Nona Muda Pura-pura Miskin

Nona Muda Pura-pura Miskin
Rehat Tujuh Hari


__ADS_3

Yuki terbangun karena ketukan di pintu kamarnya. Matanya seperti diberi perekat setelah tidur di kamar sendiri.


"Kiki! Bangun!! Kamu nggak pingsan, 'kan?" Suara cempreng Bu Yayah membangunkan Yuki dan sepertinya dia telah berkali-kali mengetuk pintu kamar gadis itu.


"Iya, Bu! Ah, kenapa sih Bu Yayah itu pakai gedor-gedor pintu segala ...." Yuki dengan malas membukakan pintu untuk wanita itu.


"Rangga udah masakkin sayur tuh! Cepetan makan siang dulu, baru minum obatnya! Bukannya aku perhatian, tapi biar kamu cepet sembuh, kan kamu di sini mau bantu-bantu, bukan dibantuin melulu!" omel wanita tambun itu.


"Mas Rangga yang masak??" tanya Yuki meyakinkan dirinya.


"Iya! Buruan! Biar cepet sehat!" Bu Yayah meninggalkan Yuki yang berbunga-bunga hatinya mengetahui bahwa Rangga perhatian padanya hingga mau mengerjakan pekerjaannya.


Dia menutup pintu kamar lalu berjalan ke arah kamar mandi untuk mencuci muka, lalu berjalan ke ruang makan. Di sana tak ada siapa pun, hanya beberapa mangkuk saji dan sedikit tumpukan piring di atas meja. Tampaknya seluruh anggota keluarga telah selesai makan siang.


"Kelihatannya enak," desisnya melihat masakan di dalam mangkuk-mangkuk saji itu.


Dia menarik kursi dan duduk perlahan, menatap sekeliling. Sepi. Tak ada Rangga di sana.


Yuki mengambil piring kosong lalu mengisinya dengan sedikit nasi dan sayur yang katanya dimasak oleh Rangga. Baunya sedap. Rempah-rempahnya sudah terasa di indra penciumannya. Kuah kental yang coklat menambah keinginannya untuk menyendok sayur itu.


Gadis itu mencicipi sedikit kuahnya. Matanya terbelalak mengetahui rasa sayur itu.


"Ah, lezatnya!" Dia segera mengambil kerupuk lalu makan dengan lahap. Tanpa terasa, dia makan hingga dua piring.


Di balik pintu, seseorang tersenyum melihat kelakuan gadis itu.


"Dia menyukai masakan pertamaku."


Ya, Rangga yang baru akan lewat ruang makan, menunda langkahnya untuk mengetahui respon gadis itu tentang masakannya. Betapa puasnya ketika mengetahui bahwa Yuki menyukai masakan pertamanya.


*


"Sial, mereka itu! Aku jadi nggak bisa ketemu sama Kiki!" umpat Ferry di depan rumah sakit.


Lelaki itu sedang akan menengok Yuki, tapi ternyata gadis itu telah pulang.


"Huh, aku capek sekali, besok aku mau menemuinya di rumahnya! Sekarang aku mau balik lagi ke rumah. Masa sehari aku bolak-balik dari kampus ke rumah sakit?? Udah malam gini, pula!" Ferry masuk ke mobilnya dengan lunglai. Dia mengambil ponsel, lalu mengetik pesan yang ditujukan pada Yuki. Namun, kembali dia harus menunggu entah sampai kapan pesan itu berbalas.


Dengan mendengus kesal, dia menyalakan mobil kembali ke rumahnya.

__ADS_1


*


Keesokan harinya, di kampus X banyak mahasiswa baru yang berkelompok untuk menyelesaikan laporan kegiatan bakti sosial kemarin. Mereka saling sibuk untuk mengetik lalu menyusun laporan. Geng Queensya sangat senang karena Yuki tak datang ke kampus.


"Pastikan dia harus mengulang nilai laporan tahun depan!" ujar Anggi.


Queensya tertawa puas mendengarnya, "Hahaha, pasti! Dia nggak akan dapat nilai karena nggak ngumpulin laporan, deadline hari ini! Kecuali, dia punya uang untuk bayar!"


Mereka tertawa dan melanjutkan perbincangan di kantin. Untuk laporan mereka? Tentu saja ada mahasiswa yang sudah dibayar untuk menyelesaikannya.


"Ini Dhea nggak datang ke kampus, Kiki pun belum sembuh! Ah, apa mereka nggak akan ngumpulin tugas laporan??" Nana kebingungan memikirkan kedua temannya dengan tangan mengetik di laptopnya. Dia sendirian duduk di pojokan ruang kuliah. Semua telah berkelompok dengan grup masing-masing. Hanya dia yang tidak bersama grupnya.


Ferry menengok masuk ke ruang kuliah Yuki. Wajahnya kecewa karena tak mendapati gadis yang dia harapkan. Namun, Nana segera beranjak memanggilnya.


"Kak Ferry! Aku mau tanya!!" teriaknya hingga satu kelas memandangnya lalu kembali melanjutkan tugas mereka.


"Ah, kamu teman sekamar Kiki?" tanya Ferry.


"Iya, Kak. Apa Kiki udah sembuh? Kak Ferry kan yang menemaninya di rumah sakit?" tanya Nana.


"Iya, aku yang nemenin dia, tapi dia udah pulang kw rumahnya. Oh ya, di mana rumah majikan Kiki, ya? Kamu tau?"


"Kayaknya di belakang kampus kita, Kak. Aku juga mau nengok dia nanti setelah laporan dan kuliah selesai. Batas waktu pengumpulan laporan nanti sore, kasihan dia kalo nggak ngumpulin tugas!"


"Sama-sama, Kak."


Ferry meninggalkan ruang kuliah itu.


"Kak Ferry perhatian banget sama Kiki. Aku jadi iri .... Kak Rangga sepertinya cuek banget sama aku, tapi malah itu yang bikin aku gemes!"


Hampir aja Nana meraih ponselnya untuk menelusuri akun media sosial Rangga kalo nggak ingat bahwa dia punya tugaa penting. Gadis itu segera fokus lagi ke layar laptopnya dan mengetik laporan kunjungan ke desa.


*


"Mas Rangga, biar aku aja yang nyapu!" Yuki mencoba meraih sapu yang dipegang oleh Rangga.


"Nggak! Kamu harus banyak istirahat dulu, nggak boleh banyak kerja!" Rangga menarik sapu yang dia pegang dan tetap melanjutkan pekerjaannya.


"Nanti aku dimarahi Bu Yayah!" seru Yuki.

__ADS_1


"Kalo ada aku, kamu nggak mungkin dimarahi sama Bibi! Udah, kamu jangan bawel, sana tiduran dulu! Tuh, luka di kepalamu belum juga kering!"


"Mas Rangga ini anak pengusaha kaya, nggak pantes mengerjakan pekerjaan rumah!" tukas Yuki.


"Kata siapa??" Lelaki itu masih tetap saja melakukan pekerjaannya sampai selesai.


"Ihh, keras kepala! Aku mau nyuci piring aja kalo gitu!" seru Kiki menghentakkan kakinya, lalu masuk ke dapur.


"Sana, cari aja barang kotor kalo ada sisa!" desis Rangga lalu tertawa.


Yuki sampai di dapur dan ruangan itu telah bersih tak bersisa sama sekali dengan kotoran.


"Cowok itu bangun jam berapa, sih? Semua udah dia kerjakan?? Pake nggak berangkat kuliah lagi!" gerutunya.


"Kepala ... ayo sembuh! Biar dia nggak ngerjain pekerjaanku terus! Gajiku bakal kurang-kurang terus!" Yuki mengetuk-ngetuk kepalanya sendiri.


"Hey! Kamu gila, ya? Kepala udah bonyok pake diketok-ketok lagi!" omel Rangga.


Yuki kaget, karena lelaki itu udah ada di belakangnya.


"Abisnya, ini kepala kalo nggak sehat-sehat nanti gajiku berkurang terus!" ujarnya membuat Rangga tertawa.


"Kamu itu mementingkan uang ya daripada kesehatan?? Emang kamu digaji berapa sama Bibi??"


"Standar lah, Mas."


"Kamu butuh banyak uang? Buat apa? Bukankah kuliah kamu gratis? Makan juga dari Bibi. Skin care pun kayaknya kamu nggak butuh?"


"Mas Rangga ini bawel, ya?"


Rangga tertawa lagi, " Kamu itu ngapain malam-malam di hutan pinus sampe jatuh??"


"Lho, Mas Rangga kok tau?" tanya Kiki mengerutkan dahi.


"Ya, aku kan ...."


Tok! Tok! Tok!


Terdengar suara pintu diketuk seseorang.

__ADS_1


"Eh,tunggu Mas, kalo aku nggak segera bukain pintu, Bu Yayah bakal marah!" Yuki segera mendekati pintu depan. Dia membukakan pintu lalu terperanjat melihat siapa yang datang.


"Nana??"


__ADS_2