Nona Muda Pura-pura Miskin

Nona Muda Pura-pura Miskin
Kita Putus!!


__ADS_3

Dhea dan Yuki selesai melahap makanan yang ada di depan mereka. Keduan gadis itu tertawa-tawa seolah masalah yang baru saja mereka bahas bukanlah beban, tapi bahkan merupakan hal yang meringankan Yuki. Ada alasan untuk menjauh dari Ferry.


Saat itu, ponsel Yuki berdering-dering, tapi tak juga dihiraukan oleh pemiliknya.


"Siapa itu Ki, yang menelepon?" tanya Dhea.


"Kak Ferry," jawabnya singkat.


"Nggak diangkat?" tanya Dhea memasukkan suapan terakhir dari pisang bakar kejunya.


"Nggak penting sih, yang penting sekarang aku lagi ngobrol sama sahabat yang udah lama jauh," ujar Yuki tersenyum.


Dhea hanya tersenyum juga mendengarnya. Sepenting itu dirinya bagi Yuki. Bahkan sebelumnya tak ada teman yang menganggapnya ada.


Dhea beranjak dari duduknya. Namun, Yuki mencegah. Dia menebak apa yang akan dilakukan gadis itu, membayar semua makanan dan minuman yang mereka pesan.


"Dhea, mau kemana?" tanya Yuki.


"Ke kasir sebentar," jawabnya.


"Duduk dulu, kali ini aku yang bayar," ujar Yuki.


"Nggak, Ki. Aku yang ajak kamu ke cafe ini, jadi aku yang bayar!" tolak Dhea masih dengan posisi berdiri.


"Duduk dulu, aku kan pernah bilang kalo aku mau bayarin kamu kapan-kapan. Nah, ini waktunya aku membalas, karena kamu pun udah menyelamatkan hidupku dengan cerita Kak Ferry," jelas Yuki panjang lebar.


Akhirnya, Dhea mengalah. Dia pun duduk dan menunggu Yuki selesai makan.


"Lagian, aku baru aja dapet uang dari pesanan makanan untuk rapat sekolah. Itu uang perdanaku setelah sebelumnya aku mendapat upah untuk membuatkan makan siang anak-anak TK. Jadi, kita di sini pun untuk merayakannya!" jelas Yuki lagi.


"Eh, kamu bisa bikin nasi box, Ki?" tanya Dhea antusias.


Yuki mengangguk.


"Kalo gitu, nanti aku promosiin sama mamaku. Dia sedang cari catering untuk memberi jatah makan karyawan di kantornya. Catering yang dulu gulung tikar karena yang punya meninggal. Nggak ada yang bisa nerusin," ujar Dhea.


"B-baiklah!" jawab Yuki gugup. Tak disangka keisengannya bercerita pada Dhea akan memberi kesempatan untuk mendapat pelanggan.


"Biasanya sih setiap hari dia minta dibuatin. Nanti kalo mama mau, aku coba pesan dulu sehari lalu kita tunggu reaksi mama ya? Apakah beliau suka atau nggak. Sebentar aku telepon mama dulu," ujar Dhea.


"Oke," jawab Yuki nekat.


Dhea memencet nomor mamanya, lalu berbincang sebentar tentang pesanan makanan box di tempat Yuki kemudian menutup telepon.


"Mamaku mau, Ki. Lusa kamu coba bikin lima puluh box ya?" kata Dhea.


"Li-lima puluh??" tanya Yuki tak percaya. Bagi pemula sepertinya, jumlah segitu sangat banyak terasa.


"Iya, kamu keberatan?"


"Eh, nggak. Aku dibantu majikanku, kok!"


"Oh, judulnya majikan membantu asisten, gitu?"


Gelak tawa menghiasi kebersamaan mereka berdua di sudut cafe itu.

__ADS_1


"Deal, ya? Lima puluh, per box terserah kamu dihitung berapa, mama biasanya ngikut harganya," kata Dhea.


"Oh, oke, oke. Variasi menunya dariku, ya?" tanya Yuki.


"Iya, asal lengkap ya?"


"Siap, Bos!"


Yuki tercengang melihat ke jam dinding. Obrolan yang asyik itu menghabiskan waktu satu jam dan untunglah dia menyadarinya.


"Eh, Dhea, besok lagi ya kita ngobrol. Ini namanya obrolan berfaedah. Aku dapat informasi, juga dapat orderan. Makasih, Dhea. Kita pulang dulu, yuk? Jam Cinderella udah mau berdentang!" ujar Yuki melirik ke jam dinding.


"Oh, iya, iya. Beneran nih kamu yang bayar? Makasih, ya, Kiki!"


Akhirnya mereka menyudahi pertemuan itu, Yuki berjalan pulang dengan cepat meninggalkan Dhea yang sudah dijemput oleh supirnya.


"Ah, terlambat lima menit!" keluhnya sendiri saat tiba di teras rumah Bu Yayah dan melihat jam di dinding.


"Maaf, Bu. Saya terlambat sedikit!" ujar Yuki saat melihat Bu Yayah berada di tokonya sedang menyuapi anak-anaknya.


"Huh, ya sudah! Besok-besok kamu terlambat sepuluh menit, besoknya lagi terlambat lima belas menit! Gitu??"


"Nggak, Bu. Tadi keasyikan ngobrol sama Dhea. Dari ngobrol-ngobrol itu, ada rejeki, Bu!"


"Apa? Kamu ditraktir?? Rejeki buatmu, kan? Bukan buatku??"


"Bukan, Bu. Lusa kita dapat orderan lagi sebanyak lima puluh box nasi. Kalo mama Dhea cocok, dia bakal pesan setiap hari, Bu!"


Raut wajah Bu Yayah langsung sumringah.


"Ya udah, kamu terima, kan? Orderannya??" tanya Bu Yayah.


"Iya, Bu!" jawab Yuki.


"Udah, besok aku yang belanja! Kamu tulis aja menunya! Jangan kebanyakan bikin kayak kemarin itu!"


"Siap, Bu!"


"Sana beresin dulu kerjaanmu, jangan sampai ngurusin orderan tapi rumah terbengkalai juga, pusing nanti aku dibuatnya!"


"Iya, Bu. Saya masuk dulu!"


Bu Yayah hanya diam membiarkan Yuki masuk ke dalam rumah dan menyelesaikan pekerjaannya.


*


Keesokan harinya, Yuki bangub dengan bersemangat. Semangatnya kali ini ingin mendamprat Ferry dan Candra. Meski hanya seorang pembantu, tapi dia tak terima diperlakukan jadi bahan taruhan seperti itu. Tentunya Dhea tak berbohong, karena Yuki tau karakter sahabatnya itu.


Pagi itu setelah membersihkan seluruh isi rumah yang berantakan karena potongan-potongan kertas semalam oleh Aurel dan Wildan, dia memasak di dapur, kemudian memasukkan sedikit nasi dan sayur ke dalam kotak bekalnya.


"Bu, saya nggak sarapan di rumah. Saya bawa bekal. Berangkat dulu ya, Bu!" pamit Yuki mencium tangan Bu Yayah.


"Ya, ingat pulang rumah jangan sore-sore. Kita harus menyiapkan kardus untuk besok!" ujar wanita itu mengingatkannya.


"Siap, Bu!"

__ADS_1


Yuki segera pergi ke kampusnya. Tak lupa dia membawa amplop uangnya yang telah dia simpan bulan lalu.


Sesampainya di kampus, dia menyelesaikan dulu tugas dari pak Frans, di meja pak Frans telah ada satu amplop bertuliskan 'Untuk Kiki'. Dia ragu untuk mengambilnya, tapi Bu Neneng menyampaikan bahwa amplop itu memang untuknya.


"Kiki, itu amplop untukmu, ambillah! Kemarin Pak Frans berpesan pada ibu," ujar Bu Neneng.


"Oh ya, Bu. Makasih!!" ujarnya gembira. Lumayan untuk uang sakunya bulan ini.


Dia kembali ke ruang kuliah, lalu mengambil sejumlah uang dan melangkah ke ruang kuliah semester lima dengan percaya diri dan berani.


"Mana yang namanya Ferry??!" teriaknya kencang, padahal dia belum sarapan.


"Dia belum datang," ujar semua mahasiswa lirih memandangnya dengan aneh.


"Dia berani nggak panggil 'Kak', pasti mereka baru berantem!" bisik salah seorang mahasiswa di ruang itu.


Ketika Yuki akan berbalik, sosok yang dicarinya datang. Para mahasiswa merasa seperti akan mendapatkan sebuah tontonan baru.


"Drama azab, atau sinetron tak berujung ini ya??" desis mereka.


"Hai, kenapa mencariku, Sayang??" tanya Ferry sok ramah.


"Kamu!! Jangan pernah panggil aku 'soyang-sayang'!!" bentak Yuki memuaskan kejengkelan pada lelaki itu.


Muka Ferry pias, dia tak mengira gadis yang dia kira polos itu memiliki keberanian untuk membentaknya.


"Ke-kenapa? Bukankah aku ini pacarmu!?" ujar Ferry.


"Mulai detik ini, disaksikan oleh semua mahasiswa yang baru makan cemilan sambil menonton kita itu, aku umumkan bahwa KITA PUTUS!!!" teriak Yuki di depan ruang kuliah.


Suara cuit burung yang kaget berterbangan dari dalam kedamaian mereka mendengar gelegar suaranya.


"Oh, kenapa?" tanya Ferry yang tiba-tiba merasakan aura kejam dari seorang pembantu yang sebenarnya seorang putri CEO nomor wahid itu. Tentu saja aura itu keluar dengan mudahnya saat dia geram.


"Kamu, Ferry siapa nama lengkapmu?? Bahkan aku nggak tau nama lengkapku, begitu ogeb-nya aku mau nerima permintaan ...."


Candra tiba-tiba datang dengan ceria, tapi kemudian heran melihat pertarungan itu, membuat Yuki menghentikan kata-katanya.


"Kenapa gadis cantik ini??" tanya Candra.


"Nah!! Pas, kebetulan ini monyet satu lagi datang! Kalian ini!! Pake aku sebagai bahan taruhan??? Berapa?? Lima juta?? Oh, masih untung tiga juta ya kamu Ferry??" omel Yuki membuat para mahasiswa di dalam ruang kuliah ber-ooh ria.


"Tunggu penjelasanku, Kiki!" rayu Ferry.


"Ya memang awalnya aku bertaruh, tapi aku suka denganmu!" ujarnya lagi.


"Kamu suka denganku? Aku NGGAK SUKA!!" teriaknya puas seraya berkecak pinggang dan mengambil sejumlah uang dari sakunya.


Dia melemparkan uang ratusan ribu itu ke muka Ferry, "Itu, kukembalikan uang yang kamu bayarkan untuk bakti sosialku!!"


Peristiwa menegangkan itu disaksikan oleh semua mahasiswa dari semester atas juga. Mereka berdecak, "Saatnya kita lakukan pemilihan ketua BEM baru!"


Yuki melangkah keluar dari ruangan itu, meninggalkan kebengongan dua orang yang bertaruh, dan keheningan ruang kuliah. Setelah beberapa langkah, suasana mulai ricuh. Namun, Yuki kembali ke ruangan teringat sesuatu. Melihat Yuki lagi di depan, ruangan kembali hening.


"Hey!! Uang itu masih kurang lima ratus ribu!! Kukembalikan sisanya bulan depan!!" teriaknya cuek.

__ADS_1


__ADS_2