
Halaman depan kampus sudah terasa sangat sesak. Semua mahasiswa berdatangan ingin menonton konser musik. Tak sedikit juga mahasiswa-mahasiswa dari berbagai universitas berdatangan meski mereka harus membeli tiket masuk.
Yuki sampai juga di depan gerbang. Dia ikut berdesakan, lalu antre menunjukkan kartu mahasiswa pada panitia, kemudian akhirnya dia bisa masuk ke dalam kampus lalu langsung menuju ke pintu auditorium. Belum ada Nana di sana, padahal jam sudah menunjukkan pukul tujuh malam.
"Mana sih, Nana? Acara udah mau mulai juga!" gumamnya. Bola mata Yuki melirik ke kanan dan ke kiri, mencari sosok Nana di kerumunan orang.
Tiba-tiba tangannya bergetar saat mendapati hal yang sedari tadi dia takutkan. Dia melihat Nana dan Rangga sedang berdiri berbincang di sebelah kerumunan orang, agak jauh dari tempat dia berdiri. Yuki sampai mengucek kedua matanya, meyakinkan bahwa pandangannya tidak keliru.
"Iya, ternyata memang mereka ...." desisnya.
Gadis itu menggigit bibirnya, kecewa. Dia tak perduli lagi akan acara dies natalis. Yuki berjalan menjauh dari kerumunan orang-orang yang ingin masuk. Hanya dia sendiri yang keluar dari kerumunan. Melawan arus dan menahan air matanya. Baru sampai ke samping gedung, tangannya ditarik oleh seseorang.
Yuki menoleh, "Kak Ferry ...." Dia melepaskan tangan Ferry, lalu membuang pandangannya ke sembarang arah.
"Tadi aku jemput kamu, tapi ibu gendut itu bilang dengan judes kalo kamu udah berangkat ke kampus sendirian," ujar Ferry.
"Iya," jawab Yuki singkat.
Masalah lagi, pasti Bu Yayah murka sama aku karena dikiranya aku jalan sama cowok ini! Huh! batin Yuki.
"Kenapa nggak bilang sama aku dulu?" tanya Ferry.
"Lho, memangnya kenapa harus bilang sama Kak Ferry dulu?? Apa salahnya aku berangkat sendiri?" protes Yuki.
"Kan aku bisa jagain kamu," ujar Ferry tersenyum.
Yuki hanya tersenyum kecut. Pandangannya kini kembali tak terarah pada lelaki itu. Malah memandangi orang-orang yang lewat, tapi pikirannya melayang kemana-mana.
"Kiki, aku mau menagih janjimu," tutur Ferry dengan halus.
Yuki menghela napas cepat.
"Kamu masih ingat kan, tentang apa?" tanya Ferry.
"Ya, ini udah seminggu, dan aku harus jawab Kak Ferry," jawab Yuki.
Yuki yang sedang kalut dan kacau, sudah tak lagi bisa berpikir jernih. Dia membutuhkan seseorang untuk menghiburnya, pikiran seorang remaja yang pendek selagi hatinya hancur.
"Ya, aku mau."
Gadis itu menjawab sekenanya, tanpa ekspresi dan bukan dari hatinya.
"Eh, apa?? Bentar, ulangi ... ulangi!"
Ferry mengambil ponsel dari sakunya, lalu menyiapkan kamera video, kemudian mengarahkan pada Yuki.
"Norak!" seru Yuki kesal.
"Kiki, aku seneng banget, makanya aku mau mengabadikan ucapanmu itu! Please ...."
"Huh, iya aku mau jadi pacarnya Kak Ferry, puas??" ujar Yuki nampak kesal.
"Yang bagus dong, jangan kesel gitu ...."
"Ah, udah!!" seru Yuki. Inginnya meredakan kekecewaannya, tapi emosinya malah tersulut sempurna.
__ADS_1
"Ya udah, kita foto wefie dulu, ya?" pinta Ferry.
"Wajib?" tanya Yuki mengangkat alisnya.
"Buat wallpaper layar handphone ...." Ferry memasang kamera lalu menjepret gambar mereka berdua dengan Yuki yang masih manyun, tanpa senyum.
Manusia ini naudzubileh noraknya!!
"Makasih ya, Kiki ...." ucap Ferry.
Ponsel Yuki berdering. Nana menelepon. Sepertinya acara mulai.
"Halo?" jawab Yuki. Sebenarnya dia enggan mengangkat telepon gadis itu, tapi dia pun tak betah dengan Ferry yang sekarang telah berstatus menjadi pacarnya.
"Kamu dimana sih, Ki?"
"Aku di samping auditorium, kamu dimana?" tanya Yuki berlagak tidak tau.
"Aku di depan panggung! Tadi kutunggu di depan auditorim tapi kamu nggak dateng-dateng! Kamu kesini deh, mau mulai nih band pembuka!"
"Iya, iya, kamu sama siapa??"
"Sendirian," jawab Nana.
Sendirian?? Bukankah tadi dia bersama dengan Mas Rangga?? Huh!
"Oke, tunggu! Aku kesana!"
"Siapa?" tanya Ferry.
"Nana, dia di depan panggung."
"Yuk, aku ikut kesana, ya?" kata Ferry.
"Ngapain??" Yuki mengerutkan dahi.
"Lho, kan kita pacaran sekarang, boleh dong aku nemenin pacarku!" jawab Ferry.
"Hmm, baiklah."
Lumayanlah, kalo ada kerumunan, dia bisa carikan jalan buatku.
"Nah, gitu dong ...."
Ferry akan merangkul Yuki. Namun, gadis itu menepis tangan Ferry.
"Apa sih! Biasa aja, lah!" omelnya.
"Ya kalo pacaran kan biasa seperti itu, kan?" tanya Ferry.
"Kita ... pacaran yang physical distancing aja!" ujar Yuki sambil berjalan meninggalkan Ferry.
Lelaki itu berjalan cepat menyusul di sampingnya, " Oke, oke! Nih, aku jalan di sampingmu!" ujar Ferry merengut.
"Yang penting statusnya pacaran!" gumam Ferry.
__ADS_1
Mereka sampai di depan panggung, pelataran gedung. Acara telah mulai. Yuki mencari Nana, dan dia menemukan temannya itu sedang nggak mood menonton band pembuka. Mereka segera mendekati Nana.
"Hey, ini konser bukan sinetron! Malah ngelamun!" tegur Yuki pada gadis berambut lurus panjang itu.
"Eh, kamu udah di sini aja, Ki! Waah, kejutan! Ternyata, kalian berdua ketemuan dulu, baru nyariin aku ... curang, ya?"
"Hih, ngapain murung? Kenapa sendirian? Mana cowokmu?" pancing Yuki.
"Dia nggak bisa nemenin aku nonton konser, makanya aku sedih!" Nana mengerucutkan bibirnya.
"Kenapa?" tanya Yuki lagi. Sebenarnya ke-kepo-an Yuki sudah berada di tingkat antariksa, tapi dia menahannya dan hanya bertanya sedikit-sedikit.
"Yaa, biasa lah, ada urusan penting. Udah, nggak usah dibahas! Bikin aku kecewa aja! Yuk, nonton band!" Mata Nana bergulir ke arah panggung. Tak lama dia berjingkrak mengikuti irama lagu yang dibawakan band lokal itu.
Ih, aku kepooo!! Mas Rangga itu ngapain kok nggak nemenin dia nonton konser?? Hal penting apa sih dari pagi sampai malem gini dia sibuk??
Nana udah move on, sementara pikiran Yuki masih bergumul dengan keadaan Rangga.
"Kamu nggak suka band-nya??" tanya Ferry membuyarkan pikiran Yuki.
"Suka," jawabnya.
"Kok kayak nggak ngikutin lagunya? Apa mau minum? Aku beliin, ya?" tawar Ferry.
"Nggak usah," jawab Yuki.
"Iya, sekaleng soda," jawab Nana.
Mereka menjawab hampir bersamaan.
"Beliin Nana aja!" ujar Yuki menahan tawa.
Ferry mendengus, tapi karena dia pun haus maka dia pergi juga untuk membeli minuman.
"Huh, okelah. Tunggu di sini, ya? Jangan kemana-mana, biar nggak susah nyarinya!" pesan lelaki itu.
"Oke, Kak Ferry ...." jawab Nana.
Sementara Yuki hanya mengangguk dan pandangannya masih tetap ke arah panggung.
"Kamu tuh udah jadian sama Kak Ferry, Ki?" tanya Nana.
Yuki kembali hanya mengangguk, tak bergairah untuk menjawab pertanyaan temannya itu.
"Kapan?? Pasti barusan, kan?? Pajak jadian dong!" berondong Nana.
Yuki hanya diam saja hingga Ferry datang membawa tiga botol air mineral.
"Nih!"
Dia mengulurkan pada kedua gadis itu.
"Tuh pajak jadiannya!" ujar Yuki.
"Masa sih, cuma air putih ...." keluh Nana melihat botol air mineralnya.
__ADS_1
"Dia minta pajak jadian??" tanya Ferry.
Ferry terkekeh, sementara Yuki masih tetap menatap ke arah panggung dengan pikiran yang tak karuan.