
Mobil telah sampai di depan gerbang yang terbuka otomatis tanpa sopir mobil Tuan John Lee turun.
"Mereka datang! Mereka datang!"
Suara riuh semua pelayan bergembira melihat mobil sang calon tunangan nona mereka benar-benar tiba. Keriuhan itu pun memenuhi dada Yuki.
"Mami ... mereka datang!"
Gadis yang tengah memakai dress ungu muda dengan rambut yang disanggul ke atas dan membiarkan anak rambutnya menghias dahi itu mondar-mandir di ruang rias.
"Iya, ayo cepat sambut mereka, Nak!"
"Aku mau pipis, Mi ...." rengek Yuki.
"Ugh, gimana sih? Sana, pipis dulu! Mami akan menyambut mereka! Apa yang akan mereka pikirkan jika kita tak segera menyambut di ruang tamu!" omel wanita itu.
Sementara Tuan Bhanu telah berdiri di depan, untuk menerima keluarga Tuan John Lee, tentu saja dia tak sabar ingin menyambut keluarga calon tunangan anaknya.
Nyonya Marlina telah berdiri di sampingnya dan tersenyum memandang ke luar. Tiga orang yang mereka tunggu sedang turun dari mobil.
"Tampan sekali calon menantu kita, Pi!" desis Nyonya Marlina pada suaminya.
"Iya, tapi anak kita mana??"
"Ah, biarkan aja, nanti dia pasti akan keluar dari kamar mandi."
Seorang pembawa acara menyambut kedatangan keluarga Tuan Jhon Lee.
Mereka duduk dan menunggu kehadiran Yuki. Gadis itu tiba saat semua orang telah duduk di dalam ruang tamu.
Nyonya Marlina melotot pada anak gadisnya dan menyuruh untuk segera duduk dengan isyarat.
Rangga menatap Yuki dengan pandangan kagum. Gadis itu bukan hanya cantik, tapi juga cerdas.
Pembawa acara memulai susunan acara, hingga saat menanyakan maksud kedatangan keluarga lelaki, dan menanyakan pada Yuki apakah bersedia untuk bertunangan dengan Rangga. Gadis itu tampak malu-malu menganggukkan kepalanya. Kemudian setelah setuju, mereka akan memasangkan cincin pertunangan di jari pasangan.
Yuki terkejut saat melihat cincin yang dibawakan oleh Rangga.
"Lho, Mas Rangga, ini cincin yang waktu itu ...." bisik Yuki, terpotong saat Rangga meletakkan telunjuknya di depan bibir.
Cincin berlian bermata besar yang sebelumnya disesali oleh Yuki karena tak jadi dibeli oleh mereka di toko berlian.
Yuki tersenyum sambil memasangkan cincin di jari manis Rangga. Kedua belah pihak lelaki maupun perempuan saling tersenyum bahagia.
Yuki menatap ke kotak-kotak seserahan yang dibawakan oleh Rangga. Semua berbalut warna pink yang manis. Dia selalu teringat pujian Rangga, "Kamu manis memakai warna apa saja, tapi paling kusukai saat kamu memakai warna pink."
__ADS_1
Mungkin itu yang menjadi alasan lelaki itu membalut semua seserahan dengan kain warna pink.
Hingga akhir acara, penentuan hari pernikahan, pertunangan itu benar-benar tertutup dari media.
Keduanya merasa sedikit lega. Sebuah ikatan telah dinyatakan oleh kedua belah pihak, tinggal menunggu hari yang telah mereka tentukan untuk benar-benar mengikat janji suci tiba.
*
Hari-hari yang berat sedang dijalani Yuki menjelang akhir skripsi. Penolakan dari pembimbing, revisi, begitu-begitu saja, membuat ketiga mahasiswi itu mengeluh.
Saat mereka kembali membahas hal itu, ketiganya bertemu dengan Candra di kantin.
"S-selamat s-siang, Nona Yuki," ujarnya tergagap. Hilanglah kesombongan lelaki itu akhir-akhir ini.
"Siang,Tukang Judi," jawab Yuki.
"Nona, saya minta maaf atas semuanya, adik saya telah masuk bui selama satu tahun ini dan dia telah dikeluarkan oleh pihak kampus bersama teman satu gengnya. Lalu ... perusahaan kami tak mengalami kenaikan sedikit pun. Bahkan malah ada penurunan. Mohon maafkan, kami ...."
Dia menunduk.
Yuki menghela napas, sudah memikirkan skripsi, masih harus bertemu dengan orang di depannya ini.
"Jika aku bukan anak orang kaya, apakah kalian akan seperti ini? Bisa jadi malah makin sombong, kan ....?"
"... Harusnya kamu berterima kasih, karena kasus taruhan lima juta rupiahmu nggak aku sampaikan ke media!"
*
Empat bulan kemudian, Yuki lulus ujian skripsi dengan nilai A, sedangkan kedua sahabatnya cukup mendapat nilai B. Ketiga gadis yang semula diperhatikan oleh seluruh mahasiswa sebagai geng gadis aneh karena terdiri dari si miskin, si aneh dan si culun, sekarang berubah menjadi sorotan kampus karena status Yuki. Tambah lagi otak Yuki yang cemerlang, membuat semua yang merendahkannya tak berkutik lagi.
"Kamu hebat, Nona Muda!"
"Ish!" Dia melotot pada Nana.
Gadis iseng itu malah senang melihat sahabatnya kesal.
"Eh, kita daftar wisuda bulan depan, sekarang, ya?" ujar Dhea.
"Iya!" seru Yuki dan Nana.
Mereka saling berpandangan, "Masa sih, kita udah mau wisuda? Aku bakal kangen sama kalian ...." ujar Nana.
Mereka saling berpelukan.
"Jangan lupa untuk sering ketemuan dan saling menghubungi kalo abis wisuda, ya?" pesan Yuki.
__ADS_1
Nana dan Dhea mengangguk.
*
Kesibukan persiapan wisuda tak terasa hingga sampailah pada waktunya.
Pagi itu perias datang ke rumah Yuki dan merias sesuai style nona muda yang tak mau tampil cetar. Hanya olesan tipis-tipis yang dia mau. Rambutnya pun hanya dikepang sederhana dengan sedikit hiasan jepit swarovsky. Dia mengenakan kebaya warna coklat muda yang cantik dengan jarik warna coklat tua yang sangat pekat dengan motif yang cantik. Tak urung, toga menutupi semua yang dipakainya itu. Setelah memakai topi wisudanya, dia menatap ke cermin.
"Ternyata aku bisa juga sampai di titik ini," desisnya.
*
Kedatangan Tuan Bhanu Tungga Jaya dan Nyonya Marlina Moon menyita perhatian orang banyak. Mereka duduk di kursi depan, berjejer dengan orang tua Nana dan Dhea.
Alunan lagu Gaudeamus Igitur mengiringi upacara kelulusan para mahasiswa dan mahasiswi. Membuat suasana menjadi haru.
Yuki mencari-cari sosok lelaki yang dia harapkan usai bersalaman dengan kedua sahabatnya dan mahasiswa-mahasiswi lain setelah upacara wisuda selesai.
Kedua orang tuanya pun sibuk bertemu dengan para dosen dan pengusaha lain yang mendekati mereka setelah upacara.
Sosok itu dia temui di depan auditorium, Rangga membawa sebuket bunga mawar biru dengan boneka beruang wisuda di dalamnya. Juga tiga batang coklat.
Yuki menghambur ke pelukan lelaki yang sedang berdiri di sana.
"Mas Rangga, aku lulus dengan IP cumlaude!"
"Calon istriku harus hebat!" pujinya memeluk Yuki, membuat orang-orang iri saat menatap mereka.
Sonny pun menyambut Nana. Sedangkan Dhea, dia belum juga menemukan pasangan. Masih jomlo, dan menikmati waktu dengan keluarganya.
Mereka berfoto-foto di dalam kampus dan tempat yang telah disiapkan untuk itu, hanyutlah dalam euforia kampus.
Seorang wanita bersama suami dan anak-anaknya turun dari mobil hitam Xenia terbaru setelah mengetik pesan pada keponakan mereka.
"Pak, mereka di belakang kampus. Mana ya, besar sekali sih kampusnya?"
"Bu, Aurel mau sekolah di sekolahnya Kak Kiki kalo udah besar! Biar kalo lulus dapet bunga kayak gini!" serunya menatap buket bunga yang dibawanya.
Bu Yayah hanya tersenyum dan mengangguk kemudian mengajak anak-anak dan suaminya untuk mencari keberadaan Yuki.
"Bu Yayah!!" seru Yuki setelah Rangga mengatakan bahwa bibinya itu ada di depan kampus mencarinya.
"Ah, itu Nona Yuki!!"
Mereka saling berpelukan. Satu per satu menyalami Yuki, mengucap selamat atas keberhasilannya dalam pendidikan.
__ADS_1
"Selamat ya, Nona Yuki!"
Aurel menyerahkan buket bunga ke tangan Yuki. Mereka kemudian melanjutkan foto, sementara kedua orang tua Yuki berpamitan pulang karena urusan bisnis dan membiarkan mereka bersenang-senang di kampus.