
Malam itu langit serasa makin pekat tanpa taburan bintang satu pun yang memamerkan kerlipnya.
Kedua insan terdiam di dalam mobil, yang satu menggenggam lipatan dressnya dengan pikiran campur aduk, yang satu menatap jalanan yang penuh dengan kendaraan. Entah mengapa malam itu suasana tak mengenakkan dalam perjalanan mereka. Namun, apa yang diinginkan Rangga tetap dia lakukan.
Akhirnya setelah berhenti di lampu merah, Yuki membuka percakapan.
"Mas Rangga, apa kamu benar-benar serius padaku?"
Lelaki itu sontak tertawa mendengar pertanyaan polos si gadis. Dia menjawab setelah tawanya mereda.
"Kalo nggak serius, kenapa aku bawa kamu untuk dikenalkan pada orang tuaku?"
Yuki menghela napas, "Iya Mas, errr ... kapan kita menikah?"
Rangga kembali tergelak mendengar pertanyaan-pertanyaan gadis itu.
"Besok pagi atau sore?" godanya.
"Mas, aku serius!"
"Secepatnya ...."
"Mas Rangga, aku belum selesai kuliah ...."
"Nggak ada peraturannya kan kalo nikah harus selesai kuliah?"
"Ahhh ...."
Tanpa terasa, obrolan menghantarkan mereka hingga ke pintu gerbang rumah mewah Rangga. Satpam membukakan gerbang, lalu mobil memasuki halaman rumah bergaya klasik modern yang luas itu.
"Rumah Mas Rangga bagus, ya?" celetuk Yuki mengamati desain depan rumah dengan kebun yang terawat rapi. Namun, kemewahannya belum mampu menyaingi rumah Yuki sebenarnya.
"Biasa aja, rumah itu yang penting melindungi kita. Kalo panas nggak kepanasan, kalo hujan nggak kehujanan."
Yuki tersenyum mendengar ucapan Rangga. Sesimple itu, menjadikan orang lebih mensyukuri hidup.
Gadis itu kembali teringat bahwa di dalam rumah itu ada orang yang telah melahirkan dan merawat kekasihnya dari kecil hingga dewasa dan akan meminangnya suatu hari kelak jika takdir menyatukan mereka. Dia mulai terserang rasa nervous lagi.
"Mas, aku pulang aja!" ujar Yuki tiba-tiba. Perutnya mulas membayangkan akan bertemu dengan calon mertua.
"Lho, udah tinggal beberapa langkah lagi, masa besok mau diulangi dari awal?"
"Oh, bener juga, tapi ...."
__ADS_1
"Ayo ...." Rangga membukakan pintu mobil untuk Yuki.
Sesaat Yuki mengatur napasnya agar debar jantungnya lebih teratur.
"Sepertinya aku bisa kena serangan jantung kalo berurusan sama Mas Rangga terus," gumamnya.
"Apa?" tanya Rangga mendengar gumamannya.
"Eh, nggak."
Yuki tersenyum lalu turun dari mobil, membenahi dress yang sedikit terlipat di lengannya.
Kemudian dia menggandeng tangan Rangga. Keduanya terlihat sangat serasi berjalan bersama memasuki rumah mewah keluarga Rangga.
Yuki memandang seluruh ruangan yang bersih dan rapi.
"Sebentar, ya? Kamu duduk di sofa dulu. Aku panggilkan Papa dan Mama. Jangan kabur, ya?"
Yuki mengerucutkan bibirnya. Rangga tertawa, lalu melangkah masuk ke dalam mencari kedua orang tuanya.
Gadis itu duduk di sofa. Melihat rumah besar itu, dia teringat akan rumahnya.
Mungkin Mas Rangga pun kesepian di rumah seperti yang aku rasakan. Anak tunggal di rumah yang begitu besar. Hanya beberapa asisten yang melayani setiap waktu. Untunglah Mami selalu menemaniku bermain saat kecil. Jadi aku tak merasa kekurangan kasih sayang orang tua. Bagaimana dengan Mas Rangga, ya?
Yuki berdiri melihat mereka datang, lupa sudah akan gugup yang dia rasakan melihat kedua orang tua itu. Pak John Lee yang sempat dia lihat di ruang rapat saat itu, dan seorang wanita yang berjalan di sampingnya. Wanita yang cukup cantik di usianya, memiliki wajah tegas menyiratkan sifat kerasnya.
Yuki menelan ludah. Rasa gugup berubah menjadi takut.
"Pa, Ma, ini Kiki, gadis yang aku sukai semenjak bertemu pertama kali," ujar Rangga mencairkan suasana itu.
Yuki menyalami keduanya, "S-saya Kiki, Om, Tante."
"Oh, ini kan karyawan magang itu? Jadi, gadis ini yang kamu sukai, Rangga?" tanya Pak Lee menatap ke anaknya.
"Iya, Pa!" jawab Rangga tegas.
"Makasih ya, Kiki, karena telah membantu kami," ujar Pak Lee sambil mempersilakan Yuki untuk duduk. Mengisyaratkan dengan tangannya.
"Saya hanya sedikit membantu, Om."
Yuki duduk di tempatnya tadi. Kali ini Rangga duduk di sebelahnya. Yuki menatap mama Rangga sekilas. Ada senyum di wajah wanita cantik itu. Namun, tak banyak yang dia bicarakan selain menanyai identitas Yuki.
"Kiki, dimana rumah kamu?" tanya mama Rangga.
__ADS_1
"J-jauh, Tante."
Hal yang Yuki takutkan terjadi. Tentu orang tua manapun akan menanyakan identitas kekasih anaknya. Keringat dingin mulai membasahi kening. Namun, dia harus tetap memegang janji pada papinya. Apalagi jika jujur, Rangga akan merasa terbohongi, meski memang dia merasa bersalah telah membohongi lelaki itu.
Tidak, aku tak akan bilang. Selama misiku belum tercapai, mereka semua tak akan tahu siapa aku.
"Oh, apa pekerjaan kedua orang tuamu?" tanya Bu Selly.
"Mereka ... hanya pedagang kecil di luar kota, Tante!"
Pedagang kecil di alam semesta yang luas ini, maksudku, Tante!
"Oh ... lalu, selama ini kamu kost atau gimana?" selidiknya.
"S-saya ... bekerja di rumah Bu Yayah, Tante," jawab Yuki tertunduk. Saat itu dia merasa sangat takut, takut jika kedua orang tua Rangga tak menerima keadaan itu.
"Kiki bekerja di rumah Bi Yayah. Dia berusaha sendiri untuk membiayai hidupnya selama kuliah. Dia kuliah dengan jalur prestasi. Kiki juga rajin dan prihatin!" jelas Rangga bersemangat pada kedua orang tuanya. Dia membantu Yuki untuk menjelaskan.
Kedua orang itu terdiam. Mereka saling berpandangan.
"Hmmm, baiklah. Kalian lanjutkan berbincang. Kami akan masuk dulu," ujar Pak Lee mengajak istrinya masuk.
Rangga mengangguk dan merangkul Yuki, menenangkan gadisnya di situasi yang sepertinya tak menyenangkan setelah mendengar status Yuki.
*
"Pa, meski dia berprestasi, apa kita akan menerima gadis yang asal-usulnya nggak jelas itu?" tanya Bu Selly kuatir. Wanita itu duduk di kursi ruang keluarga dengan lunglai.
Pak Lee menghela napasnya, "Dia cukup pintar, tapi benar katamu Ma. Bahkan Rangga mungkin belum mengetahui identitasnya."
"Benar, Pa. Aku takut dia bukan dari keluarga baik-baik," ujar Bu Selly.
Pak Lee mengangguk. Pandangannya menerawang. Ada berbagai prasangka di dalam pikirannya, mengingat sekian lama berkecimpung dalam dunia bisnis, banyak kejahatan dan kecurangan yang terjadi.
"Bagaimana kalau kita menawarkan lagi pada Rangga tentang perjodohan dengan gadis yang sudah jelas bibit bebet dan bobotnya, Pa? Ini soal masa depan anak itu. Dia masih belum stabil emosinya, mungkin dia mengajak gadis itu setelah mengetahui tentang Cecilia. Mungkin gadis itu adalah pelampiasannya saja. Tak semua gadis kaya itu norak seperti Cecilia kan, Pa?"
Berbagai pikiran di benak Bu Selly dengan kemungkinan-kemungkinan tentang anaknya itu.
"Bagaimana kita mengubah pandangan anak itu, Ma?"
"Entahlah, Pa! Nanti aku akan pikirkan caranya!"
Kedua orang tua itu saling berpikir keras untuk kebaikan anak satu-satunya, harapan mereka.
__ADS_1