Nona Muda Pura-pura Miskin

Nona Muda Pura-pura Miskin
Tekad Rangga


__ADS_3

"Mas Rangga, kira-kira kedua orang tua kamu setuju nggak kalo kamu menikah denganku yang hanya seorang pembantu?" tanya Yuki sedikit berbisik.


"Jika mereka tak menyetujui, aku akan membuat mereka menyetujuinya," jawab Rangga tertawa kecil.


Yuki mendesah pelan. Dia sudah merasakan pandangan dan sikap tak menyenangkan dari kedua orang tua Rangga saat mengatakan bahwa dia hanyalah seorang pembantu.


"Mas Rangga nggak boleh gitu. Jangan hanya karena aku, kamu jadi menentang orang tua, Mas!"


Seorang pelayan membawakan dua cangkir minuman dan beberapa cemilan, lalu meletakkan di atas meja.


"Terima kasih, Mbak," ucap Yuki.


Pelayan itu terkejut saat mendengar tamu tuan muda mereka mengucapkan terima kasih. Biasanya para tamu yang datang tak pernah menghiraukan pelayan yang datang.


"I-iya, Nona. Silakan diminum dan dinikmati cemilannya."


Pelayan itu membungkuk pada Yuki, lalu masuk lagi ke dalam.


"Kiki, ini soal hidupku sendiri. Jika semua ditentukan oleh orang tuaku, apakah aku akan menjalani hidup palsu? Aku tetap akan konsisten dengan pilihanku, apapun resikonya!" tekad Rangga.


"Baiklah, Mas. Aku hanya meyakinkan kamu bahwa keluargaku adalah keluarga yang baik. Namun, jika kedua orang tuamu mengatakan pertentangan, bersabarlah Mas, mereka sebagai orang tua pun menginginkan yang terbaik untuk anaknya. Apalagi Mas Rangga adalah satu-satunya harapan mereka."


Yuki tersenyum merasakan kesungguhan Rangga untuk memperjuangkan cinta mereka. Ya, ternyata penyamaran Yuki bukan hanya menggali potensinya tapi juga menemukan cinta sejati yang memandang seseorang bukan dari hartanya saja. Andai dia tak menyamar menjadi pembantu, mungkin dia tak menemukan cinta seperti ini.


Untuk mencapai kebahagiaan itu, Yuki harus melewati masa sulit seperti ini. Dia tahu bahwa kedua orang tua Rangga akan mempermasalahkan status.


"Iya, Kiki. Aku tau kamu yang terbaik untukku."


Wajah Rangga mendekat pada Yuki, segera gadis itu menutup wajah kekasihnya itu.


"Inget tempat, Mas Rangga!"


Rangga tertawa menyadari kekonyolan itu.


"Mas, ini udah malam, aku pulang ya? Bu Yayah akan marah kalo aku kemalaman pulang."


"Dia nggak akan marah, tenang aja!"


"Ya aku nggak enak, Mas."


Lelaki itu menghela napas, sebenarnya dia masih ingin berlama-lama dengan gadisnya itu, tapi waktu tak memungkinkan.


"Baiklah, aku antar ...."

__ADS_1


Akhirnya Rangga mengalah. Dia beranjak untuk berpamitan pada kedua orang tuanya. Saat memasuki ruang keluarga, ternyata kedua orang tuanya telah berada di dalam kamar mereka. Rangga memutuskan untuk tidak mengganggu mereka.


"Yuk! Papa dan Mama mungkin lelah, mereka telah beristirahat di dalam kamar mereka."


Yuki mengangguk, kemudian berdiri dan mengikuti Rangga masuk ke mobilnya.


*


"Kiki, kenapa tak kita lanjutkan apa yang akan kita lakukan malam itu?" tanya Rangga mengerlingkan mata saat mobil akan masuk ke gang rumah Bu Yayah.


"Lanjutkan ... apa, Mas?" tanya Yuki tak paham.


"Waktu kamu pinjam laptop dan printerku itu?"


Wajah Yuki memerah, dia baru paham akan perkataan Rangga.


"Tentu ... nggak, Mas. Aku hanya akan melakukan ciuman pertamaku di malam pertama pernikahan," tolak Yuki.


Rangga mendengus, "Lalu kenapa malam itu kamu memejamkan mata seperti ingin menciumku?"


"Khilaf, Mas."


Gadis itu tertawa terbahak-bahak. Rangga mengelus kepalanya, lalu mengalah dan melajukan mobilnya kembali.


"Jadi kamu belum pernah ciuman?"


"Ferry?" tanya Rangga melirik.


"Belum!!" jawab Yuki mengerucutkan mulutnya.


"Bagus, sebaiknya kita buat hal itu menjadi kado di malam pertama kita. Ugh ... jadi pengen cepet-cepet melamar kamu!"


Rangga menjepit hidung Yuki yang mancung, hingga gadis itu gelagapan. Lelaki itu tertawa bahagia melihat gadisnya, apalagi gadis itu benar-benar belum pernah disentuh oleh lelaki. Dia ingin segera membuktikannya!


*


"Rangga, kami mau bicara."


Suara tegas Pak Lee menyambut Rangga. Malam itu usai mengantar Yuki, kedua orang tua Rangga telah duduk menunggu anak mereka.


Sebenarnya Rangga tahu apa yang akan mereka bicarakan. Dia terlampau malas menanggapinya, tapi Yuki telah mengatakan bahwa dia harus bersabar. Ucapan gadis itu benar-benar mempengaruhi emosinya.


Rangga duduk dengan tenang di sofa. Kedua orang tua itu menatapnya tajam. Seolah ingin melakukan sidang padanya.

__ADS_1


"Rangga, sebelumnya Mama mau tanya, apa kamu sudah tau asal-usul gadis itu?" tanya wanita cantik yang memakai piyama nylon mewah berwarna merah di depannya.


"Sejujurnya belum, tapi aku yakin dia berasal dari keluarga baik-baik," jawab Rangga.


"Kamu bahkan belum pernah menemui keluarganya, kan?" tanya Pak Lee.


Rangga menggeleng, "Papa, keyakinanku ini bukan asal-asalan. Aku telah bersama dia selama di rumah Bi Yayah! Dia gadis baik-baik, Pa!"


Meski ingin meredam, tapi emosinya akan meledak juga menghadapi kedua orang tuanya itu.


"Rangga! Baru berapa bulan kamu mengenalnya, kan? Kenapa kamu begitu berani melamarnya sebagai calon istri?"


"Karena aku yakin, Pa!"


"Apa dia punya identitas? Apa yang disodorkannya saat melamar untuk magang? Hanya curriculum vitae, surat lamaran dan kartu mahasiswa, kan? Dimana kartu tanda penduduknya? Ijasahnya? Identitasnya?? Apa kamu yakin namanya hanya Kiki?"


Rangga tak bisa meyangkal. Di negara ini identitas begitu penting, begitu juga di dalam pikiran kedua orang tuanya. Dia kembali memikirkan kebenaran kata-kata Yuki bahwa kedua orang tuanya ingin yang terbaik untuk anaknya.


"Papa nggak mau tau, pokoknya kamu harus menemui keluarganya dan memastikan bahwa dia dari keluarga baik-baik!" lanjut pria itu.


Rangga hanya tertunduk menjalin jemarinya. Tak ada lagi yang bisa dia katakan.


"Rangga, darimana calon istrimu berasal, itu penting ...." ujar Bu Selly.


"Ma, apa pentingnya kita tau bahwa seseorang adalah anak orang kaya dan berhasil tapi dia adalah seorang penipu curang dan pengecut yang lari ke luar negeri tak kembali setelah melakukan kecurangan untuk menjatuhkan perusahaan orang lain demi kepentingan pribadinya??"


Sebuah pukulan telak untuk mama Rangga tentang Cecilia yang digadang-gadang akan dijodohkan saat itu.


"Baiklah, Mama mengakui itu sebuah kesalahan. Sekarang begini, sudah jelas keluarganya saja kita bisa salah, apalagi yang belum jelas, Rangga?" ujar Bu Selly menyampaikan pemikirannya.


"Lalu, kalian mau bagaimana?" tantang Rangga.


"Rangga, masih ada satu calon lagi. Mama yakin dia adalah calon yang jelas, yang orang tuanya pasti memberikan pendidikan baik dan kami memastikan kepribadian anak mereka pun terbentuk dengan sangat baik."


Bu Selly mencoba untuk bernegosiasi dengan anaknya.


"Perjodohan lagi? Mama lagi halu? Mama habis baca novel?" tanya Rangga kesal.


"Rangga, Mama dan Papa ingin yang terbaik ...."


"Baiklah! Begini saja, Kiki, gadis yang kusukai itu sedang membangun usahanya. Jika dia berhasil, aku tak akan meninggalkannya, tapi jika dia tak berhasil, aku akan menuruti kalian untuk menjalani perjodohan konyol ini!"


Saking kesalnya, Rangga memutuskan sepihak, memberikan pilihan untuk hidupnya sendiri.

__ADS_1


"Oh, begitu. Gimana, Pa?" tanya Bu Selly pada suaminya yang diam, bergeming sedari tadi. Dia berusaha menekan emosinya dengab diam.


"Terserah," jawab pria itu.


__ADS_2