Nona Muda Pura-pura Miskin

Nona Muda Pura-pura Miskin
Penolakan


__ADS_3

"Pi, Nyonya Selly tadi menelepon Mami, dia mengungkit tentang perjodohan yang kalian ucap sebagai candaan waktu kita bertemu dan berkenalan tentang keluarga dengan mereka dulu. Papi sih, pake bercanda, ngapain juga sih? Tau sendiri anak kita nggak mau dipaksa, kan?" ujar Nyonya Marlina cemberut.


"Siapa tau kan, Mi?" jawab Tuan Bhanu dengan santai.


"Mami nggak enak sama Nyonya Selly! Dikiranya kita nggak konsisten kalo Yuki nggak mau, dan bisa dipastikan dia nggak akan mau."


"Iya, Papi juga nggak akan maksa, kok! Asal kita memberi penjelasan pada Tuan John Lee dan istrinya. Papi rasa mereka mau menerima penjelasan kita," jawab pria itu.


"Oke, tapi nanti Papi yang bilang sama Yuki!"


"Ya Mami, lah sebagai ibunya ...."


"Lho, Papii!!"


Pria itu pergi dan tertawa meninggalkan istrinya yang cemberut kesal.


*


Bulan demi bulan berlalu. Saat itu, Yuki tengah mempersiapkan bahan untuk pesanan yang sehari lebih dari dua ratus nasi box bersama Bu Yayah.


Sebuah mobil berhenti di depan rumah wanita itu. Senyum tipis terbentuk di wajah Bu Yayah.


"Oh itu Nyonya Selly, mamanya Rangga," ujar Bu Yayah tanpa ditanya.


Yuki terkejut mendengarnya. Dia kuatir kedatangan Nyonya Selly adalah untuk berurusan dengannya.


Bu Yayah menyambut kedatangan Nyonya Selly. Kemudian, mereka pun duduk di ruang tamu. Wanita cantik itu menatap ke dalam ruangan seperti mencari seseorang.


"Gimana Mbak Selly? Sehat?" tanya Bu Yayah.


"Iya, kami sekeluarga sehat. Hanya kakak sepupu kamu itu, belum bisa lama-lama untuk bepergian. Masih dalam penyembuhan."


"Oh, semoga lekas pulih, Mbak!"


"Iya, makasih. Mmm ... kamu sendirian di rumah, Yah? Mana anak-anak?"


"Mereka baru tidur, Mbak."


"Ooh ... kedatanganku hanya ingin bertemu dengan pembantumu, benar namanya Kiki?"


"I-iya, Mbak. Ada apa, ya?"


Belum terjawab pertanyaan Bu Yayah, Yuki telah datang membawakan dua cangkir teh dan meletakkannya di atas meja. Dia menyalami nyonya Selly.


"Kiki, duduklah di sini. Nyonya Selly mau bicara sebentar," pinta Bu Yayah.

__ADS_1


Yuki mengangguk dan duduk dengan tenang.


"Iya, Tante?" sambut Yuki.


"Kiki, sebelumnya saya mau minta maaf jika kedatangan saya mengganggu waktumu. Saya hanya ingin membicarakan hubungan kalian."


"Saya nggak terganggu, Tante," jawab Yuki.


Gadis itu telah sedikit banyak tau apa yang akan disampaikan oleh mama Rangga, kemungkinan dia akan menghalangi hubungan mereka.


"Kiki, saya tau kamu sedang membangun usaha, tapi hal itu tak menyurutkan niat kami untuk menjodohkan Rangga dengan anak relasi kami, karena sebuah perjanjian. Kami mohon kamu mengerti bila suatu ketika nanti itu semua terjadi."


Sorot mata tajam nyonya Selly menatap ke arah Yuki. Wanita itu sebenarnya merasa kasihan, tapi apalah daya dia dan suaminya tak ingin anaknya mendapat istri yang tak jelas suatu saat nanti. Suaminya terus mendesak agar menjauhkan Rangga dari Yuki yang sekarang sebagai asisten rumah tangga.


Bu Yayah ikut menatap Yuki. Dia tak bisa berkata-kata, merasa tak punya hak untuk melakukan pembelaan.


"Baik, Tante. Saya hanya ingin fokus untuk kuliah dan usaha saya."


Bulan itu, Yuki telah mengantongi lebih dari sepertiga dari jumlah uang yang harus dia serahkan pada orang tuanya. Masih panjang usaha yang harus dia bangun.


"Maafkan kami, Kiki. Kami tak ingin hubungan kalian melampaui batas."


"Saya bisa menjaga diri saya sebagai seorang wanita. Bahkan untuk mencium saja, Mas Rangga nggak saya perbolehkan," ujar Yuki tegas.


"Oh ... baiklah," kata nyonya Selly lirih.


"Err ... kalo gitu, saya permisi dulu," ujar nyonya Selly.


"Lho, ini tehnya?" tukas Bu Yayah.


"Maaf, aku ada urusan penting, Yah!"


Wanita yang memakai dress hitam elegan itu segera berdiri dan melangkah keluar, masuk ke mobilnya, dibukakan oleh sopir.


Bu Yayah hanya mengangguk, lalu keluar mengantarkan kepergian mobil itu. Dia kembali masuk dan mendapat meja telah bersih, dan lagi pembantunya telah kembali mempersiapkan pesanan untuk esok hari, seolah tak ada yang baru saja terjadi. Padahal jika seseorang didatangi oleh orang tua pacarnya dan menyampaikan apa yang dikatakan nyonya Selly tadi, pasti dia akan merasa down. Apalagi seorang gadis.


"Jadi, selama ini kamu berpacaran sama Rangga?" tanya Bu Yayah.


"Iya, Bu!" jawab Yuki tanpa ada keraguan untuk mengakuinya.


Wanita tambun itu memilih diam dan melanjutkan pekerjaannya. Dalam hati, dia tak mempermasalahkan hubungan itu, karena hampir satu setengah tahun gadis itu bersamanya dan tak ada hal yang buruk darinya, kecuali memang tak jelas asal-usulnya.


Tak ada satu pun yang mampu membuatku goyah. Sebuah menara tak akan berdiri tegak dihempas badai jika materialnya tak kokoh! Hati dan pikiranku harus kokoh untuk mewujudkan cita-citaku.


Yuki tetap melanjutkan pekerjaannya. Ucapan mama Rangga hanya dia abaikan. Suatu saat dia akan membuktikan kesuksesannya.

__ADS_1


*


Di sebuah rumah mewah.


"Papi, berapa bulan kita maju mundur cantik untuk menelepon Yuki, membicarakan perjodohan itu?" kejar Nonya Marlina Moon.


"Ah, Mami kan tau kalo Papi sibuk," jawab pria itu berkelit.


"Huh, suka main api tapi nggak bisa memadamkan! Mami nggak enak sama Nyonya Selly! Ini sudah bulan berapa, Pi? Mereka pasti sedang menunggu jawaban kita! Papi gimana sih?"


Mulut wanita itu mengerucut tapi makin membuatnya cantik.


"Udah, sekarang tanyalah pada anak itu, malam ini pasti dia sedang beristirahat di kamarnya."


"Baiklah, Pi!"


Nyonya Marlina meraih ponselnya di ataa nakas, kemudian memencet panggilan ke nomor anaknya. Berkali-kali Yuki tak menjawab panggilan itu, pada akhirnya panggilan ke sepuluh baru dia angkat.


"Halo, Mami gimana sih? Aku kan abis nyuci piring!" jawab suara di seberang berbisik.


"Aih! Anak mami bisa mencuci piringnya sendiri!" jeritnya senang.


"Bukan hanya piring sendiri, tapi seluruh peralatan makan di rumah!" protesnya.


"Ahh, rajinnya!" puji Nyonya Marlina.


"Mi, ingat apa yang mau kamu tanyakan!" ujar Tuan Bhanu mengingatkan.


"Oh, iya, iya. Ehm, Yuki, kami ingin menyampaikan sesuatu yang mungkin saja bisa kamu pertinbangkan, tentang sesuatu yang baik menurut kami, tapi itu terserah bagaimana keputusanmu. Kami sudah pernah bilang tentang kebebasan, kan?" jelas Nyonya Marlina berbelit-belit untuk menyampaikan pada anaknya tentang perjodohan.


"Apa sih Mami? Bertele-tele. Mami tau kan waktuku hanya sebentar di rumah ini? Aku punya banyak pekerjaan. Malam ini aku harus menyetrika baju!"


"Eh, kasihan anak Mami! Apa perlu Mami kirim si Sumi untuk membantumu, Nak?"


"Mami! Cepat bilang apa yang mau Mami sampaikan tadi?"


"Oh, eh, iya. Mami mau menyampaikan tentang perjodohan ...."


"Nggak mau!"


Klik.


Telepon ditutup.


Nyonya Marlina menatap ke suaminya yang tertawa-tawa.

__ADS_1


"Benar kan, Pi? Dia menolak mentah-mentah!"


__ADS_2