
Langkah Yuki terasa ringan saat kembali ke kantor Rangga. Dia telah merencanakan beberapa hal untuk mengungkap kecurangan ketiga wanita itu.
"Mas Rangga, kenapa kita tak coba untuk mengirim manager produksi ke luar kota untuk kepentingan pabrik? Dia harus mengikuti seminar dan trainning agar lebih berkembang dan efisien pada bagian produksi! Besok akan ada trainning dengan investasi trainning enam juta rupiah per peserta di luar kota."
Yuki memutar otak, bagaimana menyingkirkan Melly dalam waktu beberapa hari.
"Bagus juga idemu! Perusahaan kami belum pernah mengirimkan orang untuk trainning semacam itu. Mungkin dia bisa lebih mengetahui management produksi yang baik setelah mengikuti program itu. Baik, tolong buatkan surat perintah, Ki!"
Fix! Mas Rangga langsung menyetujuinya! Mudah sekali memberi saran di saat orang itu kalut.
"Siap, Mas!"
Yuki segera mengetik surat perintah untuk mengirim manager produksi ke luar kota selama satu minggu. Tiket pesawat dan hotel pun telah dipersiapkan oleh Yuki. Sedangkan Cindy, Yuki telah memasukkan obat pencahar ke minumannya. Dalam beberapa hari, mereka tak akan sempat mengatur perusahaan, dan di saat itu Yuki mengajak Rangga untuk memperhatikan bagian produksi.
"Ini, Mas."
"Wow, ternyata kamu bisa menyiapkan semua ini dengan baik! Aku nggak nyangka, Kiki! Benar kalo kamu bisa kuliah dengan jalur prestasi," ujar Rangga menatap Yuki dengan kagum.
Melly menerima surat perintah dari tangan Rangga, "B-baik, Pak Rangga!"
Wanita itu tak bisa menolak lagi. Nanti siang dia sudah harus berangkat ke luar kota. Dia tak mengira itu adalah ide Yuki.
Sementara, Cindy mulai mengeluh tentang perutnya yang mulas, berkali-kali dia keluar-masuk ke kamar mandi, hingga lemas. Akhirnya, wanita itu ijin tidak masuk kantor.
Hari selanjutnya, Yuki menuntun Rangga untuk memeriksa bagian terpenting di dalam perusahaan.
"Mas Rangga, kita periksa bagian produksi dulu. Selama ini apakah management produksi menerapkan sistem yang baik atau nggak, atau malah ada kesalahan dalam produksinya?"
"Iya, Ki. Setuju. Waktu itu aku periksa semua rasanya baik-baik aja. Coba kita lihat lagi," ujar Rangga.
Mereka berdua menuju ke pabrik. Sample yang disodorkan memang baik, tapi Yuki memilih untuk membuka salah satu kardus yang siap packing. Hasilnya mengejutkan. Ternyata di dalamnya tak seperti sample.
"Ini kerjaan siapa!!" murka Rangga saat melihat semua itu. Seluruh pekerja terdiam. Mereka merasa menjalankan sesuai prosedur yang diarahkan oleh manager produksi.
"Itu sudah sesuai dengan arahan Bu Melly, Pak!" Akhirnya seorang karyawan berani untuk berbicara.
"Bagaimana kalian bisa mengikuti arahan yang salah!! Komposisinya nggak seperti ini!! Bagian pengaturan mesin, atur ulang pengisian dengan komposisi yang benar!" Rangga kembali murka. Satu persoalan terjawab. Ternyata, ulah Melly terkuak di pabrik.
"B-baik, Pak!" Dengan gugup seluruh pekerja menjalankan perintah Rangga.
Yuki terkesima melihat kemarahan Rangga. Menurut gadis itu, dia terlihat begitu keren saat marah. Oh, aneh.
__ADS_1
Rangga mengawasi semua pekerjaan karyawan hari itu, seolah mencambuk mereka.
Brak!!
Seorang karyawan tiba-tiba membanting sebuah kardus yang dia bawa. Raut mukanya sangat lelah dan kesal.
Rangga sudah akan marah melihat kelakuan karyawan itu, tapi dia mendahului si pemilik perusahaan.
"Pak!! Kami mengundurkan diri kalo seperti ini terus! Memangnya ini jaman penjajahan Jepang? Kerja rodi?? Bayaran kami nggak sesuai Pak! Gaji kami sangat di bawah upah mininum regional! Lebih baik kami mundur!!" teriaknya berkecak pinggang.
Darah Yuki berdesir melihat pemandangan itu, sepertinya para karyawan akan menuruti satu orang yang berbicara di depan Rangga. Dia takut sesuatu yang buruk akan terjadi.
"Mas, sepertinya ada pemotongan upah karyawan, tapi siapa yang melakukannya??" bisik Yuki.
Rangga menghela napas, mengatur emosinya. Karyawan itu masih mengucap sumpah serapah, yang jika Rangga tak sabar, bisa memicu perkelahian.
"Sabar, Mas. Tak semua hal bisa diselesaikan dengan kekerasan."
Ucapan Yuki seperti angin yang menerpa Rangga, membantunya menahan emosi.
"Sebentar, Pak. Ijinkan saya bicara. Bapak bisa mewakili teman-teman ke kantor saya untuk membicarakan hal ini?" tanya Rangga hati-hati. Bicara empat mata mungkin bisa mengurangi resiko pada emosi yang akan tersulut di ruangan itu.
Untunglah meski bersungut-sungut, pria itu menyetujuinya. Rangga mempersilakan dia untuk datang ke ruangannya.
Mereka bertiga sekarang telah berada di ruangan presdir.
"Katakan pada saya, Pak. Berapa gaji anda?" tanya Rangga.
Pria itu menyebutkan bahwa selama tiga bulan terakhir ini mereka hanya menerima sepertiga bagian gaji mereka dari sebelumnya.
"Maaf, Pak. Sepertinya ada kesalah-pahaman. Coba saya konfirmasi pada Pak Lee!"
Rangga segera menelepon papanya, dia menanyakan perihal pemotongan gaji, tapi Pak Lee mengatakan bahwa dia tak menyuruh siapapun untuk melakukan hal itu.
"Pak, bapak dengar sendiri, kan? Saya kira ada sebuah kecurangan di dalam perusahaan ini sendiri. Ada musuh dalam selimut! Kami mohon maaf, Pak. Selama ini kami fokus pada kesehatan Pak Lee, papa saya. Namun, kami terlalu percaya pada orang dalam, itu kesalahan kami. Kami janji akan mengembalikan gaji para karyawan yang terpotong setelah melakukan penelitian administrasi," janji Rangga.
Karyawan itu mengangguk, " Baik, Pak. Maafkan saya yang terlalu emosi. Kami lelah, Pak Rangga!"
"Kami yang seharusnya minta maaf, Pak!"
Setelah pria itu mohon diri, Rangga menyuruh Yuki untuk memeriksa administrasi keuangan. Zahra membantu Yuki membuka file perusahaan yang biasa dibuka oleh Cindy.
__ADS_1
Seminggu itu Yuki, Rangga dan Zahra bekerja keras mengembalikan kecurangan yang terjadi di dalam perusahaan.
Akhirnya usaha mereka akan membuahkan hasil, tinggal menunggu semua administrasi diperbaiki seperti sedia kala.
"Makasih, Zahra. Masih ada orang sepertimu yang bisa dipercaya di dalam perusahaan ini," ucap Rangga.
"Pak, para karyawan yang terbaik telah resign karena ini," ujar Zahra.
Yuki menyerahkan selembar kertas yang dia temukan di laci ruang rapat, "Inikah orang-orangnya, Kak?" tanya Yuki. "Aku tak sengaja menemukan kertas mencurigakan ini!"
Zahra mengamati kertas itu, "Ah iya, benar! Ternyata namaku ada di daftar itu! Syukurlah aku belum jadi resign!"
"Nanti kita atur lagi untuk pegawai-pegawai lama, akankah mereka masih mau bekerja di sini atau tidak. Itu hak mereka!" kata Rangga.
Mereka menghela napas lega.
"Kiki, makasih ya, karenamu perusahaanku mulai terselamatkan!" ujar Rangga saat sore tiba. Sabtu itu seharusnya mereka libur, tapi ketiganya merelakan diri untuk bekerja lembur.
"Aku hanya membantu saja, Mas Rangga. Hati-hati memilih pegawai."
"Iya, Ki. Polisi akan mengusut semua ini. Mereka harus dihukum agar jera!"
*
"Sial!" umpat Cecilia usai berlenggang di catwalk.
Wanita itu melihat berita di koran yang menyebutkan bahwa dua karyawan Perusahaan Lee diamankan polisi atas dugaan tindak kecurangan. Itu berarti bahwa dirinya terancam tindak pidana.
Dia segera menyuruh managernya untuk mengemasi barang-barang dan menyiapkan tiket ke luar negeri malam itu juga.
"Manager Gea! Kemasi barang-barangku dan siapkan tiket ke Hongkong! Aku akan pergi ke sana! Jika wartawan bertanya, jangan katakan apapun tentangku! Bilang saja kepergianku diam-diam dan tak ada seorang pun tau dimana aku berada, sekalipun kamu!"
"Gimana dengan kontrak-kontrak yang telah kamu tanda tangani??" tanya Manager Gea kebingungan dengan kemauan wanita itu.
"Batalkan semua! Ini penting, menyangkut hidup dan matiku! Aku harus pergi!" desaknya.
"Huuftt, dengan begitu kita akan rugi!"
"Nggak peduli! Kamu jangan cerewet! Cepatlah!" Ada nada ketakutan dalam kalimatnya.
Terpaksa manager itu menuruti semua kemauan Cecilia tanpa tau tentang masalahnya. Akhirnya, malam itu Cecilia berhasil melarikan diri.
__ADS_1