Nona Muda Pura-pura Miskin

Nona Muda Pura-pura Miskin
Kembali ke Rumah Bu Yayah


__ADS_3

Yuki melihat sekitar. Perjalanan ke rumah Bu Yayah akan memakan waktu. Dia melihat ke argometer. Baru kali ini dia merasa berdebar-debar melihat angka yang tertera semakin bertambah. Namun, dia tak mungkin juga melompat ke jalan saat angka itu mencapai harga tinggi.


"Baru setengah jalan, udah dua ratus ribu aja ...." gumamnya pelan. Nominal uang segitu sekarang sangat berharga baginya. Semakin lama perjalanannya, makin cemas dengan isi dompetnya.


Pelajaran berharga buat Yuki agar menghargai uang. Dulu tak dia perhatikan pengeluaran apapun, hanya menggesek kartu hitam ajaibnya saja, dia bisa membeli apapun yang diinginkan.


Akhirnya, dalam waktu satu setengah jam, dia sampai juga di depan rumah.


"Sebentar ya, Pak! Saya ambil uang dulu."


Gadis itu berjalan ke dalam rumah perlahan, mengingat kepalanya masih sakit karena lukanya. Pintu rumah dikunci, toko pun tutup. Yuki makin cemas akan pembayaran taksi.


"Aduh, gimana ini? Bu Yayah kemana, ya?" ujarnya cemas.


"Mbak Kiki!!" Terdengar teriakan seorang gadis kecil yang sangat dikenal oleh Yuki.


"Aurel!!"


Gadis kecil itu berlari ke arah Yuki, dengan diikuti oleh seorang wanita paruh baya, tetangga Bu Yayah.


"Mbak Kiki, Bu Yayah kan lagi nyusul Mbak, ini anak-anak sampai dititipkan ke saya. Katanya, Mbak sakit?" tanya ibu itu.


"Eh, waduh! Pasti Bu Yayah mencari saya di rumah sakit! Apa Bu Ika dititipi kunci rumah sama Bu Yayah?" tanya Yuki melihat supir taksi sudah memasang wajah garang.


"Oh, iya, Mbak! Sebentar saya ambilkan dulu!"


"Iya, Bu. Biar Aurel dan Wildan nanti sama saya," ujar Yuki.


Bu Ika segera mengambilkan kunci rumah Bu Yayah yang disimpannya di rumah.


"Sebentar ya, Pak!" Yuki menunjukkan telapak tangannya ke supir taksi yang melengos menunggunya.


"Mbak Kiki, kemana aja??" tanya Wildan yang datang dari rumah Bu Ika.


"Mbak Kiki ada tugas dari sekolah dan menginap, Wildan."


"Kok kepala Mbak Kiki dibungkus??" tanya Wildan.


"Iya, Mbak Kiki nggak hati-hati makanya jatuh, Wildan kalo lari hati-hati, ya? Biar nggak dibungkus kepalanya kayak Mbak Kiki," ujar Yuki tersenyum.


Bu Ika datang membawa sebuah kunci di tangannya lalu menyerahkan pada Yuki, "Ini Mbak Kiki, kuncinya. Kalo masih sakit, anak-anak biar sama saya," ujar Bu Ika.


"Udah, Bu. Saya nggak apa-apa. Anak-anak biar di rumah sama saya." Yuki merasa tidak enak hati, tanggung jawabnya diambil alih oleh Bu Ika yang sangat baik. Hidupnya pun sederhana. Yuki takut kalau anak-anak minta macam-macam pada Bu Ika.

__ADS_1


"Ya udah, semoga cepat sembuh ya, Mbak?"


"Iya, Bu Ika, makasih."


Yuki segera berjalan ke rumah lalu membuka pintu lalu masuk menggandeng anak-anak. Dia pun masuk ke kamar lalu mengambil empat lembar uang dan menyerahkan pada supir taksi.


"Makasih, Pak."


Supir taksi online itu hanya mendengus kesal karena lamanya dia menunggu Yuki.


"Untung mbaknya cakep, jadi aku nggak marah-marah karena kelamaan!" gumamnya pelan sambil menyalakan kembali mobilnya lalu pergi dari rumah. Bersamaan dengan itu, mobil Rangga datang dari depan gang.


Yuki masuk mengambilkan mainan untuk Aurel dan Wildan. Lalu dia berganti pakaian dan kemudian masuk ke dapur. Pintu depan tak lupa ia tutup agar kedua anak itu tidak keluar rumah.


Dia meraih kran, lalu menyalakannya hingga tak dia dengar mobil Rangga sudah berada di depan rumah.


Saat akan mengambil piring kotor, sebuah tangan memegangnya.


"Biar aku aja!" seru lelaki yang telah berdiri di sampingnya, membuat debaran jantung Yuki kembali berdentum kencang. Beberapa detik pandangan mereka bertemu.


"Kiki! Kenapa kamu sampai bisa jatuh di hutan pinus! Kamu aneh-aneh ya?? Anak gadis malam-malam ke hutan pinus ngapain??" tanya Bu Yayah memberondong Yuki dengan pertanyaan. Rangga segera melepas tangan Yuki.


"Eh, darimana Bu Yayah tau kalo aku jatuh di hutan pinus??" tanya Yuki. Belum selesai urusan debaran jantungnya untuk Rangga, ini malah ditambah kaget dengan pertanyaan-pertanyaan Bu Yayah.


"Bi, biar Kiki istirahat dulu aja," ujar Rangga. Lelaki itu mencuci piring-piring kotor sambil memberi kode pada Yuki agar masuk ke kamarnya.


Yuki mengangguk, karena setelah mendengar suara Bu Yayah, kepalanya memang berdenyut. Dia melangkah masuk ke kamar.


"Malah kamu yang nyuci piring! Sini, Bibi aja!"


"Udah, Bi. Aku aja," jawab Rangga.


Yuki tersenyum mendengar Rangga mau mencuci piring demi dirinya. Dia membaringkan tubuhnya di kasur yang keras dan dingin, tapi dirasanya lebih baik daripada di rumah sakit.


"Mas Rangga mau membantuku mencuci piring kotor," gumamnya berbunga-bunga, walau denyutan di kepalanya masih terasa.


Sebentar kemudian dia terlelap karena lelah.


*


"Kak Ferry! Sore ini kegiatan kita selesai, tapi Kak Ferry harus menemani aku ya sampai para mahasiswa sampai di rumahnya masing-masing! Tanggung jawab kita besar sekali untuk keselamatan mereka!" ujar Queensya.


Ferry menghela napas, "Oke!"

__ADS_1


"Bagus!" desis Anggi menyenggol lengan Queensya.


"Kamu harus membayar ini semua!" bisik Queensya.


"Tenang aja, besok kalian kutraktir makan di restoran mahal yang lagi soft opening di jalan Yasmin!" janji Anggi.


"Beneran lho!" jawab Queensya melebarkan matanya.


"Iya! Usaha kita menarik Kak Ferry ke sini berhasil! Setelah dia kembali ke rumah, dia akan berpikir dua kali untuk menengok Kiki, perjalanan agak jauh dari rumah ke rumah sakit!" ujar Anggi menyeringai.


"Iya, tapi Kak Ferry terlihat gusar juga," ujar Wenny.


"Biarlah jadi pelajaran buat Kiki anak miskin itu, biar nggak sok kecakepan!" ujar Anggi.


"Dia emang cantik," tukas Rachel.


"Ni anak perlu disumpal sepatu mulutnya!" gerutu Queensya.


Mereka meninggalkan Rachel yang terbengong sendiri di aula, "Apa salahku??" tanyanya pada diri sendiri.


*


"Dhea, besok kalo Kiki udah pulang dari rumah sakit, kita jenguk dia ke rumahnya sambil nganter baju-bajunya, yuk!" ajak Nana.


Dhea tersentak lalu menggeleng lemah, "Maaf Na, sepertinya aku nggak bisa ikut."


"Lho, kenapa??" tanya Nana kaget.


"Karena setelah pulang dari sini, aku ada urusan keluarga," jawab Dhea sekenanya. Dia masih kecewa pada dirinya sendiri, si pengecut.


Maafkan aku Kiki, aku ini pecundang, aku penakut. Karena rasa takutku, kamu yang jadi korban. Andaikan aku berani melawan mereka ....


Pandangan Dhea menerawang keluar jendela, hingga pengumuman di speaker oleh panitia tak dia dengar.


"Dhea! Dhea!!"


Nana mengguncang bahunya.


"Kita harus bersiap di aula untuk pembubaran acara!" kata Nana setelah Dhea menatapnya.


"Baiklah," jawab Dhea.


Mereka beranjak keluar dari kamar menuju ke aula penginapan.

__ADS_1


*****


__ADS_2