan tiap hari gini, ngumpul banyak juga, ya? Kamu pinter juga ya, Ki?" puji Bu Yayah. Kali ini dia merasa gadis yang nggak jelas asal-usulnya itu membawa hoki.


Sesuai perjanjian, mereka akan membagi dua laba hasil penjualan nasi box. Setiap Rabu, mereka akan membuat delapan puluh nasi box untuk mama Dhea dan Bu Astin.


Yuki memasukkan gaji bulanannya dan laba penjualan nasi box di dompetnya, lalu berkutat kembali dengan buku setelah membuat bumbu untuk keesokan hari.


"Bu, nanti kalo pak sopir angkot datang, Ibu yang ketemu, ya? Saya mau berangkat pagi. Hari ini saya mulai ujian," pamit Yuki sembari mengecup punggung tangan Bu Yayah.

__ADS_1


"Oh ya, tenang aja nanti aku yang atasi. Kamu cepat berangkat! Awas kalo kamu nggak bisa ngerjakan soal. Aku stop orderannya, ya?" ancam Bu Yayah.


"Iya, Bu. Doakan saya bisa ya, Bu?"


"Iya."


Yuki berjalan cepat ke kampus. Dia tak sabar ingin mengerjakan soal di hari pertama ujian. Semua materi hari itu telah dia pelajari dengan giat. Otak encernya mampu menyerap materi dengan baik.


Sesampainya di ruang kuliah, ternyata para mahasiswa telah berebut kursi yang strategis untuk ujian. Tentu geng Queensya sudah mendapat kursi paling pojok dan tak terlihat oleh dosen pengawas. Yuki mendapat kursi di depan pengawas.


Namun, itu tak jadi masalah baginya. Dia tetap tenang duduk di bangku itu. Nana dan Dhea pun mendapat kursi yang sama, hanya satu baris di belakang Yuki. Mereka mendesah kesal. Hari-hari biasa para mahasiswa terlihat malas untuk datang, mengapa pagi itu sewaktu ujian mereka datang berlomba untuk merebutkan kursi.


Kertas ujian mulai diedarkan. Dengan tenang, Yuki mengerjakan soal-soal yang jawabannya sudah ia hapal luar kepala. Geng Queensya pun agak tenang dengan soal-soal itu, karena copian catatan yang mereka bawa sebagian besar ada jawabannya.


Ujian berlangsung selama enam hari, selama itu pula CCTV mencatat perbuatan mereka.


Akhirnya di hari ketujuh, para mahasiswa merasa lega karena ujian telah usai. Memang bagi sebagian mahasiswa, ujian tengah semester ini disepelekan. Namun, tidak bagi Yuki, Dhea dan Nana. Ketiganya saling mengingatkan bahwa ujian apapun itu penting.


"Nilai untuk ujian tengah semester kali ini bagus-bagus, ada yang terbaik. Namun, ada juga yang bagus hampir mendekati yang terbaik, tapi dikerjakan dengan kecurangan!" kata Bu Neneng.


"Queensya, Rachel, Anggi dan Wenny! Kalian menghadap ke dekan!!" perintah Bu Neneng saat materi kuliah beliau berlangsung.


"K-kenapa, Bu?" tanya Queensya mendengar nada kesal dari Bu Neneng.


"Kemungkinan kalian mengulang kuliah jika kalian tidak menghadap ke dekan sekarang!!" teriak Bu Neneng.


"B-baik, baik, Bu. Jangan marah begitu ...." mohon Queensya.


Bu Neneng hanya melengos dan tak menghiraukan keempat gadis yang mulai beranjak keluar ruangan.


******


Hello semua, kali ini aku kasih info judul baru novel ini ya, menurut voting terbanyak di GC, makasih yang udah bantu mami ya....


Nona Muda Pura-pura Miskin


Jangan lupa tetep favouritin biar nggak ilang dan dapet notifikasi bab baru, oke samyang2ku....

__ADS_1


__ADS_2