
Seorang wanita yang sangat cantik dan begitu memiliki daya tarik bagi yang melihatnya, sedang duduk menatap ke arah pria yang telah dia dampingi selama dua puluh tahun, menyertainya hingga sesukses sekarang ini, menjadi pebisnis nomor wahid di negeri mereka.
Nyonya Marlina Moon, istri dari Tuan Bhanu Tungga Jaya mulai membuka pembicaraan dengan pria yang sedang menyesap kopi di hadapannya itu.
"Papi, apa kita nggak perlu menengok anak perempuan kita satu-satunya? Si Manja Yuki?" tuturnya.
Pria yang diajak bicara hanya mendesah pelan, "Mami, kita lepaskan dulu anak itu. Bukan berarti kita kejam, tapi lebih baik dia belajar mengatasi semua masalahnya sendiri. Siapa lagi yang bisa menolong hidupnya kalo bukan dirinya sendiri?"
"Iya, Mami tau, tapi walau kita selalu mendapat kabar dari Hari maupun bawahan Papi tentang keadaan Yuki sekarang, rasa rindu Mami terhadap anak itu begitu besar, ini udah beberapa bulan kita nggak bertemu dengannya, Pi!"
"Dia pun nggak pernah menelepon kita, apa dia telah melupakan kita dengan pendidikan dan usaha barunya??" lanjut wanita itu, menyibakkan dress ungu yang dia pakai agar kakinya lebih leluasa untuk saling bertopang.
"Papi juga ingin mencicipi apa yang dia buat selama ini. Dia sedang membangun bisnisnya sendiri. Bukankah dia benar-benar anakku, Mi?" Raut bangga terbentuk di wajah pria itu.
"Mami ingin sekali ketemu walau sebentar. Bagaimana kita bisa ketemu dengannya, sementara misinya belum tercapai?"
Tuan Bhanu Tungga Jaya memiliki dua perusahaan besar, kosmetik dan bahan bakar minyak. Kedua perusahaan itu adalah penguasa pasar terbesar di negeri itu.
"Lagian, masih ada banyak waktu, Mi. Dia masih banyak tugas kuliah. Kata Hari sebentar lagi dia magang."
"Oh, magang di mana Papi? Di kantor Papi aja!" usul Nyonya Marlina Moon.
"Nggak boleh, itu namanya nepotisme, Papi nggak mau dia magang di tempat Papi."
"Kalo penilaian obyektif, nggak apa-apa kan, Pi?"
"Pokoknya nggak!"
Nyonya Marlina mendesah pelan, suaminya memang memiliki karakter yang keras.
*
Beberapa bulan kemudian
Akhir tahun yang menyenangkan bagi Yuki. Dia telah mengantongi hampir seperempat dari kesepakatan nominal untuk misinya. Dia pun telah melewati ujian akhir dengan baik. Benar-benar di luar dugaan. Semula, gadis itu tak bisa berharap banyak pada dirinya sendiri. Namun, seiring berjalannya waktu, ternyata dia menemukan bakatnya sendiri.
__ADS_1
"Yuki, karena kepandaianmu, kamu boleh magang liburan ini," ujar Pak Hari pada anak sahabatnya itu saat mereka hanya berdua di kantor Dekan.
"Aih!! Bolehkah, Om??" tanya Yuki terbelalak. Dia selalu takjub dengan hal baru.
"Iya, boleh. Hanya dua orang dari angkatanmu yang bisa magang tahun ini saat libur panjang semesteran bersama dengan semester atas. Namun, tempatnya pun akan kami tentukan."
"Oh, nggak masalah, Om! Bagaimana teman-temanku yang lain?"
"Mereka bisa mendapatkan kesempatan tahun depan, Yuki. Lagian mereka bisa magang di perusahaan mereka sendiri karena sebagian besar mahasiswa jurusan bisnis memiliki usaha sendiri. Penawaran ini karena ada dua tempat yang kosong dan kami menunjuk dua orang mahasiswa semester dua untuk mengisi kekosongan itu. Tentunya yang memiliki prestasi akademis."
"Baik, Om!"
Satu orang lagi yang ditunjuk oleh Pak Hari tak dikenal oleh Yuki, karena dia magang di sebuah bank. Sedangkan Yuki mendapat kesempatan di kantor sebuah perusahaan ternama.
Liburan semester masih minggu depan. Namun, Yuki tak sabar untuk memulai kegiatan barunya. Gadis itu menyampaikan kegiatannya pada sang majikan.
"Lalu, apa kamu bisa mengatur waktu untuk magang dan orderan ini, Ki?" tanya Bu Yayah.
"Bisa, Bu. Saya magang di kantor hanya dari jam delapan sampai jam dua siang, setelah itu saya pulang dan menyelesaikan orderan. Jangan terima orderan lain selain pelanggan kita dulu, Bu. Supaya kita nggak keteteran."
Bu Yayah merebahkan tubuhnya yang kecapekan di lantai hingga kedua matanya terpejam. Wanita itu memang kelelahan setelah menyelesaikan pesanan rutin.
Yuki menyiapkan baju-baju yang akan dia pakai untuk minggu depan. Sebelumnya dia hanya pernah pergi ke kantor perusahaan papinya dan itu pun tidak melakukan apa-apa, hanya seperti liburan saja, melihat-lihat suasana kantor dengan kesibukannya. Sekarang, dia akan sibuk di kantor. Dia membayangkan akan bekerja seperti karyawan-karyawan papinya yang keren.
"Dhea, liburan ini aku dapat kesempatan magang dari kampus di perusahaan ternama, tapi aku juga belum tau tempatnya!" tutur Yuki pada Dhea.
"Wahh, bagus itu .... Aku pasti magang di kantor papaku sendiri. Padahal aku juga pengen sekali-kali kerja di kantor orang lain. Oh ya, perusahaan apa dan kantornya dimana, Ki?" tanya Dhea.
"Kantornya berada di daerah selatan, perusahaan AR foods," jawab Yuki.
"Pernah denger," ujar Dhea memegangi dagu sembari memutat bola matanya.
*
Liburan datang, tapi ini bukan kesempatan Yuki untuk berleha-leha. Namun, ini adalah sebuah pengalaman baru baginya. Dia menyiapkan curriculum vitae yang telah dibuatkan oleh Om Hari karena ada hal yang tak mungkin disebutkan di lembaran itu untuk identitas Yuki, beserta kartu mahasiswanya.
__ADS_1
Baju formal yang telah dia beli dengan uang tabungannya pun telah siap. Dia telah menyiapkan segalanya dengan baik.
Hari pertama dia berpamitan dengan Bu Yayah, "Bu, hari ini saya mulai magang, ya?"
"Iya. Wah, Ki. Kamu udah rapi sekali seperti pegawai kantoran beneran!"
Yuki menggulung rambutnya ke atas agar terlihat rapi dengan sebuah pita yang menghiasinya. Sedikit polesan bedak dan lipstik membuat wajahnya cerah. Baju setelan berwarna peach cantik membalut tubuhnya.
Gadis itu tertawa kecil melihat sang majikan memuji penampilannya.
"Berapa lama kamu sampai ke kantor itu, Ki?" tanya Bu Yayah.
"Dua puluh menit. Untung saya nggak magang di luar kota, Bu."
"Iya, daerah selatan, ya? Perusahaan apa itu?"
"AR foods," jawab Yuki melirik jam tangannya.
"Itu kan ...." Ucapan Bu Yayah terpotong saat Yuki menyadari kedatangan driver ojek dan jarum jam telah menunjuk ke angka tujuh.
"Bu, saya berangkat dulu, ya? Tukang ojeknya udah datang!" Yuki telah membeli sebuah ponsel untuk melancarkan perjalanannya. Dia merasa sangat membutuhkan ponsel yang modern agar membantu penjualannya juga. Selain membutuhkan aplikasi ojek, dia berpikir bisa menggunakannya untuk mempromosikan nasi box dan kue-kuenya.
"I-iya, Ki. Hati-hati!!" teriak Bu Yayah.
Yuki segera memakai masker dan helm, lalu membonceng tukang ojek online itu.
Dua puluh menit kemudian, dia turun, mengulurkan sejumlah uang dan berterima kasih pada driver, lalu melangkah menuju sebuah kantor yang lumayan besar. Namun, tak ada yang menandingi kantor papinya.
Dia masuk dengan percaya diri, lalu mengulurkan data diri pada security.
"Pak, saya karyawan magang. Ini data saya, bisakah saya bertemu dengan manager perusahaan ini?" tanya Yuki sopan.
"Oh ya, silakan, Mbak."
Satpam mengantar Yuki memasuki kantor yang dipenuhi oleh orang-orang yang berdasi rapi dan beberapa karyawan wanita yang juga berbaju rapi. Mereka memandangnya dengan asing. Yuki menarik bibirnya agar tersenyum, tapi masih tetap kaku rasanya. Rasa percaya dirinya tadi agak memudar.
__ADS_1
"Aku harus bersikap baik dimanapun berada," gumamnya.