Nona Muda Pura-pura Miskin

Nona Muda Pura-pura Miskin
Kepergian Rangga


__ADS_3

"Kak Kiki, bunganya bagus!" ujar Aurel menyapanya di teras rumah.


"Aurel mau?" tanya Yuki.


Gadis kecil itu berbinar, dia menganggukkan kepaka dengan cepat, takut tak memiliki kesempatan kedua.


Yuki tersenyum lalu memberikan bunga itu pada Aurel. Kemudian dia masuk mninggalkan Aurel dengan boneka dan bunganya.


Beberapa menit kemudian, bunga itu telah menjadi bunga tabur di teras rumah.


Senja datang dengan cepat, berganti dengan gelap. Yuki telah selesai memasak untuk makan malam. Semua anggota keluarga tengah berkumpul di ruang makan. Tak terkecuali Rangga. Tumben.


"Enak, enak banget masakan Ibu," puji Pak Hendra dengan mulut yang masih penuh.


"Kiki yang masak," jawab Bu Yayah tak kalah penuh mulutnya.


"Oh, enak Ki masakanmu," puji Pak Hendra lagi. Dia mengangkat piring kosongnya lalu mendekatkan ke tempat nasi, menambahkan satu centong nasi lagi ke piringnya.


Kiki tersenyum senang masakannya dipuji-puji. Bola matanya bergulir ke arah Rangga. Lelaki itu masih berwajah tanpa ekspresi pada Yuki, membuat raut wajah gadis itu pun ikut berubah sedih.


"Oh ya, Kiki. Bu Astin, guru Aurel tadi nanya, apa kamu bisa bikinin makanan box untuk acara rapat minggu depan?" tanya Bu Yayah.


"Uhuk, uhuk!!" Yuki tersedak karena kaget mendengar pertanyaan Bu Yayah, dia segera mengambil air minum dan meneguknya perlahan.


"Berani berapa, Bu? Eh, maksud saya suruh bikin berapa?" Yuki mengelap mulutnya dengan tissue.


"Tiga puluh kotak," jawab Bu Yayah yang masih saja mengunyah.


Rangga menyimak percakapan mereka, tak menyangkal, dia pun menyukai masakan Yuki.


"Tiga puluh, Bu?? Nggak salah pesen di saya??" tanya Yuki tak percaya.


"Tadi Bu Astin itu cerita kalo waktu kapan itu pas kamu nganterin Aurel, kamu kan yang bikinin makan siang buat anak-anak? Mereka nangis ...."


"Lho, lho, kenapa, Bu??" Yuki meletakkan menyilangkan sendok dan garpu dia atas piring kosongnya.


"Anak-anak itu minta nambah, tapi stok sayur habis, ya kan Aurel?" Pandangan Bu Yayah bergulir ke anak perempuannya itu.


Aurel mengangguk.


"Trus, Bu Astin bilang apa kamu bisa membuat nasi dus? Aku bilang bisa, hehehe," ujar Bu Yayah.


Selain galak dan cerewet, jahil juga Bu Yayah ini ... mana aku nggak ada pengalaman bikin nasi dus?? Tiga puluh kotak lagi, butuh nasi berapa kilo, sayurnya apa aja .... Aih!


Yuki melamun memikirkan bagaimana dia harus menyanggupi pesanan itu.

__ADS_1


"Gimana? Bisa, kan? Minggu depan aku bantuin," ujar Bu Yayah.


"Eh ...." Yuki hanya cengar-cengir saja sambil berpikir.


"Apa dicancel aja?" tanya Bu Yayah.


"Eh, nggak usah, Bu. Nggak enak juga! Ya udah, Kiki will fight!!"


Rangga menahan tawa melihat Yuki mengangkat satu tangan, memperlihatkan lengannya.


"Mau, ya?" tanya Bu Yayah mengkonfirmasi.


"Iya, Bu."


"Nah, besok aku bilang ke Bu Astin kalo kamu sanggup," kata Bu Yayah.


"Iya, Bu. Sesuatu harus dipaksakan untuk mencoba!" ujar Yuki. "Kalo gagal gimana, Bu?" tanya gadis itu sedikit ragu setelah kemantapannya goyah dengan pikiran negatifnya.


"Belum nyoba udah bilang gagal! Aku lho, gendut-gendut gini punya pengalaman lho kalo cuma masak-masak!" kata Bu Yayah sesumbar.


"Waah!! Beneran, Bu?? Di catering, rumah makan, cafe, atau di mana, Bu??" Mata Yuki membulat sempurna, menunjukkan kekaguman.


"Catering, rumah makan, cafe ... bukan semua!!"


"Bukan! Di hajatan tetangga, kan itu juga pengalaman yang terbaik??"


"Ooh ...." Yuki mengangguk-angguk dengan senyum tertahan sambil memberesi piring dan gelas kotor di atas meja. Semua orang telah berpindah tempat saat mendengar percakapan mereka.


Gadis itu melangkah membawa semua piring, gelas kotor ke dapur. Dia bersenandung saat mencuci semua kotoran. Lalu mematikan kran dan akan keluar dari dapur, tapi dia tak jadi melanjutkan langkahnya mendengar percakapan ketiga orang di ruang tengah.


"Jadi, kamu mau kuliah ambil kuliah paralel tiap Sabtu-Minggu, sambil nerusin perusahaan papamu?" Terdengar suara Pak Hendra dari dalam.


"Iya, Om. Kemungkinan aku nggak akan di sini lagi. Papa mendesak aku ikut membantu di perusahaan yang telah lama beliau dirikan, karena penyakit papa sering kambuh jika memikirkan perusahaan sendiri, sementara aku adalah anak satu-satunya."


"Oh, bagus itu, jadi bukan diberikan ke orang lain yang belum tentu bisa dipercaya. Semoga papamu tidak sakit-sakitan lagi setelah dibantu," ujar Pak Hendra.


"Iya, Om."


Yuki menghela napasnya, belum juga dia memberi kesan baik pada lelaki itu, tapi Rangga sudah akan pergi dari rumah Bu Yayah.


"Yaah, memang Mas Rangga itu pun akan dijodohkan, aku bisa apa ...." desis Yuki pasrah di balik tembok.


"Ngapain kamu, Ki?"


Tiba-tiba Rangga sudah berada di sebelahnya, di ambang pintu.

__ADS_1


"Eh, Nggak apa-apa, Mas Rangga!" jerit gadis itu lalu berlari ke kamarnya, membawa setumpuk cucian kering dari atas sofa ke kamarnya.


Rangga menatap Yuki dari belakang, hingga gadis itu menghilang. Kemudian baru melangkah ke kamar mandi.


*


Keesokan harinya, saat matahari belum muncul dan suasana masih gelap dan dingin, Rangga benar-benar mengemasi barang-barangnya.


"Om, Tante maaf waktu yang sangat sebentar sekali aku menumpang di sini, sungguh merepotkan kalian berdua."


Rangga berpamitan setelah memasukkan barang-barangnya ke dalam mobil. Yuki menyaksikannya dari dalam rumah.


"Nggak ada yang repot, Ngga, kami berdua selalu berdoa untuk kesuksesanmu."


Kedua orang itu memeluk Rangga dengan sayang sebelum melepasnya pergi.


Rangga mencari keberadaan Yuki, tapi gadis itu tak kelihatan dari luar. Dia sedikit kecewa, tapi tetap lanjut masuk ke dalam mobil. Hari itu dia harus kembali ke perusahaan dan membantu papanya.


Yuki bersembunyi di balik jendela, dia menangis karena merasa kehilangan. Namun, sebentar kemudian dia menghapus air matanya karena Pak Hendra dan Bu Yayah mulai melangkah masuk ke rumah.


Yuki melanjutkan pekerjaan-pekerjaannya dengan pikiran kacau dan tak bersemangat. Dia berusaha menyingkirkan perasaan kehilangan dengan bekerja keras.


Sejak saat itu, Yuki fokus pada kuliah, pekerjaan dan pesanan makanan yang dia mulai dengan menerima pesanan makanan box dari Bu Astin.


"Bu, masakannya enak. Besok saya rekomendasikan pada teman-teman, jika ada yang pesan, saya bisa menghubungi nomor siapa?" tanya Bu Astin pada Bu Yayah saat wanita itu mengantar Aurel.


"Oh, ya. Nanti saya bilang dulu ke Kiki, nomor dia saja, Bu," ujar Bu Yayah.


Bu Astin mengangguk, "Baik, Bu."


Meski pertama kali Yuki dan Bu Yayah membuat terlalu banyak melebihi porsi yang dipesan, hingga harus membagikannya ke para tetangga, tapi itu pengalaman pertama mereka. Untuk rasa, sudah sangat memuaskan.


Bu Yayah tersenyum dan membawa uang yang diberi oleh Bu Astin untuk dia berikan pada Yuki.


*


Sementara itu di kampus, Yuki ingin menanyakan perihal kepergian Rangga pada Nana, tapi gadis itu seolah memang sedang menutup diri. Beberapa hari, Dhea pun belum kelihatan lagi.


Yuki menghela napasnya, "Mungkin Nana sedang sedih karena Mas Rangga pergi dari kota ini. Setidaknya mereka bisa ketemu seminggu sekali saat Mas Rangga kuliah, kan?"


******


Makasih banyak sayang-sayangku yang udah menyukai cerita retjeh ini... Lopek lopek buat kaliaan... kecup kecup... Hehehe


Sabar ya semua dengan ceritanya... Masih ditunggu komentar-komentar kalian yaa...

__ADS_1


__ADS_2